بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
ICMI dan Pentingnya Repositioning
Membaca Ulang Posisi ICMI
Artikel 35 (29 Juli 2026)
Oleh Bagus Suminar
Aktivis ICMI Jawa Timur, Principal Consultant pada mutupendidikan.com
“Positioning adalah ikhtiar menata cara hadir, agar ICMI tetap dekat dengan zaman, umat, masjid, ilmu, dan kepedulian.”
Ada masa ketika nama besar sebuah organisasi cukup membuat orang menoleh. Hari ini, keadaan mulai berbeda. Masyarakat mulai bertanya: siapa kita, dan manfaat apa yang benar-benar terasa dari kehadiran kita. ICMI memiliki sejarah, jejaring, dan warisan kecendekiawanan yang kuat. Warisan itu perlu terus diterjemahkan agar tidak berhenti sebagai ingatan. Ia perlu hadir sebagai kejernihan, kepedulian, dan manfaat di tengah perubahan zaman.
Perubahan itu terasa semakin cepat sejak AI masuk ke banyak ruang kehidupan. Cara orang bekerja berubah. Cara orang belajar ikut berubah. Cara orang menulis, mencari data, membuat keputusan, bahkan berdakwah juga mulai berubah. Informasi datang seperti air bah. Banyak, cepat, dan tidak selalu jernih.
Dalam keadaan seperti ini, ICMI perlu membaca ulang posisinya. Arahnya tidak hilang. Sejarahnya juga tidak kurang kuat. Justru karena ICMI punya sejarah besar, cara hadirnya perlu terus dibahasakan ulang agar dekat dengan kebutuhan umat hari ini.
Posisi yang Perlu Dibaca Kembali
ICMI lahir dari semangat besar para cendekiawan muslim. Ada iman, ilmu, kepakaran, dan pengabdian yang sejak awal menjadi napasnya. Dalam Anggaran Dasar, ICMI diarahkan untuk mewujudkan masyarakat madani melalui peningkatan keimanan, ketakwaan, kecendekiawanan, dan peran cendekiawan muslim. Arah ini sebenarnya sangat kuat.
Namun, arah yang kuat tetap memerlukan cara hadir yang tepat. Sebuah organisasi bisa punya sejarah panjang, struktur lengkap, dan nama yang dihormati. Tetapi kalau masyarakat tidak lagi menangkap dengan jelas manfaatnya, pelan-pelan jaraknya bisa terasa melebar.
Gagasan repositioning menjadi penting dalam suasana seperti itu. Istilah ini memang lebih sering terdengar dalam dunia pemasaran. Al Ries dan Jack Trout memperkenalkan positioning sebagai usaha menempatkan sesuatu secara jelas dalam pikiran orang. Dalam bahasa yang lebih sederhana, sebuah organisasi perlu bisa menjawab: ingin dikenal sebagai apa, oleh siapa, dan karena manfaat apa.
Untuk ICMI, pertanyaannya terasa lebih dalam. Hari ini ICMI ingin dikenal sebagai apa? Cukupkah sebagai organisasi cendekiawan yang bersejarah? Cukupkah sebagai forum silaturahim tokoh? Atau ICMI perlu tampil sebagai rumah besar yang memberi kejernihan, menumbuhkan kepedulian, dan menghadirkan manfaat di era AI?
Pertanyaan itu bukan untuk mengecilkan yang sudah ada. Ia membantu ICMI menata kembali bahasa pengabdiannya. Sejarah tetap menjadi pijakan. Tetapi masyarakat hari ini membutuhkan bentuk kehadiran yang lebih relevan: tulisan yang menjelaskan, program yang menyentuh, masjid yang dihidupkan, anak muda yang didampingi, dan teknologi yang diarahkan untuk kebaikan.
Tabel 1. Dari Posisi Lama ke Arah Baru ICMI
| Aspek | Arah Repositioning |
|---|---|
| Citra organisasi | Dari organisasi cendekiawan bersejarah menuju: rumah kejernihan, kepedulian, dan manfaat di era AI. |
| Kegiatan | Dari forum, rapat, seminar, dan silaturahim menuju: program sederhana yang terlaksana, berkelanjutan dan terasa manfaatnya. |
| Peran anggota | Dari hadir sebagai tokoh atau peserta kegiatan menuju: menulis, berbagi ilmu, mendampingi, dan menggerakkan masyarakat. |
| Hubungan dengan masyarakat | Dari dihormati karena nama besar menuju: dipercaya karena manfaat nyata. |
| Teknologi | Dari AI sebagai isu baru menuju: AI sebagai alat bantu kerja, literasi, dokumentasi, dan pemberdayaan. |
| Masjid | Dari tempat ibadah dan pertemuan menuju: pusat literasi, kepedulian, pelatihan, dan penguatan umat. |
| Ukuran sukses | Dari banyaknya acara menuju: manfaat, relevansi, keberlanjutan, dan barokah. |
Ketika Informasi Melimpah, Kejernihan Menjadi Langka
Salah satu masalah zaman ini bukan kurangnya informasi. Yang sering terjadi justru sebaliknya. Informasi terlalu banyak, tetapi perhatian manusia makin terbatas. Orang bisa menerima ratusan pesan dalam sehari, tetapi belum tentu memperoleh satu pemahaman yang menenangkan.
AI mempercepat keadaan itu. Tulisan bisa dibuat dalam hitungan detik. Gambar, suara, video, dan opini bisa disebarkan dengan mudah. Banyak hal tampak pintar, tetapi belum tentu bijak. Banyak kalimat tampak meyakinkan, tetapi belum tentu benar.
Di ruang seperti ini, tugas cendekiawan menjadi penting. Cendekiawan tidak cukup hanya mengetahui banyak hal. Ia perlu membantu orang memilah. Mana yang penting, mana yang bising. Mana yang membawa manfaat, mana yang hanya menambah keramaian.
ICMI memiliki ruang yang luas untuk hadir di wilayah itu. Bukan sebagai hakim yang merasa paling tahu, tetapi sebagai sahabat umat yang membantu menjelaskan. Ada urusan pengangguran. Ada kegelisahan anak muda. Ada keluarga yang bingung mendampingi anaknya di era digital. Ada masjid yang ingin hidup, tetapi belum menemukan bentuk kegiatan yang pas. Ada masyarakat yang butuh literasi AI, tetapi takut memulai.
Kalau ICMI mampu hadir dengan bahasa yang sederhana dan dekat, repositioning itu akan terasa. Orang tidak hanya mendengar nama ICMI. Orang mulai merasakan gunanya.
Dari Forum Gagasan ke Gerakan Manfaat
ICMI memang dekat dengan gagasan. Itu kekuatannya. Banyak orang ICMI terbiasa berpikir, berdiskusi, membaca keadaan, dan menyusun pandangan. Namun gagasan perlu jalan keluar. Ia perlu turun menjadi kerja yang bisa disentuh masyarakat.
Kadang kita terlalu cepat menyusun program besar. Judulnya hebat, rencananya panjang, tetapi pelaksanaannya berat. Mungkin kita perlu mulai dari hal sederhana. Satu bidang, satu program kecil, satu manfaat nyata. Tidak perlu terlalu ramai, asal berjalan. Tidak perlu selalu megah, asal menyentuh.
Misalnya, ICMI daerah membuat kelas kecil AI untuk guru madrasah. Atau pendampingan menulis bagi remaja masjid. Atau klinik proposal untuk komunitas sosial. Atau forum bulanan yang membantu UMKM memahami teknologi. Atau tulisan pendek rutin yang menjelaskan isu publik dengan bahasa yang tenang.
Program seperti itu mungkin tidak terdengar besar. Tetapi kalau dilakukan terus, ia membentuk kepercayaan. Masyarakat akan melihat ICMI sebagai tempat bertanya, tempat belajar, dan tempat menemukan arah.
Di sini, ukuran sukses perlu dibaca lebih lembut. Sukses tidak selalu berarti ruangan penuh, spanduk besar, atau foto kegiatan tersebar ke mana-mana. Sukses juga berarti ada orang yang terbantu. Ada pengetahuan yang berpindah. Ada anak muda yang lebih percaya diri. Ada masjid yang lebih hidup. Ada anggota yang mulai menulis. Ada program kecil yang membawa barokah.
Masjid, AI, dan Kepedulian Sosial
Masjid dapat menjadi salah satu pintu paling dekat bagi repositioning ICMI. Masjid sudah berada di tengah masyarakat. Ia dipercaya, dikunjungi, dan memiliki kedekatan emosional dengan umat. Kalau masjid hanya dipakai untuk acara seremonial, sayang sekali. Di sana ada ruang belajar, ruang peduli, ruang pendampingan, dan ruang penguatan keluarga.
ICMI bisa membantu masjid membaca kebutuhan umat. Di satu tempat, mungkin yang dibutuhkan adalah pelatihan kerja. Di tempat lain, literasi digital. Di tempat lain lagi, pendampingan orang tua, kesehatan, ekonomi keluarga, atau pembinaan remaja. AI bisa membantu menyiapkan modul, membuat bahan ajar, menyusun laporan, merapikan data peserta, dan menulis materi dakwah sosial.

Namun AI tetap alat. Ia tidak punya niat, tidak punya rasa, dan tidak bisa menggantikan keikhlasan. Yang memberi arah tetap manusia. Yang menjaga adab tetap manusia. Yang menimbang manfaat dan mudarat tetap manusia. Maka ICMI perlu memanfaatkan AI tanpa kehilangan ruh kepedulian.
Kepedulian ini penting. Banyak orang hari ini terlihat sibuk, tetapi tidak selalu saling memperhatikan. Banyak grup percakapan ramai, tetapi tidak selalu menghadirkan kedekatan. Yang hilang kadang bukan pengetahuan, melainkan perhatian. ICMI dapat mengambil peran di sana: mengembalikan ilmu kepada wajahnya yang ramah, berguna, dan menenangkan.
Belajar, Menulis, dan Menyimpan Pengetahuan
Peter Senge pernah menulis tentang organisasi pembelajar. Intinya sederhana: organisasi yang hidup adalah organisasi yang terus belajar. Bagi ICMI, repositioning tidak cukup dirumuskan dalam kalimat indah. Ia perlu menjadi kebiasaan belajar: membaca kebutuhan umat, mengevaluasi kegiatan, memperbaiki komunikasi, dan tidak ragu meninggalkan pola kerja yang kurang efektif.
Nonaka dan Takeuchi mengingatkan bahwa pengetahuan organisasi perlu diciptakan, dibagikan, dan diolah menjadi manfaat. Dalam bahasa ICMI, ilmu anggota tidak boleh berhenti di kepala orang per orang. Pengalaman kegiatan perlu dicatat. Pelajaran lapangan perlu ditulis. Praktik baik daerah perlu dibagikan. Kalau tidak, banyak hikmah menguap begitu acara selesai.
Budaya menulis menjadi penting. Cendekiawan yang tidak menulis akan mudah kehilangan jejak gagasannya. ICMI tidak harus menunggu tulisan panjang. Catatan pendek pun cukup. Satu halaman pengalaman kegiatan, satu opini ringan, satu panduan praktis, satu ringkasan hasil diskusi. Bila dilakukan rutin, tulisan-tulisan kecil itu akan menjadi ingatan organisasi.
Tabel 2. Peran Setiap Jenjang dalam Repositioning ICMI
| Jenjang | Arah Repositioning |
|---|---|
| Orpus / Pusat | Menjaga arah besar: merumuskan narasi nasional ICMI sebagai rumah kejernihan, kepedulian, dan manfaat di era AI. |
| Orwil | Menerjemahkan arah nasional sesuai kebutuhan provinsi: kerja, pendidikan, masjid, ekonomi umat, literasi AI, dan kebijakan daerah. |
| Orda | Mengubah repositioning menjadi program kabupaten/kota yang sederhana, relevan, dan dekat dengan masalah masyarakat setempat. |
| Orsat | Menjadi titik paling dekat dengan umat: menghidupkan masjid, kampus, sekolah, komunitas, dan ruang belajar kecil. |
| Batom | Menjalankan fungsi khusus secara lebih profesional: ekonomi, pendidikan, dakwah, sosial, teknologi, kesehatan, atau pemberdayaan. |
Mulai dari Hal yang Mungkin Dikerjakan
Repositioning sering terdengar besar. Padahal ia bisa dimulai dari kebiasaan kecil. ICMI bisa mulai dengan satu pesan yang jelas. Satu program yang realistis. Satu tulisan yang terbit. Satu kegiatan yang dicatat. Satu masjid atau komunitas yang didampingi.
Tidak semua hal harus selesai sekaligus. Yang penting ada gerak. Bila pusat memberi arah, wilayah menerjemahkan konteks, daerah menjalankan program, satuan menyentuh masyarakat, dan Batom bekerja sesuai bidangnya, repositioning akan berubah menjadi pengalaman yang dirasakan.
Kalau boleh dirangkum, repositioning ICMI adalah ikhtiar membaca ulang posisi dan cara hadir. ICMI perlu dikenal sebagai rumah kejernihan, kepedulian, dan manfaat di era AI. Arah itu perlu terasa dari pusat sampai satuan. AI dimanfaatkan untuk menulis, mendokumentasikan, melayani, dan memberdayakan. Ukuran keberhasilan tidak berhenti pada banyaknya acara, tetapi pada manfaat, relevansi, keberlanjutan, dan barokah.
Kalau mau dipraktikkan, pilih saja langkah yang sederhana. Rumuskan pesan. Pilih program kecil. Tentukan siapa yang menjalankan. Catat hasilnya. Tulis pelajarannya. Bagikan kepada yang lain. Ulangi lagi dengan lebih baik. Dari kebiasaan seperti itu, ICMI pelan-pelan akan membangun posisi barunya.
Warisan memberi ICMI pijakan. Perubahan zaman memberi panggilan baru. Selama ilmu terus dibagikan, kepedulian tetap dijaga, dan program sederhana dijalankan dengan sungguh-sungguh, ICMI akan tetap menemukan jalan untuk hadir. Tidak harus selalu riuh. Tidak harus selalu besar. Yang penting orang merasakan ada manfaat, ada arah, dan ada kebaikan yang tumbuh dari setiap ikhtiar kecil yang dijalankan dengan hati.
Kalau Boleh Dirangkum
- Repositioning bukan berarti meninggalkan jati diri. Ia lebih dekat dengan usaha membaca kembali bagaimana nilai-nilai ICMI bisa tetap relevan dalam kehidupan umat hari ini.
- Ketika informasi datang terlalu deras dan AI berkembang begitu cepat, ICMI punya ruang untuk membantu menghadirkan kejernihan, kepedulian, dan cara pandang yang lebih tenang.
- Gagasan tidak cukup berhenti sebagai bahan diskusi. Ia perlu turun menjadi tindakan sederhana yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh, mulai dari lingkungan yang paling dekat.
- Organisasi akan lebih hidup kalau mau terus belajar, menulis, mencatat pengalaman, berbagi praktik baik, dan memperbaiki langkah dari waktu ke waktu.
- Warisan besar ICMI akan tetap bernapas apabila setiap generasi mampu menerjemahkannya menjadi manfaat nyata, sambil tetap menjaga ilmu, iman, dan pengabdian.
Kalau Mau Dipraktikkan
- Mulailah setiap program dengan pertanyaan sederhana: setelah kegiatan ini selesai, manfaat apa yang benar-benar dirasakan masyarakat?
- Pilih satu persoalan yang paling dekat dengan lingkungan sekitar. Kerjakan dengan sungguh-sungguh, daripada membuat banyak rencana yang akhirnya sulit dijalankan.
- Biasakan setiap kegiatan meninggalkan jejak pengetahuan. Catat pengalaman, pelajaran, dan praktik baik agar bisa menjadi bekal bagi anggota dan periode berikutnya.
- Manfaatkan AI untuk membantu belajar, menulis, merapikan data, menyusun laporan, dan melayani masyarakat. Namun arah, rasa, dan pertimbangannya tetap dijaga oleh manusia.
- Bangun manfaat dari langkah-langkah kecil yang konsisten. Kepercayaan masyarakat biasanya tumbuh pelan-pelan, dari banyak ikhtiar yang dikerjakan dengan hati.
Referensi
Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. (2021). Anggaran Dasar Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia 2021–2026. ICMI.
Nonaka, I., & Takeuchi, H. (1995). The knowledge-creating company: How Japanese companies create the dynamics of innovation. Oxford University Press.
Ries, A., & Trout, J. (2001). Positioning: The battle for your mind (20th anniversary ed.). McGraw-Hill.
Senge, P. M. (2006). The fifth discipline: The art and practice of the learning organization (Rev. ed.). Doubleday.




