ICMI dan Budaya Organisasi

ICMI dan Budaya Organisasi (01)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

ICMI dan Budaya Organisasi:
Antara Warisan, Silaturahim, dan Knowledge Management

Artikel 1

Oleh Bagus Suminar
Aktivis ICMI Jawa Timur, Principal Consultant pada mutupendidikan.com

“Budaya organisasi memang bisa ditulis dalam dokumen. Tapi generasi berikutnya akan mengenalnya lewat kebiasaan kita berbagi, belajar, dan menjaga silaturahim.”

Kalau sebuah organisasi ingin bertahan satu periode, program kerja mungkin sudah cukup. Tapi kalau ingin bertahan lintas generasi, program saja tidak cukup. Budaya juga harus ikut diwariskan. Orang datang dan pergi, sementara budaya tinggal lebih lama, membentuk cara organisasi berpikir, belajar, dan melayani.

Begitu juga dengan ICMI. Lahir dari semangat besar para cendekiawan muslim, ICMI membawa warisan nilai yang luhur: keislaman, keilmuan, keindonesiaan, dan keterbukaan. Nilai-nilai ini tertulis jelas dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga ICMI 2021–2026. Pekerjaan berikutnya adalah menghadirkan nilai-nilai itu dalam kebiasaan kerja sehari-hari.

ICMI sebenarnya sudah punya bekal dari sejarah dan nilai dasarnya. Sejarah mencatat bahwa ICMI dibentuk untuk menyatukan kaum cendekia agar ilmu dan iman bisa berjalan seiring. Dalam laman Visi dan Misi ICMI (2018), yang mengutip pandangan M. Dawam Rahardjo, kelahiran ICMI ditempatkan sebagai bagian dari proses panjang konsolidasi cendekiawan muslim Indonesia. Sejak awal, semangat itu diarahkan agar ilmu memberi manfaat bagi umat dan bangsa.

Budaya organisasi yang sudah tumbuh itu layak terus dirawat agar tetap hidup mengikuti zaman. Komunikasi pusat dan daerah akan terasa semakin kuat ketika berlangsung hangat dan teratur. Pengalaman baik dari daerah akan lebih bermanfaat kalau lebih sering terdengar dan tercatat, sementara arah kebijakan pusat akan lebih mudah dipahami bila disampaikan secara rutin. Kalau arus pengetahuan berjalan dua arah, organisasi akan jauh lebih kaya.

Menjaga Ingatan Organisasi

Kalau kita perhatikan, budaya justru terlihat dalam kebiasaan sehari-hari. Dalam kerangka Edgar H. Schein dalam Organizational Culture and Leadership (2010), budaya organisasi berakar pada asumsi bersama yang kemudian tercermin dalam nilai dan berbagai kebiasaan organisasi. Kalau organisasi punya cara yang baik untuk menyimpan dan membagikan pengetahuan, ia akan memiliki ingatan kolektif yang kuat. Setiap periode tidak perlu terus memulai dari nol. Yang sudah baik bisa dilanjutkan, yang belum pas diperbaiki, lalu hal baru tumbuh dari pengalaman itu.

Kalau kita tilik sejarah, ICMI dulu pernah punya “DNA berkarya” yang luar biasa. Salah satu jejaknya terlihat ketika ICMI, melalui PINBUK, ikut memperluas gerakan Baitul Maal wat Tamwil atau BMT pada pertengahan 1990-an. Pada Muktamar ICMI tahun 1995, BMT yang dikembangkan melalui PINBUK bahkan dicanangkan sebagai gerakan nasional pengembangan BMT.

ICMI juga menjadi salah satu unsur yang ikut menggagas berdirinya Bank Muamalat bersama MUI dan sejumlah pengusaha muslim, kemudian mendapat dukungan pemerintah. Bank tersebut berdiri pada 1 November 1991 dan menjadi pelopor perbankan syariah di Indonesia.

Di bidang pendidikan, pada masa yang berdekatan tumbuh Yayasan ORBIT yang didirikan Hasri Ainun Habibie. Program beasiswanya kemudian membantu puluhan ribu penerima dari berbagai daerah. Jejak ini memperlihatkan kuatnya perhatian lingkungan Habibie terhadap pendidikan dan pengembangan generasi muda.

ICMI pun mengambil peran sebagai ruang diskusi dan pemberi masukan bagi kebijakan publik. Semua itu menjadi bukti bahwa budaya organisasi ICMI pernah hidup dengan kuat: berpikir, berjejaring, dan berkarya nyata.

Warisan besar itu tidak cukup dikenang. Ia perlu disimpan, dibagikan, dan diteruskan dengan cara yang cocok untuk zaman sekarang. Dulu, banyak program besar lahir dari kolaborasi ide lintas bidang, tidak selalu dari keputusan rapat. Ada semangat berbagi pengetahuan dan silaturahim yang hidup. Orang dari daerah datang ke pusat sambil membawa temuan, pengalaman, dan data lapangan. Budaya seperti ini layak dirawat kembali agar pengetahuan menjadi milik bersama, tidak tersimpan pada satu orang atau satu periode.

Kalau diringkas, arah gagasannya kurang lebih seperti ini.

Menjaga Pengetahuan Tetap Hidup

ICMI sebenarnya sudah berupaya membangun ingatan kolektif melalui berbagai program, salah satunya National Leadership Camp atau NLC. Program ini mempertemukan kader dari berbagai wilayah dan membahas nilai ke-ICMI-an, kepemimpinan, serta kolaborasi. Pengalaman dari NLC akan lebih berguna kalau dicatat dan dibagikan kepada daerah lain. Dengan begitu, NLC bisa berkembang dari acara tahunan menjadi ruang belajar lintas generasi.

Sayang kalau pengalaman dari sebuah kegiatan berhenti pada panitia atau pengurus yang mengerjakannya. Di sinilah knowledge management atau KM berguna: pengalaman bisa dicatat, dibaca, lalu digunakan kembali. Nonaka dan Takeuchi dalam The Knowledge-Creating Company (1995) menjelaskan bahwa pengetahuan organisasi berkembang ketika pengalaman individu dibagikan dan diolah menjadi pengetahuan bersama.

Pengetahuan organisasi mudah hilang kalau tidak dicatat dan dibagikan. Catatan yang baik membantu kita melihat apa yang layak diteruskan dan apa yang masih perlu dibenahi.

Implementasi KM di ICMI tidak harus dimulai dari sesuatu yang rumit. Bisa dari pekerjaan yang dekat dengan keseharian: mendokumentasikan kegiatan, membuat repositori digital, menyimpan hasil rapat dengan rapi, dan mengadakan sesi berbagi antarwilayah. Namun, KM baru terasa manfaatnya ketika sudah menjadi kebiasaan. Mencatat pengalaman. Memberi umpan balik. Tidak pelit berbagi. Ketika ilmu dipandang sebagai amanah yang harus diteruskan, budaya KM mulai tumbuh.

Prof. Arif Satria, Ketua Umum ICMI periode 2021–2026, pernah mengingatkan bahwa ICMI perlu menjadi inspirator dalam proses pembelajaran dan pendorong perubahan yang lebih baik. Beliau juga mengingatkan agar ICMI “satu frekuensi dengan perubahan dan umat Islam.”

Pesan itu mengingatkan kita pada gagasan Peter Senge dalam The Fifth Discipline (1990) tentang learning organization, yaitu organisasi yang terus mengembangkan kemampuan belajar bersama dan menyesuaikan diri dengan perubahan. Semangat ini terasa dekat dengan kehidupan ICMI: setiap orang bisa belajar, sekaligus menjadi tempat belajar bagi orang lain.

Silaturahim yang Membuka Ruang

Organisasi pembelajar tentu membutuhkan komunikasi yang terbuka. Tanpa itu, pengalaman mudah berhenti pada orang-orang tertentu.

Model Johari Window yang dikembangkan Joseph Luft dan Harry Ingham bisa menjadi inspirasi. Konsep ini mengajak orang memperluas “daerah terbuka”: lebih berani menyampaikan informasi, lebih siap menerima umpan balik, dan pelan-pelan mengurangi hal-hal yang selama ini disimpan sendiri.

Dalam budaya ICMI, keterbukaan bisa diwujudkan melalui tradisi silaturahim dan saling berkunjung antarwilayah. Dalam tradisi dakwah yang berkembang di lingkungan Al-Haromain, dikenal ungkapan: ngowongno uwong, nyenengno uwong, nggatekno uwong, ora ngelakno. Memanusiakan orang, menyenangkan orang, memperhatikan orang, dan tidak menghindar. Kalimatnya pendek. Tapi kalau direnungkan, inti organisasi memang ada di situ: orang ingin merasa dilihat, didengar, dan dianggap penting.

Silaturahim akan kehilangan makna kalau berhenti sebagai agenda seremoni. Ia adalah komunikasi hidup. Dengan saling bertemu, anggota ICMI bisa berbagi praktik baik, mendengar pengalaman daerah lain, menyusun next practice, dan memperkuat ikatan emosional organisasi. Silaturahim memperluas “daerah terbuka” dalam Johari Window. Dari sekadar kenal menjadi saling memahami. Hubungan formal pun pelan-pelan terasa lebih manusiawi.

Budaya saling berkunjung juga menjadi bagian dari KM. Pengetahuan tidak selalu berpindah lewat dokumen. Sering kali ia berpindah melalui percakapan, ekspresi, gestur, pendampingan, dan kedekatan antaranggota. Nonaka menyebutnya sebagai socialization process, salah satu cara paling manusiawi dalam berbagi ilmu. Ketika pusat mengunjungi daerah untuk mendengar, berempati, dan belajar dari pengalaman lokal, KM mulai terasa sebagai praktik yang hidup.

Nilai yang Hidup dalam Kebiasaan

Kebiasaan saling berkunjung seperti ini sebenarnya dekat dengan nilai dasar ICMI sendiri. Keislaman, keilmuan, keindonesiaan, dan keterbukaan akan lebih bermakna kalau terasa dalam perilaku sehari-hari. Nilai-nilai itu akan kehilangan daya kalau hanya terbaca dalam dokumen.

Nilai keislaman, keilmuan, dan keindonesiaan baru terasa ketika memengaruhi cara kita bekerja dan memperlakukan orang lain. Keterbukaan membuat pengalaman dari berbagai wilayah bisa dipelajari bersama. Bila semuanya dijalankan dengan semangat knowledge sharing, insyaallah ICMI akan tumbuh semakin tangguh dan adaptif.

Teknologi tetap penting, tetapi ia hanya alat bantu. Portal daring, forum virtual, dan arsip kolaboratif akan berguna bila budaya berbagi memang sudah hidup. Riset APQC tahun 2025 menunjukkan bahwa KM masih menjadi prioritas bagi banyak organisasi, termasuk di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan. Namun, kepercayaan, penerimaan, dan pengelolaan perubahan tetap memengaruhi keberhasilannya.

Dalam kerangka Nonaka, pengetahuan individu akan memberi manfaat yang jauh lebih besar ketika dibagikan dan diolah menjadi pengetahuan organisasi. Schein juga menunjukkan bahwa budaya berakar pada nilai dan asumsi bersama, lalu tampak dalam berbagai perilaku dan kebiasaan organisasi.

ICMI dikenal sebagai rumah para cendekia. Kepakaran seorang anggota akan lebih berguna bagi organisasi ketika dibagikan dan dipertemukan dengan pengalaman orang lain.

Mulai dari Hal Kecil

Kalau pusat dan daerah mulai membiasakan hal-hal kecil—mencatat hasil rapat, menyimpan data bersama, saling berkunjung, dan berbagi pengalaman—budaya itu akan tumbuh. Tidak perlu terlalu muluk di awal. Yang penting konsisten. Ketika berbagi dan berkunjung menjadi kebiasaan, ICMI akan bergerak sebagai organisasi yang hidup oleh pengetahuan dan jejaring.

Dana membantu kegiatan berjalan, tetapi tidak otomatis menumbuhkan rasa memiliki. Rasa itu tumbuh ketika orang menemukan makna, belajar bersama, dan merasa kontribusinya dihargai. Semangat seperti ini layak terus dijaga dalam perjalanan ICMI.

Barangkali kita bisa memulainya dari kebiasaan kecil. Selesai berkegiatan, ada catatan yang bisa dibaca orang lain. Selesai berkunjung, ada pelajaran yang dibawa pulang. Dari situ hubungan pusat dan daerah pelan-pelan menjadi lebih kuat.

Sebagaimana firman Allah, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 2). Ayat ini memberi landasan spiritual bagi budaya organisasi. Ilmu, kerja sama, dan ketulusan memang tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Ilmu menemukan maknanya ketika mengalir dari pikiran menjadi amal yang ikut menumbuhkan bangsa.

Warisan memberi ICMI pijakan yang kuat. Tapi zaman terus berubah, dan cara berkarya juga tidak bisa selalu sama. Selama nilai tetap dijaga dan orang-orang di dalamnya masih mau belajar serta berbagi, insyaallah pengetahuan akan terus bergerak.


Kalau Boleh Dirangkum

  1. Program membantu organisasi bergerak. Umur panjangnya sangat bergantung pada budaya yang terus dirawat.
  2. Warisan ICMI juga terlihat dalam kebiasaan belajar, berbagi, dan saling menguatkan.
  3. Knowledge management baru terasa manfaatnya ketika orang mau mencatat, membagikan, dan meneruskan pengalaman.
  4. Silaturahim menjadi ruang pertukaran ilmu, tumbuhnya rasa percaya, dan lahirnya gagasan baru.
  5. Masa depan ICMI akan sangat ditentukan oleh kuatnya kebiasaan belajar, berbagi, dan berkolaborasi dalam keseharian.

Kalau Mau Dipraktikkan

  1. Setelah rapat atau kegiatan, biasakan ada catatan kecil tentang hal yang penting, hal yang berhasil, dan bagian yang perlu diperbaiki.
  2. Jangan menunggu program besar untuk berbagi ilmu. Pengalaman dari daerah pun bisa menjadi pelajaran berharga bagi wilayah lain.
  3. Hidupkan silaturahim antarpengurus, tidak terbatas pada acara resmi. Ide baik juga bisa lahir dari obrolan yang santai dan jujur.
  4. Simpan dokumen, data, dan praktik baik di tempat yang mudah ditemukan kembali agar kepengurusan berikutnya tidak mulai dari nol.
  5. Rawat budaya ICMI melalui kebiasaan kecil: mau mendengar, mau mencatat, tidak pelit berbagi, dan senang melihat wilayah lain ikut tumbuh.

Daftar Pustaka

APQC. (2025, January 23). 2025 knowledge management priorities and trends survey report. APQC.

Bank Muamalat Indonesia. (2019, August 22). Siapkan hadiah tabungan berbasis online, Bank Muamalat gandeng Blibli.com.

Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. (2021). Anggaran Dasar ICMI 2021–2026 [Dokumen hasil Muktamar VII].

Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. (2021). Anggaran Rumah Tangga ICMI 2021–2026 [Dokumen hasil Muktamar VII].

Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. (2022, December 27). ICMI selenggarakan National Leadership Camp Angkatan 1.

Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Organisasi Wilayah Jawa Timur. (2018, October 29). Visi dan misi.

Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Organisasi Wilayah Jawa Timur. (n.d.). Sejarah ICMI.

Luft, J., & Ingham, H. (1955). The Johari window: A graphic model of interpersonal awareness. Proceedings of the Western Training Laboratory in Group Development.

Nonaka, I., & Takeuchi, H. (1995). The knowledge-creating company: How Japanese companies create the dynamics of innovation. Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/oso/9780195092691.001.0001

PINBUK. (n.d.). Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil: Sejarah dan gerakan BMT.

Schein, E. H. (2010). Organizational culture and leadership (4th ed.). Jossey-Bass.

Senge, P. M. (1990). The fifth discipline: The art and practice of the learning organization. Doubleday/Currency.

Universitas Islam Indonesia. (2022, May 24). Cendekiawan perlu menjadi perekat keragaman.

Yayasan Amal Abadi Beasiswa ORBIT Hasri Ainun Habibie. (2026). Silaturahmi Nasional Alumni YAAB–ORBIT HAH 1993–2026.



Scroll to Top