بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
ICMI dan Pemuda ICMI
Generasi Baru, Wajah ICMI Masa Depan
Artikel 21
Oleh Bagus Suminar
Aktivis ICMI Jawa Timur, Principal Consultant pada mutupendidikan.com
“Pemuda ICMI tidak cukup diajak hadir. Mereka perlu ditemani belajar, dipercaya mencoba, lalu tumbuh melalui karya yang benar-benar berarti.”
Pemuda ICMI akan sulit tumbuh hanya dengan ajakan untuk lebih aktif. Generasi muda membutuhkan pengalaman nyata, orang yang bersedia mendampingi, dan kepercayaan untuk mengerjakan sesuatu yang berarti. ICMI mempunyai ruang yang cukup besar dalam proses itu: bukan menentukan seluruh jalan yang harus ditempuh anak muda, melainkan membuka jalan agar mereka dapat belajar, mencoba, menemukan jati diri, dan menghasilkan karya. Dari proses seperti itu, regenerasi memperoleh maknanya.
Masa muda memang sering menjadi masa pencarian. Ada yang sudah yakin dengan bidang yang ingin ditekuninya, ada yang masih mencoba banyak hal, ada pula yang sebenarnya memiliki kemampuan tetapi belum menemukan ruang yang tepat untuk mengembangkannya. Karena itu, pembinaan pemuda tidak cukup dilakukan dengan mengundang mereka ke dalam kegiatan. Mereka perlu mengalami proses yang membuat kemampuan, keberanian, dan rasa tanggung jawab tumbuh sedikit demi sedikit.
Kalau melihat jejaring yang sudah terbentuk selama ini, ICMI sebenarnya mempunyai banyak modal untuk membantu proses tersebut. Ada cendekiawan senior dengan pengalaman panjang, pakar dari berbagai disiplin, akademisi, profesional, pengusaha, jaringan daerah, kampus, serta berbagai lembaga yang tumbuh di lingkungan ICMI. Semua itu dapat menjadi ruang belajar bagi Pemuda ICMI jika dipertemukan dengan cara yang tepat.
Akar Muda dalam Perjalanan ICMI
Kalau menengok sejarah, energi kaum muda bukan sesuatu yang asing bagi ICMI. Gagasan yang kemudian ikut melahirkan ICMI pada 1990 tumbuh antara lain dari kegelisahan sekelompok mahasiswa Universitas Brawijaya di Malang. Mereka melihat cendekiawan Muslim ketika itu tersebar di berbagai kelompok dan profesi, lalu membayangkan perlunya sebuah wadah yang mampu mempertemukan kekuatan tersebut.
Jejak generasi muda kemudian berkembang melalui Masika ICMI. Dalam perjalanan berikutnya, pada 17 September 2022, Masika ICMI resmi berubah nama menjadi Pemuda ICMI. Perubahan nama tentu bukan tujuan akhir. Nama dan struktur dapat berubah mengikuti zaman, tetapi pekerjaan yang lebih penting tetap sama: menyiapkan generasi yang mampu membawa nilai kecendekiawanan, keislaman, dan keindonesiaan ke dalam persoalan zamannya.
Dalam struktur ICMI periode 2021–2026, posisi Pemuda ICMI juga mendapat tempat yang cukup jelas. Anggaran Rumah Tangga ICMI 2021–2026, Pasal 16, menempatkan Pemuda ICMI sebagai organisasi khusus yang dibentuk untuk membantu kerja ICMI di bidang kepemudaan. Ketua Umum Pemuda ICMI juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kepengurusan MPP ICMI.
Tempat dalam struktur tentu penting, tetapi regenerasi tidak berlangsung hanya karena sebuah wadah sudah tersedia. Pertanyaan yang lebih menentukan adalah apa yang dialami generasi muda setelah mereka masuk ke dalamnya. Apakah mereka mendapat ruang belajar, bertemu dengan orang yang tepat, dipercaya mencoba, lalu menemukan bidang pengabdiannya sendiri?
Regenerasi mulai terlihat ketika orang yang datang sebagai peserta mampu mengambil tanggung jawab. Ia belajar, mencoba, pernah keliru, memperbaiki diri, lalu suatu saat mampu mendampingi orang lain. Kalau proses seperti itu terjadi, organisasi benar-benar sedang menumbuhkan generasi.
Membina Lewat Jejaring yang Hidup
Pembinaan sering dibayangkan sebagai hubungan seorang senior dengan seorang junior. Pola seperti ini tetap berguna, tetapi kebutuhan seorang anak muda biasanya jauh lebih kompleks. Ia mungkin membutuhkan seseorang untuk berdiskusi mengenai profesi, orang lain untuk belajar memimpin, seorang pakar untuk memperdalam bidang ilmu, dan teman sebaya untuk menguji gagasan. Sulit berharap semua kebutuhan itu dipenuhi oleh satu mentor.
Monica Higgins dan Kathy Kram (2001) memperluas cara melihat mentoring melalui gagasan developmental networks. Seseorang dapat tumbuh melalui beberapa hubungan pengembangan, dengan orang-orang berbeda yang memberi wawasan, dukungan, pengalaman, atau akses yang berguna bagi perkembangannya. Ada senior yang membantu membaca pengalaman, pakar yang memperdalam bidang ilmu, rekan sebaya yang menjadi teman belajar, dan orang dari lingkungan lain yang membuka jalan menuju jejaring baru.
Cara seperti ini sangat mungkin dikembangkan di lingkungan ICMI. Seorang anggota Pemuda ICMI di daerah yang tertarik pada ketahanan pangan, misalnya, dapat dipertemukan dengan akademisi pertanian di jaringan ICMI. Pada saat yang sama ia bisa berdiskusi dengan orang yang memahami kebijakan publik, mengenal pelaku usaha, lalu bekerja bersama kader muda dari daerah lain yang menghadapi persoalan serupa. Tidak semuanya harus menjadi mentor formal. Yang diperlukan lebih dahulu adalah akses untuk bertanya, belajar, dan bekerja bersama.
“Pertumbuhan tidak harus bertumpu pada satu mentor. Ia dapat lahir dari jejaring hubungan yang beragam, selama hubungan itu benar-benar membantu seseorang berkembang.” Disarikan dari Higgins & Kram (2001).
Dengan cara itu, pembinaan tidak terlalu bertumpu pada satu orang senior. Seorang cendekiawan dapat berbagi pada bidang yang memang dikuasainya, sementara kader muda memperoleh beberapa sumber belajar sekaligus. Dalam pola seperti ini, ICMI dapat mengambil peran sebagai penghubung, sedangkan Pemuda ICMI mengolah kesempatan tersebut menjadi pengalaman.
Barangkali inilah salah satu kekuatan ICMI yang belum selalu terlihat dari luar. Jaringan ICMI dapat jauh lebih berarti daripada daftar orang yang saling mengenal. Kalau dihidupkan, jaringan itu dapat menjadi ruang pembelajaran lintas generasi.
Kalau diringkas, proses tumbuh itu dapat dilihat dalam alur berikut.

Learning by Doing
Orang tidak belajar seluruhnya dari seminar dan ruang kelas. Banyak kemampuan justru tumbuh ketika seseorang ikut mengerjakan sesuatu bersama orang lain. Cara mengambil keputusan, membaca situasi, menghadapi perbedaan pendapat, atau mengubah gagasan menjadi tindakan sering baru benar-benar dipahami ketika seseorang berada di tengah pekerjaan. Proses seperti ini sering disebut belajar sambil melakukan (learning by doing): belajar melalui pengalaman, mencoba, mengerjakan, lalu menarik pelajaran dari apa yang dijalani.
Etienne Wenger (1998) melihat pembelajaran sebagai sesuatu yang dapat tumbuh melalui keterlibatan dalam praktik sosial. Dalam komunitas praktik (community of practice), orang-orang tidak cukup hanya mempunyai perhatian pada bidang yang sama. Mereka terlibat dalam pekerjaan atau persoalan bersama, bertukar pengalaman, mencoba cara tertentu, lalu membangun pengetahuan dari proses yang berlangsung dari waktu ke waktu.
Dalam konteks Pemuda ICMI, bentuknya tidak harus diawali dengan program besar. Kader yang tertarik pada ekonomi syariah, misalnya, tidak harus berhenti sebagai peserta seminar. Ia dapat dilibatkan dalam kelompok kecil bersama akademisi, praktisi, senior ICMI, dan beberapa kader muda. Mereka membaca persoalan UMKM di sebuah daerah, mengumpulkan data sederhana, berdiskusi, mencoba merumuskan jalan keluar, lalu melihat apa yang dapat dikerjakan.
“Komunitas praktik tumbuh ketika orang terlibat dalam pekerjaan bersama, menghadapi persoalan yang sama, lalu membangun cara, pengalaman, dan pengetahuan yang dapat mereka bagi.” Disarikan dari Wenger (1998).
Pertemuan satu kali tentu belum otomatis menjadi community of practice. Nilainya muncul ketika orang-orang tersebut terus berinteraksi, membawa persoalan baru, membandingkan pengalaman, mencoba solusi, lalu kembali dengan pelajaran dari lapangan. Dari situ terbentuk kebiasaan belajar yang tidak bergantung pada satu acara.
Anak muda kemudian memperoleh sesuatu yang sulit diberikan hanya melalui ceramah. Ia belajar berbicara dengan orang yang berbeda, menerima kritik, menguji gagasan, dan memahami bahwa kenyataan sering tidak sesederhana bahan presentasi. Kepakaran tumbuh karena seseorang benar-benar bersentuhan dengan persoalan.
Tabel: Dari Hadir menjadi Bertumbuh
| Yang Sering Terjadi | Yang Perlu Ditumbuhkan |
|---|---|
| Hadir dalam kegiatan | Mendapat ruang belajar |
| Bertemu senior | Mendapat pendampingan |
| Memiliki minat | Masuk dalam community of practice |
| Mendapat tugas | Learning by Doing |
| Kegiatan selesai | Menemukan jati diri melalui karya |
Anak muda sering menemukan dirinya setelah mencoba sesuatu, bukan sebelum memulainya. Seseorang mungkin baru menyadari bahwa ia mampu menulis setelah diminta menyusun catatan sebuah forum. Orang lain menemukan kemampuan memimpin setelah diberi tanggung jawab mengelola tim kecil. Ada pula yang baru memahami minat sosialnya setelah turun langsung melihat persoalan masyarakat.
Karena itu, ruang pembinaan akan lebih berarti jika memberi kesempatan untuk mengalami. Terlalu banyak arahan dapat membuat anak muda sibuk memenuhi harapan orang lain. Pendampingan yang sehat membantu mereka mengenali kekuatan, sekaligus memberi ruang untuk memilih jalan yang ingin ditempuh.
Jangan Biarkan Pengalaman Hilang
Pengalaman organisasi sering tersimpan di kepala orang-orang yang pernah menjalaninya. Ada cerita tentang program yang berhasil, keputusan yang pernah keliru, jaringan yang dibangun bertahun-tahun, sampai cara menyelesaikan persoalan yang tidak pernah masuk laporan resmi. Kalau pengalaman seperti ini tidak dibagikan dan dicatat, generasi berikutnya akan berkali-kali memulai dari awal. Budaya knowledge management dapat tumbuh dari kebiasaan sehari-hari: mencatat pelajaran setelah kegiatan, menyimpan praktik baik daerah, merekam percakapan dengan senior, membuat direktori kepakaran, atau mengumpulkan karya kader agar dapat dipelajari orang lain.
Teknologi membantu proses itu berlangsung lintas wilayah. Catatan dapat disimpan bersama, mentor dan kader dapat bertemu secara daring, sementara orang-orang dengan minat serupa dapat saling terhubung. Informasi yang diperoleh dengan cepat, termasuk melalui kecerdasan buatan, tetap membutuhkan kemampuan memilih, mempertanyakan, dan mempertanggungjawabkannya. Pengalaman manusia tetap diperlukan untuk memberi pertimbangan, nilai, dan kebijaksanaan pada pengetahuan yang diperoleh.
Kepercayaan yang Menumbuhkan
Pada suatu titik, pembinaan perlu berubah menjadi kepercayaan. Anak muda yang terus-menerus hanya diminta hadir, mendengar, dan membantu pekerjaan kecil akan sulit mengetahui seberapa jauh kemampuannya dapat berkembang. Pengalaman akan lebih berarti ketika mereka mendapat tugas yang sungguh mempunyai arti.
Tugas itu tidak harus besar. Bisa dimulai dengan memimpin diskusi, menyusun tulisan, melakukan riset sederhana, mengembangkan kegiatan di daerah, mengelola proyek sosial, atau mewakili ICMI dalam sebuah kolaborasi. Ukuran pekerjaannya dapat disesuaikan dengan pengalaman. Yang penting, mereka merasakan bahwa pekerjaan tersebut memang dibutuhkan.
Kepercayaan tentu mengandung risiko. Ada keputusan yang mungkin kurang tepat, pekerjaan yang perlu diperbaiki, atau gagasan yang ternyata tidak berjalan seperti rencana. Justru pengalaman semacam itulah yang memberi bahan untuk belajar. Senior dapat tetap hadir untuk memberi arah dan menjaga nilai, tanpa mengambil alih setiap langkah.
Hubungan antargenerasi juga tidak perlu dipahami sebagai hubungan satu arah. Generasi senior membawa pengalaman, ketekunan, jejaring, dan pelajaran yang diperoleh melalui perjalanan panjang. Generasi muda datang dengan pertanyaan baru, kemampuan teknologi, cara membangun jejaring yang berbeda, serta keberanian mencoba pendekatan yang belum pernah dilakukan. Pertemuan keduanya dapat menghasilkan pembelajaran yang tidak dimiliki bila masing-masing berjalan sendiri.
Ukuran yang lebih bermakna tampaknya terletak pada manusia yang bertumbuh di dalam Pemuda ICMI, bukan pada banyaknya kegiatan yang diselenggarakan. Ada kader yang belajar menulis. Ada yang berlatih memimpin diskusi. Ada yang mempertemukan riset dengan persoalan masyarakat. Ada pula yang menemukan keberanian untuk memulai karya kecil di daerahnya sendiri.
Karya-karya itu pada awalnya mungkin belum besar. Tidak masalah. Identitas seorang cendekiawan juga tidak lahir dalam satu malam. Ia terbentuk dari kebiasaan membaca, bertanya, mendengar, menguji gagasan, bekerja bersama orang lain, lalu bersedia mempertanggungjawabkan apa yang dikerjakannya.
Ada pelajaran menarik dari perjalanan Nabi Musa bersama Khidr. Dalam QS. Al-Kahf [18]: 66, Musa meminta izin untuk mengikuti Khidr agar memperoleh sebagian ilmu yang telah diajarkan Allah kepadanya. Seorang nabi pun digambarkan tetap belajar melalui perjalanan, perjumpaan, dan pengalaman. Barangkali di sana tersimpan pelajaran sederhana bagi regenerasi: generasi baru memerlukan orang yang bersedia membuka jalan, tetapi mereka juga perlu menjalani sendiri proses yang membuat ilmu berubah menjadi pemahaman.
ICMI akan terus menemukan daya hidupnya ketika setiap generasi bersedia merawat ilmu, memperkuat persaudaraan, dan mengabdikan diri bagi kemajuan umat dan bangsa. Pemuda ICMI adalah bagian dari perjalanan itu. Hari ini mereka belajar dari generasi sebelumnya, menguji kemampuan melalui karya, dan menemukan jalan pengabdiannya sendiri.
Wajah ICMI masa depan tidak dibentuk dalam satu muktamar atau satu periode kepengurusan. Ia tumbuh dari anak-anak muda yang hari ini diberi kesempatan belajar, dipercaya mencoba, dan didampingi ketika menemukan jalannya. Kelak, sebagian dari mereka akan melakukan hal yang sama: membuka pintu, berbagi pengalaman, dan memberi kepercayaan kepada generasi yang datang sesudahnya.
Kalau Boleh Dirangkum
- Pemuda ICMI akan lebih mudah bertumbuh ketika memiliki kesempatan belajar, mencoba, dan mengerjakan sesuatu yang benar-benar berarti.
- Pembinaan tidak harus bergantung pada satu mentor. Senior, pakar, rekan sebaya, dan jejaring lintas daerah dapat menjadi sumber belajar yang berbeda-beda.
- Banyak kemampuan lahir saat anak muda ikut bekerja bersama, menghadapi persoalan nyata, menerima masukan, lalu memperbaiki apa yang sudah dikerjakan.
- Pengalaman senior dan praktik baik di berbagai daerah layak dicatat dan dibagikan agar generasi berikutnya tidak selalu memulai dari awal.
- Kepercayaan memberi ruang bagi anak muda untuk mengenali kemampuannya, menemukan jati diri, dan memilih jalan pengabdian melalui karya.
Kalau Mau Dipraktikkan
- Kenali minat dan kemampuan kader muda, lalu pertemukan mereka dengan orang yang memiliki pengalaman atau kepakaran yang sesuai.
- Beri kesempatan ikut mengerjakan proyek nyata, meskipun dimulai dari lingkup kecil. Dari pengalaman seperti itu, keberanian dan rasa tanggung jawab biasanya tumbuh.
- Bangun kelompok belajar lintas generasi dan lintas daerah yang bertemu karena persoalan atau bidang kerja yang sama, bukan sekadar karena berada dalam satu struktur.
- Setelah kegiatan selesai, simpan pelajaran yang diperoleh: apa yang berhasil, apa yang perlu diperbaiki, dan apa yang layak diteruskan oleh orang lain.
- Beri kepercayaan secara bertahap. Pendampingan tetap ada, tetapi cukup ruang perlu diberikan agar kader muda dapat mengambil keputusan, belajar dari hasilnya, dan melahirkan karya dengan caranya sendiri.
Referensi
Higgins, M. C., & Kram, K. E. (2001). Reconceptualizing mentoring at work: A developmental network perspective. Academy of Management Review, 26(2), 264–288. https://doi.org/10.5465/amr.2001.4378023
Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. (2021). Anggaran Rumah Tangga ICMI 2021–2026.
Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. (n.d.). Sejarah ICMI.
Pemuda ICMI. (n.d.). Tentang kami: Sejarah Masika ICMI dan perubahan nama menjadi Pemuda ICMI.
Wenger, E. (1998). Communities of practice: Learning, meaning, and identity. Cambridge University Press.




