بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
ICMI Berlatih Berinovasi
Lima Latihan untuk Berpikir Lebih Kreatif
Artikel 15
Oleh Bagus Suminar
Aktivis ICMI Jawa Timur, Principal Consultant pada mutupendidikan.com
“Ide baik perlu ruang untuk tumbuh. Artikel ini mengajak ICMI melatih inovasi dari langkah kecil yang bisa dicoba bersama.”
Inovasi sering terdengar seperti sesuatu yang jauh, seolah berada di awang-awang. Seakan-akan ia hanya milik laboratorium, perusahaan teknologi, atau lembaga riset besar. Padahal dalam organisasi, inovasi bisa dimulai dari kebiasaan kecil yang terus dirawat: cara rapat, cara mendengar ide, cara mencatat pengalaman, dan cara mengubah gagasan menjadi langkah yang layak dicoba.
Setiap kali forum ICMI berlangsung, hampir selalu ada percikan gagasan yang menarik. Ada ide tentang pendidikan, ekonomi umat, literasi digital, pemberdayaan daerah, sampai kaderisasi cendekia muda. Pertanyaannya, sudahkah gagasan-gagasan itu mendapat ruang yang cukup untuk diuji secara ringan dan bertahap? Barangkali yang perlu kita rawat bukan daftar ide sebanyak-banyaknya, melainkan kebiasaan yang membuat orang nyaman berpikir dan mencoba. Orang nyaman berbicara, nyaman berbeda pendapat, dan tetap merasa dihargai meski idenya belum tentu dipakai.
Ruang bagi Gagasan
Dalam tradisi kreativitas, suasana seperti itu penting. Alex Osborn dalam Applied Imagination (1953) memaparkan brainstorming sebagai cara menghasilkan banyak gagasan dengan menunda penilaian pada tahap awal. Prinsip utamanya: tahan dulu keinginan mengoreksi. Biarkan ide keluar, baru kemudian dirapikan bersama.
Dalam forum ICMI, pola seperti ini bisa dicoba dengan sedikit penyesuaian. Lima menit pertama, misalnya, peserta menulis dua atau tiga ide di kertas atau telepon genggam, baru setelah itu semua gagasan dikumpulkan. Cara seperti ini memberi ruang kepada mereka yang tidak selalu cepat berbicara di forum. Misalnya ketika sebuah Orwil, Orda, atau Orsat sedang menyusun program, suara yang muncul pun berpeluang lebih beragam.
Kalau diterapkan dengan santai, rapat tidak lagi hanya menjadi tempat menyampaikan laporan. Ia dapat berubah menjadi ruang untuk menyalakan kemungkinan. Yang satu membawa data, yang lain membawa pengalaman lapangan, yang lain lagi membawa jejaring. Ide yang awalnya tampak biasa bahkan dapat menjadi lebih bernas setelah bertemu pengalaman orang lain.
Mengolah yang Sudah Ada
Ide baru tidak selalu harus lahir dari halaman kosong. Banyak kegiatan lama masih punya tenaga, hanya perlu disentuh dengan cara yang berbeda. SCAMPER berguna untuk pekerjaan seperti ini. Bob Eberle mengembangkan teknik tersebut dari daftar pemantik kreativitas yang sebelumnya dikenalkan Osborn.
SCAMPER mengajak kita melihat sesuatu melalui tujuh gerakan: Substitute, Combine, Adapt, Modify, Put to another use, Eliminate, dan Reverse. Pertanyaannya langsung saja: apa yang dapat diganti, digabungkan, disesuaikan, dimodifikasi, dipakai untuk fungsi lain, dihilangkan, atau dibalik? Dari pertanyaan itu, program lama sering terlihat dengan wajah yang berbeda.
Dalam konteks kegiatan ICMI, seminar panjang misalnya dapat dicoba dalam format serial diskusi yang lebih singkat. Kegiatan sosial dapat digabung dengan pelatihan literasi digital. Pertemuan antardaerah dapat dibuat hybrid agar lebih banyak pengurus ikut terlibat. Inovasi tidak selalu datang dari kegiatan baru; sering kali ia muncul dari keberanian melihat kegiatan lama dengan mata yang lebih segar.
SCAMPER juga membantu organisasi agar tidak terlalu cepat meninggalkan sesuatu yang sebenarnya masih baik. Sebelum mengganti program, kita dapat bertanya: bagian mana yang masih bernilai, bagian mana yang mulai berat, dan apa yang perlu diperbaiki. Dengan begitu, inovasi terasa lebih membumi. Tidak selalu besar dan tidak selalu mahal.
Melihat dari Banyak Sisi
Ada saat ketika forum membutuhkan cara berpikir yang lebih tertib. Banyak orang baik dan cerdas dapat berada dalam satu ruangan, tetapi pikirannya bergerak ke arah yang berbeda-beda. Ada yang bicara data, ada yang bicara rasa, ada yang melihat risiko, ada pula yang langsung melihat peluang.
Edward de Bono menawarkan Six Thinking Hats dalam bukunya Six Thinking Hats (1985). Ia membagi cara berpikir ke dalam enam “topi”: putih untuk fakta, merah untuk perasaan, hitam untuk risiko, kuning untuk peluang, hijau untuk ide baru, dan biru untuk mengatur alur berpikir. Setiap topi digunakan secara bergantian agar semua sudut pandang mendapat tempat.
Cara ini cukup mudah dicoba dalam forum atau rapat ICMI. Ketika sebuah program baru dibahas, peserta tidak harus langsung setuju atau menolak. Ada waktunya melihat data, ada waktunya membaca risiko, ada waktunya mencari peluang, lalu ada ruang khusus untuk melahirkan alternatif. Orang yang biasanya dianggap terlalu kritis atau terlalu optimistis justru mendapat tempat yang pas dalam diskusi.
Bayangkan satu gagasan program sedang dibahas. Dengan topi putih, kita bertanya: datanya apa? Dengan topi merah, kita mendengar rasa dan kekhawatiran peserta. Dengan topi hitam, risiko dibaca secara jujur. Dengan topi kuning, peluang diperiksa. Dengan topi hijau, ide baru dibuka. Lalu topi biru membantu forum menyimpulkan langkah berikutnya.
Selain berpikir tertib, kreativitas juga membutuhkan ruang bermain. Dalam Think Tank (1973), de Bono memperkenalkan teknik Random Word, yaitu menggunakan satu kata acak untuk membuka jalur pemikiran baru. Kata itu tidak harus berhubungan dengan persoalan yang sedang dibahas. Justru jarak itu memaksa pikiran mencari sambungan yang sebelumnya tidak terlihat.
Sekilas teknik kata acak tampak seperti permainan. Ketika forum mulai buntu, satu kata yang tidak berhubungan justru dapat membuka jalan baru. Kata “pasar”, misalnya, memunculkan gagasan ICMI masuk ke ruang UMKM. Kata “peta” mengarah pada pemetaan kepakaran anggota. Kata “jembatan” membawa pembicaraan ke mentoring lintas generasi.
Tidak semua ide harus dipakai. Memang bukan itu tujuannya. Yang dicari adalah gerakan pikiran. Begitu pikiran keluar dari jalur lama, kemungkinan baru mulai terlihat.
Variasi lain dari latihan asosiasi adalah Forced Association: sengaja mempertemukan dua hal yang biasanya tidak berkaitan untuk mencari kemungkinan baru. ICMI dan kafe, misalnya, dapat melahirkan gagasan Kafe Cendekia, ruang obrolan santai lintas profesi. ICMI dan peta dapat memunculkan Peta Kepakaran ICMI atau Peta Gagasan Daerah.
Latihan semacam ini membantu pikiran keluar dari rel yang sama. Kita sering terlalu lama melihat satu persoalan dari sudut yang itu-itu saja. Pertemuan dua hal yang asing justru dapat memunculkan bentuk baru yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Kelima latihan ini tidak sulit dipelajari. Yang lebih penting adalah membiasakan diri mengajukan pertanyaan yang tepat. Tabel berikut dapat menjadi pengingat saat berdiskusi atau menyusun program kerja.
Tabel 1. Lima Latihan Kreatif untuk Forum ICMI
| Latihan | Coba Tanyakan |
|---|---|
| Brainstorming | Ide apa saja yang layak kita tampung dulu? |
| SCAMPER | Apa yang bisa kita ubah dari cara lama? |
| Six Thinking Hats | Sudahkah kita melihat masalah ini dari sisi lain? |
| Random Word | Kata acak apa yang bisa membuka ide baru? |
| Forced Association | Apa yang terjadi kalau dua hal berbeda kita pertemukan? |
Agar Ide Tidak Menguap
Sesudah latihan kreativitas, ide yang menarik sayang kalau tidak dicatat dan diuji. Knowledge Management membantu agar gagasan, hasil percobaan, dan pelajaran dari kegiatan tidak hilang begitu saja. Tidak perlu sistem rumit di awal; catatan singkat yang disimpan bersama sudah cukup berguna. Pengalaman satu daerah kemudian dapat menjadi bekal bagi daerah lainnya.
Tidak semua gagasan harus langsung menjadi program besar. Ada yang cukup dicoba dalam satu kegiatan, satu Orda, atau satu kelompok kecil terlebih dahulu. Jika hasilnya baik, ruang pengembangannya diperluas. Jika belum pas, kita punya bahan untuk memperbaikinya. Inovasi menjadi lebih ringan ketika orang diberi kesempatan belajar dari praktik.
Lima latihan dalam artikel ini hanya pintu masuk. Ada kebiasaan lain yang lebih menentukan sesudahnya: mendengar lebih sabar, mencatat lebih rapi, mencoba lebih berani, lalu berbagi pengalaman. Dari kebiasaan seperti itu, organisasi pelan-pelan menjadi lebih lincah.

Meneruskan Warisan Cendekia
Tradisi ilmiah Islam sejak lama memperlihatkan semangat inovasi: keberanian untuk bertanya, mengamati, mencoba, lalu memperbaiki. Al-Khwarizmi menunjukkan kekuatan pola dan perhitungan, Ibnu al-Haytham menempuh jalan pengamatan dan eksperimen, sementara Al-Jazari mengubah pengetahuan mekanik menjadi alat yang bekerja. Jejak mereka mengingatkan bahwa inovasi lahir ketika ilmu tidak berhenti sebagai bahan renungan, tetapi terus mencari bentuk yang memberi manfaat.
Semangat itulah yang layak terus dirawat. Pengetahuan menemukan nilainya ketika ia bergerak menjadi manfaat. Tidak harus selalu berupa penemuan besar. Sering kali ia bermula dari rasa ingin tahu, pertanyaan yang tepat, dan kesediaan menguji sesuatu sampai menemukan bentuk yang lebih baik.
Bagi penulis, semangat itu terasa relevan untuk dibawa ke kehidupan ICMI hari ini. Inovasi tidak perlu mengejar sensasi. Cukup mencari manfaat, mencoba dengan sungguh-sungguh, lalu belajar dari perjalanan itu. Dunia jarang berubah hanya karena satu ide besar diucapkan; perubahan lebih sering tumbuh dari gagasan yang diberi ruang, dicoba dengan tekun, lalu diteruskan oleh orang lain.
Kalau Boleh Dirangkum
- Inovasi tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Sering kali ia berawal dari keberanian bertanya dan mencoba cara yang berbeda.
- Brainstorming, SCAMPER, Six Thinking Hats, Random Word, dan Forced Association membantu kita keluar dari pola pikir yang itu-itu saja.
- Gagasan biasanya tumbuh lebih sehat ketika orang merasa nyaman menyampaikan pendapat, termasuk saat pandangannya berbeda.
- Ide yang sudah muncul jangan berhenti di meja rapat. Coba dulu, lihat hasilnya, lalu perbaiki.
- Nilai sebuah inovasi akhirnya terlihat dari manfaat yang bisa dirasakan dan diteruskan.
Kalau Mau Dipraktikkan
- Sebelum diskusi dimulai, beri waktu beberapa menit untuk menulis ide masing-masing. Setelah itu baru dibahas bersama.
- Pilih satu program yang sudah berjalan, lalu tanyakan: apa yang bisa diganti, digabungkan, dipangkas, atau dibuat lebih ringan?
- Kalau rapat mulai buntu, coba lihat masalah dari sisi data, risiko, peluang, perasaan, dan kemungkinan baru.
- Gunakan satu kata acak atau pasangkan dua hal yang berbeda untuk memancing arah pikir yang tidak biasa.
- Pilih satu gagasan yang paling masuk akal, uji dalam skala kecil, catat hasilnya, lalu perbaiki sebelum diteruskan.
Referensi
De Bono, E. (1973). Think Tank: A new tool for the mind: How to generate ideas by the random word technique. Think Tank Corporation.
De Bono, E. (1985). Six thinking hats. Little, Brown and Company.
Eberle, B. (1971). SCAMPER: Games for imagination development. D.O.K. Publishers.
Osborn, A. F. (1953). Applied imagination: Principles and procedures of creative thinking. Charles Scribner’s Sons.




