بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Ketika ICMI Bertemu AI
Menjaga Hikmah di Tengah Kecerdasan Buatan
Artikel 13
Oleh: Bagus Suminar
Aktivis ICMI Jatim, TaskForce Persyada Al Haromain, Dosen
“Di rumah bernama ICMI, teknologi boleh terus berkembang. Ilmu, akhlak, dan silaturahim tetap menjadi ruh yang menghidupkannya.”
Kalau dulu ICMI lahir di tengah gelombang besar kebangkitan ilmu dan umat, hari ini ICMI bertemu gelombang baru bernama kecerdasan buatan atau AI. Bentuk zamannya memang berbeda, tetapi panggilannya masih sama: bagaimana ilmu terus memberi manfaat bagi manusia, bangsa, dan kemaslahatan bersama. Teknologi berubah cepat, sedangkan semangat kecendekiawanan tetap meminta akal yang jernih dan akhlak yang baik.
Warisan B.J. Habibie memberi pelajaran penting tentang hubungan ilmu, teknologi, dan pengabdian. Pesawat yang dulu menjadi simbol kebanggaan bangsa tentu terus membutuhkan pengembangan sebagai bagian dari kemandirian teknologi Indonesia. Zaman kemudian membuka ladang baru. Data, algoritma, dan kecerdasan buatan hadir dengan banyak peluang, sekaligus meminta manusia lebih cermat menentukan arahnya.
ICMI memiliki perjalanan panjang bersama ilmu pengetahuan dan teknologi. Anggaran Dasar ICMI mengarahkan kegiatan organisasi pada peningkatan kecendekiawanan dan kepakaran, pembelajaran, jaringan informasi dan komunikasi, penelitian, pengkajian inovatif, pendidikan, serta publikasi hasil pemikiran dan inovasi. Kehadiran AI membuat medan pengabdian ilmu semakin luas.
Dulu gagasan banyak berpindah melalui mimbar, forum, kertas kerja, buku, dan pertemuan tatap muka. Hari ini gagasan juga bergerak melalui arsip daring, forum virtual, mesin pencari, dan aplikasi berbasis AI. Alatnya berubah. Ilmu tetap perlu bergerak, bertemu manusia, lalu menjadi manfaat.
Kalau diringkas, perjalanan gagasan dalam tulisan ini dapat dibaca sebagai alur berikut.

Menyambut AI dengan Kebijaksanaan
Dalam pemberitaan Gatra pada 19 November 2021, Ilham Akbar Habibie mengingatkan bahwa ICMI perlu melek ilmu pengetahuan dan teknologi serta mampu menjadi mitra strategis dan kritis bagi pemerintah. Pandangan itu melanjutkan semangat yang telah hidup sejak ICMI berdiri. Ilmu diharapkan hadir di tengah kehidupan, ikut memberi jalan keluar, dan membawa manfaat bagi bangsa.
Dalam pemberitaan Suara Muhammadiyah pada 5 Juli 2025, Prof. Arif Satria memberi penekanan yang lebih khusus pada kecerdasan buatan. Ia mengingatkan bahwa AI berkaitan dengan teknologi sekaligus kebijaksanaan. Wisdom perlu mengawal pemanfaatannya agar teknologi membawa maslahat dan menjauhkan mudarat. Pesan ini penting bagi organisasi cendekiawan. Kecepatan memperoleh informasi tetap membutuhkan kejernihan ketika menentukan arah.
Marc Prensky dalam artikel H. Sapiens Digital: From Digital Immigrants and Digital Natives to Digital Wisdom (2009) memperkenalkan gagasan digital wisdom. Teknologi digital, dalam pemikirannya, dapat memperluas kemampuan manusia. Kemampuan itu menjadi lebih berarti ketika teknologi digunakan dengan pertimbangan yang bijaksana.
Bagi cendekiawan muslim, kemahiran menggunakan aplikasi baru hanya bagian awal. Ada pertanyaan yang lebih dalam: apa yang dilakukan setelah informasi ditemukan? Mana yang layak dipercaya, mana yang perlu diperiksa lagi, dan untuk tujuan apa pengetahuan itu digunakan? AI dapat memperluas kemampuan manusia, tetapi arah penggunaannya lahir dari manusia yang membawa nilai, pengalaman, dan tanggung jawab.
Teknologi Tetap Butuh Akhlak
Kecerdasan buatan dapat membantu banyak pekerjaan. Ia mampu merangkum dokumen, membaca pola data, membantu riset, menyiapkan draf, menyusun bahan diskusi, dan merapikan pekerjaan administratif. Namun AI tidak memikul tanggung jawab moral dan spiritual seperti manusia. Kejujuran, empati, serta pertanggungjawaban atas penggunaannya berada pada manusia.
Akhlak hadir dalam pekerjaan yang sangat konkret. Ketika AI membantu mencari pengetahuan, adab menuntun kita memeriksa sumber. Ketika data dapat diolah dalam hitungan detik, tanggung jawab mengingatkan bahwa ada informasi yang harus dijaga. Ketika mesin menghasilkan tulisan yang meyakinkan, kejujuran meminta kita membedakan mana yang sudah diperiksa dan mana yang masih perlu diuji.
Dalam keseharian, batas tanggung jawab itu dapat dibaca cukup jelas. AI boleh membantu banyak pekerjaan, tetapi ada hal-hal yang tetap berada di tangan manusia.
Tabel: Saat AI Dipakai, Apa yang Perlu Dijaga?
| Ketika AI Membantu | Yang Tetap Dijaga Manusia |
|---|---|
| Mencari dan merangkum informasi | Periksa sumber dan kebenarannya sebelum digunakan. |
| Menyusun tulisan atau bahan kajian | Jaga kejujuran dan kejelasan asal gagasan. |
| Mengolah data | Lindungi data pribadi, organisasi, dan informasi yang tidak layak dibuka. |
| Memberi pilihan atau rekomendasi | Pertimbangkan konteks, dampak, dan kemaslahatan sebelum mengambil keputusan. |
| Mempercepat pekerjaan | Pertimbangan moral, musyawarah, dan tanggung jawab tetap berada pada manusia. |
Lima hal ini mengingatkan bahwa kecanggihan alat tidak memindahkan tanggung jawab kepada mesin. AI membantu pekerjaan, sedangkan manusia menentukan cara, batas, dan tujuan penggunaannya.
Banyak organisasi kini berusaha semakin digital. Ada aplikasi baru, platform baru, grup baru, dan istilah baru. Semuanya dapat berguna. Pengalaman sehari-hari menunjukkan bahwa alat baru belum tentu langsung melahirkan kebiasaan baru. Arsip digital dapat sangat lengkap tetapi jarang dibuka. Grup komunikasi dapat ramai tanpa sungguh-sungguh menjadi ruang belajar.
Barangkali pembicaraan tentang AI di lingkungan ICMI akan lebih bermakna bila berjalan bersama budaya belajar. Kecerdasan buatan akan lebih berguna ketika anggota terbiasa mencatat, berbagi, membaca ulang pengalaman, dan mengambil pelajaran dari kegiatan yang sudah dilakukan. Teknologi bekerja lebih baik ketika pengetahuan memang dirawat.
Rumah Ilmu yang Terus Belajar
Ikujiro Nonaka dan Hirotaka Takeuchi dalam The Knowledge-Creating Company (1995) membahas bagaimana organisasi menciptakan pengetahuan baru dan menyebarkannya melalui berbagai proses di dalam organisasi. Dalam kehidupan ICMI, gagasan ini mengingatkan bahwa pengalaman dari kegiatan, kajian, musyawarah, dan praktik baik akan lebih bernilai ketika dicatat, dibagikan, lalu dipelajari kembali. Knowledge Management cukup dimulai dari kebiasaan merawat pengalaman agar tidak hilang bersama berjalannya waktu.
Apa yang berubah ketika AI masuk ke dalam aliran pengetahuan itu? Laporan dapat diringkas, tema dari berbagai daerah dapat dikelompokkan, arsip lama lebih mudah ditemukan, dan gagasan yang tersebar dapat dibaca kembali dengan lebih cepat. AI membantu merapikan pengetahuan. Manusia memberi konteks dan menentukan apa yang layak diteruskan.
Di tengah digitalisasi, rasa kemanusiaan tetap layak mendapat tempat dalam kehidupan organisasi. Seni masih punya ruang. Di antara angka dan data, manusia membutuhkan kesempatan untuk merasakan. Kalau algoritma bisa berbicara, mungkin ia akan berkata, “Saya bisa menghitung data, tetapi saya tidak tahu rasa.” Senyum kecil seperti ini mengingatkan bahwa secanggih apa pun teknologi, rasa tetap milik manusia.
AI lebih tepat diperlakukan sebagai sahabat kerja. Ia membantu mengolah, tetapi tidak memimpin nurani. Ia mempercepat pencarian, tetapi tidak menggantikan hikmah. Ia dapat menawarkan kemungkinan, sementara manusia menimbang mana yang pantas, baik, dan membawa maslahat.
Menghubungkan Ilmu yang Tersebar
Manfaat AI bertambah ketika teknologi dipakai untuk menyambungkan pengetahuan yang tersebar di tubuh ICMI. Gagasan lahir dari banyak tempat: orsat, orda, orwil, batom, forum kajian, dan percakapan silaturahim. Jika pengetahuan itu mudah ditemukan kembali, pengalaman satu tempat dapat membantu tempat lain tanpa harus menunggu pertemuan besar.
Pierre Lévy dalam Collective Intelligence: Mankind’s Emerging World in Cyberspace (1997) membahas kecerdasan kolektif yang tumbuh ketika pengetahuan yang tersebar pada banyak orang dapat bertemu dan bekerja bersama. Seseorang membawa pengalaman tertentu, orang lain membawa keahlian yang berbeda. Potongan-potongan pengetahuan itu menjadi lebih bernilai ketika saling terhubung. Tradisi silaturahim dan musyawarah di ICMI sudah lama menyediakan ruang bagi perjumpaan semacam itu.
Kecerdasan buatan membuka cara baru untuk membantu perjumpaan tersebut. Pengalaman sebuah orda dapat ditemukan oleh orda lain, bahan kajian lama dapat muncul kembali saat dibutuhkan, dan gagasan dari berbagai kepakaran dapat dihimpun lebih cepat. AI membantu mencari, merangkum, dan menemukan hubungan. Manusia memberi konteks, membaca makna, dan memutuskan apa yang layak diteruskan.
Bayangkan bila pengetahuan dari berbagai wilayah lebih mudah ditelusuri. Orang tidak harus mengetahui semuanya. Cukup tahu bahwa pengalaman itu pernah ada dan dapat ditemukan kembali. Teknologi kemudian membantu ilmu dari satu tempat bertemu dengan kebutuhan di tempat lain.
Generasi muda membawa kelincahan menggunakan teknologi, sementara generasi senior membawa pengalaman dan ingatan organisasi. Ketika keduanya bekerja bersama, AI dapat membantu pengetahuan berpindah antargenerasi tanpa menghilangkan percakapan manusia di dalamnya.
Salah satu gagasan yang bisa dipikirkan adalah ICMI Learning Network. Bentuknya bisa dibuat praktis. Sebuah ruang digital yang mudah digunakan dan terus dirawat sudah dapat menjadi awal untuk menghimpun hasil kajian, catatan kegiatan, modul, dan pengalaman dari berbagai wilayah.
Percakapan tentang AI dan akhlak juga menarik untuk dibuka. Akademisi, ulama, praktisi teknologi, pendidik, pengusaha, dan generasi muda dapat duduk dalam forum yang sama. Pertanyaannya dekat dengan kehidupan: bagaimana memakai AI dengan jujur, bagaimana menjaga data, bagaimana memeriksa informasi, kapan bantuan teknologi mulai membuat manusia terlalu bergantung, dan apakah penggunaannya sungguh membawa maslahat.
Ilmu sebagai Amanah
Dalam tradisi Islam, ilmu selalu berkaitan dengan adab, amanah, dan tanggung jawab. Pengetahuan yang luas dapat mengangkat derajat manusia, tetapi pada saat yang sama meminta kerendahan hati. Kemampuan menciptakan teknologi tidak otomatis membuat manusia selalu benar dalam menggunakannya.
Dalam pandangan penulis, tema ini membuka ruang pengabdian yang luas bagi para cendekiawan muslim. Mereka dapat membantu umat membaca perubahan dengan tenang, mengajak masyarakat menggunakan teknologi dengan akal sehat, serta membuka percakapan tentang dampaknya pada pendidikan, keluarga, ekonomi, kehidupan sosial, dan masa depan bangsa.
Langkahnya tidak harus besar. Mencatat kegiatan dengan lebih rapi sudah berarti. Menyimpan hasil kajian agar mudah dicari juga berarti. Berbagi pengalaman antardaerah, mengajak anak muda ikut merawat pengetahuan digital, atau membahas etika AI dalam forum kecil merupakan bagian dari budaya ilmu.
Ada sesuatu yang indah dari organisasi yang mau terus belajar. Sejarah besarnya dihormati, pengalaman lama dirawat, sementara jendela tetap terbuka untuk udara baru. Warisan tidak diletakkan di lemari kenangan. Ia menjadi pijakan untuk membaca zaman berikutnya.
Kecerdasan buatan hanyalah salah satu babak dalam sejarah panjang ilmu manusia. Hari ini ia tampak baru dan menggetarkan. Kelak mungkin ia menjadi bagian biasa dari kehidupan. Sikap kita terhadap ilmu tetap memerlukan pegangan: mengambil manfaat, menjaga adab, dan mengarahkannya pada kemaslahatan.
Teknologi dapat mempercepat langkah, tetapi niat memberi arah. Data memperluas pandangan, sementara hikmah memberi kedalaman. AI membantu manusia bekerja, lalu manusia masih perlu bertanya: untuk apa semua ini, siapa yang memperoleh manfaat, dan nilai apa yang sedang dijaga?
Dalam pembacaan ini, ICMI dapat dilihat sebagai ruang tempat pengetahuan dirawat sebagai amanah. Ilmu yang tersimpan pada seseorang akan lebih berarti ketika mengalir menjadi pendidikan, kebijakan, pemberdayaan, pelayanan, dan manfaat bagi orang lain. Dalam semangat itulah Knowledge Management memperoleh ruhnya: menjaga agar amanah ilmu tetap dapat dipelajari dan diwariskan.
Al-Qur’an memberi dasar yang indah bagi kesadaran tentang ilmu. Allah berfirman:
“Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq [96]: 5).
Ayat ini mengingatkan bahwa kemampuan manusia untuk belajar dan memperoleh pengetahuan merupakan karunia Allah. Dalam konteks tulisan ini, perkembangan kecerdasan buatan dapat menjadi pengingat agar kemajuan pengetahuan ditemani kerendahan hati dan tanggung jawab.
Semakin cerdas teknologi di sekitar kita, semakin layak manusia merendahkan hati. Kecepatan data juga membutuhkan akhlak agar pengetahuan tidak kehilangan arah. Ketika ilmu yang tersebar di lingkungan ICMI dapat dihimpun dan dibagikan, terbuka pula jalan yang lebih luas untuk menjadikannya amal yang bermanfaat.
ICMI lahir dari niat baik para cendekiawan muslim yang ingin menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian. Di zaman kecerdasan buatan, niat itu layak terus dijaga. Semoga gagasan yang tumbuh di lingkungan ICMI bergerak menjadi ilmu yang menenteramkan, keputusan yang arif, dan pengabdian yang memberi manfaat bagi umat serta Indonesia.
Kalau Boleh Dirangkum
- AI bisa menjadi teman kerja dalam kehidupan organisasi. Ia membantu banyak pekerjaan, sementara akal sehat, akhlak, dan musyawarah memberi arah.
- Kemampuan memakai AI perlu berjalan bersama digital wisdom: tahu cara menggunakan teknologi sekaligus memahami batas dan tujuan penggunaannya.
- Knowledge Management membantu pengalaman dan gagasan tetap dapat dipelajari dari satu masa bakti ke masa berikutnya.
- AI dapat membantu pengetahuan yang tersebar saling ditemukan, tetapi manusia tetap memberi konteks, membaca makna, dan memikul tanggung jawab.
- Di era kecerdasan buatan, keterbukaan pada teknologi tetap perlu berjalan bersama adab, hikmah, dan kemaslahatan.
Kalau Mau Dipraktikkan
- Periksa kembali sumber, fakta, dan angka yang diperoleh dengan bantuan AI sebelum digunakan atau dibagikan.
- Gunakan AI untuk membantu merangkum laporan, menyiapkan bahan diskusi, atau membaca pola informasi. Keputusan tetap lahir dari musyawarah, pengalaman, dan pertimbangan nilai.
- Jaga data pribadi, data organisasi, serta dokumen yang memang tidak layak dimasukkan ke layanan AI terbuka.
- Libatkan generasi muda dan senior dalam ruang belajar digital agar kecakapan teknologi bertemu dengan pengalaman organisasi.
- Biasakan satu pertanyaan sebelum memakai AI: apakah cara ini jujur, aman, dan membawa manfaat?
Referensi
Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. (2021). Anggaran Dasar ICMI periode 2021–2026 [Dokumen hasil Muktamar VII].
Lévy, P. (1997). Collective intelligence: Mankind’s emerging world in cyberspace. Plenum Trade.
Nonaka, I., & Takeuchi, H. (1995). The knowledge-creating company: How Japanese companies create the dynamics of innovation. Oxford University Press.
Nurhakim, F. (2021, November 19). Ilham Habibie ajak kader ICMI dukung bangun Indonesia Emas. Gatra.
Prensky, M. (2009). H. sapiens digital: From digital immigrants and digital natives to digital wisdom. Innovate: Journal of Online Education, 5(3), Article 1.
Suara Muhammadiyah. (2025, July 5). ICMI dan UM Bandung satukan gagasan cendekia untuk ketahanan bangsa.




