بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
ICMI dan CIDES:
Dari Gagasan ke Kebijakan
Artikel 19
Oleh: Bagus Suminar – Aktivis ICMI Jawa Timur, Principal Consultant pada mutupendidikan.com
“ICMI memiliki banyak gagasan. CIDES membantu gagasan-gagasan itu menemukan bentuk, bahasa, dan jalan menuju kebijakan.”
Sejak berdiri, ICMI dikenal sebagai tempat berhimpunnya para cendekia Muslim sekaligus ruang lahirnya berbagai gagasan untuk kemajuan bangsa. Di balik pemikiran-pemikiran itu selalu ada proses yang tidak sederhana: mendengar pengalaman, mengkaji persoalan, berdialog, lalu menyusun jalan keluar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan membawa maslahat bagi masyarakat.
Semangat tersebut ikut melandasi keberadaan Center for Information and Development Studies (CIDES). Kehadirannya mengingatkan bahwa ilmu akan semakin bermakna ketika dapat diterjemahkan menjadi pertimbangan yang berguna bagi kehidupan bersama. Dengan cara seperti itulah ICMI terus merawat tradisinya sebagai organisasi yang berpikir, belajar, dan berkarya untuk bangsa.
Setiap organisasi, apapun bentuknya mempunyai cara sendiri untuk menjaga keberlanjutan pemikirannya. Ada yang bertumpu pada pengalaman para senior, ada yang tumbuh melalui kekuatan diskusi, dan ada pula yang membangun lembaga khusus untuk mengolah hasil kajian menjadi masukan strategis.
Bentuknya dapat berbeda, tetapi kebutuhannya kurang lebih sama. Buah pikiran yang lahir dari organisasi perlu dirawat agar tidak berhenti sebagai wacana dan percakapan sesaat. Ia membutuhkan data, dialog, kajian, penelaahan, dan waktu untuk tumbuh menjadi pandangan yang lebih matang.
Organisasi cendekia juga memerlukan ruang yang secara khusus memelihara proses tersebut. Informasi dihimpun, berbagai sudut pandang dipertemukan, lalu persoalan dibaca secara lebih utuh. Dalam literatur kebijakan, ruang semacam ini dikenal sebagai think tank. Di lingkungan ICMI, ikhtiar intelektual itu berkembang melalui CIDES.
Mutu sebuah think tank tidak selalu terlihat dari seberapa sering namanya muncul di ruang publik. Ia lebih mudah dikenali melalui kejernihan persoalan yang dibaca, kekuatan data yang digunakan, dan ketepatan rekomendasi dan masukan yang dihasilkan. Sebagian besar pekerjaannya memang berlangsung dengan tenang: memeriksa asumsi, membaca perubahan, mempertemukan pandangan, lalu menawarkan beberapa kemungkinan jalan keluar.
Agar Riset Sampai ke Kebijakan
Persoalan tentang bagaimana hasil penelitian dapat memengaruhi kebijakan sudah lama menjadi perhatian para ahli. Carol H. Weiss (1979) mengingatkan bahwa sebuah penelitian tidak otomatis mengubah keputusan publik. Agar benar-benar memberi manfaat, hasil kajian perlu dipahami, didiskusikan, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa yang sesuai dengan kebutuhan para pengambil keputusan.
Pandangan Weiss terasa dekat dengan kehidupan ICMI. Di berbagai wilayah, sering lahir pengalaman, inovasi, dan hasil kajian yang sebenarnya sangat berharga. Namun semua itu baru akan memberi manfaat lebih luas bila dirangkum dengan baik, diperkuat dengan data, lalu disampaikan dalam bentuk yang mudah dipahami oleh pihak yang dapat menindaklanjutinya.
Prosesnya tentu tidak selalu seragam. Setiap isu mempunyai karakter, sumber data, dan pemangku kepentingan yang berbeda. Namun sebagai inspirasi, alur pengolahan gagasan menuju pertimbangan kebijakan dapat dibayangkan melalui tahapan berikut. Model ini bukan rancangan resmi ICMI atau CIDES. Ia merupakan ilustrasi penulis yang terbuka untuk dibahas dan disesuaikan dengan kebutuhan organisasi.
Tabel 1. Alur Pengolahan Gagasan Menjadi Pertimbangan Kebijakan
| Tahap | Proses dan Hasil |
|---|---|
| Identifikasi isu | Menghimpun persoalan strategis dari masyarakat, wilayah, kampus, dan jejaring profesi. Hasilnya berupa daftar isu yang layak dikaji lebih lanjut. |
| Pengumpulan data | Menggabungkan data primer dan sekunder, pengalaman lapangan, hasil penelitian, serta pandangan ahli sebagai dasar analisis. |
| Analisis dan sintesis | Membaca pola, melihat hubungan antarpersoalan, merumuskan inti masalah, serta menyusun beberapa alternatif pemecahan. |
| Dialog dan validasi | Mendiskusikan hasil kajian bersama akademisi, praktisi, masyarakat, dan pemangku kepentingan untuk memperkaya perspektif. |
| Perumusan rekomendasi | Menyusun hasil kajian menjadi pertimbangan yang ringkas, jernih, dan mudah dipahami oleh pihak yang berkepentingan. |
| Pembelajaran berkelanjutan | Mendokumentasikan proses, tanggapan, dan pelajaran yang diperoleh agar dapat dimanfaatkan dalam kajian berikutnya. |
Sumber: Diolah oleh penulis sebagai ilustrasi, 2026.
Alur tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan sebuah kajian tidak selesai ketika naskahnya ditulis. Sering kali pekerjaan yang lebih menentukan baru dimulai sesudahnya: memeriksa kembali rumusan masalah, membuka ruang tanggapan, memperbaiki analisis, dan mencari cara yang tepat untuk sosialisasi dan menyampaikan hasilnya.
Nama lembaga tentu penting, tetapi budaya berpikir di dalamnya jauh lebih menentukan. Ketika sebuah organisasi terbiasa mengolah pengalaman menjadi pengetahuan, kemudian menggunakan pengetahuan itu untuk membaca persoalan publik, organisasi sedang membangun modal intelektual yang dapat melampaui satu periode.
Jejaring yang Menghidupkan Gagasan
Lembaga pemikir juga sulit hidup hanya dengan mengandalkan satu atau dua orang. Gagasan yang bertahan biasanya lahir dari perjumpaan berbagai pengalaman, disiplin ilmu, dan cara melihat persoalan. Jejaring menjadi bagian yang penting.
Semangat itu sudah melekat dalam perjalanan ICMI. Sejak awal, ICMI dibangun sebagai rumah bagi cendekiawan dari berbagai bidang ilmu, profesi, dan daerah. Keragaman tersebut menyimpan kekuatan yang besar, terutama ketika kepakaran yang tersebar mulai saling terhubung.
CIDES dapat menjadi salah satu ruang temu bagi pengetahuan yang beragam itu. Pengalaman daerah, hasil penelitian kampus, pandangan profesional, serta suara masyarakat dapat dirangkai menjadi pembacaan yang lebih lengkap. Dari perjumpaan seperti itu kerap muncul sudut pandang baru yang sebelumnya belum terlihat.
Laporan ANTARA yang ditulis Budi Setiawanto pada 7 Desember 2010 menyebut CIDES sebagai think tank yang didirikan ICMI pada masa kepemimpinan B. J. Habibie. Dalam perjalanan awal lembaga itu, Adi Sasono—tokoh ekonomi kerakyatan—dikenal sebagai salah satu sosok yang lekat dengan perkembangan CIDES. Laporan yang sama juga mencatat bahwa ia pernah mengajak Priyo Budi Santoso bergabung di CIDES.
Keterangan tersebut memang singkat, tetapi arah yang dibawanya cukup jelas. Ilmu perlu menemukan jalan menuju kemanfaatan publik. CIDES menyediakan salah satu ruang bagi perjalanan itu.
Arah tersebut masih relevan ketika persoalan bangsa bergerak semakin kompleks. Isu ekonomi, budaya, pendidikan, kesehatan, lingkungan, teknologi, hingga ketahanan sosial saling berkaitan. Satu disiplin ilmu saja sering tidak cukup untuk membaca semuanya. Perlu pendekatan multi disiplin.
ICMI mempunyai peluang menghadirkan kontribusi yang khas melalui jejaring cendekianya. Kontribusi tersebut tidak harus selalu berbentuk pernyataan besar. Kajian yang tajam, data yang terpercaya, serta pilihan penyelesaian yang disusun dengan tenang sering memberi pengaruh yang lebih panjang.
Jejaring itu tersebar di kampus, lembaga pemerintahan, dunia usaha, organisasi sosial, komunitas profesi, hingga diaspora. Masing-masing membawa jenis pengetahuan yang berbeda. Akademisi terbiasa menelaah teori dan data. Praktisi mengenal medan penerapan. Daerah menyimpan pengalaman nyata, sedangkan diaspora dapat memperluas pandangan melalui perbandingan dengan berbagai negara.
Pemetaan berikut memberi gambaran sederhana mengenai cara jejaring tersebut dapat saling menguatkan. Sekali lagi, tabel ini bukan pembagian tugas resmi. Ia hanya ilustrasi tentang kemungkinan kolaborasi yang dapat berkembang di lingkungan ICMI.
Tabel 2. Jejaring Cendekia ICMI untuk Penguatan Fungsi Think Tank
| Jejaring | Potensi Kontribusi |
|---|---|
| Akademisi dan peneliti | Menghasilkan riset, telaah ilmiah, analisis data, serta validasi akademik sebagai dasar penyusunan masukan kebijakan. |
| Profesional dan praktisi | Membawa pengalaman lapangan, memahami sisi penerapan, dan memberi pandangan mengenai kelayakan suatu gagasan. |
| Orwil, Orda, Orsat, dan Batom | Menghadirkan data, kebutuhan, serta pengalaman daerah agar kajian tetap berpijak pada realitas masyarakat. |
| Cendekia diaspora | Memberikan perspektif global, praktik baik dari berbagai negara, mentoring, dan peluang kolaborasi internasional. |
| CIDES | Membantu mempertemukan berbagai pengetahuan tersebut agar berkembang menjadi kajian dan pertimbangan yang lebih utuh. |
Sumber: Diolah oleh penulis sebagai ilustrasi, 2026.
Pola seperti ini tidak selalu menuntut struktur yang semakin besar. Ia lebih membutuhkan hubungan yang hidup, rasa saling percaya, serta kesediaan untuk berbagi. Ketika setiap unsur mempunyai ruang untuk menyampaikan pengalaman, jejaring mulai berubah menjadi komunitas belajar.
Peter M. Haas (1992) menyebut jaringan semacam itu sebagai epistemic community: komunitas para ahli yang berbagi kepakaran, prinsip, dan cara memahami suatu persoalan. Mereka tidak memegang kewenangan formal untuk memutuskan kebijakan, tetapi dapat memengaruhi cara persoalan dirumuskan dan pilihan penyelesaiannya dipertimbangkan.
Bila dibaca dari sudut pandang ICMI, gagasan Haas memberi pelajaran yang menarik. Kekuatan organisasi cendekia tidak hanya terletak pada jumlah orang yang berhimpun. Nilainya tumbuh ketika pengetahuan yang dimiliki para anggota dapat saling dipertemukan.
Dalam posisi itu, CIDES dapat menjalankan peran sebagai simpul. Ia membantu buah pikiran dari berbagai bidang saling mengenal, saling menguji, lalu tumbuh menjadi masukan yang lebih matang. CIDES tidak perlu menjadi pemilik seluruh gagasan. Cukup menjadi ruang yang membuat gagasan-gagasan baik menemukan temannya.
Pengetahuan Bergerak dari Banyak Arah
Fungsi tersebut dapat berkembang dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan organisasi. Sebuah Orwil mungkin mempunyai pengalaman panjang dalam ekonomi syariah. Daerah lain memberi perhatian besar pada pendidikan, kesehatan masyarakat, lingkungan, atau teknologi tepat guna. Tema kajian dapat tumbuh dari kebutuhan lokal, lalu diperkaya melalui percakapan lintas wilayah.
Kampus mempunyai tempat yang penting dalam proses itu. Banyak anggota ICMI berada di perguruan tinggi dan pusat studi. Mereka dapat membantu memperkuat metode, membaca data, serta mendampingi cendekia muda dalam menyusun ringkasan kebijakan yang jernih.
Pengalaman para praktisi menjaga kajian tetap berpijak di bumi. Sebuah usulan mungkin terlihat baik di atas kertas, tetapi penerapannya berhadapan dengan regulasi, anggaran, kebiasaan masyarakat, dan kemampuan kelembagaan. Pertemuan akademisi dengan praktisi kerap membuka sisi-sisi yang tidak terbaca dari satu sudut saja.
Cendekia diaspora juga menawarkan ruang yang menarik. Mereka dapat berbagi praktik baik, mempertemukan ICMI dengan jejaring penelitian internasional, atau menjadi teman diskusi bagi tim kajian di Indonesia. Hubungan itu tidak harus selalu berbentuk proyek besar. Percakapan yang teratur, rutin dan terarah, sudah sangat cukup untuk membuka jalan baru.
Pengalaman dari berbagai sumber tersebut perlu dirawat. Setiap seminar, muzakarah, diskusi, atau penelitian menyimpan pengetahuan yang nilainya dapat melampaui kegiatan itu sendiri. Ada data, cara membaca masalah, pengalaman bekerja sama, bahkan pelajaran dari sebuah gagasan yang belum sempat diterapkan.
Ketika pengalaman itu dicatat dan dibagikan kembali, ICMI sedang membangun ingatan bersama. Periode berikutnya tidak perlu selalu memulai dari awal. Ada pengetahuan yang dapat diteruskan, diperbaiki, atau dibaca kembali dari sudut pandang yang baru.
Pemikiran Peter M. Senge (1990) tentang organisasi pembelajar dapat menjadi pengingat. Organisasi berkembang ketika orang-orang di dalamnya terus meningkatkan kemampuan untuk belajar bersama, menguji cara pandang, dan membangun visi yang dipahami secara kolektif. Dalam konteks ICMI, semangat tersebut terasa dekat dengan tradisi silaturahim dan berbagi ilmu.
Manajemen pengetahuan hadir secara sederhana di sini. Ia hidup melalui kebiasaan mencatat, menyimpan, membaca kembali, dan membagikan pembelajaran. Teknologi dapat membantu lewat repositori digital, peta kepakaran, atau ruang berbagi hasil kajian. Namun ruhnya tetap terletak pada kemauan manusia untuk saling belajar.
Generasi muda mempunyai tempat penting dalam perjalanan tersebut. Banyak cendekia muda membawa keberanian, kecepatan belajar, dan cara pandang baru. Para senior menyimpan pengalaman, jejaring, dan pemahaman yang lahir dari perjalanan panjang. Pertemuan keduanya memberi peluang dan kesempatan organisasi untuk tumbuh tanpa kehilangan akar.
Membawa Kajian ke Ruang yang Lebih Luas
Peran sebuah think tank juga tampak dari kemampuannya membawa hasil kajian ke ruang percakapan yang lebih luas. Riset yang baik perlu menemukan bentuk komunikasi yang tepat agar dapat dibaca oleh pemerintah, media, akademisi, serta masyarakat.
Kiprah Andi Bakti memberi salah satu gambaran mengenai luasnya ruang kontribusi tersebut. Dalam pemberitaan JPNN.com pada 15 September 2025, Andi Bakti—yang saat itu diperkenalkan sebagai Ketua CIDES ICMI—menjadi pembicara dalam Africa Global Health Symposium di Casablanca, Maroko. Forum tersebut berlangsung pada 4–5 September 2025.
Dalam kesempatan itu, ia membahas pendekatan harm reduction dari perspektif Islam, terutama melalui prinsip maslahah dan hifz al-nafs. Kehadiran tersebut memperlihatkan bahwa perspektif yang berakar pada nilai Islam dapat disampaikan dalam percakapan kebijakan internasional dengan bahasa yang ilmiah dan terbuka.
Pengalaman tersebut layak dibaca sebagai inspirasi. Sebuah lembaga pemikir akan semakin berarti ketika mampu membawa kekhasan nilainya tanpa menutup diri dari percakapan yang lebih luas. Identitas tidak menjadi dinding. Ia justru memberi sudut pandang.
Di lingkungan ICMI, ruang dialog sebenarnya telah tersedia dalam berbagai bentuk. Ada silaturahim, muzakarah, seminar, pertemuan wilayah, diskusi kampus, dan forum profesi. Bila hasilnya dirangkum, disimpan, lalu dikembangkan kembali, setiap kegiatan akan meninggalkan jejak pengetahuan yang lebih panjang.
CIDES dapat membantu merangkai jejak tersebut melalui kajian tematik, ringkasan kebijakan, forum lintas disiplin, atau kerja sama dengan kampus dan pemerintah daerah. Bentuknya bisa dimulai dari hal yang sederhana. Mutu prosesnya yang perlu dijaga: pertanyaan yang jernih, data yang dapat dipercaya, empati, dialog yang terbuka, serta kesediaan memperbaiki pemikiran.
Dengan cara itu, fungsi think tank terasa lebih dekat dengan kehidupan organisasi. Daerah membawa pengalaman. Kampus memperkuat analisis. Para profesional membaca sisi penerapan. Diaspora memperluas cakrawala. CIDES membantu menjahit semuanya menjadi pandangan yang lebih utuh.
Belajar dari Tradisi Ilmu
Sejarah Islam memberi inspirasi yang kuat tentang penghormatan terhadap pengetahuan. Pada masa Abbasiyah, Baghdad berkembang sebagai pusat gerakan penerjemahan dan pertumbuhan ilmu yang mempertemukan warisan Persia, Yunani, India, dan tradisi intelektual Islam. Dalam ingatan peradaban, semangat itu sering dikaitkan dengan Bayt al-Hikmah, sebuah perpustakaan istana pada masa khalifah-khalifah awal Abbasiyah.
Kajian sejarah modern mengingatkan kita agar tidak menggambarkan Bayt al-Hikmah secara berlebihan sebagai universitas atau lembaga riset modern. Namun semangat penghormatan terhadap buku, ilmu, penerjemahan, dan perjumpaan para pemikir pada masa itu tetap meninggalkan pelajaran yang berharga.

CIDES tentu lahir dalam zaman, bentuk, dan kebutuhan yang berbeda. Ada satu semangat yang masih relevan: pengetahuan perlu dihimpun, dirawat, diuji, lalu dibagikan. Ilmu yang hidup bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya dan dari ruang kajian menuju kehidupan masyarakat.
Semangat itulah yang dapat terus dirawat ICMI. Sebagai rumah para cendekia Muslim, ICMI memiliki warisan keilmuan, jejaring, dan pengalaman yang luas. CIDES memberi salah satu jalan agar kekayaan tersebut dapat diolah menjadi pandangan yang berguna bagi bangsa.
Nama lembaga dapat berkembang dan bentuk organisasi bisa berubah mengikuti zaman. Dinamika dan kebutuhan akan ruang berpikir akan tetap ada. Selama ICMI menjaga tradisi belajar, membuka dialog, dan menghargai pengetahuan dari berbagai wilayah, fungsi think tank akan selalu relevan dan menemukan tempatnya.
Perjalanan dari gagasan menuju kebijakan memang membutuhkan waktu. Ada proses mendengar, menguji, menimbang, lalu menyampaikan dengan bahasa yang tepat. Jalannya tidak selalu ramai. Namun di sanalah kerja cendekia menemukan bentuk pengabdiannya.
Jika Baghdad pada masa Abbasiyah pernah menjadi salah satu cahaya ilmu dunia, CIDES dapat mengambil inspirasi dari semangat tersebut untuk Indonesia hari ini. Menjadi ruang tempat gagasan dirawat, kepakaran dipertemukan dengan problematik masyarakat, dan kebijakan memperoleh pertimbangan yang jernih.
Dari sana, ICMI terus berkarya—dengan pengetahuan sebagai amanah, jejaring sebagai kekuatan, dan kemaslahatan sebagai arah.
Kalau Boleh Dirangkum
- ICMI kaya akan gagasan. Yang kadang terlewat adalah bagaimana gagasan itu dirawat agar tidak berhenti di ruang diskusi, lalu tumbuh menjadi pertimbangan yang berguna bagi masyarakat.
- CIDES memiliki posisi penting sebagai ruang yang mempertemukan ilmu, pengalaman lapangan, jejaring cendekia, dan kebutuhan kebijakan.
- Kajian yang baik memerlukan data yang dapat dipercaya, dialog yang terbuka, dan cara penyampaian yang mudah dipahami oleh pihak yang berkepentingan.
- Kekuatan ICMI tumbuh dari kemampuan mempertemukan pengetahuan yang tersebar di kampus, daerah, dunia profesi, dan diaspora.
- Perjalanan dari gagasan menuju kebijakan memang tidak singkat. Justru melalui proses mendengar, menguji, dan menimbang itulah pengabdian seorang cendekia menemukan bentuknya.
Kalau Mau Dipraktikkan
- Kita bisa mulai dari isu yang benar-benar dirasakan masyarakat atau daerah. Rekomendasi akan lebih kuat bila persoalannya dipahami lebih dahulu secara utuh.
- Orang-orang dengan latar belakang berbeda layak dilibatkan sejak awal. Akademisi, praktisi, ICMI di daerah, dan masyarakat sering melihat sisi persoalan yang tidak sama.
- Seusai seminar atau muzakarah, temuan penting dapat diringkas, disimpan dengan rapi, lalu diteruskan kepada pihak yang dapat mengembangkannya.
- Hasil kajian sebaiknya juga tersedia dalam bentuk yang lebih singkat dan mudah dibaca. Tidak semua pengambil keputusan sempat membaca laporan panjang, tetapi mereka tetap memerlukan analisis yang jernih.
- Kebiasaan belajar lintas generasi perlu terus dirawat. Pengalaman para senior dapat diteruskan, sementara cendekia muda memperoleh ruang untuk membawa cara pandang dan metode baru.
Referensi
Gutas, D., & van Bladel, K. (2009). Bayt al-Ḥikma. In K. Fleet, G. Krämer, D. Matringe, J. Nawas, & E. Rowson (Eds.), Encyclopaedia of Islam, THREE. Brill.
Haas, P. M. (1992). Introduction: Epistemic communities and international policy coordination. International Organization, 46(1), 1–35. https://doi.org/10.1017/S0020818300001442
JPNN.com. (2025, September 15). Ketua Cides ICMI bicara soal pendekatan Islam dan harm reduction di forum internasional. https://www.jpnn.com/news/ketua-cides-icmi-bicara-soal-pendekatan-islam-dan-harm-reduction-di-forum-internasional
Senge, P. M. (1990). The fifth discipline: The art and practice of the learning organization. Doubleday/Currency.
Setiawanto, B. (2010, December 7). Wajah Presidium ICMI 2010–2015. ANTARA News. https://www.antaranews.com/berita/236762/wajah-presidium-icmi-2010-2015
Weiss, C. H. (1979). The many meanings of research utilization. Public Administration Review, 39(5), 426–431. https://doi.org/10.2307/3109916




