Nasi uduk, harga diri dan amuk massa

Nasi Uduk, Harga Diri, dan Amuk Massa

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Nasi Uduk, Harga Diri, dan Amuk Massa

Oleh Bagus Suminar
Aktivis ICMI Jawa Timur, Principal Consultant pada mutupendidikan.com

“Dari suara motor hingga amuk massa, kasus ini menunjukkan betapa cepat urusan pribadi berubah menjadi konflik kelompok.”

Nasi uduk biasanya hadir sebagai makanan tradisional yang akrab dengan pagi warga Jakarta. Namun, peristiwa di kawasan Menteng membuatnya masuk ke dalam cerita yang jauh lebih serius. Teguran kecil berkembang menjadi pertengkaran, lalu melibatkan kelompok, merusak lingkungan, dan menelan korban. Konflik besar memang bisa tumbuh dari urusan yang pada mulanya terlihat sepele.

Bentrokan itu terjadi di Jalan Tambak, Kelurahan Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu, 26 Juli 2026. Berdasarkan penyelidikan polisi, dua orang menggeber sepeda motor di depan pedagang nasi uduk. Setelah ditegur karena menimbulkan kebisingan, keduanya pergi. Mereka kemudian kembali bersama beberapa orang. Gerobak pedagang dirusak dan seorang warga dianiaya.

Peristiwa itu memancing emosi warga sekitar. Urusan yang semula melibatkan beberapa orang melebar menjadi bentrokan antarkelompok. Batu dan benda lain beterbangan. Sejumlah kendaraan serta bangunan terbakar. Satu orang meninggal dunia dan seorang lainnya menjalani perawatan intensif. Polisi menetapkan tujuh tersangka dalam dua perkara, yaitu perusakan gerobak dan pengeroyokan.

Menyebutnya sebagai bentrokan gara-gara nasi uduk tentu mudah. Padahal, nasi uduk hanyalah latar dari peristiwa itu. Ada harga diri yang terusik, kemarahan yang mengajak kawan, kabar burung yang bergerak cepat tanpa kendali, dan langkah pencegahan yang belum mampu memotong konflik sejak awal.

Saat Teguran Terasa Menghina

Teguran tidak selalu diterima sesuai maksudnya. Dalam keadaan tertentu, orang dapat merasakannya sebagai serangan verbal atau penghinaan, apalagi bila disampaikan di depan orang lain. Persoalannya kemudian melebar. Yang dipikirkan sudah bukan suara motor, tetapi siapa yang berhak menegur dan siapa yang dianggap kalah. Harga diri lalu ikut bermain, dan orang merasa perlu menunjukkan bahwa dirinya tidak bisa diperlakukan sembarangan.

Leonard Berkowitz dalam pengembangan Frustration–Aggression Theory pada 1989 menjelaskan bahwa frustrasi dapat mendorong seseorang bereaksi agresif ketika bertemu pemicu yang dianggap mengancam atau merendahkan. Frustrasi memang tidak otomatis melahirkan kekerasan. Namun, orang yang sedang tertekan bisa memberi respons berlebihan terhadap teguran, sindiran, atau nada bicara.

Kemarahan juga sering menguat ketika mendapat dukungan kelompok. Seseorang yang merasa dipermalukan dapat pulang, mengajak teman, kemudian kembali dengan sikap agresif. Konflik yang tadinya bersifat pribadi mulai berubah menjadi urusan kelompok.

Ketika “Saya” Menjadi “Kami”

Henri Tajfel dan John Turner melalui Social Identity Theory tahun 1979 menjelaskan bahwa manusia membangun sebagian identitasnya melalui kelompok. Kita mengenal siapa “kami” dan siapa “mereka”. Pembagian itu wajar dalam kehidupan sosial. Ia menjadi berbahaya ketika kesalahan beberapa orang dianggap mewakili seluruh kelompok.

Saat seorang teman terlibat pertengkaran, yang lain dapat merasa kehormatan kelompoknya ikut diserang. Duduk perkara awal mulai kabur. Orang bergerak karena setia kawan, ikatan wilayah, ikatan kesukuan, atau keinginan menunjukkan bahwa kelompoknya tidak dapat diperlakukan sembarangan.

Di dalam kerumunan, tanggung jawab pribadi juga mudah menipis. Orang yang mungkin ragu melempar batu ketika sendirian bisa ikut melakukannya saat banyak orang bergerak bersama. Kemarahan menyebar. Suara yang mengajak berhenti kalah keras dibanding teriakan untuk membalas.

Rumor atau desas-desus menambah lapisan bahaya. Polisi sampai harus meluruskan kabar mengenai perusakan rumah ibadah yang ternyata tidak terjadi. Satu informasi yang salah dapat menyulut api, membawa konflik kriminal lokal ke wilayah identitas agama atau etnis. Akibatnya bisa jauh lebih panjang daripada bentrokan itu sendiri.

Hidup yang Makin Menekan

Kejadian ini juga perlu dibaca bersama tekanan hidup masyarakat perkotaan. BPS mencatat inflasi tahunan pada Juni 2026 sebesar 3,34 persen. Angka tersebut mungkin dianggap biasa di dalam tabel statistik. Bagi rumah tangga berpenghasilan pas-pasan, dampaknya terasa pada belanja dapur, ongkos perjalanan, biaya sekolah, sewa tempat tinggal, dan tagihan bulanan.

Pekerjaan juga belum selalu memberi rasa aman. Sebagian orang bekerja dengan kontrak pendek, kerja serabutan, pendapatan harian, atau usaha kecil yang hasilnya sulit dipastikan. Sekali sakit atau tidak bekerja, pemasukan langsung berkurang. Keadaan semacam ini menguras daya tahan psikologis. Orang bisa lebih cepat lelah, mudah cemas, dan memiliki ruang kesabaran yang lebih sempit.

Tekanan ekonomi tentu tidak dapat dijadikan alasan untuk melakukan kekerasan. Banyak orang hidup dalam kesulitan dan tetap mampu menjaga dirinya. Namun, tekanan yang berlangsung terus-menerus dapat membuat emosi lebih rapuh. Ketika rasa tersinggung muncul, kawan-kawan mulai berdatangan, dan mediasi tidak segera bekerja, kemarahan memperoleh ruang untuk meledak.

Karena itu, kondisi ekonomi juga perlu dibaca sebagai bagian dari pencegahan konflik. Kawasan dengan pengangguran tinggi, pekerjaan tidak stabil, kepadatan penduduk, dan riwayat bentrokan membutuhkan perhatian yang lebih besar. Menjaga ketertiban saja belum cukup. Pemerintah juga perlu punya empati yang kuat dan memahami tekanan yang sehari-hari dipikul warganya.

Alarm yang Terlambat Dibaca

Bentrokan besar biasanya meninggalkan beberapa alarm sebelum pecah. Ada cekcok. Ada ancaman. Ada kerumunan. Ada orang yang pergi, lalu kembali bersama kelompoknya. Kabar burung mulai beredar dan warga mulai berkumpul.

Itu semua adalah alarm. Tanda yang harus diperhatikan.

Sayangnya, sistem pencegahan sering terlihat paling kuat setelah keadaan membesar. Personel datang, jalan dijaga, tokoh masyarakat dipertemukan, dan dialog dimulai. Dalam kasus ini, sebanyak 188 personel kemudian disiagakan untuk menjaga keadaan tetap aman. Langkah tersebut penting, tetapi pertanyaannya tetap perlu diajukan: adakah cara antisipatif yang bergerak beberapa menit lebih awal, ketika konflik masih melibatkan sedikit orang?

RT, RW, lurah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan aparat membutuhkan jalur komunikasi yang benar-benar hidup. Kawasan yang pernah mengalami bentrokan perlu mempunyai mediator yang diterima dan dikenal oleh berbagai pihak. Ketika orang mulai memanggil kelompoknya, mediasi harus segera masuk. Jangan menunggu dua massa berdiri saling berhadapan.

Dalam pandangan Islam, konflik tidak boleh dibesarkan oleh kabar yang belum jelas dan kemarahan yang dibiarkan menguasai akal. QS Al-Hujurat ayat 6 mengajarkan tabayun agar seseorang tidak merugikan orang lain karena informasi yang keliru. QS Ali Imran ayat 134 memuji mereka yang mampu menahan amarah dan memaafkan. Pesannya sangat kuat dengan kejadian ini: hati-hati dan periksa kebenaran sebelum ikut membela, lalu kuasai diri sebelum memilih membalas. Kedewasaan iman semestinya hadir sebagai kekuatan sosial yang memutus rantai kekerasan.

Nasi uduk tidak menyebabkan bentrokan. Ia kebetulan berada di tempat ketika harga diri yang terluka menemukan kelompok, tekanan hidup bertemu kemarahan, dan alarm sosial terlambat dibaca. Korban sudah jatuh. Apakah kita akan kembali menunggu bentrokan berikutnya, lalu baru belajar membaca tanda-tandanya?


Daftar Pustaka

ANTARA News. (2026, July 26). Bentrokan di Jalan Tambak Menteng dipicu keributan di warung nasi uduk. https://www.antaranews.com/berita/5666777/bentrokan-di-jalan-tambak-menteng-dipicu-keributan-di-warung-nasi-uduk

ANTARA News. (2026, July 26). Polisi konfirmasi tak ada rumah ibadah dirusak saat bentrokan Menteng. https://www.antaranews.com/berita/5666587/polisi-konfirmasi-tak-ada-rumah-ibadah-dirusak-saat-bentrokan-menteng

ANTARA News. (2026, July 27). Polisi tetapkan tujuh tersangka kasus bentrokan Jalan Tambak Menteng. https://www.antaranews.com/berita/5667548/polisi-tetapkan-tujuh-tersangka-kasus-bentrokan-jalan-tambak-menteng

ANTARA News. (2026, July 27). Sebanyak 188 personel disiagakan jaga kondusivitas di Tambak, Menteng. https://www.antaranews.com/berita/5667612/sebanyak-188-personel-disiagakan-jaga-kondusivitas-di-tambak-menteng

Badan Pusat Statistik. (2026, July 1). Inflasi year-on-year (y-on-y) pada Juni 2026 sebesar 3,34 persen. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/07/01/2590/inflasi-year-on-year–y-on-y–pada-juni-2026-sebesar-3-34-persen-.html

Berkowitz, L. (1989). Frustration-aggression hypothesis: Examination and reformulation. Psychological Bulletin, 106(1), 59–73. https://doi.org/10.1037/0033-2909.106.1.59

Tajfel, H., & Turner, J. C. (1979). An integrative theory of intergroup conflict. In W. G. Austin and S. Worchel (Eds.), The social psychology of intergroup relations (pp. 33–47). Brooks/Cole.

Scroll to Top