Membaca ICMI Lewat Data (09)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Membaca ICMI Lewat Data
Memperbaiki Program, Menjaga Manfaat

Artikel 9

Oleh Bagus Suminar
Aktivis ICMI Jatim, pemerhati mutu pendidikan

“Program yang ramai belum tentu paling berdampak. Dengan membaca data dan umpan balik, kita bisa belajar lebih jernih tanpa kehilangan rasa.”

Data sering hadir setelah kegiatan selesai: jumlah peserta, daftar hadir, dokumentasi, atau laporan singkat. Angka-angka itu sebenarnya bisa bercerita lebih jauh. Ia membantu melihat apa yang sungguh terjadi, siapa yang merasakan manfaat, siapa yang belum terbantu, dan bagian mana yang masih perlu diperbaiki.

Sebuah kegiatan bisa ramai, gebyar, laporan selesai, foto tersimpan, lalu grup WhatsApp kembali tenang. Semua tampak beres. Namun ingat, keramaian belum tentu menceritakan dampak.

Data menjadi lebih berarti ketika dibaca bersama pengalaman orang-orang yang terlibat. Data membantu melihat apa yang terjadi; empati membantu memahami siapa yang merasakan dampaknya. Sayang sekali bila angka tidak dibunyikan.

Membaca Hasil Kegiatan

Organisasi perlu bercermin pada kenyataan. Ricky W. Griffin dalam Fundamentals of Management (2022) melihat organisasi sebagai sistem terbuka yang terus berhubungan dengan lingkungannya. Organisasi menerima berbagai masukan, mengolahnya melalui kegiatan, menghasilkan sesuatu, lalu berhadapan lagi dengan respons dari lingkungan.

Bila dibawa ke pengalaman berorganisasi di ICMI, alurnya mudah dikenali. Masukan dapat datang dari kebutuhan masyarakat, gagasan anggota, pengalaman daerah, atau persoalan yang sedang muncul. Semua itu kemudian bertemu dengan proses organisasi: kajian, seminar, pendampingan, program sosial, atau bentuk kegiatan lainnya. Setelah kegiatan selesai, kita memperoleh hasil yang dapat dilihat dan respons yang bisa didengar.

Umpan balik membuat perjalanan sebuah program tidak berhenti ketika acara selesai. Misalnya, sebuah seminar dihadiri banyak peserta. Sesudahnya justru muncul pertanyaan yang lebih menarik: tema apa yang paling dibutuhkan, bagian mana yang dianggap bermanfaat, siapa yang belum terjangkau, dan apakah kegiatan serupa masih layak diteruskan dengan cara yang sama.

Pengalaman seperti itu mudah hilang kalau tidak sempat ditangkap. Sebagiannya masuk laporan, sebagian lagi tinggal dalam ingatan orang-orang yang menjalankannya.

Ikujiro Nonaka dan Hirotaka Takeuchi dalam The Knowledge-Creating Company (1995) membahas bagaimana pengetahuan organisasi diciptakan, dibagikan, lalu digunakan dalam praktik. Dalam pengalaman berorganisasi, gagasan ini terasa dekat: kegiatan akan lebih berguna ketika meninggalkan jejak yang bisa dibaca kembali. Catatan tentang apa yang berhasil, apa yang kurang pas, dan apa yang perlu dilakukan sesudahnya sering lebih berguna daripada dokumen tebal yang jarang dibuka lagi.

Data untuk Membantu Keputusan

Jeffrey Pfeffer dan Robert Sutton (2006) mendorong praktik evidence-based management, yaitu penggunaan bukti terbaik yang tersedia untuk membantu pengambilan keputusan. Pendekatan ini terasa relevan karena keputusan organisasi kadang dibentuk oleh kebiasaan, pengalaman pribadi, kesan sesaat, atau cerita yang paling sering terdengar.

Bayangkan sebuah kegiatan ICMI dengan ruangan penuh dan suasana hangat. Dari luar, kegiatan itu terlihat berhasil. Kesan tersebut tentu mempunyai arti. Namun masih ada hal lain yang layak dibaca: siapa yang hadir, masukan apa yang paling sering muncul, apakah peserta memperoleh manfaat, dan sejauh mana kebutuhan yang ingin dijawab benar-benar tersentuh.

Buktinya bisa sangat dekat dengan kegiatan sehari-hari. Daftar peserta, tanggapan singkat setelah acara, cerita dari daerah, pertanyaan yang berulang, atau pengalaman orang yang menjalankan program sudah dapat membantu kita memahami keadaan dengan lebih jernih.

Jumlah peserta tetap berguna. Jumlah kegiatan juga perlu dicatat. Angka memperoleh makna yang lebih kuat ketika membantu menjawab pertanyaan tentang manfaat: siapa yang terbantu, apa yang berubah, kebutuhan apa yang muncul, dan apa yang sebaiknya dilakukan berikutnya.

Sebuah kegiatan dengan peserta sedikit bisa meninggalkan dampak yang kuat. Sebaliknya, acara besar dapat menghasilkan banyak dokumentasi tanpa perubahan yang cukup terasa. Data membantu kita melihat perbedaan itu.

Karena itu, angka perlu dibaca bersama cerita.

Dari sana mulai terlihat hal-hal yang mudah terlewat: tema yang mendapat respons, kebutuhan yang belum terjawab, praktik baik dari daerah, sampai anggota yang tidak banyak bicara tetapi menyimpan pengalaman penting.

Data tidak mengambil keputusan untuk kita. Ia memberi bahan agar kita tidak terlalu cepat menyimpulkan.

Menemukan Kebutuhan yang Terlewat

ICMI hadir di banyak wilayah dengan keadaan yang berbeda. Kebutuhan satu daerah dapat berbeda dengan daerah lain. Ada wilayah dengan jejaring yang sudah kuat, ada yang berhadapan dengan persoalan khas, dan ada pula yang memiliki praktik baik yang belum banyak terdengar.

Data dan umpan balik membantu membaca perbedaan tersebut dengan lebih tenang.

Pengalaman antargenerasi juga tidak selalu sama. Senior membawa perjalanan panjang organisasi. Generasi berikutnya tumbuh bersama teknologi, bahasa, dan kebiasaan komunikasi yang berbeda. Kalau memakai bahasa anak muda, Wi-Fi organisasi perlu sama-sama kuat.

Pengalaman panjang tetap berharga, sementara cara baru juga perlu mendapat ruang. Data membantu percakapan semacam ini menjadi lebih adil karena perhatian sering lebih dulu jatuh kepada suara yang paling sering muncul.

Sebagian orang mudah menyampaikan pendapat. Yang lain lebih banyak bekerja dalam diam, padahal pengalaman mereka penting. Di luar organisasi, ada masyarakat yang sudah merasakan manfaat program dan ada pula yang belum tersentuh.

Sisi empati muncul ketika data membuat mereka lebih terlihat.

Tabel: Sisi Empati di Balik Data

Yang Terlihat dari DataSisi Empati yang Perlu Dibaca
Peserta yang hadirSiapa yang belum terjangkau?
Peserta yang tidak kembaliApakah ada kebutuhan yang belum terpenuhi?
Kegiatan dengan peserta sedikitApakah manfaatnya justru terasa kuat bagi mereka yang hadir?
Masukan atau keluhan yang berulangApa yang sebenarnya sedang mereka butuhkan?
Daerah dengan kegiatan yang belum banyakDukungan apa yang mungkin mereka perlukan?

Kita tidak sedang mengejar angka demi angka. Yang ingin dipahami adalah manusia yang hidup di baliknya.

Belajar untuk Program Berikutnya

Data akan kehilangan gunanya kalau berhenti sebagai arsip.

Setelah program selesai, ada baiknya kita melihat kembali apa yang berhasil, bagian mana yang perlu diperbaiki, siapa yang belum terjangkau, dan apa yang sebaiknya dilakukan berbeda pada kesempatan berikutnya.

Umpan balik bekerja ketika temuan dari sebuah kegiatan benar-benar dipakai untuk menentukan langkah berikutnya.

Catatan kegiatan baru terasa gunanya ketika suatu hari dibuka kembali dan membantu pekerjaan berikutnya. Data, pengalaman, dan ilmu lalu ikut memengaruhi keputusan.

Pesan mengenai pentingnya karya pernah disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla saat menutup Silaknas ICMI di Bandar Lampung pada 8 Desember 2018. Ia mendorong ICMI memperkuat kelompok-kelompok keilmuan di bidang teknologi, sosial, ekonomi, dan kewirausahaan. Pesan itu menarik untuk direnungkan karena ilmu terasa nilainya ketika menemukan jalan menuju karya.

Dalam kehidupan ICMI, ruang silaturahim cendekia cukup banyak. Rasanya menarik kalau sesekali ada juga “silaturahim data”. Angka, cerita lapangan, hasil kegiatan, dan pengalaman daerah dibawa ke meja yang sama. Data pun sesekali perlu dipanggil ke meja kopi.

Tidak harus dalam forum besar. Beberapa pertanyaan sudah cukup untuk membuka percakapan:

Apa yang kita pelajari?

Apa yang ternyata tidak bekerja?

Siapa yang belum kita dengar?

Apa yang perlu dilakukan berbeda?

Pertanyaan seperti itu membuat evaluasi terasa lebih berguna. Kekurangan tetap dilihat, lalu pelajarannya dibawa ke program berikutnya.

Empati menjaga agar angka tidak membuat kita kehilangan rasa.

Masa depan ICMI ikut dirawat dari cara kita membaca pekerjaan hari ini. Dari data kita melihat apa yang sungguh terjadi, lalu umpan balik memberi bahan untuk memperbaiki langkah. Empati menjaga seluruh proses itu tetap dekat dengan manusia—mereka yang sudah merasakan manfaat maupun yang masih menunggu untuk didengar.


Kalau Boleh Dirangkum

  1. Keramaian belum tentu menunjukkan dampak. Jumlah peserta penting, tetapi cerita setelah kegiatan sering memberi gambaran yang lebih utuh.
  2. Data membantu melihat keadaan dengan lebih jernih. Dari sana kita bisa membaca apa yang berjalan baik dan bagian mana yang masih perlu dibenahi.
  3. Pengalaman sebaiknya meninggalkan jejak. Catatan kecil dari sebuah program dapat berguna ketika kegiatan serupa dilakukan lagi di tempat atau waktu yang berbeda.
  4. Umpan balik memberi bahan untuk memutuskan langkah berikutnya. Suara yang jarang terdengar pun bisa ikut masuk dalam pertimbangan.
  5. Angka tetap perlu ditemani empati. Di balik data ada orang, kebutuhan, pengalaman, dan manfaat yang sedang kita coba pahami.

Kalau Mau Dipraktikkan

  1. Sesudah kegiatan, jangan langsung menutup buku. Sisakan waktu untuk melihat apa yang benar-benar terjadi dan apa yang masih tertinggal.
  2. Catat beberapa hal yang paling berguna. Apa yang berhasil, apa yang kurang pas, siapa yang terbantu, dan siapa yang belum terjangkau.
  3. Dengarkan masukan dari lebih banyak arah. Peserta, daerah, anggota yang jarang bicara, dan orang yang menjalankan program bisa membawa cerita yang berbeda.
  4. Bawa temuan itu ke keputusan berikutnya. Kalau pola yang sama terus muncul, program berikutnya layak disusun dengan cara yang berbeda.
  5. Sesekali adakan “silaturahim data”. Dudukkan angka, pengalaman, dan cerita lapangan dalam satu percakapan agar manfaat program lebih mudah dibaca.

Referensi

Griffin, R. W. (2022). Fundamentals of management (10th ed.). Cengage Learning.

Nonaka, I., & Takeuchi, H. (1995). The knowledge-creating company: How Japanese companies create the dynamics of innovation. Oxford University Press.

Pfeffer, J., & Sutton, R. I. (2006). Evidence-based management. Harvard Business Review, 84(1), 62–74.

Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia. (2018, December 8). ICMI harus memperkuat kelompok-kelompok keilmuan.


Scroll to Top