بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Seni Memimpin ICMI:
Ketika Ilmu Bertemu Empati dalam Kehidupan Organisasi
Artikel 4 (28 Juni 2026)
Oleh Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, pemerhati mutu pendidikan
“ICMI butuh ruang yang adem: tempat ilmu bertemu empati, dan pengurus pulang dengan semangat yang kembali tumbuh.”
Di luar aktivitas ICMI, banyak pengurus sudah menghadapi tekanan hidup yang tidak ringan: target kantor, tanggung jawab profesi, urusan keluarga, dan beban sosial yang datang silih berganti. Maka ketika hadir di ICMI, yang mereka cari bukan hanya agenda baru, tetapi juga suasana yang menenangkan. Seni memimpin ICMI menemukan maknanya di sini: serius menjaga amanah, tapi tetap lembut merawat manusia.
Rapat di ICMI tentu perlu serius, apalagi ketika membahas program yang menyangkut kemaslahatan umat. Tapi keseriusan itu tidak harus membuat suasana terasa kaku. Bahkan ketika yang dibahas hanya rencana pelatihan kewirausahaan, kita perlu menghindari suasana rapat yang terasa seperti sidang kabinet. Semua boleh fokus, semua boleh sungguh-sungguh, tapi tetap dengan wajah yang hangat, ruang bicara yang nyaman, dan suasana yang saling menguatkan.
Karena itu, organisasi yang sehat bukan cuma yang punya ide besar, tapi juga yang bisa menjaga suasana tetap adem. Sebagian besar pengurus ICMI punya kesibukan berat di luar: ada yang dosen, peneliti, profesional, pengusaha, sampai pejabat publik. Di tengah padatnya tekanan kerja, mereka butuh tempat pulang yang nyaman, tempat yang menenangkan setelah seharian menghadapi target dan deadline.
Karena itu, ICMI seharusnya menjadi rumah yang adem, tempat orang bisa melepas penat dan menemukan kembali semangatnya. Kalau di kantor sudah penuh stres, maka di ICMI mestinya terasa seperti oase: teduh, hangat, dan saling menguatkan.
Kepemimpinan di tubuh ICMI memang unik. Ia berada di persimpangan antara akademisi yang berpikir rasional dan aktivis sosial yang bergerak dengan semangat. Di tengah ghirah menjalankan program, tantangan baru sering muncul: bagaimana menjaga ketenangan batin agar tidak cepat lelah, tidak mudah tersinggung, dan tetap bisa sat set das des dalam bekerja.
Seni kepemimpinan berbasis emosi sehat bukan gaya yang lembek serba boleh. Justru ia menuntut disiplin dalam mengelola perasaan, baik pada diri sendiri maupun antaranggota.
Dalam Emotional Intelligence (1995), Daniel Goleman menjelaskan bahwa kecerdasan emosional justru lebih menentukan keberhasilan seseorang dibanding sekadar kecerdasan intelektual. Orang yang mampu mengenali emosinya sendiri dan memahami emosi orang lain akan lebih stabil dalam memimpin.
Di ICMI, pemimpin seperti ini sangat dibutuhkan. Bukan yang suaranya paling keras, tapi yang paling peka, paling empatik terhadap suasana. Pemimpin yang tahu kapan anggota sedang lelah, kapan mereka butuh semangat, dan kapan cukup dengan senyum kecil atau tepukan hangat di pundak.
Kepemimpinan seperti ini tidak mengurangi wibawa. Justru menambah wibawa yang lahir dari ketulusan. Karena sejatinya, wibawa bukan datang dari nada tinggi, tapi dari hati yang tenang. Emosi sehat juga berarti berani bicara dengan jujur, tapi tetap santai. Serius, tapi tidak tegang. Atau kata anak muda sekarang, sersan: serius tapi santai.
Amy Edmondson menyebutnya psychological safety (1999), rasa aman untuk berbicara, berpendapat, dan mengemukakan ide tanpa rasa minder atau takut disalahkan. Dalam organisasi cendekia seperti ICMI, orang-orang pintar sudah banyak. Yang perlu terus dirawat adalah suasana agar kepintaran itu berani keluar sebagai gagasan, bukan berhenti sebagai pikiran pribadi.
Kalau suatu saat suasana rapat membuat orang enggan berbicara, itulah pengingat bahwa ruang dialog perlu terus dirawat bersama. Ide-ide baik perlu diberi jalan agar tidak berhenti di kepala masing-masing, tetapi bisa keluar dan menjadi energi bersama.
ICMI perlu ruang semacam “rapat adem yang penuh senyum”, tempat setiap suara dihargai, didengarkan, tanpa ada yang merasa lebih hebat atau paling pintar. Budaya seperti inilah yang sebenarnya menjadi inti dari Knowledge Management, karena pengetahuan hanya benar-benar hidup kalau ada keberanian untuk berbagi dan kerendahan hati untuk mendengar.
Menariknya, B. J. Habibie sudah memberi teladan sejak awal berdirinya ICMI. Ia mendengarkan semua pihak, dari mahasiswa, tokoh masyarakat, hingga para ulama, dengan kesabaran yang nyaris tak pernah kehilangan senyum.
Sikap itu menular kepada banyak generasi penerus. Salah satunya Ilham Akbar Habibie, yang menegaskan bahwa ICMI harus tetap profesional dan netral, jauh dari kepentingan politik pribadi. Baginya, organisasi cendekia harus berdiri di atas nilai ilmu, bukan di bawah bayang-bayang kepentingan sesaat.
Ilham juga pernah mengatakan, dalam memimpin, dirinya tidak ingin dominan meski punya banyak suara pendukung. Ia lebih memilih keputusan yang lahir dari dialog, bukan tekanan, bukan paksaan.
Itulah emotional leadership yang sesungguhnya: memimpin dengan cinta, dengan hati yang tenang tapi pikiran yang tajam. Bukan untuk menunjukkan kekuasaan, tapi untuk menumbuhkan kepercayaan.
Di tubuh ICMI, anggotanya dipenuhi orang-orang cendekia, orang cerdik pandai dengan segudang pengalaman dan pemikiran besar. Di balik kekayaan gagasan itu, ada tantangan yang perlu dikelola bersama: menjaga kerendahan hati agar perbedaan pandangan tetap menjadi sumber pembelajaran, bukan sumber jarak.
Tanpa kesadaran emosional, perbedaan yang seharusnya memperkaya bisa berubah menjadi perdebatan yang melelahkan. Maka kemampuan berkomunikasi dengan lembut tapi tegas menjadi penting. Asertif, tapi tetap empatik.
Marshall Rosenberg dalam Nonviolent Communication (2003) mengajarkan prinsip sederhana tapi dalam: dengarkan dulu kebutuhan orang lain sebelum menuntut untuk dipahami. Dalam forum-forum ICMI, pendekatan ini bisa mengubah arah percakapan dari pola “siapa yang menang” menjadi “apa yang bisa kita bangun bersama.”
Di tengah teori-teori modern itu, kita sebenarnya punya warisan kearifan lokal yang tak kalah dalam. Ulama kharismatik Jawa Timur, K.H. Ihya’ Ulumiddin, pernah berpesan dengan bahasa yang hangat: ngowongno uwong, nyenengno uwong, nggatekno uwong, ora ngelakno.
Artinya, memanusiakan manusia, membahagiakan manusia, memperhatikan manusia, dan tidak menyakiti siapa pun. Empat kalimat sederhana, tapi dalam sekali maknanya. Itulah rumus emosi sehat versi pesantren: lembut, bersahaja, tapi mengubah cara kita memandang sesama.
Kalau pesan itu diterapkan dalam organisasi, suasana kerja pasti akan berubah total: dari saling mengoreksi menjadi saling menumbuhkan, dari saling menilai menjadi saling memahami. Semangat Knowledge Management ala ICMI pun menemukan bentuknya: menata ilmu dengan hati, berbagi pengalaman dengan tawadhu’, dan membangun pengetahuan lewat kehangatan hubungan antarinsan.
Jimly Asshiddiqie juga pernah berpesan, kepemimpinan itu bukan sekadar sibuk beretorika, tapi membangun sistem yang membuat semua orang bisa bekerja bersama dengan tenang.
Kalimat itu terasa sangat ICMI. Sebuah organisasi yang diisi oleh orang-orang pintar, tapi tetap butuh ruang untuk adem, ruang untuk menenangkan diri dari hiruk pikuk ambisi dan debat panjang.
Keilmuan tanpa ketenangan hanya melahirkan perdebatan. Tapi keilmuan yang disertai ketenangan bisa melahirkan solusi, bahkan kebahagiaan. Pada akhirnya, emosi sehat bukan sekadar urusan psikologi, tapi strategi sosial, strategi organisasi, untuk menjaga keberlanjutan dan kehangatan dalam tubuh ICMI.
Bill George dalam Authentic Leadership (2003) menegaskan bahwa kepemimpinan autentik dimulai dari kejujuran pada diri sendiri, polos apa adanya. Pemimpin yang jujur tidak takut terlihat manusiawi. Ia tidak menutupi kelemahan dengan sikap kaku atau pura-pura kuat di depan orang lain.
Pemimpin seperti ini tahu kapan harus tegas, kapan harus tertawa, dan kapan harus memberi apresiasi sederhana. Karena dalam kepemimpinan, ketulusan kadang lebih menggerakkan daripada perintah.
Di dunia yang penuh pencitraan, kejujuran menjadi barang mewah. ICMI harus bisa memberi contoh bahwa pemimpin intelektual tidak harus dingin. Justru dengan menjadi diri sendiri, jujur, lembut, dan berani belajar, seorang pemimpin akan lebih mudah diterima, baik oleh anggotanya sendiri maupun oleh masyarakat luas.
Kalau kita renungkan, banyak pengurus yang tampak lelah bukan semata karena kerja berat, tapi karena beban emosional yang pelan-pelan menumpuk. Dalam organisasi mana pun, salah paham lewat pesan singkat atau komunikasi yang kurang hangat kadang memang tidak terhindarkan. Hal-hal kecil seperti itu, kalau tidak dirawat dengan baik, bisa berubah menjadi penat.
Padahal sebagian besar masalah seperti ini bisa diselesaikan dengan cara sederhana: mendengar dengan hati. Kadang orang tidak butuh solusi panjang, hanya butuh merasa diakui, didengarkan, dan dihargai.
Inilah makna sederhana dari emosi sehat. Bukan menekan perasaan, tapi menyalurkannya dengan adab. Dan di situlah sebenarnya pengetahuan organisasi tersimpan. Knowledge Management bukan hanya soal dokumen atau sistem digital, tapi juga tentang percakapan, empati, dan kesediaan untuk saling mendengar dengan tulus.
Sebagai organisasi yang lahir dari semangat ilmu dan iman, ICMI punya peluang besar untuk menjadi teladan kepemimpinan baru di Indonesia: kepemimpinan yang menyeimbangkan antara pikiran dan perasaan.
Di tengah dunia yang semakin gaduh, sikap sersan, serius tapi santai, bukan kelemahan. Ia justru bisa menjadi kekuatan moral dan emosional yang membuat kerja organisasi terasa lebih tulus, lebih manusiawi, dan lebih bernafas panjang.
Karena hanya hati yang tenang yang mampu berpikir jernih. Hanya pemimpin yang sabar yang bisa menumbuhkan keberanian orang lain. Dan hanya organisasi yang sehat emosinya yang mampu menjaga keberlanjutan pengetahuannya, mengalirkannya dengan lembut dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ke depan, ada beberapa kebiasaan kecil yang bisa mulai dicoba agar ICMI terasa lebih hidup dan menyenangkan. Misalnya, mengadakan ICMI Listening Day, hari di mana semua orda, orsat, dan orwil bebas menyampaikan ide tanpa protokol rumit, tanpa rasa sungkan. Hari untuk mendengar satu sama lain, bukan hanya melapor.
ICMI juga bisa membuat pedoman kecil tentang etika komunikasi digital, agar percakapan di grup tidak mudah panas. Cukup dengan melatih kebiasaan sederhana seperti memakai magic words: tolong, maaf, dan terima kasih. Kalimat pendek yang ringan, tapi bisa menurunkan ketegangan dan menjaga keakraban.

Selain itu, pelatihan Cendekia Emotional Intelligence bisa menjadi ruang belajar bersama agar setiap pengurus mampu menjadi penyejuk dan penguat bagi sesamanya. Semua ide ini memang tampak kecil, tapi dampaknya besar: organisasi menjadi tempat yang menumbuhkan, bukan menguras energi. Dari sinilah Knowledge Management ala ICMI menemukan wujudnya, bukan dalam sistem yang rumit, tapi dalam budaya saling percaya dan berbagi pengalaman.
Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan kepemimpinan emosional yang sempurna. Beliau bukan hanya pemimpin umat, tapi juga pemimpin hati.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra.: “Aku telah melayani Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun, dan beliau tidak pernah berkata kepadaku: ‘Ah!’ dan tidak pernah berkata terhadap apa yang aku lakukan: ‘Mengapa engkau lakukan ini?’ atau terhadap apa yang tidak aku lakukan: ‘Mengapa engkau tidak melakukannya?’” (HR. Bukhari dan Muslim).
Itu adalah puncak psychological safety dalam Islam. Sahabat merasa aman berinteraksi dengan pemimpinnya. Rasulullah tidak menekan, tapi membimbing dengan kasih. Beliau tidak mendoktrin dengan ketakutan, tapi menumbuhkan keberanian dengan kelembutan.
Dari hadis itu kita bisa belajar bahwa emosi sehat bukan sekadar teori psikologi modern, melainkan ajaran kenabian. Menahan amarah, menghargai proses orang lain, dan memilih kata yang menenangkan adalah bentuk kecerdasan spiritual yang tak lekang zaman.
Bila setiap pengurus ICMI, baik pusat maupun daerah, mampu meneladani kelembutan Rasulullah, niscaya organisasi ini tidak hanya menjadi rumah gagasan, tapi juga rumah bagi jiwa-jiwa yang tenang. Karena pada akhirnya, kekuatan sejati seorang pemimpin bukan terletak pada suaranya yang keras, tapi pada hatinya yang lembut: hati yang mampu menumbuhkan orang lain tanpa harus melukai mereka.
Kalau Boleh Dirangkum
- ICMI tidak hanya membutuhkan pemimpin yang cerdas, tetapi juga pemimpin yang bisa menjaga suasana tetap hangat. Sebab dalam organisasi, hati yang adem sering kali membuat gagasan lebih mudah tumbuh.
- Ilmu memang penting. Tapi dalam kehidupan organisasi, empati, kerendahan hati, dan kesediaan untuk mendengar membuat ilmu itu lebih mudah diterima dan lebih terasa manfaatnya.
- Orang akan lebih berani menyampaikan gagasan kalau ia merasa aman dan dihargai. Kadang ide besar tidak lahir dari forum yang tegang, tetapi dari ruang yang sederhana, hangat, dan tidak saling menghakimi.
- Knowledge Management tidak hanya hidup dalam dokumen, laporan, atau sistem digital. Ia juga tumbuh dalam percakapan, silaturahim, dan kebiasaan saling berbagi pengalaman.
- Orang biasanya lupa pada pidato yang panjang. Tapi mereka ingat siapa yang pernah membuat mereka merasa dihargai, didengarkan, dan tumbuh dengan tenang.
Kalau Mau Dipraktikkan
- Biasakan rapat berjalan serius, tapi tetap hangat. Orang datang ke ICMI membawa banyak pengalaman, kadang juga membawa penat. Maka suasana organisasi sebaiknya mengembalikan energi, bukan menambah beban.
- Dengarkan dulu sebelum memberi tanggapan. Tidak semua hal harus langsung dijawab panjang. Kadang seseorang hanya butuh merasa diperhatikan dan dipahami.
- Jangan remehkan kata sederhana: tolong, maaf, dan terima kasih. Tiga kata kecil ini sering lebih ampuh mencairkan suasana daripada aturan panjang yang jarang dibaca.
- Beri ruang kepada setiap orang untuk menyampaikan gagasan tanpa takut dipermalukan atau dianggap kurang penting. Ketika orang merasa nyaman untuk berbicara, rasa percaya biasanya datang tanpa perlu dipaksa.
- Rawat hubungan antarpengurus bukan hanya lewat pekerjaan, tetapi juga lewat silaturahim, candaan yang sehat, dan perhatian kecil. Dari hal-hal sederhana seperti itu, orang merasa menjadi bagian dari keluarga besar yang sama.
Daftar Pustaka
Ascarya. (2018). The development of Islamic financial institutions in Indonesia. Bank Indonesia.
Goleman, D. (1995). Emotional intelligence: Why it can matter more than IQ. Bantam Books.
Habibie, B. J. (2006). Detik-detik yang menentukan: Jalan panjang Indonesia menuju demokrasi. THC Mandiri.
Habibie, I. A. (2010, December 8). Ilham Habibie dan ICMI yang profesional. ANTARA News. https://www.antaranews.com/berita/236861/ilham-habibie-dan-icmi-yang-profesional
Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. (2021). Anggaran Dasar Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Periode 2021–2026. ICMI.
Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. (2021). Anggaran Rumah Tangga Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Periode 2021–2026. ICMI.
Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. (n.d.). Sejarah ICMI. ICMI.
Rosenberg, M. B. (2003). Nonviolent communication: A language of life. PuddleDancer Press.




