ICMI dan Diaspora Cendekia

ICMI dan Diaspora Cendekia (18)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

ICMI dan Diaspora Cendekia
Menjalin Kolaborasi Lintas Negeri untuk Indonesia Emas

Artikel 18

Oleh Bagus Suminar
Aktivis ICMI Jawa Timur, Principal Consultant pada mutupendidikan.com

“Dari Tokyo sampai Toronto, cendekia Indonesia tetap bisa bekerja bersama ICMI—menyatukan ilmu, adab, dan jejaring untuk kemajuan bangsa.”

Diaspora cendekia adalah salah satu kekuatan Indonesia yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Di antara mereka ada peneliti, dosen, profesional, mahasiswa, pelaku usaha, dan banyak bidang kepakaran lain yang setiap hari bersentuhan dengan perkembangan ilmu dan pengalaman baru. Ketika kekuatan itu tersambung dengan kebutuhan di tanah air, jarak tidak lagi menjadi batas, tetapi membuka ruang kolaborasi yang lebih luas.

Teknologi membuat hubungan semacam itu jauh lebih mudah dibanding dua atau tiga dasawarsa lalu. Pertemuan tidak lagi harus menunggu seseorang pulang. Dokumen dapat dikerjakan bersama, riset bisa dibahas lintas negara, dan mentoring dapat berjalan dari ruang kerja yang berbeda benua.

Ruang komunikasi pun mudah dibuat. Kita bahkan bisa memiliki grup WhatsApp dengan nama yang keren, Tim Inovasi Lintas Negeri. Masalahnya, nama yang bagus tetap membutuhkan arah dan strategi agar percakapannya tidak berhenti pada “Assalamu’alaikum”, “Semangat pagi”, dan “Kapan kita mulai?”

Dari Brain Drain Menuju Brain Connection

Diaspora cendekia tentu bukan kelompok yang seragam. Ada yang sudah puluhan tahun tinggal di luar negeri, ada yang sedang menempuh studi, ada pula yang berpindah dari satu negara ke negara lain mengikuti pekerjaan dan bidang keilmuannya. Pengalaman yang mereka bawa pun berbeda.

Perbedaan itu justru menarik. Mereka mengenal Indonesia, lalu melihat dari dekat bagaimana ilmu, teknologi, pendidikan, pelayanan publik, bisnis, dan kehidupan sosial berkembang di tempat lain. Pengalaman seperti ini dapat memperkaya cara kita membaca persoalan bangsa, selama tidak berhenti sebagai cerita pribadi. Perlu ada upaya untuk mencatat, membagikan, dan mempertemukannya dengan kebutuhan yang nyata, agar pengalaman lintas negeri benar-benar tumbuh menjadi pengetahuan dan karya bersama.

AnnaLee Saxenian memberi sudut pandang yang penting melalui konsep brain circulation. Dalam kajiannya tentang komunitas profesional lintas negara, ia menunjukkan bahwa tenaga terampil yang bekerja di luar negeri tidak selalu menjadi kehilangan bagi negara asal. Hubungan yang tetap terjaga memungkinkan pengetahuan teknis, pengalaman kewirausahaan, teknologi, akses pasar, dan jejaring profesional bergerak melintasi negara (Saxenian, 2005).

Yang menarik dari brain circulation adalah kontribusi tidak harus menunggu seseorang pulang untuk selamanya. Seorang peneliti bisa tetap bekerja di laboratorium luar negeri sambil mendampingi tim riset di Indonesia. Profesional dapat membuka akses kepada jejaringnya. Akademisi dapat mempertemukan kampus di tanah air dengan kolega di tempat ia bekerja.

Dalam tulisan ini, hubungan yang terus terjaga itu bisa kita sebut brain connection. Bukan istilah akademik baru, melainkan cara untuk menggambarkan hubungan ketika ilmu, pengalaman, dan jejaring diaspora tetap tersambung dengan kebutuhan Indonesia.

Pengalaman dari luar negeri tentu tidak selalu cocok dipindahkan begitu saja ke Indonesia. Ada perbedaan budaya, aturan, kelembagaan, dan kebutuhan masyarakat. Nilainya justru muncul ketika pengalaman itu dibaca, ditimbang, lalu dipilih bagian yang relevan untuk keadaan di tanah air.

Dengan cara pandang seperti ini, pertanyaannya bergeser. Bukan lagi apakah seorang cendekia berada dekat atau jauh dari tanah air, tetapi apakah kepakaran yang dimilikinya menemukan kebutuhan yang tepat untuk dijawab bersama.

Ruang ICMI dalam Jejaring Lintas Negeri

Dalam pembacaan penulis, ICMI memiliki ruang yang menarik untuk ikut menjadi penghubung. Sejak awal, organisasi ini menghimpun cendekia Muslim dari berbagai profesi dan bidang keilmuan. Keilmuan, kepakaran, keterbukaan, kekeluargaan, keislaman, dan keindonesiaan menjadi bagian dari sifat organisasinya.

Pijakannya cukup jelas. Anggaran Dasar ICMI memuat pengembangan jaringan informasi dan komunikasi di dalam maupun di luar negeri. AD yang sama mengatur keberadaan Orsat dan Orwil luar negeri, memberi ruang bagi jaringan lintas wilayah, serta membuka kerja sama dengan lembaga dan jaringan lain.

Ruang yang dibuka dalam AD tersebut memungkinkan kita membayangkan kolaborasi dengan diaspora sebagai salah satu bentuk pengembangannya. Nilai keilmuan dan keterbukaan sudah memiliki pijakan. Dari sini, langkah praktis yang bisa dibayangkan antara lain mengenali siapa yang dapat dihubungi, kepakaran apa yang dimiliki, kebutuhan apa yang sedang muncul, dan pekerjaan apa yang masuk akal untuk dimulai.

Di sini kita juga perlu membedakan anggota ICMI yang tinggal di luar negeri dengan cendekia diaspora secara umum. Anggota ICMI di luar negeri dapat bergerak melalui jejaring dan struktur organisasi yang ada. Sementara itu, diaspora yang belum menjadi anggota bisa menjadi mitra dalam riset, mentoring, kajian, pendidikan, atau bentuk kerja bersama lainnya. ART ICMI memang mengatur keanggotaan dan struktur luar negeri secara khusus.

Cara pandang seperti itu membuat jejaring diaspora lebih terbuka. Kita tidak harus memulai dari persoalan status, melainkan dari kemungkinan kontribusi yang dapat tumbuh. Hubungan yang baik bisa berkembang menjadi kerja bersama; dari sana, kedekatan dengan ICMI pun dapat terbangun secara alami.

Kalau dirangkai, potensi diaspora, koneksi ilmu, dan ruang kolaborasi mempunyai satu arah yang sama: tumbuh menjadi karya yang memberi manfaat lebih luas.

Membuka Pintu Kontribusi Diaspora

Bentuk kontribusinya bisa dimulai dari hal yang dekat dengan kebutuhan. Seorang dosen dapat mendampingi riset atau memberi kuliah daring. Profesional di bidang kesehatan bisa berbagi praktik baik. Insinyur dapat membuka percakapan tentang teknologi baru. Pelaku usaha dapat membantu membaca pasar atau mempertemukan jejaring bisnis.

Mahasiswa pun tidak perlu merasa kontribusinya terlalu kecil. Mereka bisa mengenalkan laboratorium, komunitas kampus, atau profesor yang memiliki bidang kajian relevan. Satu kontak yang tepat sering lebih berguna daripada daftar panjang nama yang tidak pernah disapa.

Sering kali yang terjadi justru bukan kekurangan orang. Kita sudah mengenal banyak orang, tetapi belum mempunyai gambaran yang cukup jelas tentang siapa memahami apa. Di tempat lain, ada program yang memerlukan dukungan, tetapi belum tahu siapa yang bisa diajak bekerja.

Pintu kontribusi seperti ini akan lebih mudah tumbuh bila jalurnya tidak terlalu rumit. Tidak harus dimulai dengan prosedur panjang atau proyek besar. Yang penting ada jalan dari perkenalan menuju pekerjaan nyata.

Tabel: Dari Kontak Menjadi Karya Bersama

TahapLangkah dan Hasil
MenemukanMengenali diaspora, negara, bidang keahlian, dan jejaring yang dapat dihubungi.
MenyapaMembuka komunikasi dengan hangat dan menjelaskan peluang kerja bersama secara jelas dan langsung.
MempertemukanMenghubungkan kepakaran diaspora dengan kebutuhan nyata ICMI atau masyarakat.
MengerjakanMemulai satu proyek yang realistis: riset, mentoring, kelas daring, kajian, atau publikasi.
Menyimpan & MembagikanMerangkum hasil dan pelajaran agar dapat digunakan kembali oleh jaringan ICMI yang lebih luas.

Alur seperti ini membuat sebuah jejaring mulai memperoleh makna. Nama dalam daftar berubah menjadi percakapan, percakapan berkembang menjadi pekerjaan, lalu pekerjaan meninggalkan sesuatu yang dapat diteruskan.

Proyek pertama juga tidak perlu spektakuler. Satu riset ringkas, satu kelas daring, mentoring beberapa mahasiswa, atau tulisan bersama sudah cukup. Tim yang baru bertemu membutuhkan pengalaman berhasil bersama sebelum berbicara tentang agenda yang terlalu besar.

Bekerja Bersama Meski Berbeda Negeri

Setelah orang-orangnya bertemu, pekerjaan baru benar-benar dimulai. Bekerja bersama dari Jakarta, Jeddah, Tokyo, London, atau Toronto tentu memiliki iramanya sendiri. Yang satu baru membuka laptop, yang lain mungkin sudah bersiap untuk salat Subuh. Aplikasi kalender dan kopi hangat akhirnya ikut menjadi anggota tidak resmi.

Perbedaan waktu sebenarnya dapat disiasati. Tidak semua pekerjaan membutuhkan rapat. Pertemuan daring dipakai untuk hal yang membutuhkan percakapan langsung, sedangkan bahan bacaan, komentar, dokumen, dan perkembangan tugas dapat dibagikan tanpa harus menunggu semua orang hadir pada waktu yang sama.

Cara ini bahkan bisa membuat kerja lebih tertib. Setiap orang membaca bahan sebelum pertemuan, memahami bagiannya, lalu datang ke rapat untuk mengambil keputusan. Waktu bersama tidak habis untuk membaca persoalan dari awal.

Gibson dan Cohen (2003) menunjukkan bahwa tim virtual membutuhkan pemahaman bersama, integrasi kerja, dan rasa saling percaya agar dapat bekerja dengan baik. Kondisi itu ikut dipengaruhi oleh cara tim dibentuk, proses kerja, dukungan organisasi, dan teknologi yang digunakan.

Tiga hal tersebut mudah disebut, tetapi tidak selalu mudah dijalankan. Orang dari lima negara bisa memiliki aplikasi terbaik, namun kerja tetap tersendat bila tujuan dipahami berbeda. Karena itu, sejak awal tim perlu menyepakati apa yang ingin dihasilkan, siapa menangani bagian tertentu, bagaimana perkembangan pekerjaan dibagikan, dan kapan sebuah tugas dianggap selesai.

Rasa percaya biasanya tumbuh dari kebiasaan kecil seperti ini. Orang memberi kabar ketika pekerjaannya selesai. Bila ada hambatan, ia menyampaikan lebih awal. Bila menerima masukan, ia tidak buru-buru menganggapnya sebagai kritik pribadi.

Dalam pengalaman berorganisasi di ICMI, pola kerja seperti ini sebenarnya bukan hal yang asing. Kita sudah lama mengenal silaturahim sebagai cara menjaga hubungan. Bedanya, ruang pertemuannya sekarang bisa berada di layar. Teknologi memperpendek jarak, sedangkan kepercayaan menjaga orang tetap mau berjalan bersama.

Hubungan dengan KBRI atau perwakilan Republik Indonesia di berbagai negara juga bisa membuka kemungkinan lain. Jejaring ICMI di luar negeri dapat membawa pemahaman tentang lingkungan setempat, sementara jaringan di tanah air mengenali kebutuhan yang sedang dihadapi. Pertemuan keduanya mungkin berkembang menjadi forum pendidikan, jejaring riset, promosi inovasi, pengembangan ekonomi bisnis, atau kajian kebijakan.

Tidak semuanya harus diawali dengan perjanjian besar. Satu percakapan yang fokus disertai komitmen, sering cukup untuk menemukan langkah pertama.

Kita tidak perlu menunggu diaspora pulang. Kepulangan fisik mungkin menjadi pilihan bagi sebagian orang, tetapi kepulangan ilmu dapat berlangsung setiap hari. Ia hadir lewat riset, mentoring, percakapan, tulisan, dan jejaring yang membuat pengetahuan tetap bergerak menuju tanah air.

Dari Kolaborasi Menuju Indonesia Emas

Jika semangat Knowledge Management dibawa ke konteks ICMI, pengalaman diaspora tidak perlu selesai bersama berakhirnya sebuah proyek. Catatan singkat, hasil riset, bahan presentasi, kontak penting, sampai pelajaran kecil dari proses kerja dapat disimpan dan dibagikan. Dengan cara seperti ini, pengalaman satu tim menjadi bekal bagi tim lain, sementara pengetahuan yang terkumpul dapat terus bertambah.

Arah manfaatnya juga perlu dijaga. Indonesia Emas 2045 membutuhkan manusia yang unggul, kemampuan belajar yang tinggi, inovasi, serta jejaring yang membuat Indonesia mampu berinteraksi dengan dunia secara percaya diri. RPJPN 2025–2045 menempatkan 2045 sebagai horizon pembangunan jangka panjang nasional. Dalam perjalanan panjang itu, diaspora cendekia dapat mengambil bagian melalui kepakaran dan jejaring yang mereka miliki.

Kontribusinya mungkin berupa riset bersama, transfer pengetahuan, mentoring generasi muda, jejaring teknologi, akses pasar, atau hubungan akademik. Tidak seluruhnya langsung melahirkan perubahan besar. Namun, kerja kecil yang dilakukan terus-menerus dan saling tersambung akan memperkuat kemampuan bangsa untuk belajar dan berinovasi.

Ruang pengabdian semacam ini menarik untuk terus dibayangkan di lingkungan ICMI. Di dalamnya ada jaringan cendekia di tanah air, anggota yang berada di berbagai negara, serta peluang untuk berkenalan dengan diaspora yang lebih luas. Yang satu membawa pengalaman global, yang lain membawa pemahaman terhadap kebutuhan lokal. Ketika keduanya bertemu, lahirlah kemungkinan baru.

Diaspora boleh berada jauh secara geografis, tetapi ilmu tidak mengenal jarak ketika ada jalan untuk berbagi. Dalam pandangan penulis, ICMI memiliki ruang untuk ikut merawat jalan itu melalui silaturahim, kepakaran, dan karya bersama. Jalan itu juga perlu dijaga dengan adab: menghormati sumber, mau mendengar, jujur terhadap pengetahuan, dan mengarahkannya kepada kemaslahatan.

Dari berbagai negeri, pengetahuan dapat terus menemukan jalan pulang—bukan selalu dalam koper seseorang, tetapi melalui riset, percakapan, jejaring, dan karya yang memberi manfaat bagi umat, bangsa, dan perjalanan Indonesia menuju masa depannya.


Kalau Boleh Dirangkum

  1. Diaspora cendekia membawa ilmu, pengalaman, dan jejaring yang tetap bisa berguna bagi Indonesia meskipun mereka tinggal di berbagai negara.
  2. Jarak bukan persoalan utama. Yang lebih menentukan adalah apakah kepakaran mereka terhubung dengan kebutuhan yang benar-benar ada di tanah air.
  3. ICMI memiliki ruang untuk mempertemukan orang, gagasan, dan jejaring agar hubungan lintas negeri tidak berhenti pada perkenalan.
  4. Kolaborasi akan lebih bermakna ketika menghasilkan sesuatu yang nyata: riset, mentoring, kelas daring, tulisan, kajian, atau bentuk karya lainnya.
  5. Kepulangan ilmu dapat berlangsung setiap hari. Pengetahuan yang dibagikan, disimpan, dan diteruskan akan memperpanjang manfaat sebuah kolaborasi.

Kalau Mau Dipraktikkan

  1. Mulailah dengan mengenali siapa saja yang berada di luar negeri, apa bidang keahliannya, dan jejaring apa yang mereka miliki.
  2. Hubungi dengan cara yang hangat dan langsung. Sampaikan kebutuhan atau gagasan kerja sama tanpa membuatnya terasa seperti proposal besar.
  3. Pilih satu pekerjaan yang masuk akal untuk diselesaikan bersama. Tidak perlu menunggu program besar untuk memulai.
  4. Sepakati sejak awal siapa mengerjakan apa, bagaimana komunikasi berlangsung, dan kapan hasilnya ingin diselesaikan.
  5. Setelah kegiatan selesai, simpan hasil dan pelajarannya. Catatan kecil hari ini bisa menjadi bekal bagi kolaborasi berikutnya.

Referensi

Gibson, C. B., & Cohen, S. G. (Eds.). (2003). Virtual teams that work: Creating conditions for virtual team effectiveness. Jossey-Bass.

Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. (2021). Anggaran Dasar Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Periode 2021–2026.

Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. (2021). Anggaran Rumah Tangga Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Periode 2021–2026.

Republik Indonesia. (2024). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2024 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2025–2045.

Saxenian, A. (2005). From brain drain to brain circulation: Transnational communities and regional upgrading in India and China. Studies in Comparative International Development, 40(2), 35–61. https://doi.org/10.1007/BF02686293


Scroll to Top