Rumah Ide ICMI

ICMI Sebagai Rumah Ide (14)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

ICMI Sebagai Rumah Ide:
Menumbuhkan Ekosistem Ide yang Melahirkan Inovasi

Artikel 14

Oleh Bagus Suminar
Aktivis ICMI Jawa Timur, Principal Consultant pada mutupendidikan.com

“Inovasi sering bermula dari percakapan sederhana yang didengar dengan sungguh-sungguh, dicatat dengan rapi, lalu diwujudkan bersama.”

Di era kecerdasan buatan (AI), inovasi menjadi salah satu kata kunci yang paling sering dibicarakan. Hampir setiap organisasi berlomba menghadirkan cara kerja baru, layanan baru, dan solusi baru agar tetap relevan dengan perubahan zaman. Di balik sebuah inovasi, biasanya ada ide yang lebih dulu tumbuh: dari rasa ingin tahu, keberanian berpikir, atau kemauan untuk berbagi. Organisasi yang ingin terus melahirkan inovasi karena itu perlu memberi ruang bagi ide-ide baik untuk tumbuh.

Ide bisa muncul dari sebuah pertanyaan, kegelisahan melihat persoalan yang berulang, atau pengalaman yang ingin diperbaiki. Belum tentu gagasan itu langsung matang. Ia baru mempunyai peluang menjadi inovasi ketika memperoleh ruang untuk dibicarakan, diperkaya, dan diuji bersama.

Kalau kita melihat sejarahnya, ICMI sendiri lahir dari sebuah gagasan besar. Proses kelahirannya berawal dari diskusi mahasiswa di Universitas Brawijaya, berkembang menjadi gagasan membentuk wadah cendekiawan Muslim tingkat nasional, hingga ICMI resmi berdiri di Malang pada 7 Desember 1990 dengan B. J. Habibie sebagai Ketua Umum pertama. Dari perjalanan itu kita bisa melihat bahwa perjumpaan, percakapan, dan kepedulian memang sudah hadir sejak awal kehidupan ICMI.

Rumah bagi Gagasan

Sebuah rumah ide perlu memberi cukup rasa aman agar orang berani berbicara dan membawa pemikirannya ke dalam percakapan. Orang bertemu, saling mendengar, lalu pulang dengan pandangan yang mungkin sudah sedikit berubah. Gagasan pun memperoleh kesempatan untuk tumbuh.

Di ruang seperti itu, sebuah ide tidak dinilai semata dari siapa yang menyampaikannya. Yang lebih menarik adalah apa yang bisa dipelajari darinya, bagaimana orang lain memperkayanya, dan manfaat apa yang mungkin lahir kemudian. Ada ide yang segera mendapat sambutan, ada pula yang perlu waktu. Itu wajar. Gagasan yang belum matang hari ini boleh jadi menemukan bentuknya setelah bertemu pengalaman orang lain.

Jejak seperti itu sudah ada dalam perjalanan ICMI. PINBUK, misalnya, sebelum berdiri sebagai lembaga tersendiri merupakan Departemen Ekonomi Kerakyatan ICMI dan kemudian ikut mengembangkan BMT sebagai gerakan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pengalaman ini menarik karena memperlihatkan bagaimana sebuah gagasan dapat bergerak melalui jejaring, menemukan bentuknya, lalu bersentuhan dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Perjalanan sebuah ide dapat dibaca melalui alur berikut.

Tabel: Ketika Sebuah Ide Mulai Tumbuh

TahapYang Perlu Dijaga
Ide munculGagasan mendapat ruang untuk disampaikan tanpa terlalu cepat dinilai.
Ide dibicarakanDengarkan pandangan yang berbeda agar persoalan terlihat lebih utuh.
Ide diperkayaHubungkan dengan pengalaman, kepakaran, dan sudut pandang lain.
Ide diujiDekatkan dengan kebutuhan nyata agar gagasan tetap membumi.
Ide memberi manfaatJalankan, catat pelajarannya, lalu bagikan agar bisa menginspirasi tempat lain.

Alur itu menunjukkan bahwa inovasi bukan pekerjaan sekali jadi. Ia tumbuh melalui kebiasaan mendengar, berdialog, mencoba, mencatat, dan berbagi. Bila kebiasaan seperti ini dirawat, gagasan yang lahir di lingkungan ICMI mempunyai kesempatan lebih besar untuk berkembang menjadi sesuatu yang benar-benar berguna.

Iklim yang Membuat Ide Tumbuh

Orang yang memiliki banyak pengetahuan belum tentu selalu mudah mengemukakan gagasannya. Suasana tempat mereka bertemu ikut menentukan. Ada forum yang membuat orang nyaman menyampaikan pemikiran yang masih setengah jadi, ada pula suasana yang membuat seseorang memilih menyimpannya dahulu. Bagi organisasi yang ingin melahirkan inovasi, perbedaan kecil seperti ini bisa mempunyai pengaruh yang panjang.

Göran Ekvall (1996), melalui kajiannya tentang iklim organisasi bagi kreativitas dan inovasi, menunjukkan beberapa unsur yang ikut membentuk suasana kreatif. Di antaranya ada kepercayaan dan keterbukaan, kebebasan berpikir, dukungan terhadap ide, ruang untuk mengembangkan gagasan, serta keberanian mencoba sesuatu yang baru. Kreativitas, dalam pandangan ini, ikut dipengaruhi oleh lingkungan tempat orang bekerja dan berinteraksi.

Dalam kehidupan ICMI, gagasan Ekvall dapat dibaca melalui tradisi silaturahim dan musyawarah. Pertemuan para cendekia dari latar ilmu yang berbeda menyediakan ruang yang kaya untuk bertukar sudut pandang. Seorang dokter dapat melihat persoalan dari sisi yang berbeda dengan ekonom, pendidik, insinyur, ahli agama, atau orang yang sehari-hari bekerja bersama masyarakat. Ketika perbedaan itu dipertemukan dengan rasa saling menghargai, sebuah persoalan bisa terlihat lebih utuh.

Ruang seperti itu juga memberi kesempatan bagi ide yang belum selesai. Tidak setiap orang datang ke forum dengan gagasan yang sudah lengkap. Ada yang baru membawa pertanyaan, potongan pengalaman, atau kegelisahan. Percakapan dengan orang lain dapat membantu menyempurnakannya. Organisasi bertumbuh ketika orang-orang di dalamnya bersedia berpikir bersama, meski tidak selalu memulai dari pandangan yang sama.

Pengetahuan yang Terus Hidup

Ada satu hal yang mudah terlewat: gagasan dapat lahir cepat, sementara pengalaman di belakangnya mudah hilang kalau tidak dicatat. Knowledge Management mengingatkan kita pada bagian ini. Nonaka dan Takeuchi (1995) menjelaskan bagaimana pengetahuan organisasi tumbuh melalui proses berbagi dan mengolah pengalaman menjadi pengetahuan bersama. Dalam kehidupan organisasi seperti ICMI, mencatat praktik baik, menyimpan pembelajaran, dan membagikannya kepada generasi berikutnya dapat membantu agar sebuah pengalaman tidak selesai bersama kegiatan atau periode kepengurusan.

Saat Gagasan Menjadi Manfaat

Ide yang tumbuh dalam iklim yang sehat masih membutuhkan satu ujian lagi: apakah ia benar-benar menjawab kebutuhan manusia? Gagasan yang terdengar menarik dalam sebuah forum belum tentu tepat ketika dibawa ke kehidupan nyata. Karena itu, kesediaan untuk mendengar menjadi penting. Kita perlu memahami persoalan sebelum terlalu cepat merasa sudah memiliki jawabannya.

Tim Brown (2008) melalui pendekatan design thinking menempatkan kebutuhan manusia sebagai bagian penting dalam proses inovasi. Sebuah gagasan perlu berangkat dari pemahaman terhadap orang yang akan merasakan manfaatnya, kemudian dikembangkan dengan mempertimbangkan apa yang mungkin dilakukan dan bagaimana solusi itu dapat dijalankan. Dengan cara berpikir seperti ini, kebaruan saja belum cukup. Sebuah inovasi perlu mempunyai hubungan yang jelas dengan kehidupan orang yang hendak dibantu.

Di lingkungan ICMI, ruang untuk melakukan itu sebenarnya cukup luas. Para anggotanya bersentuhan dengan dunia pendidikan, kesehatan, teknologi, ekonomi, pemerintahan, dunia usaha, pesantren, dan berbagai lapisan masyarakat. Persoalan yang sama bisa terlihat berbeda ketika dilihat dari berbagai bidang tersebut. Ide yang masih mentah memperoleh kesempatan untuk diuji, dikoreksi, bahkan diubah setelah bertemu kenyataan.

Proses seperti ini layak semakin sering terjadi. Sebuah forum menghasilkan gagasan, gagasan dibawa mendekati persoalan, lalu orang kembali dengan pengalaman baru. Tidak masalah jika bentuk akhirnya berbeda dari ide pertama. Justru dari proses itulah kita belajar bahwa inovasi bukan soal mempertahankan gagasan sendiri, melainkan menemukan sesuatu yang benar-benar berguna.

Semangat tersebut pernah disampaikan dalam Silaturahmi Kerja Nasional dan Milad ICMI ke-29 di Universitas Negeri Padang pada 6 Desember 2019. Saat membuka forum itu, Wakil Presiden K. H. Ma’ruf Amin mengajak ICMI menggunakan kemampuan berpikir, ilmu pengetahuan, dan teknologi untuk membantu memecahkan persoalan sosial kemasyarakatan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pesannya dekat dengan perjalanan sebuah ide: ilmu memperoleh arti ketika bersentuhan dengan persoalan dan ikut menghadirkan jalan keluar.

Semua itu tumbuh dari kebiasaan yang dijaga dari waktu ke waktu: mendengar, berdialog, mencatat pengalaman, dan membagikan pembelajaran. Ketika budaya seperti ini hidup, setiap anggota mempunyai ruang untuk belajar sekaligus memberi manfaat. Pembaruan pun lebih mudah tumbuh sebagai bagian dari kehidupan organisasi sehari-hari.

Mudah-mudahan ICMI terus mempunyai ruang tempat orang berani membawa gagasan, mendengarkan pandangan lain, lalu bekerja bersama untuk mengujinya. Jabatan dan periode kepengurusan dapat berganti, tetapi kebiasaan merawat ide bisa terus diwariskan. Dari sanalah inovasi mendapat kesempatan untuk tumbuh dan benar-benar memberi manfaat.


Kalau Boleh Dirangkum

  1. Inovasi bertumbuh ketika organisasi memberi ruang bagi orang untuk bertanya, berbagi, dan mengembangkan gagasan bersama.
  2. Sejak awal berdirinya, kekuatan ICMI tumbuh dari perjumpaan para cendekia yang mempertemukan ilmu, pengalaman, dan kepedulian terhadap masyarakat.
  3. Iklim yang terbuka membuat orang lebih leluasa membawa gagasan, termasuk ide yang masih perlu diperkaya dan diuji bersama.
  4. Pengalaman yang dicatat dan dibagikan membantu organisasi menjaga pengetahuan agar dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
  5. Gagasan memperoleh arti ketika bertemu kebutuhan nyata dan berkembang menjadi karya yang dirasakan manfaatnya.

Kalau Mau Dipraktikkan

  1. Beri ruang bagi setiap orang untuk membawa gagasan, termasuk yang belum sepenuhnya matang. Percakapan sering membantu sebuah ide menemukan bentuknya.
  2. Biasakan forum tidak hanya mendengar pendapat, tetapi juga mempertemukan sudut pandang dari bidang dan generasi yang berbeda.
  3. Setelah kegiatan selesai, catat pengalaman yang layak disimpan. Apa yang hari ini dianggap biasa bisa menjadi pelajaran penting bagi orang lain.
  4. Sebelum menawarkan solusi, dengarkan lebih dahulu orang yang menghadapi persoalan. Ide biasanya menjadi lebih tajam setelah bertemu kenyataan.
  5. Bila sebuah gagasan mulai bekerja, bagikan pengalamannya. Daerah lain tidak harus menirunya persis, tetapi bisa belajar dan mengembangkannya sesuai kebutuhan.

Daftar Pustaka

Brown, T. (2008). Design thinking. Harvard Business Review, 86(6), 84–92.

Ekvall, G. (1996). Organizational climate for creativity and innovation. European Journal of Work and Organizational Psychology, 5(1), 105–123. https://doi.org/10.1080/13594329608414845

Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Organisasi Wilayah Jawa Timur. (n.d.). Sejarah ICMI.

Nonaka, I., & Takeuchi, H. (1995). The knowledge-creating company: How Japanese companies create the dynamics of innovation. Oxford University Press.

Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil. (n.d.). PINBUK (Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil).

Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia. (2019, December 6). Tingkatkan peran cendekiawan Muslim dalam pembangunan SDM unggul.


Scroll to Top