ICMI dan Seni Apresiasi

ICMI dan Seni Apresiasi (07)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

ICMI dan Seni Apresiasi:
Ketika Terima Kasih Menjadi Energi Organisasi

Artikel 7

Oleh Bagus Suminar
Aktivis ICMI Jatim, pemerhati mutu pendidikan

“Apresiasi membuat organisasi terasa lebih manusiawi. Kita belajar melihat usaha orang lain, menghargainya, lalu tidak lupa mengucapkan terima kasih.”

Ucapan terima kasih merupakan salah satu magic word yang rajin kita ajarkan kepada anak-anak, tetapi makin jarang terdengar ketika kita sudah dewasa. Dalam kehidupan sehari-hari, kalimat kecil ini membuat seseorang merasa dilihat, dihargai, dan diakui. Begitu pula dalam kehidupan organisasi. Di ICMI, banyak pengurus mungkin tidak meminta apa-apa. Mereka hanya ingin tahu bahwa kerja yang mereka lakukan tidak lewat begitu saja.

Pujian tentu bukan hal yang buruk. Setiap orang membutuhkan penghargaan, selama datangnya dari hati yang jernih. Yang lebih mudah terlewat justru ketulusannya. Pujian yang tulus bisa memberi rasa hangat, sedangkan pujian yang sekadar basa-basi biasanya tidak meninggalkan banyak bekas.

Seni apresiasi karena itu juga menyangkut kepekaan melihat orang-orang di balik sebuah kegiatan. Ada yang menghubungi narasumber, menyiapkan acara, menyambung komunikasi, merawat jejaring, atau memastikan hal-hal kecil tetap berjalan. Kerja seperti ini jarang terlihat dari panggung. Tetapi justru terasa ketika tidak ada.

Rumah Apresiasi

Menurut catatan sejarah ICMI, B. J. Habibie pernah menegaskan saat kelahiran ICMI di Malang, “Dengan berdirinya ICMI tidak berarti kita hanya memperhatikan umat Islam, tetapi mempunyai komitmen memperbaiki nasib seluruh bangsa Indonesia.” Dari pesan itu, kita bisa menangkap satu napas yang sejak awal menyertai perjalanan ICMI: ilmu dan kecendekiawanan diarahkan untuk memberi manfaat bagi bangsa.

Semangat itu bisa terus dirawat lewat budaya apresiasi. Pujian, pengakuan, dan penghargaan tidak perlu dipertentangkan. Ada hasil yang memang layak dipuji, proses yang patut diakui, dan karya yang pantas memperoleh penghargaan.

Axel Honneth dalam The Struggle for Recognition (1995) menempatkan pengakuan sebagai bagian penting dari kehidupan moral manusia. Seseorang ingin martabat dan keberadaannya dikenali dalam hubungan sosial. Dalam kehidupan organisasi, gagasan ini mengingatkan kita bahwa hadir dalam struktur belum tentu sama dengan merasa benar-benar dianggap.

Dalam tulisan ini, tiga wajah apresiasi bisa dibedakan agar lebih mudah kita lihat dalam kehidupan organisasi. Pujian membuat orang senang. Pengakuan membuat orang merasa berarti. Penghargaan membuat orang merasa dihormati. Ini bukan klasifikasi Honneth, melainkan cara praktis membaca apresiasi dalam keseharian organisasi.

Kalau dibawa ke keseharian organisasi, tiga wajah apresiasi itu bisa terlihat dalam bentuk yang berbeda.

Pujian membuat orang senang.
Pengakuan membuat orang merasa berarti.
Penghargaan membuat orang merasa dihormati.

Di ICMI, ketiganya bisa berjalan bersama. Semuanya baru terasa bermakna ketika lahir dengan tulus. Ucapan yang jujur membuat seseorang tahu bahwa pekerjaannya benar-benar diperhatikan, bukan hanya lewat sebagai bagian dari agenda.

Perhatian yang Menggerakkan

Denise Rousseau dalam Psychological Contracts in Organizations (1995) menjelaskan bahwa seseorang membawa keyakinan tentang kewajiban timbal balik antara dirinya dan organisasi. Dalam kehidupan organisasi kita, gagasan ini menarik untuk direnungkan. Seorang pengurus tentu mempunyai harapan yang tidak selalu tertulis: diperlakukan dengan baik, dipercaya menjalankan peran, dan kontribusinya tidak dianggap angin lalu.

Ketika hubungan semacam ini terawat, rasa memiliki biasanya ikut tumbuh. Orang hadir karena merasa perjalanan organisasi juga menyentuh dirinya, bukan semata karena nama tercantum dalam struktur.

Kajian Hawthorne yang banyak dikaitkan dengan Elton Mayo juga memberi pelajaran menarik tentang sisi manusia dalam bekerja. Penelitian itu tidak bisa diringkas menjadi anggapan bahwa orang bekerja lebih baik hanya karena diperhatikan. Hubungan sosial, suasana kelompok, supervisi, kondisi kerja, dan pengalaman pekerja ikut membentuk hasil yang diamati.

Dari sini kita bisa melihat bahwa perhatian kepada orang tidak berdiri sendiri dari proses belajar dan bekerja bersama. Forum pembelajaran, webinar, dan pelatihan tentu penting untuk menambah ilmu. Dalam kehidupan organisasi kita, hubungan antarpengurus juga ikut menentukan suasana. Ilmu membuka pikiran, sementara perhatian dan apresiasi membantu menjaga hubungan tetap hangat.

Pengakuan pun tidak harus menunggu penghargaan besar. Ia bisa hadir ketika sebuah ide didengarkan dengan sungguh-sungguh, nama penggagas dicatat dalam laporan, atau seseorang menerima ucapan terima kasih setelah pekerjaannya selesai. Detail kecil seperti ini membuat kerja yang sunyi tidak hilang begitu saja.

Dalam volume Positive Organizational Scholarship yang disunting Kim Cameron, Jane Dutton, dan Robert Quinn (2003), perhatian diarahkan pada kondisi dan praktik positif yang membantu manusia serta organisasi berkembang. Kalau dibawa ke kehidupan ICMI, budaya apresiasi bisa tumbuh menjadi kebiasaan yang ikut merawat hubungan antarpengurus.

Satu ucapan terima kasih tentu tidak menyelesaikan semua persoalan organisasi. Namun suasana setelahnya bisa berbeda. Orang tahu bahwa usahanya terlihat. Dan sering kali, orang lebih mudah menerima koreksi ketika kerja baiknya juga diakui.

Mulai dari Kebiasaan Kecil

Kita bisa memulainya dari kebiasaan kecil dalam rapat. Misalnya dengan satu pertanyaan: “Siapa yang ingin kita apresiasi pekan ini?” Tidak perlu seremoni dan tidak perlu panjang. Satu menit pun cukup, selama sungguh-sungguh.

Nama yang disebut mungkin hanya tersenyum. Tetapi ia tahu bahwa ada orang lain yang memperhatikan usahanya.

Orsat atau orda juga bisa sesekali menulis cerita singkat tentang anggota yang telah berkarya. Bukan laporan kegiatan yang penuh angka dan tanggal, melainkan kisah manusia di balik sebuah ikhtiar. Cerita seperti ini bisa menjadi bagian dari ingatan organisasi.

Knowledge management bisa ikut bekerja dari sini. Ketika pengalaman anggota dicatat, karya tidak hilang bersama berakhirnya kegiatan. Cerita baik bisa dibaca wilayah lain, lalu menjadi pembelajaran bersama. Apresiasi akhirnya ikut menjaga memori ICMI.

Apresiasi sebagai Akhlak

Dalam Islam, rasa menghargai sesama dekat dengan kehidupan berjamaah. Ruh ini juga sudah hadir dalam Anggaran Rumah Tangga ICMI. Di sana disebut ta’aruf atau saling mengenal, ta’awwun atau saling menolong, dan tausyiah atau saling berwasiat di jalan yang benar.

Ta’aruf mengajak kita mengenal lebih dari nama dan jabatan. Ada peran, ikhtiar, dan cerita manusia di belakangnya. Ta’awwun membuat penghargaan berlanjut menjadi dukungan. Sedangkan tausyiah menjaga hubungan agar tetap saling mengingatkan dalam kebaikan.

Kalau kebiasaan ini hidup di orsat, orda, orwil, sampai pusat, suasana organisasi tentu akan terasa berbeda. Rapat tetap serius tanpa kehilangan kehangatan. Perbedaan pendapat tetap ada, tetapi hubungan tidak harus ikut menjauh.

Bacaan Yudi Latif tentang perjalanan inteligensia muslim mengingatkan bahwa kecendekiawanan tidak selesai pada ketajaman pikiran. Kita juga belajar memberi tempat bagi pikiran orang lain. Mendengarkan, karena itu, merupakan salah satu bentuk apresiasi. Kita tidak harus selalu setuju, tetapi orang yang sedang berbicara perlu tahu bahwa pendapatnya sungguh-sungguh didengar.

Rasulullah ﷺ memberikan tuntunan yang sangat indah:

“Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”
(HR. Abu Dawud no. 4811 dan At-Tirmidzi no. 1954)

Hadis ini membawa pembicaraan tentang apresiasi ke wilayah yang lebih dalam. Mengucapkan terima kasih ternyata berkaitan dengan cara kita mensyukuri kebaikan Allah yang datang melalui tangan orang lain.

Di tengah kesibukan organisasi, ucapan terima kasih mungkin tidak pernah masuk notulen. Tidak pula muncul dalam laporan pertanggungjawaban. Tetapi bagi orang yang sudah memberi waktu, pikiran, dan tenaga, kalimat itu bisa tinggal jauh lebih lama.

Barangkali seni apresiasi memang bermula dari kebiasaan yang mudah terlewat: mengetahui siapa yang sudah bekerja, menghargai usahanya, lalu mengucapkan terima kasih selagi orang itu masih bisa mendengarnya. Ketika itu menjadi kebiasaan di ICMI, kita berharap Allah memberkahi langkah-langkah kebersamaan tersebut.


Kalau Boleh Dirangkum

  1. Apresiasi membuat orang merasa bahwa usaha mereka benar-benar terlihat dan dihargai.
  2. Banyak kerja organisasi berlangsung di balik layar. Ucapan terima kasih yang tulus membuat kerja seperti itu tidak terasa lewat begitu saja.
  3. Pujian, pengakuan, dan penghargaan punya fungsi yang berbeda. Semuanya terasa berarti kalau diberikan dengan tulus.
  4. Budaya apresiasi ikut membuat hubungan dalam organisasi lebih hangat. Orang tidak hanya melihat hasil, tetapi juga proses dan usaha yang menyertainya.
  5. Dalam Islam, berterima kasih kepada manusia berhubungan erat dengan syukur kepada Allah. Karena itu, ucapan terima kasih punya nilai yang lebih dalam daripada sekadar sopan santun.

Kalau Mau Dipraktikkan

  1. Ucapkan terima kasih langsung kepada orang yang bekerja di balik layar. Tidak semua kontribusi terlihat dari depan.
  2. Dalam rapat, sisihkan satu menit untuk menyebut orang atau tim yang layak diapresiasi pekan itu. Cukup singkat, asal tulus.
  3. Dalam laporan kegiatan, catat nama orang-orang yang memang berkontribusi. Dengan begitu, kerja mereka tetap menjadi bagian dari ingatan organisasi.
  4. Dengarkan ide anggota dengan sungguh-sungguh. Memberi ruang bicara juga merupakan cara menghargai orang lain.
  5. Biasakan hal-hal kecil: menyapa, mengakui usaha, mengucapkan terima kasih, dan memberi penghargaan pada waktunya.

Referensi

Cameron, K. S., Dutton, J. E., & Quinn, R. E. (Eds.). (2003). Positive organizational scholarship: Foundations of a new discipline. Berrett-Koehler Publishers.

Honneth, A. (1996). The struggle for recognition: The moral grammar of social conflicts (J. Anderson, Trans.). MIT Press.

Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. (2021). Anggaran Rumah Tangga Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia periode 2021–2026.

Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. (n.d.). Sejarah ICMI [Dokumen internal].

Latif, Y. (2006). Inteligensia Muslim dan kuasa: Genealogi inteligensia Muslim Indonesia abad ke-20. Mizan Pustaka.

Roethlisberger, F. J., & Dickson, W. J. (1939). Management and the worker: An account of a research program conducted by the Western Electric Company, Hawthorne Works, Chicago. Harvard University Press.

Rousseau, D. M. (1995). Psychological contracts in organizations: Understanding written and unwritten agreements. SAGE Publications.

Scroll to Top