ICMI dan Titik Ungkit

ICMI dan Titik Ungkit Umat

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

ICMI dan Titik Ungkit Umat:
Mengubah Kapasitas Diam Menjadi Gerakan

Artikel 32 (9 Juli 2026)

Oleh Bagus Suminar
Aktivis ICMI Jawa Timur, Principal Consultant pada sdmindonesia.com

“Masalah umat terlalu rumit bila dikejar sekaligus. ICMI perlu menemukan titik ungkit: kecil, tepat, lalu menggerakkan banyak hal.”

Masalah umat hari ini sering tampak seperti simpul yang saling mengunci. Pendidikan terkait dengan ekonomi. Ekonomi terkait dengan literasi. Literasi terkait dengan budaya kerja. Budaya kerja terkait dengan kepemimpinan. Kalau semua ingin diselesaikan sekaligus, organisasi mudah lelah sebelum mulai bergerak. Barangkali ICMI perlu belajar memulai dari titik kecil yang paling menentukan.

Kegelisahan seperti ini tentu tidak muncul dari ruang kosong. Banyak pengurus ICMI di daerah melihat persoalan umat dari jarak yang dekat. Ada yang bergulat dengan pendidikan. Ada yang mendampingi UMKM. Ada yang memahami teknologi. Ada yang lama bergerak di dunia kebijakan, pesantren, kampus, birokrasi, kesehatan, pertanian, hukum, dan dakwah. Kalau dihitung satu per satu, kapasitas itu besar. Terlalu besar bila hanya berhenti sebagai daftar nama dalam struktur.

Yang kadang membuat kita termenung, kapasitas besar itu belum selalu berubah menjadi gerakan bersama. Ada pakar yang siap membantu, tetapi belum tahu harus masuk lewat pintu mana. Ada pengurus yang punya pengalaman, tetapi tidak sempat mencatatnya. Ada daerah yang punya praktik baik, tetapi kabarnya berhenti di grup kecil. Ada gagasan bagus, tetapi setelah rapat selesai, ia ikut pulang bersama notulen yang entah disimpan di folder siapa.

Ini sedikit lucu, sekaligus getir. Dalam organisasi modern, kadang jumlah grup WhatsApp bisa lebih banyak daripada program yang benar-benar tuntas. Grupnya hidup, stikernya ramai, saling kirim konten, tetapi gagasan belum tentu menemukan jalan menuju tindakan. Tentu ini bukan khas ICMI saja. Banyak organisasi mengalami hal yang sama. Bedanya, ICMI membawa nama besar: cendekiawan muslim. Di sana ada amanah ilmu, amanah umat, dan amanah kebangsaan.

Sejak awal, ICMI lahir dari kesadaran bahwa cendekiawan muslim tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Dalam catatan sejarah ICMI, kelahiran organisasi ini berangkat dari keprihatinan terhadap keadaan cendekiawan muslim yang berserakan, sehingga kepemimpinan umat mudah terpolarisasi dan bergerak secara parsial. ICMI kemudian dibentuk di Malang pada 7 Desember 1990, dengan B. J. Habibie sebagai Ketua Umum pertama. Dalam sambutannya, Habibie menegaskan bahwa berdirinya ICMI tidak berarti hanya memperhatikan umat Islam, tetapi juga memiliki komitmen memperbaiki nasib seluruh bangsa Indonesia.

Kalimat Habibie itu penting dibaca kembali. ICMI bergerak dari rahim umat, lalu pengabdiannya terbentang untuk Indonesia. Karena itu, ketika hari ini kita bertanya dari mana ICMI harus memulai, jawabannya tidak cukup dengan kalimat besar. Perlu cara membaca yang lebih jernih: bagian mana dari simpul umat yang bila disentuh dapat menggerakkan simpul-simpul lain?

Donella H. Meadows dalam esainya Leverage Points: Places to Intervene in a System (1999), kemudian dalam buku Thinking in Systems: A Primer (2008), menjelaskan bahwa sistem yang kompleks tidak selalu berubah melalui intervensi besar. Kadang perubahan jauh justru lahir dari titik kecil yang dipilih dengan tepat. Ia menyebutnya leverage points, titik ungkit. Sebuah tempat dalam sistem yang bila disentuh secara cerdas dapat mengubah arah gerak sistem.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, titik ungkit adalah tempat kecil yang pengaruhnya tidak kecil.

“Titik ungkit adalah tempat kecil yang pengaruhnya tidak kecil.”

Agar gagasan titik ungkit ini tidak berhenti sebagai istilah yang menarik, kita bisa membacanya melalui beberapa contoh sederhana. Tabel berikut bukan rekomendasi, melainkan sekedar contoh, ilustrasi awal tentang bagaimana ICMI dapat melihat simpul kecil yang mungkin berdampak luas.

Tabel: Beberapa Contoh Titik Ungkit

Contoh Titik UngkitArah Dampak
Menggerakkan pakar pendidikan, kampus, pesantren, dan sekolah binaanLiterasi umat lebih merata; guru lebih siap, kader muda terbimbing, praktik belajar lebih hidup
Menyambungkan pakar ekonomi, pelaku UMKM, koperasi, BMT, dan jejaring usahaEkonomi umat lebih kuat; usaha kecil naik kelas, jejaring pasar terbuka, kemandirian tumbuh
Membuat ruang belajar AI yang etis, praktis, dan mudah dipahamiUmat lebih adaptif terhadap teknologi tanpa kehilangan adab
Menyediakan kanal catatan singkat, policy brief, mentoring, dan forum lintas bidangIlmu pakar tidak berhenti di kepala, tetapi menjadi bahan belajar bersama
Mencatat dan membagikan pengalaman Orwil, Orda, Orsat, dan BatomPraktik baik daerah terdengar, ditiru, disesuaikan, lalu dikembangkan
Membuka ruang lintas generasi antara senior, pakar, dan pengurus mudaRegenerasi lebih hangat; ilmu berpindah dan jejaring organisasi hidup

Tabel diatas hanya contoh. Ia hanya cara awal untuk melihat bahwa masalah besar tidak selalu harus dimasuki dari pintu yang besar. Kadang pintu kecil yang tepat justru membuat banyak ruang lain ikut terbuka.

Untuk ICMI, gagasan “titik ungkit” terasa sangat relevan. Masalah umat terlalu luas bila semuanya dikerjakan dari depan. Pendidikan, ekonomi, teknologi, akhlak sosial, kebijakan publik, kesehatan, lingkungan, dan regenerasi sama-sama penting. Namun organisasi dengan sumber daya terbatas tidak bisa bergerak seperti pasukan yang mengejar semua arah. Ia perlu memilih. Bukan karena urusan lain tidak penting dan boleh ditinggalkan, melainkan karena energi perlu diberi jalan agar tidak habis menjadi sekedar kesibukan.

Di sini, “Strategi Fokus” menemukan maknanya. Fokus bukan menyempitkan pengabdian. Fokus adalah cara agar pengabdian punya tenaga. ICMI tidak harus menjawab semua soal dalam waktu yang sama. Yang lebih bijak adalah membaca bagian mana yang paling mungkin digerakkan, paling dekat dengan kapasitas ICMI, dan paling besar peluangnya melahirkan dampak berantai. Dalam tradisi pesantren, ada nasihat yang dinisbatkan kepada Abuya as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani: “sedikit yang mantap lebih baik daripada banyak yang ngawur”. Rasanya nasihat ini pas sekali untuk ICMI. Bukan banyaknya agenda yang membuat organisasi hidup, melainkan ketepatan memilih dan kesungguhan merawatnya.

Barangkali titik ungkit ICMI hari ini ada pada kapasitas diam para pakarnya.

Kapasitas diam bukan berarti tidak peduli. Sering kali yang terjadi justru sebaliknya. Banyak orang berilmu ingin berkontribusi, tetapi organisasi belum menyediakan wadah yang pas, bentuk kontribusi yang ringan, terarah, dan jelas. Tidak semua pakar harus menjadi pengurus harian. Tidak semua orang harus hadir dalam rapat panjang. Tidak semua gagasan harus menunggu acara dan seremoni besar. Ada orang yang cukup diminta menulis catatan singkat. Ada yang bisa memberi masukan kebijakan. Ada yang bisa membimbing kader muda. Ada yang bisa membaca data daerah. Ada yang bisa menjadi penghubung dengan kampus, pesantren, pemerintah daerah, atau dunia usaha.

Kalau kanalnya jelas, ilmu akan lebih mudah bergerak.

Ikujiro Nonaka dan Hirotaka Takeuchi dalam The Knowledge-Creating Company (1995) memberi pelajaran penting tentang bagaimana pengetahuan hidup dalam organisasi. Mereka membedakan pengetahuan yang masih melekat pada pengalaman pribadi dengan pengetahuan yang sudah bisa dibagikan secara terbuka. Pengetahuan para pakar sering tersimpan dalam pengalaman, intuisi, bacaan, jaringan, dan jam terbang panjang. Nilainya besar, tetapi mudah hilang bila tidak dialirkan.

ICMI memiliki banyak pengetahuan seperti itu. Pengalaman guru besar, pengusaha, ulama, birokrat, aktivis sosial, dokter, insinyur, dosen, praktisi pendidikan, dan penggerak masyarakat tersimpan di banyak kepala. Masalahnya, kepala manusia tidak bisa dijadikan gudang organisasi selamanya. Orang bisa sibuk, pindah tugas, sakit, lupa, atau wafat. Ilmu yang tidak sempat mengalir akan ikut pergi bersama pemiliknya. Ini kehilangan yang halus, tetapi serius.

Maka titik ungkit ICMI bukan sekadar mengumpulkan pakar. Yang lebih menentukan adalah mengalirkan pengetahuan mereka. Dari pengalaman menjadi catatan. Dari catatan menjadi bahan belajar. Dari bahan belajar menjadi program. Dari program menjadi praktik baik. Dari praktik baik menjadi inspirasi bagi wilayah lain. Pelan-pelan, organisasi tidak lagi bertumpu pada satu-dua orang kuat, tetapi pada ekosistem pengetahuan yang hidup.

Kurt Lewin dalam Field Theory in Social Science (1951) mengajarkan cara membaca perubahan melalui daya dorong dan daya hambat. Dalam organisasi, perubahan tidak cukup dengan niat baik. Selalu ada kekuatan yang mendorong dan kekuatan yang menahan. ICMI punya daya dorong besar: sejarah, jaringan, kepakaran, nilai Islam, legitimasi moral, dan kebutuhan umat yang nyata. Pada saat yang sama, ada daya hambat: koordinasi yang belum stabil, dokumentasi yang belum rapi, budaya menunggu, sumber daya terbatas, dan fokus yang kadang melebar ke terlalu banyak arah.

Maka kerja ICMI bukan sekadar menambah semangat. Semangat sudah ada. Yang perlu dilakukan adalah memperbesar daya dorong dan mengurangi daya hambat. Pakar yang diam diberi kanal. Forum yang terlalu umum diberi tema. Gagasan yang tercecer diberi rumah. Program yang banyak diberi prioritas. Silaturahim yang hangat diberi tindak lanjut. Dari situ gerakan mulai punya bentuk.

Prof. Arif Satria, Ketua Umum ICMI periode 2021–2026, pernah menyampaikan pesan yang sejalan dengan arah ini. Dalam Republika pada 15 Desember 2021, ia menegaskan bahwa ICMI harus besar karena gagasan, bukan karena kekuasaan. Dalam wawancara dengan Antara pada 19 Desember 2021, ia juga menekankan bahwa ICMI perlu menjadi hub collaborator bagi ormas, kampus, dan pemerintah daerah. Pesan ini sederhana, tetapi tajam: ICMI tidak perlu menjadi organisasi yang gaduh. ICMI perlu menjadi organisasi yang menggagas, menyambungkan, dan membantu bangsa menemukan jalan.

Dalam bahasa artikel ini, ICMI perlu menemukan titik ungkit: gagasan yang tepat, orang yang tepat, jejaring yang tepat, lalu gerakan yang cukup sederhana untuk dimulai.

Everett M. Rogers dalam Diffusion of Innovations (1962) menjelaskan bahwa inovasi menyebar melalui proses adopsi. Orang tidak serta-merta mengikuti gagasan baru. Mereka melihat dulu. Mencoba memahami. Menimbang manfaat. Mengamati siapa yang sudah berhasil. Jika praktik itu masuk akal dan bisa ditiru, barulah ia menyebar. Inilah yang sering terjadi dalam organisasi. Satu praktik baik di satu daerah bisa menginspirasi daerah lain, asal praktik itu terlihat, tercatat, dan mudah dipelajari.

Di ICMI, hal ini bisa menjadi jalan yang sangat manusiawi. Tidak perlu semua wilayah bergerak dengan pola yang sama. Satu Orda mungkin kuat di pendidikan. Orda lain kuat di ekonomi umat. Ada Orwil yang punya jaringan kampus. Ada Batom yang dekat dengan isu sosial. Ada pengurus muda yang kuat di teknologi digital. Tugas organisasi bukan menyeragamkan semua gerak, melainkan membaca mana yang bisa dijadikan titik ungkit dan bagaimana pengalaman itu dibagikan agar menjadi pembelajaran bersama.

Titik ungkit juga tidak selalu tampak gagah. Ia bisa berupa daftar pakar yang diperbarui dengan serius. Bisa berupa ruang kecil tempat para ahli membahas satu isu umat secara jernih. Bisa berupa kebiasaan mencatat hasil rapat dengan bahasa yang mudah dibaca. Bisa berupa satu kajian singkat yang membantu pemerintah daerah. Bisa berupa mentoring cendekia muda. Bisa berupa forum kecil yang membuat pengusaha, ulama, akademisi, dan aktivis duduk bersama tanpa harus menunggu seremoni besar.

Kadang organisasi terlalu sibuk mencari program besar, padahal pintu masuk perubahan justru ada di kebiasaan kecil yang dikerjakan terus-menerus.

ICMI pernah melahirkan karya yang berjejak. Dalam berbagai catatan kontribusinya, ICMI terkait dengan gerakan Baitul Maal wat Tamwil, Bank Muamalat, beasiswa Orbit, serta peran sebagai wadah pemikiran dan advokasi kebijakan publik. Warisan seperti itu memberi pesan bahwa ICMI sebenarnya tahu cara berkarya. Yang dibutuhkan hari ini adalah menemukan kembali irama kerjanya, dengan bahasa zaman yang baru dan sumber daya yang lebih realistis.

Di sinilah konsep multiplier effect dan spillover effect terasa dekat. Satu pakar yang bergerak bisa melahirkan banyak murid, mitra, modul, dan gagasan turunan. Satu praktik baik yang terlihat bisa merembes ke daerah lain. Satu jejaring yang disambungkan bisa membuka akses baru. Satu catatan yang ditulis dengan baik bisa menjadi bahan belajar bagi pengurus berikutnya. Dampak seperti ini tidak selalu langsung ramai, tetapi ia bekerja pelan-pelan. Seperti akar. Tidak kelihatan dari jauh, tetapi menopang batang.

Maka persoalan ICMI hari ini bukan sekadar bagaimana membuat lebih banyak kegiatan. Pertanyaan yang lebih tajam: kegiatan mana yang benar-benar membuka simpul? Forum mana yang menggerakkan pengetahuan? Pakar mana yang perlu disambungkan? Isu mana yang paling dekat dengan kebutuhan umat dan paling sesuai dengan kapasitas ICMI? Bila pertanyaan ini dijawab dengan jujur, ICMI akan lebih mudah membedakan antara kesibukan dan gerakan.

Kesibukan membuat kalender penuh. Gerakan membuat manfaat tumbuh.

Dalam tradisi Islam, memilih yang paling perlu didahulukan bukan tanda kurang peduli pada yang lain. Justru di situ letak hikmah. Yusuf al-Qardhawi dalam Fikih Prioritas (1996) mengingatkan bahwa amal baik pun perlu ditata menurut tingkat kepentingan dan dampaknya. Ada kebaikan yang harus segera dikerjakan, ada yang menunggu kesiapan, dan ada yang menjadi jalan bagi kebaikan lain. Dalam bahasa manajemen, inilah titik ungkit. Dalam bahasa agama, inilah adab menentukan prioritas.

Maka tugas ICMI hari ini mungkin tidak perlu dimulai dengan langkah yang terlalu megah. Cukup dimulai dari keberanian memilih simpul. Memilih isu yang paling dekat dengan kebutuhan umat. Memilih pakar yang bisa segera diajak bergerak. Memilih pengetahuan yang harus dicatat. Memilih jaringan yang perlu disambungkan. Memilih jalan kecil yang bila dirawat, insyaallah akan membuka jalan lebih luas.

Kapasitas diam tidak boleh terlalu lama menjadi diam. Di dalamnya ada ilmu, pengalaman, jejaring, dan amanah. Kalau ICMI mampu mengubah kapasitas itu menjadi gerakan, organisasi ini akan kembali menemukan napas panjangnya. Bukan napas yang bergantung pada acara besar, melainkan napas yang hidup dari ilmu yang mengalir, silaturahim yang bekerja, dan amal yang menyentuh kebutuhan umat.

Pada situasi seperti inilah ICMI bisa hadir kembali sebagai rumah cendekia yang menenangkan. Tidak harus paling ramai, tetapi memberi arah. Tidak harus paling keras, tetapi jernih. Tidak harus mengurus semua hal, tetapi berani memilih titik yang paling menentukan. Dari titik kecil yang dipilih dengan hikmah, kapasitas yang semula diam dapat mulai bergerak. Dari gerakan yang tertata, lahir efek berantai yang membuat manfaatnya terasa lebih luas. Dan dari manfaat yang terus tumbuh, Indonesia ikut merasakan cahaya kecendekiawanan muslim yang bekerja.


Kalau Boleh Dirangkum

  1. Masalah umat terlalu luas untuk diselesaikan sekaligus. ICMI perlu menemukan titik kecil yang paling menentukan agar energinya tidak habis menjadi kesibukan.
  2. Kapasitas ICMI sebenarnya besar, tetapi sebagian masih diam: tersimpan dalam pengalaman pakar, jaringan pengurus, dan praktik baik daerah yang belum sempat mengalir.
  3. Titik ungkit ICMI bukan sekadar mengumpulkan orang pintar, tetapi membuat ilmu mereka bergerak menjadi catatan, program, dan manfaat yang bisa dirasakan.
  4. Organisasi akan lebih kuat jika mampu membedakan antara kegiatan yang hanya memenuhi kalender dan gerakan yang benar-benar membuka simpul umat.
  5. ICMI tidak harus mengurus semua hal sekaligus. Cukup memilih simpul yang tepat, menggerakkannya dengan hikmah, lalu menjaga manfaatnya tumbuh pelan-pelan.

Kalau Mau Dipraktikkan

  1. Mulailah dengan memetakan pakar, pengalaman, dan jejaring yang dimiliki ICMI di setiap daerah. Jangan biarkan kapasitas besar hanya tersimpan sebagai daftar nama.
  2. Pilih satu atau dua isu umat yang paling dekat dengan kekuatan ICMI, lalu kerjakan dengan fokus sampai jejak manfaatnya mulai terlihat.
  3. Biasakan setiap praktik baik daerah dicatat dengan sederhana: apa masalahnya, apa yang dilakukan, siapa yang terlibat, dan apa pelajarannya.
  4. Buat kanal ringan bagi para pakar untuk berkontribusi, misalnya catatan singkat, mentoring kader muda, masukan kebijakan, atau forum kecil lintas bidang.
  5. Ukur keberhasilan bukan dari ramainya acara, tetapi dari apakah pengetahuan bergerak, jejaring tersambung, dan umat mulai merasakan manfaatnya.

Daftar Pustaka

ANTARA News. (2021, December 19). Arif Satria: ICMI harus besar dengan gagasan bukan kekuasaan. https://megapolitan.antaranews.com/berita/169681/arif-satria-icmi-harus-besar-dengan-gagasan-bukan-kekuasaan

Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. (2021). Anggaran Dasar Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia periode 2021–2026. ICMI.

Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. (2021). Anggaran Rumah Tangga Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia periode 2021–2026. ICMI.

Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. (n.d.). Sejarah ICMI. ICMI.

Lewin, K. (1951). Field theory in social science: Selected theoretical papers (D. Cartwright, Ed.). Harper & Brothers.

Meadows, D. H. (1999). Leverage points: Places to intervene in a system. The Sustainability Institute.

25Meadows, D. H. (2008). Thinking in systems: A primer (D. Wright, Ed.). Chelsea Green Publishing.

Nonaka, I., & Takeuchi, H. (1995). The knowledge-creating company: How Japanese companies create the dynamics of innovation. Oxford University Press.

Qardhawi, Y. (1996). Fikih prioritas: Urutan amal yang terpenting dari yang penting (M. Nurhakim, Trans.). Gema Insani Press.

Republika. (2021, December 15). ICMI ingin jadi sumber inspirasi bangsa. https://www.republika.id/posts/23128/icmi-ingin-jadi-sumber-inspirasi-bangsa

Rogers, E. M. (1962). Diffusion of innovations. Free Press of Glencoe.

Scroll to Top