Membangun Pola Pikir Agile

Membangun Pola Pikir Agile (02)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Membangun Pola Pikir Agile

Saatnya ICMI Bergerak Cepat, Tetap Reflektif, dan Berjiwa Melayani

Artikel 2

Oleh Bagus Suminar
Aktivis ICMI Jatim, pemerhati mutu pendidikan

“Agile terasa nyata ketika gagasan cepat diuji, cepat dilaksanakan, dan orang-orang di dalam organisasi mau terus belajar bersama.”

Kalau sebuah organisasi ingin tetap hidup di tengah perubahan, kepintaran saja tidak cukup. Ia membutuhkan kelincahan. Bukan kelincahan yang tergesa-gesa, melainkan kemampuan membaca zaman, mendengar keadaan, lalu bergerak cepat dengan arah yang jelas.

Perubahan zaman tidak menunggu organisasi selesai berbenah. Ia terus bergerak, sering kali lebih cepat daripada rapat dan keputusan kita. Karena itu, organisasi seperti ICMI tidak cukup mengandalkan banyaknya orang pintar dan panjangnya sejarah. Kecerdasan baru terasa gunanya ketika membantu organisasi merespons keadaan. Pengalaman juga seharusnya memengaruhi cara kita bekerja, agar nilai-nilai ICMI hadir dalam kegiatan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Kalau ditarik garis besarnya, perjalanan gagasan dalam tulisan ini dapat dilihat seperti berikut.

Belajar Cepat di Tengah Perubahan

B. J. Habibie memberi teladan tentang hal itu. Saat ICMI lahir pada 7 Desember 1990 di Malang, ia menerima amanah untuk memimpin wadah yang tumbuh melalui kegelisahan mahasiswa, pertemuan para cendekiawan, dan dukungan puluhan tokoh Muslim. Menurut catatan sejarah ICMI, Habibie menegaskan bahwa ICMI memperhatikan umat Islam sekaligus membawa komitmen memperbaiki nasib seluruh bangsa Indonesia. Dari perjalanan itu, kita bisa menangkap satu pesan: ilmu perlu turun menjadi manfaat.

Kalau melihat dokumen resmi ICMI, nilai dasarnya antara lain keislaman dan keindonesiaan, keilmuan dan kecendekiawanan, keterbukaan dan kemandirian. Nilai-nilai ICMI itu bukan kalimat biasa. Di dalamnya ada arah dan visi organisasi. Nilai itu seharusnya terlihat dalam kebiasaan kerja, keputusan yang diambil, dan cara kita melayani masyarakat.

Gagasan agile bisa dibaca dari sini. Stephen Denning dalam The Age of Agile (2018) menggambarkan organisasi agile sebagai jejaring tim kecil yang bekerja dalam siklus pendek dan terus menghasilkan nilai bagi orang yang dilayani. Jadi, lincah tidak berarti kerja ngawur. Gaspol tetap membutuhkan rem, arah, komunikasi terbuka, dan keberanian memperbaiki cara kerja.

Kalau gagasan ini dibawa ke keseharian organisasi, kelincahan terlihat dari keberanian menentukan batas waktu, mencoba langkah kecil, lalu segera memperbaikinya.

Saat ICMI Bekerja Lebih Agile

Ilustrasi berikut merupakan contoh penerapan, bukan ketentuan organisasi.

SituasiRespons Agile
Pendaftar seminar masih sedikit pada H-7Dalam 24 jam, cek kebutuhan peserta lalu putuskan: tetap, diperkecil, atau dialihkan ke daring.
Muncul isu publik yang mendesakDalam 48 jam, bentuk tim lintas kepakaran dan siapkan respons awal.
Program pusat kurang sesuai dengan kondisi daerahDalam tujuh hari, Orwil atau Orda mengusulkan format lokal tanpa mengubah tujuannya.
Rapat belum menghasilkan keputusanPilih satu langkah untuk diuji selama tujuh hari, lalu nilai hasilnya.
Praktik baik berhenti di satu daerahRingkas dalam tujuh hari dan uji di daerah lain paling lambat 30 hari.

Bergerak Cepat, Tetap Reflektif

Di era AI, banyak lembaga sedang menata ulang cara kerjanya. Perubahan teknologi ikut mengubah harapan masyarakat, cara orang belajar, dan kebiasaan mereka berorganisasi. Jack Mezirow dalam Transformative Dimensions of Adult Learning (1991) menjelaskan bahwa orang dewasa dapat berubah ketika mau meninjau kembali asumsi yang selama ini membentuk cara mereka melihat persoalan. Refleksi membuat pengalaman menjadi bahan untuk memperbarui cara berpikir dan bertindak. Ini relevan sekali dengan dunia ICMI. Pengurus ICMI bukan anak sekolah yang harus terus diinstruksi. Mereka adalah orang-orang matang yang bisa diajak berefleksi.

Kita tidak perlu sibuk mencari siapa yang salah. Ada hal yang lebih penting: melihat bersama apa yang perlu diperbarui. Apakah program kerja kita masih relevan dengan tuntutan zaman? Apakah rapat yang panjang sudah melahirkan keputusan yang jelas? Apakah kegiatan yang baik sudah terdokumentasi agar bisa dipelajari pengurus lain? Pertanyaan seperti ini penting, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk merawat organisasi agar terus tumbuh.

Jejak Habibie juga dapat dibaca sebagai pertemuan antara kecepatan kerja dan kedalaman nilai. Dalam pembacaan ini, ilmu teknis dapat berjalan bersama karakter, disiplin, dan tanggung jawab kepada bangsa. Dari sana kita belajar bahwa kemajuan tidak lahir dari kecerdasan saja. Ilmu harus menemukan jalannya menjadi pelayanan.

Robert K. Greenleaf dalam esainya The Servant as Leader (1970) memulai gagasan kepemimpinan dari dorongan untuk melayani. Kepemimpinan seperti ini dapat dilihat dari pengaruhnya terhadap orang lain. Apakah mereka bertumbuh, semakin mampu mengambil keputusan, dan terdorong membawa manfaat bagi lingkungan di sekitarnya? Sebagian jejak kepemimpinan Habibie dapat dibaca melalui semangat tersebut. Pelajaran yang bisa ditarik adalah pentingnya kepemimpinan yang memfasilitasi, mengarahkan, dan menumbuhkan orang-orang di dalamnya.

Kalau pengurus ICMI terbiasa berpikir, “apa yang bisa saya bantu,” alih-alih sibuk menimbang “apa posisi saya,” organisasi ini akan bergerak lebih ringan. Waktu setiap orang memang terbatas. Banyak pengurus mengajar, meneliti, bekerja, berdagang, memimpin lembaga, atau mencari nafkah di tempat lain. Itu realitas yang sangat manusiawi. Karena itu, pola kerja yang lincah, praktis, dan realistis terasa semakin relevan di tubuh ICMI. Program tidak harus selalu besar. Yang penting manfaatnya terasa.

Semangat melayani juga membutuhkan arah. Carol H. Weiss dalam “Nothing as Practical as Good Theory” (1995) mengingatkan bahwa sebuah kegiatan selalu berangkat dari pemikiran tertentu: kegiatan ini ingin mengubah apa, melalui proses apa, dan menuju hasil seperti apa. Hal tersebut perlu dibicarakan sejak awal agar kita tidak hanya sibuk menyelesaikan acara. Setelah kegiatan berakhir, tanyakan juga: siapa yang berubah? Apa yang bergerak? Pengetahuan apa yang perlu dibagi? Praktik baik apa yang bisa didokumentasikan?

Merawat Ilmu, Menguatkan Gerakan

Pola pikir agile akan sulit berkembang kalau pengalaman organisasi terus hilang. ICMI memiliki jaringan luas, pengalaman dari berbagai daerah, dan pengurus dengan kepakaran yang beragam. Masalahnya, belum semua pengetahuan itu tersimpan dengan baik dan mudah dipelajari kembali. Pengalaman Orda, gagasan Orwil, arahan pusat, praktik baik anggota, dan hasil diskusi semestinya menjadi bahan pembelajaran bersama. Pengetahuan jangan berhenti di kepala orang tertentu atau ikut hilang bersama berakhirnya satu periode kepengurusan.

Implementasinya tidak harus rumit. Kita bisa mulai dengan langkah yang dekat: mencatat hasil rapat dengan rapi, menyimpan bahan kegiatan dalam tempat bersama, membagikan praktik baik antarwilayah, membuat forum singkat untuk saling belajar, dan menulis pengalaman organisasi. Kecil-kecil saja dulu. Yang penting konsisten. Kerja sat set das des bukan berarti serba instan, tetapi tahu mana yang harus segera dikerjakan dan mana yang masih membutuhkan penataan.

Kultur kolaboratif yang sejak awal menjadi napas ICMI layak terus dirawat dan diperkuat. Sejarah ICMI mencatat proses yang melibatkan mahasiswa, akademisi, profesional, birokrat, dan cendekiawan Muslim dari beragam latar belakang. Habibie kemudian dipercaya memimpin dan memperluas daya jangkau gerakan tersebut. Semangat kolektif inilah yang perlu dirawat: ruang untuk berpikir bersama tanpa menjadikan perbedaan sebagai arena bertanding. Berbeda pendapat boleh. Berbeda cara pandang juga wajar. Yang penting tetap satu arah: memperbaiki bangsa lewat ilmu dan akhlak.

Kini, pekerjaan rumahnya adalah menghubungkan berbagai kepakaran dan kegiatan tersebut. Koordinasi yang lebih lincah akan membantu gagasan dari pusat, wilayah, dan daerah saling menguatkan. Kita juga memiliki ruang besar untuk memperbaiki pengelolaan pengetahuan agar pengalaman dan praktik baik ICMI tidak tercecer begitu saja. Dunia digital menuntut kita lebih sigap dalam komunikasi dan dokumentasi. Kalau dulu Habibie memimpin pengembangan industri pesawat nasional agar Indonesia bisa terbang tinggi, dalam konteks itu, pengetahuan di tubuh ICMI semakin penting untuk ditata agar gagasan-gagasan baik dapat menjangkau lebih banyak orang.

Agile sebagai Jalan Kebaikan

Dalam Islam, Surah Al-Baqarah ayat 148 mengingatkan kita: “Fastabiqul khairat”—berlomba-lombalah dalam kebaikan. Dalam refleksi organisasi, pesan ini memberi arah etik bagi pola pikir agile. Kelincahan tidak berhenti pada kecepatan. Ia harus membawa manfaat dan kebajikan.

Jadi, membangun pola pikir agile di tubuh ICMI tidak berarti membuat organisasi ini serba terburu-buru. Agile membantu ICMI lebih peka membaca perubahan, lebih mudah bekerja bersama, cepat belajar dari pengalaman, dan tidak malu memperbaiki cara kerja. Bergerak cepat tetap penting, tetapi ruang untuk berpikir dan melayani jangan sampai hilang.

Warisan Habibie memberi ICMI pijakan, sedangkan pola pikir agile membantu kita membaca tuntutan hari ini. Keduanya perlu dijaga bersama. Dengan cara itu, diskusi tidak berhenti sebagai wacana dan kepakaran anggota lebih sering berubah menjadi kerja yang dirasakan umat dan bangsa.


Kalau Boleh Dirangkum

  1. Kecerdasan dan pengalaman besar baru benar-benar terasa ketika berubah menjadi respons yang cepat, dekat, dan berguna bagi masyarakat.
  2. Agile tidak identik dengan tergesa-gesa. Ia merupakan kelincahan bergerak sambil tetap mengetahui arah dan menjaga pegangan nilai.
  3. Warisan Habibie mengingatkan bahwa ilmu jangan berhenti sebagai kebanggaan. Ia harus turun menjadi kerja nyata dan pelayanan bagi bangsa.
  4. Organisasi yang sehat tetap menjalankan program sambil belajar dari pengalaman dan membagikan pengetahuan yang dimilikinya.
  5. ICMI akan tetap memiliki napas panjang apabila mampu menjaga akar nilainya sambil berani mempelajari cara-cara baru untuk menghadapi zaman.

Kalau Mau Dipraktikkan

  1. Mulailah dari program kecil yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Tidak harus besar, yang penting manfaatnya terasa dan bisa diteruskan.
  2. Setelah kegiatan selesai, biasakan bertanya: siapa yang terbantu, apa yang berubah, dan pelajaran apa yang bisa dibagikan kepada pengurus lain?
  3. Simpan pengalaman organisasi dengan rapi. Jangan sampai pengetahuan ikut hilang hanya karena kepengurusan berganti.
  4. Bangun kebiasaan saling membantu tanpa terlalu sibuk memikirkan posisi. Saat orang mulai bertanya, “apa yang bisa saya bantu?”, organisasi biasanya bergerak lebih ringan.
  5. Bergeraklah cepat dalam kebaikan, tetapi tetap sediakan ruang untuk mendengar, mengevaluasi, dan memperbaiki langkah berikutnya.

Referensi

Denning, S. (2018). The age of agile: How smart companies are transforming the way work gets done. AMACOM.

Greenleaf, R. K. (1970). The servant as leader. Center for Applied Studies.

Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. (2021). Anggaran Dasar ICMI periode 2021–2026 [Dokumen hasil Muktamar VII].

Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Organisasi Wilayah Jawa Timur. (n.d.). Sejarah ICMI.

Mezirow, J. (1991). Transformative dimensions of adult learning. Jossey-Bass.

Weiss, C. H. (1995). Nothing as practical as good theory: Exploring theory-based evaluation for comprehensive community initiatives for children and families. In J. P. Connell, A. C. Kubisch, L. B. Schorr, & C. H. Weiss (Eds.), New approaches to evaluating community initiatives: Concepts, methods, and contexts (pp. 65–92). The Aspen Institute.


Scroll to Top