ICMI dan NLC

ICMI dan National Leadership Camp (NLC) (22)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

ICMI dan National Leadership Camp Kaderisasi untuk Kepemimpinan Masa Depan

Artikel 22


Oleh Bagus Suminar

Aktivis ICMI Jawa Timur, Principal Consultant pada mutupendidikan.com

“NLC tidak cukup menjadi acara tahunan. Ia perlu tumbuh menjadi ruang belajar yang menjaga ilmu, adab, dan jejaring kader tetap hidup.”

National Leadership Camp atau NLC telah berjalan selama tiga tahun. Dari berbagai evaluasi, hasilnya cukup menggembirakan dan mendapat sambutan baik dari banyak pihak. Ini menjadi tanda bahwa semangat kaderisasi di tubuh ICMI terus hidup. Para kader dari berbagai wilayah bertemu, belajar, berbagi pengalaman, lalu membangun jejaring yang kelak dapat menjadi kekuatan organisasi.

Tentu, program yang baik tidak berhenti pada keberhasilan awal. Ia perlu dirawat dan sesekali dibaca ulang. Bagian yang sudah kuat diteruskan, yang belum pas diperbaiki. Dalam manajemen mutu, proses ini sering disebut continuous improvement. Sederhana saja: jangan terlalu cepat puas dan merasa selesai.

NLC selama ini diselenggarakan melalui pertemuan tatap muka dan sesi daring. Model tersebut cukup efektif untuk mempertemukan kader dan tokoh ICMI dari berbagai wilayah. Antusiasme biasanya terasa kuat ketika kegiatan berlangsung. Setelah itu, kegiatan memasuki masa jeda sampai penyelenggaraan berikutnya.

Kaderisasi yang Tidak Berhenti

Padahal, kaderisasi tidak selalu tumbuh melalui satu kegiatan besar. Ia membutuhkan kesinambungan, pengulangan, dan ruang belajar yang tetap hidup setelah acara berakhir. Dari sinilah muncul satu pertanyaan: bagaimana bila NLC dikembangkan menjadi ekosistem belajar yang berjalan sepanjang waktu? Mungkinkah?

ICMI sebenarnya memiliki kekayaan yang luar biasa. Para cendekiawannya tersebar di seluruh penjuru negeri, bahkan banyak yang tinggal dan berkarya di luar negeri. Latar belakang mereka beragam: ilmu pengetahuan, pendidikan, teknologi, ekonomi, kesehatan, pemerintahan, dan pengabdian masyarakat.

Semua itu merupakan intangible asset. Aset yang tidak selalu terlihat di laporan organisasi, tetapi nilainya besar. Ia ada dalam pengalaman para senior, gagasan akademisi, praktik baik dari daerah, dan energi kader-kader muda.

Bayangkan bila kekayaan tersebut dihimpun dalam satu ruang belajar bersama. Pengalaman yang biasanya berhenti dalam percakapan dapat dicatat. Materi yang pernah disampaikan tidak hilang setelah seminar selesai. Kader dari satu daerah juga dapat belajar dari pengalaman wilayah lain.

Ruang Belajar Sepanjang Tahun

Berangkat dari pemikiran itu, terbuka peluang membangun sebuah ekosistem pembelajaran yang menjaga proses kaderisasi tetap berjalan sepanjang tahun. Untuk memudahkan pembahasan, penulis menyebut konsep tersebut sebagai ICMI Leadership Academy. Nama ini hanya istilah kerja untuk menggambarkan sebuah gagasan, bukan nama program resmi ICMI.

Gagasan ini bersinggungan dengan teori kepemimpinan transformasional yang diperkenalkan James MacGregor Burns (1978) dan dikembangkan Bernard M. Bass (1990). Kepemimpinan tidak cukup dipahami sebagai kemampuan mengatur orang atau menyelesaikan pekerjaan. Seorang pemimpin perlu menumbuhkan nilai, menggerakkan perubahan, dan membantu orang lain ikut tumbuh dan berkembang.

Dalam konteks ICMI, kaderisasi berarti menyiapkan orang-orang yang mampu memimpin sekaligus peka terhadap persoalan umat dan bangsa. Mereka perlu menguasai ilmu, mampu bekerja sama, memiliki keberanian moral, dan tetap berpijak pada adab.

George Siemens (2005), melalui teori connectivism, menjelaskan bahwa pembelajaran pada era digital tumbuh melalui jaringan. Pengetahuan tidak lagi hanya tersimpan dalam diri seseorang atau di ruang kelas. Ia bergerak melalui hubungan antara manusia, informasi, pengalaman, dan teknologi.

UNESCO (2015) juga mengingatkan bahwa belajar tidak berhenti setelah pendidikan formal selesai. Belajar adalah proses sepanjang hayat (lifelong learning). Apalagi ketika perubahan datang begitu cepat, organisasi tidak punya banyak pilihan selain ikut belajar.

Yang satu memberi arah nilai. Yang lain membantu menjaga agar proses belajar tidak terputus. Di antara keduanya, knowledge management menjadi penghubung: bagaimana pengetahuan diciptakan, disimpan, dibagikan, lalu digunakan kembali.

Melalui knowledge management, kegiatan NLC dapat menjadi salah satu simpul pengetahuan ICMI. Materi narasumber tersimpan. Ide peserta terdokumentasi. Pengalaman pelaksanaan satu angkatan menjadi pelajaran bagi angkatan berikutnya. Hasil diskusi tidak lagi hanya tinggal di catatan pribadi atau grup WhatsApp.

Dengan cara seperti itu, manfaat NLC tidak berhenti pada kegiatan tahunan. Ia bisa menjadi pintu masuk menuju sistem pembelajaran yang terus hidup.

Belajar Sesuai Tahap Perjalanan

Struktur pembelajaran NLC juga dapat dikembangkan secara bertahap, mulai dari tingkat dasar, menengah, hingga lanjut. Penjenjangan ini bukan untuk membeda-bedakan peserta. Tujuannya agar proses kaderisasi punya arah yang lebih jelas.

Anggota yang baru mengenal ICMI tentu membutuhkan materi berbeda dari kader yang sudah aktif mengelola organisasi. Demikian pula pimpinan wilayah atau alumni yang terlibat dalam kebijakan publik. Kebutuhannya tidak selalu sama.

Sebagai bahan pemikiran, penulis membayangkan beberapa jenjang pembelajaran berikut. Ini bukan rancangan atau program resmi ICMI. Anggap saja sebagai inspirasi awal untuk membuka diskusi.

Tabel 1. Inspirasi Jenjang NLC: TD–TM–TL

JenjangGambaran Pembelajaran
NLC–TD (Tingkat Dasar)Ditujukan bagi anggota baru ICMI, mahasiswa, dan profesional muda. Materinya dapat mencakup sejarah dan visi ICMI, komunikasi efektif, nilai IMTAQ–IPTEK, serta etika digital. Pembelajaran diperkirakan berlangsung 20–25 jam melalui kombinasi kelas daring dan tugas reflektif.
NLC–TM (Tingkat Menengah)Ditujukan bagi aktivis Orwil, Orda, dan kader aktif. Fokus pembelajaran dapat meliputi manajemen tim, kolaborasi, penyusunan program sosial, serta literasi digital. Pembelajaran diperkirakan berlangsung 30–40 jam dengan model hibrida.
NLC–TL (Tingkat Lanjut)Ditujukan bagi pimpinan wilayah, akademisi muda, dan alumni aktif. Materinya dapat berfokus pada kepemimpinan strategis, komunikasi publik, inovasi kebijakan, serta jejaring nasional. Pembelajaran diperkirakan berlangsung 40–50 jam dengan model hibrida dan proyek pendampingan.

Setiap jenjang dapat dihubungkan melalui Learning Management System atau LMS. Peserta mengikuti kelas daring, lalu mempelajari materi tambahan berupa modul, video, artikel, podcast, atau tugas reflektif. Mereka dapat belajar sesuai waktu yang tersedia dan mengulang materi ketika diperlukan.

Pemanfaatan LMS juga membuat materi tidak cepat hilang. Upaya yang dilakukan hari ini masih bisa memberi manfaat pada tahun berikutnya. Tidak semuanya harus dimulai dari nol lagi.

Tetapi LMS jangan hanya menjadi gudang berkas. Ia perlu menjadi ruang belajar dan ruang silaturahim digital. Teknologi tetap alat. Tujuan besarnya adalah membentuk kader yang sadar nilai, mencintai ilmu, dan mau berbagi.

NLC juga dapat menjadi rumah bagi ide dan proyek sosial. Peserta tingkat lanjut, misalnya, dapat menyusun analisis kebijakan, gagasan inovasi daerah, atau rancangan pemberdayaan masyarakat. Karya tersebut dihimpun dalam repositori digital agar dapat dipelajari dan dikembangkan oleh peserta lain.

Begitulah knowledge management bekerja dalam bentuk yang paling sederhana. Ilmu tidak berhenti pada orang pertama yang menyampaikannya. Ada catatan yang ditinggalkan. Ada pengalaman yang dapat dipelajari kembali.

Dunia pendidikan tinggi mengenal Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa atau LKMM yang disusun berjenjang. ICMI tentu tidak perlu menyalin model tersebut secara utuh. Namun, ada satu pelajaran yang dapat diambil: kaderisasi yang direncanakan biasanya lebih mudah dijaga kesinambungannya.

NLC tetap harus memiliki ruhnya sendiri. Ruh IMTAQ dan IPTEK. Ruh keislaman, keilmuan, keindonesiaan, dan keterbukaan. Sebab kaderisasi ICMI bukan hanya soal kompetensi. Di dalamnya ada adab, tanggung jawab, dan kesadaran untuk mengabdi.

Selain jenjang pembelajaran, LMS membuka beberapa kemungkinan lain. Sekali lagi, gagasan berikut adalah inspirasi penulis, bukan program resmi ICMI.

Tabel 2. Inspirasi Integrasi NLC dengan LMS

InovasiPenerapan dan Manfaat
Learning Portal TerpaduMateri, video, podcast, modul, dan kuis disimpan dalam satu sistem pembelajaran. Portal ini dapat berkembang menjadi bank pengetahuan ICMI yang mudah diakses peserta.
Mentorship NetworkForum mentor–mentee dapat menghubungkan alumni, tokoh senior, dan peserta baru. Dari sini tumbuh pendampingan dan kolaborasi lintas generasi.
Research Hub NLCProyek, makalah, analisis kebijakan, dan gagasan peserta dihimpun dalam repositori digital. Hasilnya dapat menjadi sumber ide bagi inovasi sosial dan kebijakan publik.
Sertifikasi Digital dan BadgePeserta memperoleh sertifikat atau lencana digital setelah menyelesaikan jenjang tertentu. Pengakuan ini membantu menjaga motivasi dan memperjelas perjalanan kaderisasi.
Leadership FestivalLMS dapat digunakan untuk mendukung registrasi, kurasi, dan publikasi karya peserta dalam festival kepemimpinan lintas wilayah.

Agar Ilmu Tidak Tercecer

Sistem seperti ini membuka akses yang lebih luas. Kader dari berbagai wilayah dapat ikut belajar tanpa selalu terkendala jarak. Pertemuan tatap muka tetap penting karena ada kedekatan manusiawi yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh layar. Tetapi tidak semua proses harus dilakukan melalui perjalanan panjang, seminar luring, dan rapat besar.

LMS juga dapat menjembatani generasi. ICMI memiliki banyak tokoh senior dengan pengalaman panjang. Sebagian mungkin tidak selalu leluasa hadir dalam kegiatan tatap muka, tetapi masih dapat berbagi melalui video, rekaman suara, tulisan singkat, atau sesi diskusi daring.

Dengan bantuan teknis yang sederhana, pengalaman mereka bisa tetap hidup dan dipelajari kader baru. Teknologi tidak menggantikan manusia. Ia hanya memperpanjang manfaat ilmu dan keteladanan.

Di sini muncul satu gagasan yang menarik: ilmu sebagai amal jariyah digital. Bila dahulu B.J. Habibie mewariskan teknologi, visi, dan keteladanan, generasi hari ini dapat membangun sistem belajar agar warisan seperti itu tidak cepat hilang.

Namun, budaya belajar tidak tumbuh hanya karena tersedia aplikasi. Ia tumbuh karena rasa ingin tahu, keterbukaan, dan kemauan untuk saling mendengar. Kadang ilmu justru muncul dari percakapan kecil yang jujur, bukan dari seminar besar.

Forum digital dapat membantu percakapan semacam itu. Kader di Surabaya dapat bertukar pengalaman dengan kader di Makassar atau Propinsi lain. Pengurus di Jakarta dapat membaca praktik baik dari daerah. Mereka yang tinggal di London, Toronto, atau kota lain tetap dapat terhubung dengan dinamika ICMI di tanah air.

Barangkali ada yang bercanda, bila semua kader ICMI rajin membuka LMS, kuota internetlah yang lebih dahulu naik pangkat. Tidak apa-apa. Setidaknya, itu tanda bahwa cara belajar kita mulai berubah.

ICMI Leadership Academy juga tidak harus dibangun sekaligus dalam bentuk sempurna. Bisa dimulai dari satu portal sederhana, beberapa modul dasar, dokumentasi materi NLC, dan kesediaan para mentor untuk berbagi pengalaman.

Setelah itu, biarkan ia tumbuh sambil berjalan. Materi dibenahi dan dilengkapi, peserta bertambah, mentor mulai terhubung, dan karya para kader tidak lagi tercecer setelah kegiatan selesai.

NLC telah menumbuhkan semangat konsolidasi dan kaderisasi. Keberhasilan itu merupakan modal penting. Tahap berikutnya adalah menjaga agar pembelajaran tidak berhenti saat acara ditutup dan peserta pulang ke daerah masing-masing.

Setiap generasi ICMI membutuhkan ruang belajar yang sesuai dengan zamannya. Dulu, ruang belajar identik dengan aula, papan tulis, dan pertemuan langsung. Sekarang, ruang itu juga hadir melalui layar dan jaringan. Bentuknya berubah, tetapi ruhnya tetap sama: belajar untuk mengabdi.

Adab sebagai Akar Kepemimpinan

Sebagai penutup, hal terpenting, yang hendak dibangun bukan hanya sistem, melainkan manusia yang beradab.

Syed Muhammad Naquib al-Attas (1980) menjelaskan bahwa pendidikan Islam tidak hanya menyampaikan ilmu. Pendidikan juga membentuk adab, yaitu kesadaran untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya. Pengetahuan membutuhkan kerendahan hati. Kekuasaan perlu dijaga oleh tanggung jawab. Teknologi pun harus tetap diarahkan oleh nilai.

Kurikulum, LMS, dan berbagai inovasi tidak akan berarti banyak bila tidak melahirkan kesediaan untuk terus belajar dan menghargai sesama. Adab menjaga ilmu agar bermanfaat. Ia juga membantu seorang pemimpin tetap adil dan manusiawi ketika memegang kewenangan.

Karena itu, kaderisasi ICMI tidak cukup hanya meningkatkan kapasitas. Ia perlu menumbuhkan karakter dan kemampuan menguasai diri.

Mungkin itulah hikmah penting dari perjalanan National Leadership Camp. Kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling cepat berada di depan. Sering kali, pemimpin justru hadir sebagai orang yang sabar membuka jalan, menuntun arah, lalu membantu orang lain ikut bertumbuh.


Kalau Boleh Dirangkum

  1. NLC sudah menjadi ruang penting bagi kader ICMI untuk bertemu, belajar, dan saling mengenal. Sayang kalau semangat yang tumbuh di dalamnya ikut padam begitu acara selesai.
  2. ICMI punya kekayaan yang tidak kecil. Ada pengalaman para senior, tenaga kader muda, cerita keberhasilan dari daerah, serta jejaring yang menjangkau banyak bidang dan wilayah.
  3. Banyak pengetahuan organisasi hilang bukan karena tidak berharga, melainkan karena tidak sempat dicatat. Materi, pengalaman, dan percakapan yang baik perlu disimpan agar dapat ditemukan dan digunakan kembali.
  4. LMS dapat membantu menjaga proses belajar tetap berjalan. Namun, teknologi tidak akan banyak berarti kalau tidak ada kebiasaan berbagi, kesediaan mendampingi, dan kemauan untuk terus belajar.
  5. Kaderisasi pada akhirnya menyentuh cara seseorang membawa diri. Ilmu dan keterampilan memang diperlukan, tetapi kepemimpinan juga tumbuh dari adab, tanggung jawab, kerendahan hati, dan kesediaan memberi ruang kepada orang lain.

Kalau Mau Dipraktikkan

  1. Mulailah dari hal yang paling sederhana. Kumpulkan materi, rekaman, catatan, dan hasil diskusi NLC dalam satu tempat yang mudah dicari. Sistemnya tidak harus langsung canggih.
  2. Jangan biarkan pertemuan berhenti pada acara penutupan. Diskusi bulanan, kelas singkat, atau percakapan antara mentor dan peserta sudah cukup untuk menjaga hubungan tetap hidup.
  3. Materi belajar sebaiknya mengikuti perjalanan kader. Anggota yang baru bergabung tentu memiliki kebutuhan berbeda dari pengurus aktif atau pimpinan wilayah.
  4. Peserta perlu diberi ruang untuk menghasilkan sesuatu. Bentuknya dapat berupa tulisan, gagasan program, telaah kebijakan, atau proyek sosial sederhana yang dapat dipelajari oleh daerah lain.
  5. Adab tetap perlu dijaga dalam setiap proses. Seorang kader tidak cukup belajar berbicara dan mengambil keputusan. Ia juga perlu belajar mendengar, menahan diri, menerima perbedaan, dan menyiapkan orang lain untuk tumbuh.

Daftar Pustaka

Al-Attas, S. M. N. (1980). The concept of education in Islam: A framework for an Islamic philosophy of education. International Institute of Islamic Thought and Civilization.

Bass, B. M. (1990). From transactional to transformational leadership: Learning to share the vision. Organizational Dynamics, 18(3), 19–31. https://doi.org/10.1016/0090-2616(90)90061-S

Burns, J. M. (1978). Leadership. Harper & Row.

Siemens, G. (2005). Connectivism: A learning theory for the digital age. International Journal of Instructional Technology and Distance Learning.

UNESCO. (2015). Rethinking education: Towards a global common good? UNESCO Publishing.

Scroll to Top