ICMI dan Barisan Kepakaran (08)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

ICMI dan Barisan Kepakaran
Menggerakkan Kepakaran untuk Menjawab Zaman

Artikel 8

Oleh Bagus Suminar
Aktivis ICMI Jatim, pemerhati mutu pendidikan

ICMI hidup di tengah zaman yang bergerak cepat. Era AI atau kecerdasan buatan mengubah cara manusia belajar dan bekerja. Pendidikan menghadapi tantangan baru. Persoalan kesehatan, ekonomi, pangan, lingkungan, dan kehidupan kebangsaan semakin saling berhubungan. Banyak masalah tidak lagi cukup dibaca dari satu disiplin ilmu.

Di tengah keadaan itu, ada peluang besar. ICMI mempunyai jejaring cendekiawan dengan latar keilmuan dan pengalaman yang beragam.

Pertanyaannya cukup mendasar: bagaimana seluruh kepakaran itu bekerja ketika zaman membutuhkan jawaban?

Kepakaran yang Menunggu Digerakkan

Sejak awal, ICMI lahir dari kebutuhan zaman. Para cendekiawan muslim berhimpun agar ilmu dan pengabdian kepada bangsa dapat berjalan lebih dekat. Anggaran Dasar ICMI menempatkan keilmuan, kepakaran, kecendekiawanan, dan kebudayaan sebagai bagian dari sifat organisasi. Kegiatannya juga mencakup pengkajian strategis, kebijakan publik, serta pemikiran terhadap persoalan lokal, nasional, dan global.

Jejak pengabdian itu pernah terlihat dalam berbagai bidang. ICMI ikut hadir dalam perkembangan ekonomi umat, termasuk gerakan BMT dan ikhtiar kelahiran Bank Muamalat bersama unsur lain. Perhatian terhadap pendidikan, kebijakan publik, dan persoalan strategis bangsa juga tumbuh dalam perjalanan organisasi.

Sejarah seperti itu layak dikenang. Namun nilainya akan terasa lebih kuat ketika ia membantu kita membaca pekerjaan hari ini.

Zaman telah membawa persoalan yang berbeda. Karena itu, pertanyaan kita tidak cukup berhenti pada berapa banyak profesor, dokter, insinyur, ekonom, ulama, akademisi, pengusaha, atau profesional yang berada dalam jejaring ICMI. Ada pertanyaan lain yang lebih menarik: ketika sebuah persoalan muncul, apakah kita tahu siapa yang dapat membantu menjawabnya?

Di situlah kepakaran mulai mempunyai arti praktis.

Untuk Apa Kepakaran Itu Dihimpun?

Viktor Frankl (2006) menunjukkan betapa kuatnya peran makna dalam kehidupan manusia, terutama ketika seseorang harus melewati keadaan yang berat. Salah satu gagasan pentingnya adalah will to meaning: manusia tidak hanya mencari kenyamanan atau keberhasilan, tetapi juga membutuhkan alasan mengapa sesuatu layak dijalani dan diperjuangkan.

Bagi Frankl, makna bukan gagasan besar yang melayang di udara. Ia ditemukan dalam kehidupan yang konkret: melalui pekerjaan yang dilakukan, hubungan dengan orang lain, dan sikap yang kita pilih ketika menghadapi keadaan yang tidak mudah. Karena itu, makna selalu berkaitan dengan tanggung jawab—ada sesuatu yang perlu dikerjakan, seseorang yang perlu dilayani, atau keadaan yang perlu dijawab.

Dalam Man’s Search for Meaning, Frankl juga mengingatkan bahwa persoalannya bukan hanya apa yang kita harapkan dari kehidupan, tetapi apa yang kehidupan menuntut dari kita. Di sini makna bertemu dengan tanggung jawab: manusia dipanggil untuk memberi jawaban melalui tindakan nyata terhadap keadaan yang dihadapinya.

Pengalaman manusia tentu berbeda dengan kehidupan organisasi. Meski demikian, gagasan Frankl menarik untuk kita bawa sebagai bahan refleksi: untuk apa seluruh energi kecendekiawanan ini dihimpun? Organisasi bisa mempunyai kegiatan yang ramai dan anggota yang sangat sibuk. Namun kecendekiawanan mempunyai ukuran yang sedikit berbeda. Ilmu memperoleh makna ketika membantu orang memahami persoalan dengan lebih jernih dan menemukan kemungkinan jalan keluar.

Jika gagasan itu kita bawa sebagai bahan refleksi untuk ICMI, ruang pengabdiannya terbentang luas. Ada persoalan kecerdasan buatan dan etika, mutu pendidikan, kesehatan, ekonomi umat, ketahanan pangan, lingkungan, hingga kehidupan kebangsaan. Tentu tidak realistis mengharapkan satu organisasi menjawab semuanya. Namun pada persoalan tertentu, sangat mungkin ada anggota ICMI yang memahami masalahnya dengan baik, memiliki data, pernah melakukan penelitian, atau mempunyai pengalaman lapangan yang relevan.

Yang sering belum mudah adalah mempertemukan mereka.

Kecendekiawanan menemukan maknanya ketika ilmu bertemu dengan persoalan yang membutuhkan.

Ketika Ilmu Mulai Bekerja

Nonaka dan Takeuchi (1995) menunjukkan bahwa pengetahuan organisasi berkembang ketika pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki seseorang dapat dibagikan, diolah, dan dipahami bersama. Jika dibawa ke konteks ICMI, gagasan ini menarik untuk dilihat satu langkah lebih jauh.

Pengetahuan tidak cukup hanya tersimpan. Ia perlu menemukan orang, persoalan, dan saat yang tepat untuk bekerja.

Dari kebutuhan itu, tulisan ini mengajukan satu gagasan yang layak dicoba: Peta Kepakaran ICMI. Tidak harus dimulai dengan aplikasi yang rumit. Yang dibutuhkan pertama-tama adalah kemampuan untuk mengetahui: siapa mendalami bidang apa, berada di wilayah mana, menekuni isu apa, dan mempunyai pengalaman pada persoalan apa.

Gagasan ini menjadi lebih mudah dibayangkan jika kita melihat bagaimana kepakaran yang tersebar dapat dipertemukan dengan persoalan yang membutuhkan. Dari persoalan zaman, kepakaran dipetakan, para ahli dipertemukan, lalu ilmu mulai bekerja untuk memberi manfaat.

Ketika suatu masalah muncul, pertanyaannya kemudian berubah.

Bukan lagi, “Siapa pengurus yang tersedia?”

Melainkan, “Siapa yang paling memahami persoalan ini?”

Siapa yang mempunyai data? Siapa yang pernah menelitinya? Siapa yang memiliki pengalaman lapangan? Siapa yang dapat membaca persoalan dari sudut yang berbeda?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu dapat menyambungkan kepakaran yang selama ini tersebar. Niat baik sebenarnya sudah banyak, hanya belum selalu menemukan tempat pulang. Peta kepakaran dapat membantu ilmu menemukan tempat untuk bekerja.

Barisan Kepakaran yang Bergerak

Peta saja tentu belum cukup. Kepakaran baru terasa dayanya ketika orang-orang yang tepat dapat dipertemukan untuk membaca masalah yang sama.

Bayangkan sebuah isu muncul di masyarakat. Salah satu kemungkinan yang dapat dicoba adalah mempertemukan beberapa orang dari bidang yang relevan, mungkin berasal dari Orwil yang berbeda dan profesi yang berbeda. Mereka membaca data, membandingkan pengalaman, berdiskusi, lalu menyusun pandangan bersama.

Tidak semua hasil pemikiran harus menjadi laporan tebal. Dua halaman yang tajam dan hadir tepat waktu sering kali jauh lebih berguna daripada dokumen panjang yang selesai setelah persoalannya berlalu.

Dari kebiasaan seperti itu bisa tumbuh berbagai bentuk respons cendekia: catatan singkat, rekomendasi kebijakan, kajian cepat, atau penjelasan publik yang membantu masyarakat memahami sebuah persoalan secara lebih jernih.

Barisan kepakaran tidak selalu berarti orang berada dalam struktur atau bidang yang sama. Para cendekiawan dapat berada dalam satu barisan ketika ilmu yang berbeda diarahkan kepada persoalan yang sama.

Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. As-Saff [61]:4).

Ayat ini mempunyai konteksnya sendiri tentang peperangan di jalan Allah. Ketika kita membawanya ke ruang refleksi organisasi, gambaran tentang barisan yang kokoh mengingatkan kita pada keteraturan, kesatuan arah, dan kemampuan untuk saling menguatkan.

Barangkali salah satu pekerjaan yang patut dipikirkan adalah membuat kepakaran di tubuh ICMI lebih mudah saling menemukan.

Ketika bangsa menghadapi persoalan, harapannya orang tidak hanya melihat ICMI sebagai organisasi dengan sejarah panjang dan banyak tokoh. Lebih dari itu, mereka dapat merasakan bahwa ada ilmu yang bekerja dari dalam jejaring tersebut.

Kepakaran baru mempunyai daya ketika hadir pada persoalan dan waktu yang tepat. Barangkali di sanalah salah satu cara kecendekiawanan ICMI dapat bekerja untuk zamannya.


Kalau Boleh Dirangkum

  1. ICMI mempunyai kekuatan besar pada keragaman ilmu, pengalaman, jejaring, dan kepakaran para anggotanya.
  2. Nilai kepakaran tidak berhenti pada banyaknya orang pintar yang berhimpun, tetapi pada manfaat ilmu ketika bertemu dengan persoalan nyata.
  3. Knowledge management membantu pengetahuan tidak berhenti sebagai simpanan, tetapi menemukan orang, persoalan, dan waktu yang tepat untuk bekerja.
  4. Peta Kepakaran ICMI merupakan gagasan yang dapat dipertimbangkan untuk membantu mengetahui siapa memahami bidang tertentu dan siapa yang dapat dipertemukan ketika sebuah isu membutuhkan respons cendekia.
  5. Barisan kepakaran dapat tumbuh ketika orang dari disiplin, wilayah, dan generasi yang berbeda menyatukan ilmu untuk persoalan yang sama.

Kalau Mau Dipraktikkan

  1. Memetakan anggota ICMI berdasarkan kepakaran, pengalaman, dan isu yang mereka tekuni, tidak hanya berdasarkan jabatan kepengurusan.
  2. Memilih beberapa persoalan strategis yang sesuai dengan kapasitas dan jejaring kepakaran yang tersedia.
  3. Membentuk kelompok kecil lintas bidang dan lintas wilayah ketika sebuah isu membutuhkan pembacaan bersama.
  4. Mendorong lahirnya respons cendekia yang ringkas, tajam, mudah dibaca, dan hadir ketika persoalannya masih relevan.
  5. Membiasakan pertanyaan, “Siapa yang paling memahami persoalan ini?”, lalu menghubungkan orang-orang yang dapat ikut membantu menjawabnya.

Referensi

Frankl, V. E. (2006). Man’s search for meaning (Rev. ed.). Beacon Press. (Original work published 1946).

Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. (2021). Anggaran Dasar Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia periode 2021–2026.

Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. (n.d.). Sejarah ICMI [Dokumen internal].

Nonaka, I., & Takeuchi, H. (1995). The knowledge-creating company: How Japanese companies create the dynamics of innovation. Oxford University Press.

Scroll to Top