بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
ICMI dan Analisis SWOT
Membaca Diri, Menentukan Langkah
Artikel 10
Oleh Bagus Suminar
Aktivis ICMI Jawa Timur, Pemerhati Mutu Pendidikan
“Dari SWOT, ICMI diajak membaca diri: apa yang perlu dirawat, diperbaiki, dan diteruskan menjadi aksi nyata”
Setiap organisasi perlu kenal dengan dirinya. Apa kekuatannya, apa kelemahannya, peluang apa yang sedang terbuka, dan tantangan apa yang menunggu di depan. Tujuannya agar langkah yang diambil benar-benar berpijak pada keadaan yang ada dan arah yang ingin dituju. Di situlah keputusan strategis mulai dibentuk.
ICMI juga demikian. Ia tumbuh dari sejarah panjang dan membawa nilai keislaman, keilmuan, kepakaran, kecendekiawanan, keindonesiaan, serta semangat pengabdian. Nilai-nilai itu memberi pijakan. Namun keadaan di sekitar organisasi terus berubah. Cara membaca zaman tentu ikut bergerak. Setiap zaman menghadirkan tantangan dan peluang yang baru.
Dalam tradisi strategi, Kenneth Andrews (1971), melalui gagasan corporate strategy, menekankan pentingnya membaca kemampuan internal organisasi bersama keadaan lingkungannya ketika menyusun strategi. Artinya, kekuatan memperoleh arti ketika kita tahu untuk apa ia digunakan. Kelemahan juga lebih mudah dipahami ketika dilihat bersama perubahan yang sedang terjadi di luar organisasi. Karena itu, analisis SWOT akan lebih berguna jika tidak berhenti sebagai empat daftar panjang.
Kalau cara berpikir Andrews dibawa ke ICMI, contohnya bisa dilihat di tingkat wilayah. Sebuah orwil mungkin memiliki anggota dengan kepakaran pendidikan, kesehatan, ekonomi, teknologi, hukum, atau kebijakan publik. Itu kekuatan internal. Pada saat yang sama, daerahnya mungkin sedang menghadapi persoalan literasi, kesehatan masyarakat, penguatan UMKM, pendidikan generasi muda, atau adaptasi teknologi. Ketika keduanya dibaca bersama, daftar nama pakar dapat berubah menjadi arah pengabdian. Pertanyaannya bergeser: kekuatan mana yang paling relevan untuk persoalan yang sedang dihadapi?
Garis besar pemikiran artikel ini dapat dilihat pada bagan berikut.

Membaca Kekuatan ICMI
Kalau membaca ICMI dari sisi kekuatannya (strengths), salah satu yang mudah terlihat adalah keragaman kepakaran. Akademisi, profesional, pengusaha, birokrat, aktivis sosial, ulama, dan berbagai latar keilmuan dapat bertemu dalam satu organisasi. Sebagian aktif dalam kegiatan organisasi, sementara sebagian lainnya berkontribusi melalui bidang dan wilayah kerja masing-masing.
Kekuatan seperti ini punya kemungkinan yang luas ketika orang-orangnya semakin mudah saling menemukan. Seorang pakar kesehatan di satu daerah mungkin dapat bertemu dengan jejaring pendidikan di daerah lain. Pengalaman pengembangan ekonomi umat di sebuah orda bisa memberi inspirasi bagi wilayah yang sedang menghadapi persoalan serupa. Kadang kekuatan organisasi memang tidak berada pada satu program besar, tetapi tersebar pada orang-orang yang membawa pengetahuan, pengalaman, dan jejaringnya masing-masing.
Warisan memberi pijakan, sementara cara organisasi bekerja tetap mengikuti perubahan zaman. Nilai yang baik dapat bertahan lama. Cara menghidupkannya tentu bisa berbeda dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Membaca Kelemahan ICMI
Membaca kekuatan saja belum cukup untuk memahami diri. Ada juga kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) yang perlu dilihat. Dalam pembacaan ini, komunikasi antarwilayah, dokumentasi pengalaman, dan kesinambungan program termasuk bagian yang masih layak diperhatikan.
Banyak pengalaman baik sebenarnya tumbuh di berbagai orda dan orwil. Ada kegiatan yang hidup, gagasan yang berkembang, dan jejaring yang bekerja tenang. Pengalaman seperti itu belum selalu mudah ditemukan kembali. Akibatnya, sebuah daerah kadang memulai sesuatu dari awal, padahal wilayah lain mungkin sudah pernah melewati persoalan yang sama.
Dalam buku ini, Knowledge Management kita pakai dalam arti praktis: menangkap pengalaman, mencatatnya, membagikan pengetahuan, lalu memakainya kembali untuk memperbaiki langkah. Porsinya tidak perlu rumit. SWOT membantu membaca keadaan. KM membantu agar pengalaman dan pelajaran organisasi tidak ikut hilang setelah kegiatan selesai.
Sebagai ilustrasi, tabel berikut membantu melihat bagaimana SWOT dapat diterjemahkan ke dalam pembacaan organisasi. Tabel ini hanya contoh reflektif dan tidak dimaksudkan sebagai analisis SWOT resmi ICMI.
Tabel: Contoh SWOT Ilustratif
| SWOT | Contoh Refleksi |
|---|---|
| Strengths (Kekuatan) | ICMI memiliki sejarah panjang, keragaman kepakaran, serta jejaring cendekia lintas profesi dan wilayah. |
| Weaknesses (Kelemahan) | Pengetahuan dan pengalaman dari berbagai daerah belum selalu terdokumentasi dan mudah ditemukan kembali. Komunikasi serta pembelajaran antarwilayah masih mempunyai ruang untuk diperbaiki. |
| Opportunities (Peluang) | Perkembangan teknologi, perubahan kebutuhan masyarakat, bonus demografi, dan tumbuhnya generasi terdidik membuka banyak ruang pengabdian berbasis ilmu. |
| Threats (Ancaman) | Perubahan berlangsung cepat. Organisasi yang jarang membaca kembali lingkungannya berisiko bergerak jauh dari persoalan yang benar-benar dirasakan masyarakat. |
Memilih Langkah Strategis
Selesai membuat SWOT, godaannya adalah memasukkan semua persoalan ke dalam program kerja. Banyak hal terasa layak dikerjakan. Di atas kertas mungkin terlihat hebat. Dalam praktik, tenaga organisasi bisa habis karena terlalu banyak arah. Organisasi akhirnya gagal fokus.
Michael Porter (1996), melalui gagasan strategic positioning, memberi lapisan penting pada pembicaraan ini. Strategi menuntut pilihan. Ada prioritas yang diambil, ada kegiatan yang cukup dipertahankan, dan ada hal yang mungkin belum saatnya dikerjakan. Pilihan seperti ini membantu tenaga, waktu, jaringan, dan sumber daya organisasi tidak tersebar terlalu tipis. Porter juga menekankan pentingnya kesesuaian antarkegiatan. Program yang dipilih sebaiknya saling menguatkan, bukan berjalan sendiri-sendiri tanpa hubungan yang jelas. Barangkali ini juga menjadi salah satu tantangan kita: bagaimana membuat berbagai kegiatan benar-benar saling terhubung.
Bayangkan sebuah orwil melihat lima peluang sekaligus: literasi digital, pemberdayaan UMKM, pendidikan generasi muda, kesehatan masyarakat, dan kajian kebijakan publik. Lima-limanya baik. Tetapi jumlah pengurus aktif, waktu, jaringan, dan dana tentu ada batasnya. Pilihan strategis berarti berani menentukan satu atau dua bidang yang paling dekat dengan kepakaran anggota serta kebutuhan daerah, kemudian mengerjakannya dengan sungguh-sungguh.
Barangkali tidak semua persoalan perlu dijawab ICMI pada waktu yang sama. Kehadirannya justru lebih mudah dirasakan ketika kepakaran yang dimiliki bertemu dengan persoalan yang sanggup dijawab. Pilihan seperti ini memang tidak selalu mudah. Ada gagasan baik yang harus menunggu. Ada kegiatan yang mungkin dihentikan. Tetapi strategi memang meminta keberanian untuk memilih.
Ada ungkapan yang kerap dinisbatkan kepada Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani, ulama besar asal Makkah: qalīlun ma‘a al-tathabbut khayrun min kathīrin ma‘a al-tahawwur — sedikit tetapi mantap lebih baik daripada banyak tetapi gegabah. Dalam konteks organisasi, nasihat ini cukup relevan. Banyak program belum tentu membuat langkah semakin kuat. Kadang pilihan yang lebih sedikit, tetapi dikerjakan dengan sungguh-sungguh, justru memberi hasil yang lebih terasa.
SWOT tidak harus berisi daftar yang panjang. Nilainya muncul ketika pembacaan itu membantu organisasi membedakan mana yang menarik, mana yang penting, dan mana yang layak didahulukan.
Membaca Perubahan Zaman
Dunia di luar ICMI bergerak cepat. Informasi datang hampir tanpa jeda, sementara kebijaksanaan tidak selalu ikut bertambah. Kecerdasan buatan mulai mengubah cara orang bekerja, belajar, mencari informasi, bahkan mengambil keputusan. Di tengah perubahan seperti itu, kebutuhan masyarakat terhadap pengetahuan yang jernih justru semakin besar.
Ruang pengabdian terbuka melalui banyak jalan: memperkuat literasi, menjaga nalar publik, mempertemukan kepakaran, menemani generasi muda, mengembangkan ekonomi masyarakat, atau membantu publik memahami perubahan teknologi. Masing-masing wilayah tentu mempunyai persoalan yang berbeda. Karena itu, kemampuan membaca konteks lokal menjadi penting.
Ada risiko yang lebih sunyi. Sebuah organisasi bisa tetap mempunyai sejarah panjang dan banyak nama besar, sementara kehadirannya pelan-pelan kurang dirasakan masyarakat. Salah satu cara membaca relevansi dapat dilakukan melalui pertanyaan yang cukup nyata: apakah ilmu masih mengalir, jejaring masih bekerja, dan masyarakat merasakan manfaat dari kegiatan yang dilakukan?
Barangkali ukuran kehadiran ICMI tidak terletak pada gemerlapnya kegiatan. Karya yang menjawab kebutuhan sering kali berbicara lebih jauh.
Langkahnya pun tidak selalu besar. Mencatat hasil kegiatan. Menghubungkan dua kepakaran yang selama ini berjalan sendiri. Memilih satu persoalan daerah untuk dikerjakan bersama. Menindaklanjuti keputusan rapat. Membaca kembali program yang sudah berjalan. Hal-hal kecil seperti ini membuat strategi turun dari kertas ke kehidupan organisasi.
Ketika persoalan yang sama terus muncul, ada baiknya cara membaca masalah ikut diperiksa. Bisa jadi kegiatannya sudah banyak, tetapi sasaran belum cukup jelas. Bisa jadi orang-orang hebat tersedia, tetapi belum dipertemukan. Bisa pula programnya baik, hanya saja tindak lanjutnya berhenti terlalu cepat. SWOT memberi ruang untuk melihat hal-hal seperti itu dengan lebih jernih.
Dari Analisis ke Tindakan
Keadaan tidak harus sempurna sebelum langkah dimulai. Program tetap penting. Akan lebih baik jika setiap program meninggalkan sesuatu: pengalaman, pengetahuan, jejaring baru, atau cara kerja yang membuat organisasi sedikit lebih matang dari sebelumnya.
Analisis, strategi, rapat, dan dokumen hanyalah alat kerja. Sesudah semua itu, masih tersisa satu pertanyaan: apa yang akan kita kerjakan setelah mengetahui keadaan diri kita?
Dalam tradisi kita, muhasabah mengajarkan keberanian melihat diri dengan jernih. Ada yang patut disyukuri, ada yang mesti dibenahi, dan mungkin ada kebiasaan lama yang sudah waktunya dilepas. Bercermin tidak membuat langkah berhenti. Dari sana kita justru lebih tahu ke mana tenaga perlu diarahkan.
Organisasi besar tetap bisa lelah. Yang menjaganya terus berjalan adalah kesediaan menata niat, memperbaiki langkah, dan meneruskan pengabdian. SWOT memberi kita cermin. Sesudah keadaan terlihat lebih jernih, pekerjaan sebenarnya baru dimulai: memilih, mengerjakan, lalu membaca kembali hasilnya.
Analisis SWOT memperoleh makna ketika keputusan menjadi lebih jernih dan pengabdian semakin nyata. Tabel SWOT hanyalah titik awal. Selebihnya bergantung pada apa yang benar-benar dikerjakan.
Kalau Boleh Dirangkum
- SWOT membantu organisasi membaca kekuatan dan kelemahan bersama peluang serta perubahan di sekitarnya.
- Dalam pembacaan ini, kekuatan ICMI tampak pada kepakaran, pengalaman, dan jejaring anggotanya.
- Membaca keadaan perlu diteruskan dengan pilihan. Tidak semua peluang harus dikerjakan pada waktu yang sama.
- Strategi yang baik mempertemukan kepakaran yang tersedia dengan persoalan yang benar-benar membutuhkan jawaban.
- Nilai SWOT mulai terlihat ketika hasil pembacaan diterjemahkan menjadi langkah yang dikerjakan dan dievaluasi kembali.
Kalau Mau Dipraktikkan
- Buat SWOT secara ringkas. Hindari daftar yang terlalu panjang.
- Dari hasil SWOT, pilih satu atau dua persoalan yang paling dekat dengan kebutuhan daerah dan kepakaran anggota.
- Tentukan siapa yang dapat mengerjakan, jejaring apa yang bisa dilibatkan, serta hasil apa yang ingin dilihat.
- Catat pengalaman selama program berjalan agar wilayah lain bisa ikut belajar.
- Setelah beberapa waktu, buka kembali SWOT tersebut. Lihat apa yang berubah, apa yang masih relevan, dan langkah apa yang perlu disesuaikan.
Referensi
Andrews, K. R. (1971). The concept of corporate strategy. Dow Jones-Irwin.
Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. (2021). Anggaran Dasar ICMI periode 2021–2026.
Porter, M. E. (1996). What is strategy? Harvard Business Review, 74(6), 61–78.




