Sengkuni Saja Tidak Sejahat Kamu

Sengkuni Saja Tidak Sejahat Kamu (4)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Sengkuni Saja Tidak Sejahat Kamu

Membaca Kekuasaan dan Penderitaan Versi Cak Nun

Artikel 4

Oleh: Bagus Suminar
Principal Consultant pada sdmindonesia.com

“Sengkuni membawa luka panjang. Tetapi Cak Nun justru bertanya: apa yang membuat orang yang hidup nyaman bisa begitu tega kepada rakyat?”

Patih Sengkuni dikenal licik, penuh siasat, dan ikut menyalakan permusuhan besar dalam kisah Mahabharata. Tetapi dalam pembacaan Cak Nun, ada sisi lain yang tidak boleh dilewatkan: Sengkuni membawa luka keluarga dan penderitaan yang sangat dalam. Dari situlah muncul pertanyaan yang terasa mengganggu: kalau Sengkuni punya luka sebesar itu, lalu apa yang membuat seorang penguasa yang hidup jauh lebih nyaman justru tega kepada rakyatnya?

Luka yang Dibawa Sengkuni

Sengkuni yang dibawa Cak Nun ke panggung pada 2019 memang sedikit berbeda dari Sengkuni yang lazim dikenal dalam pewayangan. Cak Nun sendiri terbuka soal itu. Ia bahkan meminta maaf kepada masyarakat pewayangan karena beberapa bagian kisah yang digunakannya tidak sama dengan khazanah yang dikenal luas (Nadjib, 2019a).

Dalam versi Sengkuni yang diceritakan Cak Nun, penderitaannya jauh lebih gelap. Ia kehilangan keluarganya dalam keadaan yang sangat tragis. Cak Nun menceritakan bahwa Sengkuni sampai terpaksa memakan 98 saudaranya dan orang tuanya demi bertahan hidup dan menjaga kelangsungan keluarganya. Dalam ceramah yang sama, Cak Nun melontarkan pertanyaan yang sulit dilupakan: “Kamu pernah makan ibumu?” (Supriyatna & Rahmayunita, 2019).

Penderitaan itu tidak membuat kejahatan Sengkuni menjadi benar. Ia tetap licik, merancang tipu daya, dan ikut membawa orang lain menuju kehancuran. Tetapi luka tersebut membantu kita memahami dari mana dendam itu mungkin tumbuh.

Memahami tidak sama dengan membenarkan.

Kalau Sengkuni Punya Luka, Kamu Punya Apa?

Ucapan Cak Nun tentang Sengkuni kemudian menjadi jauh lebih keras ketika diarahkan kepada kekuasaan.

Dalam sebuah ceramah yang ramai beredar pada 2019, Cak Nun mempertanyakan penderitaan apa yang pernah dialami para pemimpin sehingga sampai tega kepada rakyat. Dengan gaya bicara yang menggetarkan, ia bertanya:

“Kamu pernah menderita apa?
Kamu pernah miskin apa?
Kamu pernah puasa kayak apa?

Apa alasanmu untuk jahat kepada rakyat?
Sengkuni saja tidak sejahat kamu.”
(Supriyatna & Rahmayunita, 2019)

Kalimat itu tentu bukan alat ilmiah untuk mengukur siapa yang lebih jahat. Lebih tepat membacanya sebagai gugatan moral.

Sengkuni, dalam pembacaan Cak Nun, membawa sejarah luka yang panjang. Bagaimana dengan orang yang mendapat jabatan, fasilitas, penghormatan, hidup cukup, bahkan sangat nyaman, tetapi keputusannya justru membuat banyak orang susah?

Soalnya kemudian bukan lagi siapa yang paling jahat. Ada pertanyaan yang lebih penting: apa yang terjadi ketika kekuasaan membuat penderitaan rakyat semakin jauh dari orang yang mengambil keputusan?

Angka yang Tak Menceritakan Semuanya

Kekuasaan memang bekerja dengan angka. Pemerintah membutuhkan statistik, anggaran, indikator, target, dan laporan. Tanpa itu negara sulit dikelola.

Persoalannya, manusia kadang ikut mengecil ketika terlalu lama dilihat dari laporan.

Orang kehilangan pekerjaan bisa muncul sebagai persentase. Kemiskinan menjadi grafik. Keluhan menjadi jumlah pengaduan. Penggusuran berubah menjadi angka relokasi.

Semua mungkin benar secara administratif. Tetapi orang tidak hidup sebagai persentase.

Ada keluarga yang kehilangan penghasilan, anak yang sekolahnya terganggu, orang tua yang bingung membayar kebutuhan, atau seseorang yang mendadak tidak tahu harus pulang ke mana. Semakin jauh pengambil keputusan dari pengalaman semacam itu, penderitaan mudah berubah menjadi sesuatu yang diketahui, tetapi tidak benar-benar dirasakan.

Adam Galinsky bersama Joe Magee, M. Ena Inesi, dan Deborah Gruenfeld (2006) meneliti hubungan kekuasaan dengan kemampuan mengambil perspektif orang lain. Dalam sejumlah eksperimen, orang yang berada dalam kondisi berkuasa cenderung lebih terpaku pada sudut pandangnya sendiri dan lebih sulit memperhitungkan apa yang diketahui atau dirasakan orang lain. Mereka juga kurang akurat membaca ekspresi emosi dibanding kelompok pembanding.

Temuan laboratorium itu tentu tidak bisa dipakai untuk menuduh setiap pejabat kehilangan empati. Kekuasaan juga tidak otomatis membuat seseorang jahat. Tetapi orang yang terlalu lama melihat dunia dari kursinya sendiri memang perlu sesekali melihat dari kursi orang lain.

Pemimpin bisa menerima laporan bahwa harga beras naik beberapa persen. Di rumah tangga, kenaikan itu berarti hal yang lebih sederhana: uang belanja yang biasanya cukup seminggu harus dibagi lagi, lauk dikurangi, atau pembelian kebutuhan lain ditunda.

Kabar yang Tak Pernah Sampai Utuh

Zaman sekarang memberi pemimpin begitu banyak informasi. Media sosial penuh keluhan, kritik, video, laporan warga, bahkan kemarahan yang muncul hampir setiap jam. Kekurangan informasi mungkin bukan masalah utamanya.

Pertanyaan yang lebih sederhana: apa yang terjadi pada informasi itu sebelum sampai ke atas?

Dalam organisasi besar, orang tidak selalu nyaman membawa kabar buruk kepada atasan. Morrison dan Milliken (2000) membahas organizational silence, ketika orang dalam organisasi memilih menahan informasi mengenai masalah. Penelitian mengenai komunikasi dalam hierarki juga menunjukkan bahwa kabar buruk dapat lebih sulit disampaikan kepada mereka yang berada di atas (Lee, 1993).

Bahasa sehari-harinya kita kenal baik: asal bapak senang (ABS).

Tidak fair tentu menuduh setiap lingkaran kekuasaan bekerja seperti itu. Namun risikonya ada. Keluhan rakyat masuk, diringkas, dibuat presentasi, disaring lagi, lalu tiba di meja pemimpin dalam bentuk yang mungkin sudah jauh lebih nyaman untuk dibaca.

Pemimpin akhirnya mendengar.

Belum tentu mendengar semuanya.

Ketika Pembenaran Mengalahkan Rasa

Jarak antara pengambil keputusan dan rakyat baru sebagian dari persoalan. Orang juga mempunyai kemampuan luar biasa untuk mencari alasan atas tindakannya sendiri.

Albert Bandura (1999) menyebutnya moral disengagement. Manusia dapat melakukan sesuatu yang merugikan orang lain sambil tetap merasa sedang melakukan hal yang benar. Tindakan diberi pembenaran moral. Bahasa diperhalus. Tanggung jawab dipindahkan atau dibagi. Akibat buruk dikecilkan. Dalam keadaan tertentu, korban bahkan dianggap sebagai penyebab masalah.

Dalam kekuasaan, kata seperti stabilitas, efisiensi, pembangunan, atau ketertiban tentu memiliki tempat dan kegunaan. Tidak setiap penggunaan istilah itu berarti manipulasi.

Masalahnya kalau kata-kata tersebut akhirnya lebih mudah didengar daripada suara orang yang menanggung akibatnya.

Keputusan keras kadang memang diperlukan. Tetapi pertanyaan tetap boleh diajukan: siapa yang membayar harga dari keputusan tersebut?

Orang tidak harus merasa dirinya jahat untuk melakukan tindakan yang menyakiti. Serangkaian alasan, pembagian tanggung jawab, dan bahasa yang terasa masuk akal dapat membuat akibat buruk semakin mudah diterima.

Siapa Sengkuni?

Dalam tulisannya Siapa Sengkuni?, ia menulis:

“Apa Sengkuni? Adalah darah kotor di dalam diri setiap manusia. Kanker ganas di dalam darah setiap kumpulan Masyarakat dan Negara manusia.”
(Nadjib, 2019b)

Kalimat itu membuat Sengkuni tidak lagi sekadar tokoh wayang yang bisa kita tunjuk dari jauh. Ia menjadi sesuatu yang mungkin tumbuh dalam diri manusia, lalu ikut hidup dalam kelompok, organisasi, masyarakat, bahkan negara.

Karena itu, Sengkuni tidak harus selalu dicari di istana, kantor pemerintah, atau lingkaran elite. Potensinya bisa muncul ketika manusia berurusan dengan kekuasaan, kepentingan, rasa takut kehilangan posisi, atau kesempatan untuk menutupi kenyataan.

Pemimpin tidak cukup hanya punya niat baik. Ia membutuhkan orang yang berani membawa kabar buruk. Pers yang bebas mengkritik. Masyarakat yang boleh bersuara. Sistem pengawasan yang bekerja. Dan sesekali, kesempatan melihat sendiri akibat dari keputusan yang dibuatnya.

Kekuasaan membutuhkan cermin.

Kalau semua orang di sekeliling pemimpin selalu berkata keadaan baik, aman, terkendali, dan rakyat bahagia, barangkali justru ada yang perlu dicurigai. Bisa jadi kenyataan yang sampai ke atas sudah terlalu banyak disaring dan dipermanis.

Sengkuni membawa luka, dendam, dan sejarah penderitaan yang panjang. Itu pun tidak membuat kejahatannya menjadi benar. Maka pertanyaan Cak Nun terasa semakin tajam: kalau seseorang tidak membawa luka sebesar Sengkuni, apa yang membuatnya bisa lebih tega kepada rakyat?


Daftar Pustaka

Bandura, A. (1999). Moral disengagement in the perpetration of inhumanities. Personality and Social Psychology Review, 3(3), 193–209. Sumber

Galinsky, A. D., Magee, J. C., Inesi, M. E., & Gruenfeld, D. H. (2006). Power and perspectives not taken. Psychological Science, 17(12), 1068–1074. Sumber

Lee, F. (1993). Being polite and keeping MUM: How bad news is communicated in organizational hierarchies. Journal of Applied Social Psychology, 23(14), 1124–1149. Sumber

Morrison, E. W., & Milliken, F. J. (2000). Organizational silence: A barrier to change and development in a pluralistic world. Academy of Management Review, 25(4), 706–725. Sumber

Nadjib, E. A. (2019a, January 11). Sengkuni dalam diri. CakNun.com. Sumber

Nadjib, E. A. (2019b, January 8). Siapa Sengkuni? CakNun.com. Sumber

Supriyatna, I., & Rahmayunita, H. (2019, October 7). Cak Nun: Apa alasanmu jahat ke rakyat? Sengkuni saja tidak sejahat kamu. Suara.com. Sumber


Scroll to Top