بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Ketika Generasi Baru Menjaga ICMI:
Pemuda ICMI, Ilmu, dan Masa Depan
Artikel 21
Oleh Bagus Suminar
Aktivis ICMI Jawa Timur, Principal Consultant pada mutupendidikan.com
“Pemuda ICMI tidak cukup hanya hadir dalam struktur. Ia perlu menjadi ruang tumbuh bagi ilmu, keberanian, dan karya yang menyentuh masyarakat.”
Perubahan zaman tidak pernah menunggu sebuah organisasi benar-benar siap. Teknologi bergerak sangat cepat, kecerdasan buatan (artificial intelligence) masuk ke hampir semua ruang kehidupan, sementara cara anak muda belajar, bekerja, dan membangun jejaring ikut berubah. Dalam situasi seperti ini, nama besar dan sejarah panjang saja tidak cukup. ICMI perlu memastikan bahwa generasi baru masih mengenalnya, merasa diterima, dan melihat peluang untuk tumbuh di dalamnya.
ICMI juga berhadapan dengan pertanyaan itu. Organisasi ini lahir dari semangat menyatukan ilmu, iman, dan pengabdian kepada bangsa. Warisan tersebut tetap penting, bahkan mungkin semakin penting di tengah perubahan yang serba cepat. Namun warisan tidak akan banyak berarti bila hanya dikenang, lalu berhenti sebagai cerita tentang masa lalu.
Pemuda ICMI hadir dalam ruang itulah. Perannya tidak kecil. Ia dapat menjadi jembatan antara pengalaman generasi senior dan keberanian generasi baru, antara gagasan yang tumbuh di daerah dan percakapan yang berlangsung di pusat. Pengetahuan yang bergerak melalui jembatan itu diharapkan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi kembali ke masyarakat sebagai karya yang terasa manfaatnya.
Banyak anak muda Muslim hari ini tumbuh cukup jauh dari nama ICMI. Mereka aktif di kampus, komunitas, organisasi profesi, ruang digital, dan berbagai gerakan sosial, tetapi belum tentu mengenal rumah besar cendekiawan Muslim ini. Barangkali mereka bukan tidak peduli. Pintu masuknya saja yang belum cukup terlihat, atau bahasa yang digunakan belum sepenuhnya bertemu dengan dunia mereka.
Karena itu, regenerasi ICMI tidak cukup dipahami sebagai pergantian orang dalam kepengurusan. Ia perlu hadir sebagai usaha menumbuhkan kembali rasa memiliki, mempertemukan generasi, serta membuat ICMI terasa dekat dengan persoalan yang sedang dihadapi anak muda. Regenerasi bukan sekadar mengisi kursi yang kosong. Ia menyiapkan manusia yang mampu menjaga nilai sambil membaca perubahan.
Akar Muda dalam Perjalanan ICMI
Kalau kita menengok sejarah, keterlibatan generasi muda sesungguhnya bukan hal baru bagi ICMI. Gagasan kelahiran organisasi ini tumbuh dari kegelisahan sejumlah mahasiswa Universitas Brawijaya, Malang, pada 1990. Mereka melihat cendekiawan Muslim tersebar dalam kelompok, profesi, dan jalannya masing-masing. Dari kegelisahan yang sederhana itu lahir sebuah ikhtiar besar untuk mempertemukan ilmu, kepakaran, dan pengabdian dalam satu wadah.
Dengan kata lain, energi muda sudah hadir sejak halaman pertama perjalanan ICMI. Generasi muda waktu itu tidak menunggu semuanya sempurna. Mereka bergerak. Mereka memulai dengan diskusi, menghubungi para tokoh, memperluas percakapan, lalu memperjuangkan gagasan yang awalnya mungkin terdengar “terlalu besar” bagi sekelompok mahasiswa.
Semangat tersebut kemudian menemukan ruang melalui Masika ICMI atau Majelis Sinergi Kalam. Masika berkembang sebagai tempat belajar bagi kalangan cendekiawan muda. Di sana tumbuh tradisi berdiskusi, membaca persoalan sosial, mengasah kepemimpinan, dan membangun jejaring lintas disiplin. Yang bergerak bukan hanya programnya, tetapi juga kebiasaan berpikir, keberanian menyampaikan pendapat, dan kemauan mendengar pandangan yang berbeda.
Perjalanan waktu membawa kebutuhan baru. Pada 2022, Masika berubah menjadi Pemuda ICMI. Perubahan nama itu mengikuti keputusan dan rekomendasi organisasi agar wadah kepemudaan ICMI lebih mudah dikenali serta semakin terbuka menjangkau generasi baru. Nilai dasarnya tetap dijaga, tetapi bahasa dan ruang geraknya perlu menyesuaikan zaman.
Dalam Anggaran Rumah Tangga ICMI periode 2021–2026, Pemuda ICMI ditempatkan sebagai organisasi khusus yang dibentuk oleh Majelis Pengurus Pusat untuk membantu pelaksanaan tugas di bidang kepemudaan. Ketua Umum Pemuda ICMI juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kepengurusan MPP ICMI. Posisi ini memberi jalur yang cukup strategis agar suara, gagasan, dan kebutuhan generasi muda dapat hadir dalam perjalanan organisasi.
Kedekatan struktural tersebut tentu perlu diikuti kedekatan dalam kerja sehari-hari. Pemuda ICMI sebaiknya tidak tumbuh sebagai ruang yang berjalan sendiri, sementara organisasi induknya sibuk dengan agenda lain. Hubungan yang sehat lahir ketika keduanya saling mendengar dan saling berbagi. Generasi senior memberi pengalaman dan kedalaman arah. Generasi muda membawa kecepatan, keberanian mencoba, serta kepekaan terhadap perubahan.
Tabel 1. Jejak Regenerasi ICMI: Dari Masika Menuju Pemuda ICMI
| Periode dan Tahap | Wadah serta Penanda Utama |
|---|---|
| 1990–1993 Awal Regenerasi ICMI | ICMI dan jaringan mahasiswa. ICMI lahir dari gagasan mahasiswa Universitas Brawijaya yang ingin menghimpun cendekiawan Muslim Indonesia. Sejak awal, semangat regenerasi telah menjadi bagian dari denyut organisasi. |
| 1993–2022 Era Masika ICMI | Majelis Sinergi Kalam (Masika). Menjadi ruang tumbuh bagi cendekiawan muda melalui diskusi keilmuan, kaderisasi, pengabdian kepada masyarakat, serta penguatan jejaring intelektual di berbagai daerah. |
| 2022–2026 Transformasi Menjadi Pemuda ICMI | Organisasi khusus dalam kepengurusan MPP ICMI. Perubahan nama dari Masika menjadi Pemuda ICMI menegaskan semangat regenerasi yang lebih adaptif terhadap tantangan zaman, sekaligus memperluas ruang kolaborasi dan inovasi generasi muda. |
| Arah ke Depan Regenerasi Berbasis Pengetahuan | Jejaring Pemuda ICMI pusat dan daerah. Regenerasi tidak berhenti pada pergantian kepengurusan, tetapi berkembang menjadi budaya berbagi pengetahuan melalui mentoring lintas generasi, dokumentasi praktik baik, literasi AI yang beretika, serta kolaborasi dengan kampus, komunitas, dan masyarakat. |
Semangat Masika juga tumbuh di daerah. Jawa Timur menjadi salah satu ruang yang cukup hidup karena kegiatan kaderisasi, pengabdian masyarakat, seminar, dan diskusi keilmuan mempertemukan anak-anak muda dari berbagai kampus dan profesi. Penulis mengenal denyut gerakan ini dari dekat. Ada percakapan yang berlanjut setelah seminar, kegiatan sosial yang membuka pengalaman baru, dan pertemanan intelektual yang bertahan lebih lama daripada satu periode kepengurusan.
Berbagai kegiatan tersebut menunjukkan bahwa kaderisasi ICMI tidak hanya bergerak di pusat, tetapi juga tumbuh melalui kerja daerah. Sering kali, daerah justru menjadi tempat gagasan diuji dalam kehidupan yang nyata. Apa yang dibicarakan dalam forum, bertemu langsung dengan kebutuhan masyarakat, keterbatasan sumber daya, serta keragaman karakter anggotanya.
Masalahnya klasik, banyak pengalaman baik seperti itu belum selalu tercatat. Sebagian tinggal dalam ingatan orang-orang yang terlibat. Ketika kepengurusan berganti, cerita ikut memudar. Program baru kemudian dimulai tanpa cukup mengetahui apa yang pernah berhasil, apa yang belum berjalan, dan apa yang sebetulnya layak dilanjutkan.
Ilmu yang Tidak Boleh Terputus
Regenerasi memang tidak berhenti pada mencari orang muda untuk masuk ke dalam struktur atau keanggotaan. Ada hal lain yang lebih penting: memastikan pengalaman, nilai, dan cara berpikir yang telah dibangun tidak ikut menghilang bersama berakhirnya masa jabatan. Organisasi bisa memiliki orang-orang hebat, tetapi tetap mengulang persoalan yang sama bila pelajarannya tidak diwariskan.
Nonaka dan Takeuchi dalam The Knowledge-Creating Company (1995) menjelaskan bahwa organisasi perlu mengubah pengalaman menjadi pengetahuan, lalu mengalirkannya kembali kepada orang lain. Pengetahuan tidak cukup disimpan dalam laporan. Ia perlu hadir dalam percakapan, pendampingan, kebiasaan kerja, dan kemauan untuk saling belajar.
Gagasan ini terasa dekat dengan kebutuhan ICMI. Banyak pengalaman berharga lahir dari pusat maupun daerah: pengabdian masyarakat, kajian kebijakan, forum keilmuan, jejaring profesional, serta berbagai cara menyelesaikan persoalan di lapangan. Bila pengalaman itu terdokumentasi dan mudah ditemukan, generasi berikutnya tidak perlu selalu memulai dari titik nol.
Mencatat juga tidak harus menunggu sistem yang rumit. Ringkasan diskusi, laporan kegiatan yang jujur, video pembelajaran, catatan kesalahan, serta cerita tentang proses yang tidak berjalan sesuai rencana dapat menjadi pengetahuan yang berharga. Organisasi kadang terlalu rajin mencatat keberhasilan, tetapi malu atau gengsi menyimpan kegagalan. Padahal, pelajaran sering tumbuh dari bagian yang tidak berjalan mulus.
Hubungan antargenerasi juga memerlukan cara pandang yang lebih terbuka. Howe dan Strauss dalam Millennials Rising (2000) menunjukkan bahwa generasi yang tumbuh dalam lingkungan berbeda akan membawa kebiasaan dan cara melihat dunia yang berbeda pula. Generasi senior umumnya lebih kaya pengalaman dan berhati-hati dalam mengambil langkah. Generasi muda cenderung lebih cepat mencoba, lebih akrab dengan teknologi, dan berani menguji cara baru.
Perbedaan itu tidak perlu berubah menjadi jarak. Ia dapat menjadi kekuatan ketika masing-masing bersedia belajar. Senior tidak selalu harus menjadi orang yang paling banyak bicara, dan yang muda tidak perlu tergesa-gesa menganggap semua cara lama sudah kehilangan guna. Kadang pengalaman memberi arah, sementara keberanian muda membuat organisasi berani bergerak.
Pemuda ICMI hadir untuk menyambungkan keduanya. Ia tidak dibentuk untuk menggantikan generasi sebelumnya, melainkan melanjutkan apa yang baik sambil memperbarui cara kerjanya. Yang diwariskan bukan sekadar struktur, tetapi juga semangat, etika berdialog, disiplin berpikir, keberanian mencari solusi, dan kesediaan mengabdi atau berkhidmat tanpa terlalu sibuk mencari panggung.
Belajar dari Kerja Bersama
Kalau pengetahuan perlu diwariskan dan generasi perlu dipertemukan, pertanyaan berikutnya cukup sederhana: di mana proses itu berlangsung? Jawabannya tidak selalu di ruang rapat. Sering kali, pembelajaran tumbuh dari percakapan setelah kegiatan, kerja bersama di lapangan, kunjungan antardaerah, dan kebiasaan saling berbagi pengalaman.
Etienne Wenger dalam Communities of Practice (1998) menyebut ruang semacam itu sebagai komunitas praktik. Orang belajar bukan dengan mendengarkan teori saja, tetapi dengan mengerjakan sesuatu bersama. Mereka bertukar cara, membahas kesulitan, lalu memperbaiki pekerjaan sedikit demi sedikit.
Pemuda ICMI mempunyai peluang untuk menjadi komunitas praktik yang luas. Jejaringnya dapat menghubungkan mahasiswa, dosen muda, profesional, peneliti, wirausahawan, aktivis sosial, dan anak-anak muda dari berbagai latar organisasi Islam. Keragaman itu memberi banyak kemungkinan. Seorang peneliti dapat bertemu penggerak desa. Profesional teknologi dapat membantu kegiatan sosial. Aktivis kampus dapat belajar dari pengalaman orang yang telah lama bekerja di masyarakat.
Apendi Arsyad (2022) menyampaikan harapan agar Pemuda ICMI menjadi sumber kader serta wadah bagi kreativitas dan inovasi intelektual muda. Harapan ini hemat saya masih sangat relevan. Kader tidak hanya disiapkan untuk menduduki jabatan. Ia perlu dibiasakan membaca persoalan, bekerja dengan orang lain, serta menghasilkan karya yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sesekali organisasi memang terjebak pada rapat yang lebih panjang daripada keputusan yang dihasilkan. Gurauan “rapat panjang, ide pendek” cukup menjadi cermin kecil. Bukan untuk merendahkan forum, melainkan untuk mengingatkan bahwa setiap pertemuan sebaiknya meninggalkan keputusan, pengetahuan, atau tindak lanjut yang jelas.
Kegiatan juga tidak perlu terus bertambah bila jejak pembelajarannya tidak pernah dibaca kembali. Yang kadang terlewat bukan jumlah program, melainkan apa yang tersisa setelah program selesai. Apakah lahir kader baru? Apakah ada pengetahuan yang bisa digunakan daerah lain? Apakah peserta masih saling terhubung? Apakah masyarakat merasakan manfaatnya?
Teknologi Perlu Arah
Teknologi memberi peluang untuk memperbaiki bagian itu. Gagasan membangun semacam “ICMI Digital Knowledge Hub” layak dipertimbangkan sebagai ruang bersama untuk menyimpan praktik baik, hasil kajian, materi pelatihan, data kegiatan, serta pengalaman kader dari berbagai wilayah. Ia tidak perlu langsung hadir sebagai platform besar dan mahal. Bisa dimulai dari sistem sederhana yang terkelola, murah, mudah dicari, dan benar-benar digunakan.
Diskusi di Surabaya dapat menjadi inspirasi bagi kader di Makassar. Pengalaman pengabdian di Aceh mungkin berguna bagi kegiatan di Papua. Hasil kajian dari sebuah kampus bisa dibaca oleh pengurus daerah yang sedang menghadapi persoalan serupa. Ketika pengetahuan mulai mengalir seperti itu, pusat dan daerah tidak lagi berdiri sebagai pengirim dan penerima informasi. Keduanya menjadi pembelajar.
Mentoring lintas generasi juga perlu diberi ruang. Tidak semua mentoring harus berlangsung dalam kelas formal. Percakapan setelah seminar, kunjungan ke daerah, atau diskusi kecil bersama seorang senior kadang meninggalkan pelajaran yang bertahan lama. Pengalaman bertemu energi muda. Yang satu membawa hikmah, yang lain membawa keberanian untuk mencoba.
Pemuda ICMI juga perlu akrab dengan kecerdasan buatan. Teknologi ini dapat membantu mencari informasi, menyusun data, membuka akses pembelajaran, dan memperluas kolaborasi. Namun AI tetaplah alat. Kebijaksanaan, tanggung jawab, dan keputusan moral berada di tangan manusia.
Karena itu, literasi AI tidak cukup berisi keterampilan menggunakan aplikasi. Anak muda perlu memahami bias data, risiko informasi palsu, perlindungan privasi, hak cipta, dan dampak sosial dari teknologi. Kemampuan teknis akan lebih bernilai bila tumbuh bersama adab. Di titik ini, warisan ICMI tentang pertemuan ilmu dan iman terasa semakin relevan.
Mungkin Pemuda ICMI tidak perlu diukur dari banyaknya kegiatan yang diselenggarakan. Ia lebih dibutuhkan sebagai ruang yang tekun menumbuhkan manusia. Ada kader yang belajar menulis. Ada yang berlatih memimpin diskusi. Ada yang menghubungkan riset dengan persoalan masyarakat. Ada pula yang menemukan keberanian untuk memulai karya-karya kecil di daerahnya masing-masing.
Saat Generasi Saling Percaya
Pelan-pelan kita belajar bahwa regenerasi sebenarnya bertumpu pada kepercayaan. Generasi senior bersedia membuka ruang, sementara generasi muda bersedia belajar sebelum melangkah lebih jauh. Ketika keduanya bertemu dengan niat yang sama, organisasi tidak sekadar berganti kepengurusan. Ia bertumbuh sebagai rumah bagi ilmu, pengabdian, dan persaudaraan.
Dalam pandangan Islam, pergantian generasi merupakan bagian dari sunnatullah. Rasulullah ﷺ mendidik sahabat-sahabat muda dan memberi mereka tanggung jawab yang nyata. Abdullah bin Abbas dibimbing menjadi seorang yang mendalam ilmunya. Usamah bin Zaid dipercaya memimpin pasukan ketika usianya masih muda. Usia tidak dipandang sebagai satu-satunya ukuran. Ilmu, akhlak, kesiapan, dan amanah jauh lebih menentukan.

Pesan itu terasa dekat dengan perjalanan Pemuda ICMI. Tugasnya bukan meniru generasi terdahulu dalam setiap bentuk, tetapi menjaga semangat yang pernah menghidupkan mereka. Ilmu dikembangkan, pengalaman diwariskan, dan inovasi diarahkan pada kemaslahatan. Ketiganya perlu berjalan bersama agar organisasi tidak kehilangan akar maupun arah.
Warisan membuat organisasi memiliki tempat untuk berpijak. Inovasi membuatnya terus bertumbuh. Selama ICMI memelihara keduanya, harapan akan selalu menemukan jalan—berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, melahirkan cendekiawan yang kaya ilmu, lembut dalam adab, dan berani mengamalkan pengetahuannya.
ICMI akan tetap hidup ketika setiap generasi bersedia merawat ilmu, memperkuat persaudaraan, dan mengabdikan diri bagi kemajuan umat dan bangsa. Di tangan Pemuda ICMI, semangat itu dapat tumbuh dalam bentuk-bentuk baru, menjangkau lebih banyak orang, dan menemukan jalan pengabdian yang sesuai dengan zamannya.
Kalau Boleh Dirangkum
- Regenerasi berarti menjaga agar nilai, pengalaman, dan semangat organisasi tidak ikut hilang ketika kepengurusan berganti.
- Pemuda ICMI dapat mempertemukan pengalaman generasi senior dengan cara berpikir, keberanian, dan persoalan yang dihadapi generasi baru.
- Pengetahuan akan lebih berguna ketika dicatat, dibagikan, dan diteruskan. Kalau hanya tinggal dalam ingatan beberapa orang, banyak pelajaran berharga akan hilang bersama waktu.
- Perbedaan usia dan cara pandang tidak selalu melahirkan jarak. Dalam perjumpaan yang sehat, pengalaman memberi arah, sementara generasi muda membawa tenaga dan keberanian mencoba.
- Masa depan ICMI tumbuh dari kesediaan setiap generasi untuk saling percaya, saling belajar, dan memberi ruang bagi mereka yang akan melanjutkan pengabdian.
Kalau Mau Dipraktikkan
- Berikan generasi muda pekerjaan yang nyata dan tanggung jawab yang jelas. Rasa memiliki biasanya tumbuh setelah seseorang benar-benar dipercaya.
- Mulailah membiasakan dokumentasi sederhana. Catat yang berhasil, yang belum berjalan, dan pelajaran yang muncul selama proses.
- Sediakan lebih banyak ruang perjumpaan antargenerasi melalui diskusi, mentoring, kunjungan daerah, atau kerja bersama di lapangan. Ilmu sering berpindah melalui hubungan yang dekat, bukan hanya melalui materi pelatihan.
- Gunakan teknologi untuk memperluas akses belajar dan kolaborasi. Namun adab, pertimbangan moral, dan kebijaksanaan tetap perlu tumbuh melalui interaksi antarmanusia.
- Setelah kegiatan selesai, lihat kembali siapa yang bertumbuh, pengetahuan apa yang tersisa, dan langkah apa yang layak diteruskan. Program boleh berakhir, tetapi proses belajar sebaiknya jangan ikut berhenti.
Daftar Pustaka
Apendi Arsyad. (2022, September 21). Sebuah harapan untuk Pemuda ICMI 2022. Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia.
Howe, N., & Strauss, W. (2000). Millennials rising: The next great generation. Vintage Books.
Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. (2021). Anggaran Rumah Tangga ICMI periode 2021–2026. ICMI Pusat.
Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. (2022, September 21). Masika ICMI resmi berubah nama menjadi Pemuda ICMI.
Nonaka, I., & Takeuchi, H. (1995). The knowledge-creating company: How Japanese companies create the dynamics of innovation. Oxford University Press.
Rakyat Sulsel. (2025, July 27). Rangkaian Milad ke-32 Pemuda ICMI Sulsel usung sinergi dan kepeloporan untuk Sulsel maju dan berkarakter.
Wenger, E. (1998). Communities of practice: Learning, meaning, and identity. Cambridge University Press.




