بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Membina Batom, Menguatkan ICMI:
Strategic Enabler dalam Mengembangkan Badan Otonom
Artikel 20
Oleh Bagus Suminar
Aktivis ICMI Jawa Timur, Principal Consultant pada mutupendidikan.com
“Batom akan tumbuh lebih kuat ketika ICMI hadir bukan hanya memberi arah, tetapi juga mendampingi, menghubungkan, dan menyalakan potensi”
ICMI memiliki sejumlah Badan Otonom atau Batom yang bergerak dalam bidang pengabdian yang berbeda. Kehadiran mereka memperluas jangkauan kerja ICMI, mendekatkan organisasi kepada masyarakat, lalu menerjemahkan gagasan besar menjadi karya yang lebih nyata. Ketika Batom bertumbuh, sesungguhnya ICMI juga sedang menguatkan kaki-kaki pengabdiannya.
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga ICMI telah memberi tempat yang jelas kepada Batom. Ada yang bergerak sebagai profit center, revenue center, maupun mission center, sesuai mandat dan bidang kerjanya. Otonomi itu memberi ruang bagi kreativitas, sembari tetap menjaga visi, nilai, akuntabilitas, dan nama baik ICMI.
Wajah-Wajah Batom ICMI
Wajah dan medan kerja setiap Batom memang tidak sama. Ada PINBUK yang berkembang dari semangat pemberdayaan ekonomi umat dan ikut mendorong pertumbuhan Baitul Maal wat Tamwil. M. Amin Aziz dikenal sebagai salah satu pemrakarsa penting lembaga tersebut pada dekade 1990-an.
Ada pula CIDES, ruang kajian strategis yang ikut mewarnai pemikiran serta kebijakan publik di lingkungan ICMI. Adi Sasono menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan awalnya. Melalui CIDES, tradisi berpikir ICMI memperoleh ruang untuk bertemu dengan berbagai persoalan nyata bangsa.
Alisa Khadijah menghimpun muslimah pengusaha dan mengembangkan kewirausahaan keluarga. LAZIS ICMI bergerak dalam pengelolaan zakat dan pemberdayaan sosial. ORBIT Foundation meneruskan semangat B. J. Habibie dalam membuka jalan pendidikan bagi generasi cendekia.
Pemuda ICMI, yang berkembang dari Masika ICMI, menjadi ruang kaderisasi dan kolaborasi generasi muda. Mereka membawa bahasa zaman yang berbeda, tetapi tetap berangkat dari akar nilai yang sama. Keragaman ini membuat Batom tidak hadir dalam satu bentuk saja.
Setiap Batom membawa kepakaran, jaringan, dan cara kerja sendiri. Semuanya bertemu pada cita-cita besar ICMI: menghadirkan ilmu, iman, dan pengabdian bagi umat serta bangsa. Dengan bidangnya masing-masing, Batom menjadi tangan dan kaki ICMI dalam menjangkau ruang kehidupan yang begitu luas.
Membina sambil Menjaga Otonomi
Ruang untuk bergerak sebenarnya sudah tersedia. Barangkali persoalannya bukan lagi apakah Batom perlu diberi otonomi, melainkan bagaimana otonomi itu ditemani, didampingi dengan pembinaan yang sehat. Batom memerlukan arah yang jelas, tetapi juga membutuhkan kepercayaan agar mampu menemukan cara terbaik untuk menjalankan mandatnya.
Gagasan strategic enabler dapat membantu kita memahami hubungan ini. ICMI tetap menjaga arah dan akuntabilitas organisasi, sambil hadir sebagai fasilitator, penghubung, dan pembina kinerja. Hubungan antara ICMI dan Batom tidak berhenti pada laporan, karena di dalamnya juga ada proses mendengar, belajar, dan mencari peluang bersama.
Kerangka POAC dari George R. Terry (1958) dapat digunakan sebagai salah satu pegangan. Empat fungsi manajemen—Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling—memang lahir dari teori manajemen klasik. Namun, penerapannya di ICMI tentu perlu diberi warna oleh nilai dan budaya organisasi.
Perencanaan dapat dibangun melalui musyawarah dan kebutuhan yang sungguh-sungguh ditemukan di lapangan. Pengorganisasian menempatkan orang berdasarkan kompetensi, pengalaman, serta kesediaannya memikul amanah. Penggerakan membutuhkan keteladanan dan komunikasi yang menghidupkan. Sementara pengendalian sebaiknya membantu orang melihat kemajuan dan menemukan bagian yang masih perlu diperbaiki.
Tabel 1. Inspirasi Model POAC dalam Pembinaan Batom
| Fungsi POAC | Penerapan dalam Pembinaan Batom ICMI |
|---|---|
| Planning | Arah dan sasaran disusun melalui musyawarah, lalu diselaraskan dengan visi ICMI serta kebutuhan masyarakat. |
| Organizing | Peran, sumber daya, dan tanggung jawab ditata berdasarkan kompetensi, pengalaman, dan kesediaan memikul amanah. |
| Actuating | Anggota digerakkan melalui keteladanan, komunikasi, coaching, dan ruang untuk berinisiatif. |
| Controlling | Capaian dipantau dengan data yang jernih, adab, empati, dan tindak lanjut yang membantu perbaikan. |
POAC menyediakan kerangka kerja. Kekeluargaan memberi cara agar kerangka itu dijalankan tanpa kehilangan sisi manusiawi. Sistem profesional menjadi tulang, sedangkan kekeluargaan menjadi roh yang membuatnya tetap hidup.
Kekeluargaan tentu tidak berarti semua hal harus dimaklumi. Kesepakatan tetap perlu dijalankan, laporan perlu disampaikan, dan amanah harus dipertanggungjawabkan. Namun, adab dan cara menyampaikan koreksi tetap penting: tegas tanpa merendahkan, terbuka tanpa mempermalukan, dan selalu memberi ruang untuk tumbuh.
Sistem yang Membantu Batom Tumbuh
Salah satu gagasan yang dapat dikembangkan ialah “Manajemen Batom Terpadu”. Ini hanya ide. Namanya terdengar besar, meskipun bentuk awalnya bisa sangat sederhana. Sebuah dashboard yang berisi sasaran, indikator, capaian, tantangan, dan inovasi setiap Batom sudah cukup untuk memulai percakapan yang lebih berbasis data.
Dashboard tersebut tidak perlu berubah menjadi meja pengadilan digital. Data digunakan untuk membaca perjalanan, bukan sekadar menghasilkan angka penilaian. Dari sana, pengalaman yang berhasil dapat dibagikan, sedangkan hambatan yang muncul dapat dipahami tanpa tergesa-gesa mencari siapa yang harus disalahkan.
Teknologi memang membuat pekerjaan lebih tertata. Namun, alat tetap bergantung pada manusia yang menggunakannya. Kalau sistem berjalan sementara orang-orangnya kaku, bisa-bisa yang maju hanya tabelnya, bukan timnya.
Tabel 2. Strategic Enabler dalam Pembinaan Batom
| Aspek Pembinaan | Bentuk Penerapan dan Hasil yang Diharapkan |
|---|---|
| Penguatan sistem Batom | Mengembangkan dashboard kinerja dan pelatihan pengelolaan data agar sasaran, capaian, tantangan, serta inovasi lebih mudah dipahami. |
| Pembelajaran bersama | Menyelenggarakan Forum Batom Nasional dan ruang berbagi praktik baik agar pengetahuan mengalir serta kolaborasi makin luas. |
| Coaching dan mentoring | Melibatkan Dewan Pakar, pengurus senior, atau mentor sesuai bidang untuk meningkatkan kapasitas pimpinan dan tim Batom. |
| Apresiasi dan pengakuan | Mengembangkan penghargaan berdasarkan kinerja, nilai, inovasi, dan dampak agar praktik baik dapat dikenal serta dipelajari bersama. |
Coaching dan mentoring dapat menjadi bagian penting dari pola pembinaan. Dewan Pakar, pengurus senior, atau anggota yang berpengalaman dapat mendampingi Batom sesuai bidangnya. Mereka tidak datang untuk mengambil alih pekerjaan, tetapi membantu membaca situasi dan memperluas pilihan.
Pendekatan ini dekat dengan gagasan learning organization dari Peter Senge (1990). Organisasi bertumbuh ketika pengalaman tidak lewat begitu saja. Ada kebiasaan membicarakannya, mengambil hikmah dan pelajaran, lalu mengubahnya menjadi cara kerja yang lebih baik.
Pembelajaran antara ICMI dan Batom juga perlu bergerak dua arah. Pusat membawa arah organisasi, jaringan, dan sumber daya yang lebih luas. Batom membawa pengalaman lapangan yang sering kali lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Keduanya akan semakin kaya bila saling mendengar.
Forum Batom Nasional dapat menjadi ruang perjumpaan tersebut. Forum ini sebaiknya tidak terlalu sesak oleh seremoni. Akan lebih berguna bila setiap Batom datang membawa satu praktik baik, satu persoalan yang belum selesai, dan satu peluang kolaborasi.
Praktik yang telah berhasil dapat dibagikan sebagai best practice. Gagasan yang sedang dirintis dapat dibicarakan sebagai next practice. Cara seperti ini membuat Batom tidak selalu berjalan dari titik nol, karena pengalaman satu lembaga dapat menjadi bekal bagi yang lain.
Budaya apresiasi juga patut mendapat tempat. Penghargaan terhadap inovasi, tata kelola, kolaborasi, dan dampak sosial dapat memberi energi baru. Nama seperti “Batom Inspiratif” terasa sederhana, tetapi dapat menjadi tanda bahwa usaha baik dilihat dan dihargai.
Gagasan “ICMI Certified Organization” juga dapat dipertimbangkan secara bertahap. Standar dan mekanismenya perlu disusun bersama agar tidak terasa sebagai kompetisi yang kaku. Pengakuan itu sebaiknya menjadi sarana belajar, bukan sekadar label yang ditempelkan pada lembaga.
Budaya yang Membuat Sistem Hidup
Budaya organisasi akan menentukan apakah berbagai sistem tersebut benar-benar hidup. Robbins dan Judge (2024) menjelaskan bahwa budaya memberi identitas serta arah perilaku kepada anggota. Dalam ICMI, identitas itu tumbuh dari keislaman, keilmuan, keindonesiaan, keterbukaan, kemandirian, dan kekeluargaan.
Kekeluargaan bukan nilai baru yang dibawa dari luar. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga ICMI telah menempatkannya sebagai salah satu sifat organisasi. Pembicaraan mengenai manajemen kekeluargaan berarti usaha menerjemahkan nilai itu menjadi perilaku sehari-hari.

Hermawan dan Loo (2019) menunjukkan bahwa budaya kekeluargaan dalam organisasi Indonesia berkaitan dengan rasa hormat, harmoni, solidaritas, pengayoman, dan hubungan sosial yang dekat. Nilai tersebut terasa akrab dalam kehidupan organisasi kita. Namun, ia akan semakin sehat bila berjalan bersama keterbukaan dan tanggung jawab profesional.
Kehangatan tidak harus menghilangkan ketegasan. Sebaliknya, ketegasan tidak perlu membuat orang kehilangan rasa aman. Penting membangun sikap asertif. Dalam suasana saling percaya, anggota lebih terbuka, berani mengakui kesulitan, meminta bantuan, dan menyampaikan ide yang mungkin belum sempurna.
Kadang yang membuat suasana kerja sejuk bukan AC ruang rapat, melainkan sikap saling percaya. Kalimat ini terdengar ringan, tetapi isinya cukup serius. Banyak kerja sama tumbuh bukan karena prosedur yang panjang, melainkan karena orang merasa didengar dan dihargai.
ICMI dapat menyusun kalender pembinaan Batom secara berkala. Isinya tidak perlu terlalu padat. Beberapa sesi coaching, pelatihan, forum berbagi, dan proyek kolaborasi yang konsisten mungkin justru lebih berguna daripada banyak kegiatan yang tidak sempat diikuti dengan baik.
Batom ekonomi dapat membantu Batom sosial menyusun program kemandirian. Batom yang kuat dalam kajian dapat mendukung proses evaluasi atau penyusunan rekomendasi kebijakan. Batom yang lebih siap secara digital dapat membagikan cara mengelola data dan dokumentasi.
Dari hubungan seperti itulah knowledge management tumbuh. Pengetahuan tidak berhenti pada satu orang atau satu periode kepengurusan. Pengalaman dicatat, disimpan, dibicarakan, kemudian dipakai kembali ketika organisasi menghadapi persoalan serupa.
Sebuah ICMI Knowledge Hub dapat menjadi rumah bersama bagi pengetahuan tersebut. Isinya bisa berupa laporan program, rekaman forum, modul, praktik baik, serta catatan pembelajaran. Tidak perlu menunggu sistem yang sempurna, sebab repositori sederhana yang digunakan secara konsisten lebih berguna daripada platform canggih yang sepi.
Pelan-pelan kita belajar bahwa yang bekerja bukan programnya saja. Kebiasaan di belakang program sering kali jauh lebih menentukan: mencatat, mendengar, berbagi, menepati kesepakatan, dan menghargai kontribusi. Dari kebiasaan semacam itulah budaya kerja cendekia tumbuh.
ICMI telah mempunyai jaringan cendekia lintas bidang, sejarah karya yang panjang, serta nilai kekeluargaan yang kuat. Semua itu dapat dipertemukan melalui sistem pembinaan yang semakin terhubung. Batom pun berkembang sebagai ruang inovasi, pembelajaran, dan karya nyata.
Allah memberikan pelajaran penting mengenai kepemimpinan melalui QS. Ali ‘Imran [3]: 159: “Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah.”
Ayat tersebut turun dalam suasana sulit setelah Perang Uhud. Rasulullah ﷺ tetap diarahkan untuk bersikap lembut, memaafkan, dan melibatkan para sahabat dalam musyawarah. Rahmah menjaga manusia tetap dekat, sedangkan tekad menjaga sebuah kelompok tidak kehilangan arah.
Semangat itu layak menjiwai pembinaan Batom. Lembut dalam pendekatan, kuat dalam prinsip, terbuka dalam musyawarah, dan bersungguh-sungguh menjaga amanah ketika keputusan telah diambil. Ketika Batom tumbuh, ICMI ikut menguat. Dari sana, ilmu, akhlak, dan karya dapat mengalir lebih jauh bagi umat dan bangsa. InsyaAllah.
Kalau Boleh Dirangkum
- Batom bukan pelengkap dalam struktur ICMI. Di sanalah banyak gagasan besar menemukan bentuk kerja yang lebih dekat dengan kebutuhan umat.
- Otonomi akan tumbuh lebih sehat bila ditemani arah yang jelas, pembinaan yang konsisten, dan kepercayaan yang sungguh-sungguh.
- POAC, dashboard, coaching, dan evaluasi akan terasa manfaatnya bila dijalankan dengan adab, keterbukaan, serta cara kerja yang tetap manusiawi.
- Hubungan ICMI dan Batom sebaiknya terus berkembang sebagai ruang saling mendengar, belajar, dan membuka peluang kolaborasi.
- Pelan-pelan kita belajar bahwa kekuatan Batom tumbuh dari kebiasaan sehari-hari: mencatat, berbagi, menepati kesepakatan, dan menghargai kontribusi.
Kalau Mau Dipraktikkan
- Mulailah dengan percakapan yang jujur bersama setiap Batom: apa yang sudah berjalan baik, bagian mana yang masih tersendat, dan dukungan apa yang paling dibutuhkan.
- Susun dashboard sederhana berisi sasaran, capaian, kendala, dan rencana berikutnya. Tidak perlu terlalu ramai; yang penting dipakai dan dibaca bersama.
- Adakan forum berbagi yang tidak sesak oleh seremoni. Setiap Batom cukup membawa satu praktik baik, satu persoalan yang belum selesai, dan satu peluang kerja sama.
- Hubungkan Batom dengan mentor yang sesuai bidangnya. Pendamping tidak perlu mengambil alih; cukup membantu membaca situasi dan memperluas pilihan.
- Biasakan setiap kegiatan meninggalkan jejak pembelajaran. Tidak harus berupa laporan panjang. Catatan singkat yang jujur sering kali lebih berguna bagi kepengurusan berikutnya.
Daftar Pustaka
ANTARA News. (2022, September 17). Munaslub putuskan perubahan nama Masika menjadi Pemuda ICMI. https://www.antaranews.com/berita/3122961/munaslub-putuskan-perubahan-nama-masika-menjadi-pemuda-icmi
Hermawan, M. S., & Loo, M. K. (2019). The construction of kekeluargaan as Indonesia’s organizational culture. Humaniora, 31(3), 270–281. https://doi.org/10.22146/jh.42851
Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. (2021). Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga ICMI 2021–2026.
Media Center Kota Singkawang. (2022, August 29). Alisa Khadijah siap jadi ibu asuh stunting. https://mediacenter.singkawangkota.go.id/berita/alisa-khadijah-siap-jadi-ibu-asuh-stunting
Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2024). Organizational behavior (Global ed.). Pearson.
Senge, P. M. (1990). The fifth discipline: The art & practice of the learning organization. Doubleday.
Terry, G. R. (1958). Principles of management. Richard D. Irwin.




