بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
ICMI dan Keterampilan Presentasi
Menyampaikan Gagasan dengan Jernih dan Meyakinkan
Artikel 28
Oleh Bagus Suminar
Aktivis ICMI Jawa Timur, Principal Consultant pada mutupendidikan.com
“ICMI perlu menyampaikan gagasan dengan jernih agar ilmu tidak berhenti di ruang rapat, tetapi tumbuh menjadi keputusan dan kerja bersama.”
Gagasan yang baik bisa kehilangan tenaga karena cara penyampaiannya belum tertata. Penjelasan terlalu panjang, slide terlalu padat, atau alur yang bertele-tele, membuat audiens kesulitan menemukan inti. Dalam kerja-kerja ICMI, keterampilan presentasi tentu sangat penting karena gagasan perlu dipahami sebelum dibicarakan, diterima, lalu dikerjakan bersama.
ICMI hidup dari gagasan dan inovasi. Anggotanya datang dari latar belakang ilmu, profesi, dan pengalaman yang beragam. Ada yang terbiasa berbicara di ruang kuliah, membaca data, memimpin forum, mendampingi masyarakat, atau menyusun kebijakan. Aset dan kekayaan seperti ini sangat berharga. Hanya saja, pengetahuan yang luas tetap perlu ditata ketika hendak dibagikan kepada orang lain.
Presentasi pada dasarnya adalah usaha membantu orang lain memahami, mengikuti jalan pikiran kita. Penyaji sudah lebih dulu membaca bahan, mengenali masalah, dan memahami kesimpulan. Audiens belum tentu berada di tempat yang sama. Mereka datang dengan kesibukan, pengetahuan, dan sudut pandang (persepsi) masing-masing.
Karena itu, penyaji perlu membaca keinginan dan kebutuhan audiens. Bagian mana yang sudah mereka pahami, mana yang masih terasa asing, dan pesan apa yang sebaiknya dibawa pulang. Tanpa perhatian seperti ini, presentasi mudah berubah menjadi kegiatan semu, hanya memindahkan isi kepala ke layar.
Dalam organisasi, presentasi tidak selalu berlangsung di ruang rapat, panggung, atau seminar besar. Pemaparan program, laporan kegiatan, penjelasan hasil kajian, usulan kerja sama, dan percakapan dengan calon mitra memakai kemampuan yang sama. Ada gagasan dan argumentasi yang perlu dijelaskan. Ada orang lain yang perlu diajak memahami. Sesudah itu, biasanya ada keputusan dan dukungan yang diharapkan lahir.
Keterampilan ini semakin relevan ketika aktivis dan pengurus ICMI menyampaikan gagasan kepada audiens yang berbeda: sesama pengurus, bupati, gubernur, menteri, pengusaha, maupun masyarakat luas. Masing-masing membawa kepentingan, bahasa, dan waktu yang tidak sama. Karena itu, cara menyampaikan gagasan perlu disesuaikan, perlu juga adaptasi, agar tetap jelas, dipercaya, dan membuka ruang bagi dukungan atau kerja bersama.
Saat Materi Terlalu Penuh
Kita tentu pernah melihat materi yang sangat lengkap dan kaya, tetapi sulit diikuti. Semua data berusaha dimasukkan. Hampir setiap kalimat laporan dipindahkan ke slide. Grafik berdiri rapat, huruf mengecil, lalu penyaji berusaha menjelaskan semuanya dalam waktu singkat.
Niatnya tentu baik. Tidak ingin ada informasi yang tercecer atau tertinggal. Namun, audiens malah lelah. Mereka sibuk menentukan mana yang harus diperhatikan lebih dulu. Mata membaca, telinga mendengar, sementara pikiran mulai menyerah.
Pada saat seperti itu, penyaji perlu berani menata dan memilah bahan. Menyederhanakan juga membutuhkan kerja intelektual: memilih, menyusun, lalu menentukan mana yang perlu didahulukan. Seorang cendekiawan tentu memiliki banyak hal untuk disampaikan, tetapi semuanya tidak harus keluar pada waktu yang sama. Perlu strategi, perlu pentahapan.
John Sweller dalam artikel Cognitive Load During Problem Solving: Effects on Learning yang terbit di jurnal Cognitive Science pada tahun 1988 menjelaskan bahwa kemampuan manusia dalam mengolah informasi memiliki keterbatasan. Ide ini menarik dan relevan dalam presentasi. Masalah biasanya muncul ketika terlalu banyak teks, angka, dan penjelasan datang bersamaan. Orang masih duduk menghadap layar, tetapi isi presentasi belum tentu benar-benar masuk.
Slide kemudian cukup membawa satu gagasan utama. Data dipilih karena membantu penjelasan. Grafik digunakan bila membuat pola lebih mudah terlihat. Tabel yang terlalu rumit bisa dipindahkan ke lampiran. Hal-hal seperti ini nampak sepele, tetapi sangat menentukan apakah audiens masih mengikuti alur atau sudah menyerah di tengah jalan.
Tampilan visual tetap penting, namun ia tidak dapat menggantikan susunan pikiran. Desain yang menarik bisa membuat orang menoleh. Penjelasan yang jelas membuat mereka bertahan.
Adab Menyampaikan Gagasan
Aristotle dalam On Rhetoric: A Theory of Civic Discourse, karya klasik yang ditulis sekitar abad ke-4 sebelum Masehi dan diterbitkan kembali dalam edisi George A. Kennedy pada 2007, menjelaskan 3 (tiga) cara membangun persuasi: ethos, pathos, dan logos. Ethos berkaitan dengan kepercayaan kepada penyaji. Pathos menyentuh kemampuan memahami dan menggerakkan perasaan audiens. Logos berhubungan dengan alasan, data, bukti, dan susunan pikiran.
Dalam forum ICMI, ketiganya selaras dengan adab dan amanah ilmu. Kepercayaan (trust) tumbuh ketika penyaji memahami materi, menghargai waktu, dan tidak membesar-besarkan hasil. Hubungan dengan audiens terbangun melalui bahasa yang wajar dan sikap yang tidak menggurui. Logika hadir lewat data yang tepat dan kesimpulan yang kongkrit dan tidak melompat terlalu jauh.
Gelar yang panjang belum otomatis membuat sebuah presentasi dipercaya. Audiens juga melihat cara penyaji menjawab pertanyaan, mengakui keterbatasan, dan menjaga ketenangan ketika muncul pandangan berbeda. Kecendekiawanan justru terasa ketika persoalan rumit dapat dijelaskan dengan mudah, simple dan terang.
Berikut peta sederhana yang bisa dipakai ketika menyiapkan presentasi dalam forum ICMI.
Tabel: Landasan untuk Presentasi dalam Forum ICMI
| Landasan | Penerapannya |
|---|---|
| Semangat ICMI: jujur, beradab, dan amanah dalam menyampaikan ilmu | Menjelaskan data apa adanya, menghargai audiens, tidak membesar-besarkan hasil, serta menjaga agar gagasan membawa manfaat |
| Ethos, Pathos, Logos | Menjaga kepercayaan, memahami kebutuhan audiens, dan menyusun alasan serta data secara masuk akal |
| Cognitive Load Theory | Mengurangi teks, memilih informasi utama, dan memberi ruang agar audiens dapat mengikuti alur |
| Big Five in Teamwork | Menyamakan pemahaman, menata peran, saling membantu, dan menjaga agar pesan tim tetap utuh |
Tabel ini tentu bukan pedoman resmi. Ia hanya alat bantu agar presentasi lebih mudah disiapkan. Setiap forum punya suasana yang berbeda. Pemaparan lima menit dalam rapat tidak bisa diperlakukan sama dengan seminar satu jam.
Satu pertanyaan sering membantu sebelum membuat slide: setelah presentasi selesai, apa yang harus dipahami audiens?
Pertanyaan itu terlihat ringan, tetapi jawabannya sering belum jelas. Kalau penyaji sendiri belum dapat menyebut pesan utama dalam satu kalimat, materi biasanya berjalan ke mana-mana.
Tujuan presentasi juga perlu dikenali sejak awal. Ada presentasi untuk memberi informasi. Ada yang meminta persetujuan. Ada yang menawarkan kerja sama. Ada pula yang ingin membuka percakapan.
Dalam rapat organisasi, sebuah tim bisa mendapat waktu sepuluh menit untuk memaparkan program. Lima menit pertama habis menjelaskan latar belakang. Beberapa menit berikutnya digunakan membaca data. Ketika sampai pada rencana kerja dan dukungan yang dibutuhkan, waktunya tinggal sedikit.
Hal seperti ini cukup manusiawi. Banyak orang pernah mengalaminya. Kemampuan presentasi tumbuh lewat latihan, koreksi, dan keberanian memotong bahan yang sebenarnya kita sukai.

Latihan tidak perlu dibuat seperti gladi besar. Tim dapat membaca alur bersama. Satu orang mendengarkan dan mencatat bagian yang terasa panjang. Anggota lain memeriksa apakah data mudah dipahami. Waktu dihitung apa adanya.
Dari latihan singkat biasanya terlihat bagian mana yang harus dipangkas. Kalimat pembuka mungkin terlalu lama. Grafik terlalu rumit. Penjelasan tertentu ternyata muncul dua kali. Setelah dirapikan, materi terasa lebih ringan tanpa kehilangan isi.
Presentasi adalah Kerja Tim
Presentasi tim membawa persoalan lain. Setiap orang punya gaya berbicara sendiri. Ada yang cepat, tenang, penuh contoh, atau lebih nyaman membaca catatan. Perbedaan itu bisa menjadi kekuatan selama arah bersama tetap terjaga. Namun, perbedaan juga bisa menimbulkan gesekan bila tidak dikelola dengan baik.
Salas, Sims, dan Burke dalam artikel jurnal Is There a “Big Five” in Teamwork? yang terbit di Small Group Research pada tahun 2005 menjelaskan bahwa kerja tim tidak bertumpu pada kemampuan individu saja. Tim yang efektif memerlukan pemahaman bersama, perhatian terhadap kinerja satu sama lain, kesediaan membantu, kemampuan beradaptasi, dan orientasi pada tujuan tim.
Dalam presentasi, setiap anggota sebaiknya memahami keseluruhan materi, tidak hanya menghafal bagiannya. Kalau seorang penyaji lupa data, anggota lain dapat membantu tanpa mengambil alih dengan kasar. Moderator tahu pertanyaan mana yang perlu diberikan kepada anggota tertentu. Penutup juga memahami arah pembicaraan sejak awal.
Tim kecil pun dapat tampil kuat selama alurnya jelas. Dua orang bisa berbagi tugas dengan baik. Satu orang juga bisa menjalankan semuanya, meski napasnya tentu perlu dijaga.
Dalam presentasi, penyaji sering merasa semua bagian penting. Padahal, waktu yang tersedia terbatas dan hampir semua bahan tampak layak disampaikan. Karena itu, pilihan harus dibuat agar pesan utama tidak tenggelam.
Di situlah latihan menolong. Presentasi meminta kita meninggalkan beberapa hal agar satu pesan utama benar-benar terdengar.
Bahasa juga menentukan. Istilah teknis tetap diperlukan, terutama dalam forum keilmuan. Namun, istilah asing tidak perlu dipakai untuk memberi kesan canggih. Kalau ada bahasa yang lebih sederhana, gunakan saja.
Orang yang menguasai masalah biasanya mampu menjelaskannya dengan terang. Ia memahami kerumitan, lalu membantu orang lain melihat susunannya. Ini salah satu bentuk kecendekiawanan yang paling terasa dalam ruang presentasi.
Menjaga Ilmu Tetap Mengalir
Presentasi juga menjadi bagian dari knowledge management. Ketika hasil kajian dipaparkan dengan baik, pengetahuan berpindah dari satu orang kepada orang lain. Slide yang disimpan, rekaman yang tersedia, keputusan yang dicatat, termasuk lesson learned, dapat menjadi memori organisasi.
Tumpukan slide sendiri belum tentu menjadi pengetahuan. Orang yang tidak hadir tetap membutuhkan konteks. Bahan yang disimpan sebaiknya mencatat masalah yang dibahas, data yang digunakan, keputusan yang lahir, dan pelajaran yang diperoleh.
ICMI memiliki jaringan yang luas. Pengalaman satu wilayah dapat berguna bagi wilayah lain. Presentasi membantu pengalaman itu menyeberang. Praktik yang berhasil dapat dipelajari dan disesuaikan. Hal yang belum berhasil pun tetap bernilai bila dijelaskan secara jujur.
Di sana presentasi bertemu dengan amanah ilmu. Pengalaman tidak berhenti sebagai cerita pribadi. Ia bisa menjadi bahan belajar bersama.
Teknologi sekarang memudahkan penyusunan presentasi. Berbagai aplikasi dapat membantu menata tampilan, merangkum materi, dan membuat kerangka. Kecerdasan buatan juga dapat memberi pilihan desain atau kalimat.
Semua itu berguna, tetapi isi tetap menjadi tanggung jawab manusia. Mesin tidak sepenuhnya memahami suasana forum, hubungan antaranggota, atau bagian yang perlu disampaikan dengan hati-hati. Penyaji tetap perlu membaca ruangan.
Ada saat mikrofon mati, berkas tidak terbuka, atau waktu dipangkas karena agenda sebelumnya terlalu panjang. Dalam keadaan seperti itu, pemahaman terhadap inti materi jauh lebih berguna daripada hafalan slide.
Penyaji yang memahami isi dapat tetap berbicara meski layar berhenti bekerja. Ia tahu tiga atau empat pesan utama yang perlu disampaikan. Ia juga tahu bagian mana yang bisa dilewati.
Rasa gugup tetap mungkin muncul. Suara sedikit bergetar, kalimat pembuka tidak selancar latihan, atau tangan terasa kaku. Itu wajar. Audiens biasanya lebih memperhatikan kesungguhan dan kejernihan daripada kesempurnaan penampilan.
Presentasi yang baik tidak menuntut semua orang berubah menjadi pembicara panggung. Gaya tenang tetap bisa meyakinkan. Tidak semua penyaji perlu banyak bergerak atau mengangkat suara. Yang penting, gagasannya tertata, artikulasinya jelas, dan audiens merasa dihargai.
Ukuran presentasi terlihat setelah layar ditutup. Apakah audiens memahami persoalannya? Apakah pilihan yang tersedia menjadi lebih jelas? Apakah keputusan lebih mudah dibuat? Apakah audiens merasa puas dengan cara gagasan itu disampaikan?
Tepuk tangan memang menyenangkan, tetapi pemahaman jauh lebih penting.
Dalam kerja-kerja ICMI, presentasi yang jernih dapat menjadi bagian dari cara merawat gagasan. Di dalamnya ada adab kepada audiens, amanah dalam menggunakan data, dan tanggung jawab cendekiawan untuk membuat ilmu mudah dipahami.
Tidak perlu selalu menggetarkan ruangan. Cukup membuat orang mengerti, percaya, lalu bersedia bergerak bersama.
Gagasan besar sering mulai bergerak setelah dijelaskan dengan sederhana dan runtut. Orang lain memahami, memberi tanggapan, lalu bersama-sama menyepakati langkah yang bisa dikerjakan.
Kalau Boleh Dirangkum
- Presentasi yang baik membantu orang lain menemukan inti gagasan tanpa harus melewati penjelasan yang terlalu panjang.
- Pengetahuan yang luas akan lebih berguna ketika disusun dengan jelas, disampaikan dengan adab, dan disesuaikan dengan kebutuhan audiens.
- Slide adalah alat bantu. Kekuatan presentasi tetap terletak pada alur berpikir, kejujuran data, dan cara menjelaskan yang mudah diikuti.
- Dalam berbagai forum ICMI, presentasi membantu ilmu bergerak dari pemaparan menuju pemahaman, keputusan, dan kerja bersama.
- Ukuran presentasi terlihat setelah forum selesai: apakah gagasannya dipahami dan apakah orang tahu langkah yang perlu dikerjakan berikutnya.
Kalau Mau Dipraktikkan
- Sebelum membuat slide, tuliskan satu pesan utama yang ingin dibawa pulang oleh audiens. Pesan ini membantu menjaga arah presentasi.
- Pilih informasi yang benar-benar mendukung tujuan. Sebagian data dapat disimpan dalam lampiran atau digunakan ketika sesi diskusi.
- Sisihkan waktu untuk berlatih bersama tim. Latihan singkat biasanya sudah cukup untuk menemukan bagian yang terlalu panjang, berulang, atau belum jelas.
- Saat menyampaikan materi, tuntun audiens mengikuti jalan pikiran yang sedang dibangun. Hindari menjadikan presentasi sebagai kegiatan membaca slide bersama-sama.
- Setelah presentasi, simpan slide beserta catatan diskusi, pertanyaan penting, dan keputusan yang dihasilkan. Dengan cara ini, pengalaman forum dapat menjadi bahan belajar bagi kegiatan berikutnya.
Daftar Pustaka
Aristotle. (2007). On rhetoric: A theory of civic discourse (G. A. Kennedy, Trans., 2nd ed.). Oxford University Press.
Salas, E., Sims, D. E., & Burke, C. S. (2005). Is there a “big five” in teamwork? Small Group Research, 36(5), 555–599.
Sweller, J. (1988). Cognitive load during problem solving: Effects on learning. Cognitive Science, 12(2), 257–285.




