بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Budaya Superfisial
Ketika Penampilan Mengalahkan Isi
Artikel 9
Oleh: Bagus Suminar
Principal Consultant pada sdmindonesia.com
Kita sering menyalahkan orang yang suka pamer. Padahal, kita juga ikut memberi panggung, perhatian, dan tepuk tangan pada pencitraan.
Pada 14 Februari 1991, Harian Jawa Pos memuat tulisan Cak Nun berjudul Budaya Superfisial. Yang ia sorot bukan hanya pakaian, wajah, atau rumah mewah. Ia sedang membicarakan kebiasaan masyarakat memberi perhatian besar pada “luaran”, “dangkal”, atau “permukaan”, sementara isi di baliknya belum tentu ikut diperiksa (Nadjib, 1991).
Tulisan itu lahir lebih dari tiga puluh tahun lalu. Waktu itu belum ada medsos. Belum ada Instagram, TikTok, filter wajah, followers, atau istilah flexing. Tetapi esai tersebut sudah menyorot kendaraan untuk gengsi, rumah mewah yang melebihi kebutuhan, kelas sosial, dan penampilan (Nadjib, 1991).
Penampilan dan Gengsi
Kita hidup pada masa ketika hampir semua orang bisa punya panggung sendiri. Makan di restoran bisa difoto, liburan ke luar negeri bisa disiarkan, mobil baru bisa diperlihatkan. Bahkan secangkir kopi bisa mendapat pencahayaan khusus sebelum diminum.
Tentu manusiawi. Orang boleh saja tampil bagus. Boleh memakai barang mahal, mempercantik wajah, punya rumah besar, gelar tinggi, atau jutaan pengikut. Soalnya bukan pada itu.
Persoalan mulai muncul ketika gaya hidup dan penampilan perlahan dipakai sebagai ukuran nilai seseorang. Mobil mahal dianggap tanda berhasil. Gelar panjang dianggap tanda pintar. Banyak followers dianggap cukup untuk membuat seseorang layak didengar.
Dalam urusan agama juga begitu. Penampilan bisa cepat membentuk kesan saleh, padahal kita belum tahu bagaimana perilakunya setelah kamera dimatikan. Kemasan yang tampak memang lebih cepat dinilai. Isi sesungguhnya membutuhkan waktu untuk diketahui.
Dalam esai 1991 itu, kecenderungan seperti ini disebut budaya superfisial.
Ada contoh menarik. Masyarakat yang mengaku lebih menghargai “kecantikan batin” atau inner beauty, nyatanya dalam praktik tetap memilih wajah menarik untuk sampul majalah (Nadjib, 1991).
Ada pula sindiran tentang rumah yang terlalu besar untuk kebutuhan pemiliknya. Orang berstatus tinggi bahkan tas kecilnya saja dibawakan orang lain. Yang sedang dibicarakan sebenarnya gengsi: benda tidak lagi berhenti pada fungsi, tetapi ikut memberi tahu orang lain siapa kita, atau setidaknya siapa yang ingin kita tampilkan.
Saat ini, di era media sosial, orang tidak harus menunggu tetangga melihat rumah barunya. Cukup unggah foto. Mobil, jam tangan, tas, sepatu, hotel, tempat makan sampai tiket pesawat bisa tampil berkali-kali di layar.
Belakangan salah satu bentuknya kita sebut flexing. Thorstein Veblen jauh sebelumnya memakai istilah conspicuous consumption untuk menjelaskan konsumsi mencolok yang juga dipakai mempertontonkan status (Veblen, 1899).
Contohnya mudah ditemukan. Ada orang membeli mobil yang jauh di atas kebutuhannya, memakai jam tangan mahal, atau memilih tempat nongkrong tertentu karena barang dan tempat itu ikut memberi kesan tentang siapa dirinya.
Tentu tidak semua orang yang membeli barang mahal sedang pamer. Yang lebih menarik adalah mengapa barang tertentu bisa membuat seseorang dianggap lebih penting. Sehingga yang dipertontonkan bukan lagi barangnya saja, tetapi juga status yang ingin ditunjukkan kepada orang lain.
Kita Semua Mengatur Citra
Erving Goffman punya cara yang menarik untuk membaca persoalan semacam ini. Dalam The Presentation of Self in Everyday Life (1959), kehidupan sosial ia gambarkan seperti panggung. Orang mengatur penampilan, ucapan, sikap, dan perilakunya agar meninggalkan kesan tertentu pada orang lain (Goffman, 1959).
Hal seperti itu sebenarnya biasa. Kita berpakaian lebih rapi ketika menghadiri pernikahan. Pakai busana terbaik. Kita bicara pelan dan memilih kata lebih sopan ketika bertemu orang yang dihormati. Seorang dosen juga tidak datang ke kelas dengan gaya yang persis sama seperti ketika duduk santai di rumah. Anak muda menyebutnya “jaim” atau jaga image.
Kita semua mengatur citra, hanya kadarnya berbeda.
Media sosial membuat panggung itu semakin luas. Foto bisa dipilih, bagian yang kurang bagus dibuang, AI sekarang memungkinkan itu, wajah dipermak dengan filter, kalimat diedit. Kehidupan yang berantakan pun bisa tampil rapi selama tiga puluh detik.
Panggung bukan masalah. Yang mulai merepotkan adalah ketika tampilan di panggung dianggap sama dengan kehidupan sebenarnya.
Seorang tokoh bisa terlihat rendah hati di depan kamera, belum tentu demikian ketika kamera pergi. Orang bisa kelihatan sukses di Instagram, sementara cicilannya membuat tidur tidak nyenyak.
Seseorang juga bisa membangun citra sebagai orang paling sibuk sedunia, padahal pekerjaan utamanya mungkin memang membuat orang lain tahu bahwa ia sibuk.
Ketika Penampilan Mendapat Penghargaan
Penampilan bisa menghasilkan sesuatu: perhatian, pengakuan, status, kepercayaan, bahkan uang.
Pierre Bourdieu melihat soal status dari arah lain. Dalam La Distinction (1979), ia menunjukkan bahwa selera, gaya hidup, pendidikan, barang yang dikonsumsi, bahkan cara berbicara dapat ikut menjadi penanda posisi sosial. Apa yang dipakai dan dipilih seseorang bisa dibaca orang lain sebagai tanda kelas, pendidikan, atau kedudukan (Bourdieu, 1979).
Maka tas tidak selalu berhenti sebagai tas. Jadi ada fungsi lain. Mobil tidak selalu cuma kendaraan. Gelar juga tidak selalu hanya tanda pendidikan. Ada nilai sosial yang ikut menempel.
Budaya superfisial kemudian tidak cukup dijelaskan dengan mengatakan bahwa orang suka pamer. Ada lingkungan yang memberi penghargaan besar kepada apa yang tampak.
Orang flexing mendapat perhatian. Di medsos mendapat like dan followers. Figur terkenal lebih mudah mendapat panggung. Gelar memberi gengsi. Barang mahal menaikkan kesan status. Orang yang viral bisa tiba-tiba diminta bicara tentang berbagai hal, termasuk bidang yang sebenarnya tidak ia kuasai.
Kita ikut menciptakan pasar bagi penampilan.
Tulisan 1991 itu sudah membaca sebagian pola tersebut. Industri menjajakan berbagai “prejengan” luar, pendidikan terlalu sibuk dengan karier, bahkan dalam urusan agama orang yang populer dan menarik secara penampilan bisa lebih cepat mendapat perhatian (Nadjib, 1991).
Sekarang industrinya lebih canggih. Panggungnya bahkan kita bawa sendiri di dalam telepon genggam.
Kita Juga Ikut Melestarikan
Terlalu enak kalau seluruh kesalahan diberikan kepada orang yang suka pamer. Kita ada di dalam ekosistem.
Apa yang membuat kita cepat kagum? Mengapa orang dengan mobil mahal langsung dianggap sukses? Mengapa figur populer lebih mudah dipercaya? Mengapa gelar mudah dibaca sebagai ukuran kecerdasan, padahal gelar dan kecerdasan tidak selalu berjalan seiring?
Bagian yang ini agak mengganggu kita sebagai pembaca. Dalam esainya, masyarakat tidak ditempatkan hanya sebagai korban. Kita memang digiring ke arah budaya seperti itu, tetapi kita juga mau menerima dan menikmatinya (Nadjib, 1991).
Lucu juga fenomena ini.
Kita memang suka nonton spill rumah mewah para artis. Penasaran dengan isi garasi orang terkenal. Ingin tahu harga tasnya. Ikut menyebarkan video flexing. Membicarakan pesta yang mahal. Sesudah itu kita berteriak mengkritik masyarakat, termasuk pejabat, karena terlalu hedonis.
Kita sebagai penonton tidak benar-benar netral. Kita ikut memberi nilai, memberi perhatian, melestarikan, bahkan ikut menentukan siapa yang pantas berada di atas panggung.
Isi Tetap Lebih Penting
Penampilan tetap penting. Tidak ada gunanya sengaja berpakaian buruk supaya dianggap punya kedalaman batin. Rumah juga tidak perlu dibiarkan rusak agar pemiliknya terlihat bijaksana.
Masalah budaya superfisial bukan pada penampilan itu sendiri.
Yang menjadi soal ketika penampilan menggantikan isi: gelar tanpa kemampuan, jabatan tanpa tanggung jawab, popularitas tanpa kualitas, kesalehan tanpa akhlak, kemewahan tanpa fungsi. Termasuk personal branding yang sibuk sekali, sementara sesuatu yang benar-benar bisa dibanggakan masih dicari-cari.
Kalau itu terjadi, energi lebih banyak habis untuk merawat kemasan. Kita mungkin terlihat berhasil, terlihat penting, terlihat saleh, atau terlihat pintar. Tapi penampilan tidak selalu bisa menjawab apa yang sebenarnya ada di dalam.
Jangan-jangan persoalannya bukan hanya orang yang suka pamer, tetapi kita sendiri yang terlalu mudah kagum pada apa yang dipamerkan.
Soalnya ada pada ukuran yang kita pakai untuk menilai orang.
Kita boleh tampil baik, memakai barang bagus, punya gelar, jabatan, bahkan dikenal banyak orang. Semua itu wajar dan tidak perlu dipersoalkan. Tetapi nilai seseorang tentu tidak berhenti pada apa yang terlihat. Kemampuan, tanggung jawab, sikap, dan cara memperlakukan orang lain tetap jauh lebih menentukan.
Cak Nun pernah menulis dalam Manusia, Negara, dan Celana: “Yang primer adalah pakaian martabat, harga diri kemanusiaan, akhlak sosial dan kasih sayang kepada sesamanya” (Nadjib, 2017). Mungkin pakaian itulah yang justru paling sulit dibeli.
Daftar Pustaka
Bourdieu, P. (1979). La distinction: Critique sociale du jugement. Les Éditions de Minuit.
https://www.leseditionsdeminuit.fr/livre-La_Distinction-1954-1-1-0-1.html
Goffman, E. (1959). The presentation of self in everyday life. Doubleday.
https://books.google.com/books/about/The_Presentation_of_Self_in_Everyday_Lif.html?id=HSpHAAAAMAAJ
Nadjib, E. A. (1991, February 14). Budaya superfisial. Jawa Pos. Dimuat kembali di CakNun.com, 11 Oktober 2023.
https://www.caknun.com/2023/budaya-superfisial
Nadjib, E. A. (2017, July 24). Manusia, negara, dan celana. CakNun.com.
https://www.caknun.com/2017/manusia-negara-dan-celana
Veblen, T. (1899). The theory of the leisure class: An economic study in the evolution of institutions. The Macmillan Company.
https://books.google.com/books/about/The_Theory_of_the_Leisure_Class.html?id=UTpDAAAACAAJ




