بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Cak Nun dan Sajak Musik Brubuh
Membaca Kaburnya Kebenaran di Era Algoritma
Artikel 3
Oleh Bagus Suminar
Aktivis ICMI Jawa Timur, Principal Consultant pada mutupendidikan.com
“Jurang dibilang gunung.” Dari sebaris sajak lama, kita masuk ke soal algoritma, framing, polarisasi, dan cara manusia melihat kenyataan.”
“Jurang dibilang gunung
Ngorok dibilang bangun
Hidung tersumbat
Mata silau
Cakrawala hilang.”
Cak Nun menulis baris-baris itu dalam Sajak Musik Brubuh pada 1980, ketika media sosial belum ada dan algoritma belum ikut menentukan apa yang muncul di layar kita (Nadjib, 2023). Hampir setengah abad kemudian, sajak itu menarik dibaca kembali. Cak Nun bisa dipastikan tidak sedang menulis ramalan tentang zaman digital. Persoalan kemanusiaan tentang bahasa, kenyataan, dan apa yang dianggap benar rupanya memang belum selesai.
Saat Kata-Kata Mengaburkan Kenyataan
Sajak itu dimulai dengan sesuatu yang sederhana: Apa kata hidungmu?. Ada “kata-kata manis” yang justru membuat keadaan terasa busuk. Dari rumah, jalan, gang, kampung, sampai negeri. Lalu keadaan menjadi makin ganjil. Jurang disebut gunung. Orang yang sedang ngorok disebut bangun. Hidung tersumbat, mata silau, cakrawala hilang (Nadjib, 2023).
Tidak perlu teori sastra yang rumit untuk menangkap kegelisahannya. Kata-kata bisa membantu manusia memahami kenyataan, tapi bisa juga melakukan yang sebaliknya. Sesuatu yang buruk diberi nama yang indah. Kegagalan dikemas seperti keberhasilan. Masalah yang berat kadang dikecilkan hanya dengan mengganti cara menyebutnya.
Kekuatan Sajak Musik Brubuh ada pada cara itu. Ia sedang tidak memberi kuliah tentang kebohongan. Kekacauan diperlihatkan melalui bahasa sehari-hari, bahkan dengan sedikit humor. “Ngorok dibilang bangun”. Sesudah tertawa, mungkin kita baru sadar bahwa perilaku manusia semacam itu masih mudah dijumpai.
Membaca Sajak Lama di Zaman Algoritma
Konteks 1980 tentu jauh berbeda dengan 2026. Media sosial belum menjadi ruang utama percakapan publik. Belum ada video pendek yang berpindah dalam hitungan detik, belum ada gambar dan suara buatan AI yang bisa tampak sangat meyakinkan.
Hari ini, kaburnya kenyataan sering datang dalam bentuk yang lebih halus. Sebuah informasi tidak harus sepenuhnya palsu. Faktanya bisa benar, tetapi disesuaikan, dipotong. Judulnya diperkeras. Bagian tertentu diulang, sementara bagian lain dibiarkan hilang. Orang akhirnya melihat peristiwa yang sama melalui bingkai yang berbeda.
Robert Entman (1993) menjelaskan proses semacam ini melalui framing. Realitas mempunyai banyak sisi. Dalam komunikasi, bagian tertentu dapat dipilih dan dibuat lebih menonjol. Pilihan tersebut ikut memengaruhi apa yang dianggap sebagai masalah, siapa yang dilihat sebagai penyebab, bahkan bagaimana sebuah peristiwa dinilai.
Framing tentu bukan monopoli media. Pemerintah, partai politik, kelompok oposisi, korporasi, tokoh publik, semuanya dapat memilih bahasa dan bagian tertentu dari kenyataan ketika menjelaskan sebuah peristiwa. Karena itu, pernyataan resmi pemerintah pun tetap perlu dibandingkan dengan sumber lain. Begitu pula pernyataan mereka yang sedang mengkritik pemerintah.
Kebenaran tidak otomatis mengikuti siapa yang berbicara.
Mata Silau
“Mata silau” menjadi bagian yang menarik ketika sajak ini dibaca hari ini.
Silau berbeda dengan buta. Orang yang silau masih melihat. Hanya saja terlalu banyak cahaya bisa membuat apa yang ada di depan mata tidak lagi mudah dikenali dengan jernih.
Masalah kita sekarang sering justru kelebihan informasi. Berita, video, komentar, meme, potongan pidato, notifikasi, hasil pencarian, sampai jawaban dari kecerdasan buatan datang hampir tanpa jeda. Semua meminta perhatian, kadang hanya beberapa detik.
Perkembangan AI menambah persoalan baru. Yisroel Mirsky dan Wenke Lee (2020), dalam survei mereka tentang deepfake, menunjukkan bahwa teknologi generatif berkembang sampai batas ketika membedakan yang asli dan yang palsu semakin sulit. Teknologi semacam ini dapat digunakan untuk menyebarkan misinformasi dan meniru figur publik secara meyakinkan.
Banyak informasi belum tentu membuat kita melihat lebih jelas.
Saat Algoritma Mampu Membaca Kebiasaan Kita
Ada persoalan lain. Layar tidak lagi sepenuhnya netral terhadap siapa yang memegangnya.
Eli Pariser (2011) memopulerkan istilah filter bubble. Personalisasi internet dapat membuat seseorang semakin sering menerima informasi yang dekat dengan minat dan kebiasaannya. Apa yang kita klik, tonton, sukai, atau bagikan membantu sistem mengenali kecenderungan pengguna.
Lama-lama, layar seperti mengenal selera kita.
Sebuah studi besar oleh Eytan Bakshy, Solomon Messing, dan Lada Adamic (2015) terhadap 10,1 juta pengguna Facebook di Amerika Serikat menemukan bahwa algoritma memang berpengaruh terhadap paparan informasi politik. Tetapi ada temuan yang menarik: pilihan pengguna sendiri ternyata berperan lebih besar dalam membatasi perjumpaan dengan pandangan yang berbeda.
Temuan itu perlu dibaca dengan catatan. Para penelitinya ketika itu berafiliasi dengan Facebook. Jadi penelitian tersebut pun tidak perlu diterima sebagai kata terakhir. Namun ada pelajaran yang cukup penting: algoritma bukan satu-satunya pihak yang menentukan sempit atau luasnya pandangan kita.
Manusia ikut memilih.
Cakrawala yang Makin Sempit
Masalah menjadi lebih rumit ketika kita terus berada di lingkungan yang pandangannya hampir sama.
Matteo Cinelli dan koleganya (2021) menunjukkan adanya kecenderungan terbentuknya kelompok pengguna sepemikiran yang saling memperkuat narasi bersama di sejumlah platform media sosial. Kondisi semacam inilah yang sering disebut echo chamber.
Kita mendengar suara yang sama berkali-kali. Pendapat sendiri makin masuk akal karena terus mendapat pembenaran. Suara dari luar jarang masuk, atau muncul hanya untuk ditertawakan dan diserang. Pelan-pelan, perbedaan biasa bisa berubah menjadi polarisasi.
Dalam konteks Indonesia, Komdigi pada Juli 2026 juga mengingatkan bahwa personalisasi algoritma dapat ikut membentuk persepsi publik serta memperkuat filter bubble dan echo chamber (Kementerian Komunikasi dan Digital, 2026). Pernyataan itu berguna sebagai salah satu gambaran, tetapi tetap merupakan pandangan resmi pemerintah. Ia perlu dibaca bersama penelitian, pengalaman masyarakat, media independen, dan sumber lain.
Ada dua kata dalam Sajak Musik Brubuh yang layak berhenti sebentar: “cakrawala hilang”.
Cakrawala adalah batas pandangan. Seseorang bisa membaca banyak berita, menonton banyak video, bahkan aktif berdebat, tetapi bahan yang masuk ke ruang pandangnya mungkin semakin seragam.
Terlalu gampang kalau semua kesalahan ditimpakan kepada algoritma. Pemerintah bisa membingkai kenyataan. Media juga. Oposisi, tokoh publik, perusahaan teknologi, kelompok politik, semuanya punya kepentingan dan sudut pandang.
Kita pun tidak bebas dari masalah itu.
Kita membawa prasangka, emosi, fanatisme, serta keinginan mencari pembenaran. Kadang kita marah bukan karena informasinya sudah diperiksa, tetapi karena informasi itu memang cocok dengan kemarahan yang sudah ada.
Sajak Ini Bukan Ramalan
Batasnya perlu dijaga. Sajak Musik Brubuh ditulis pada 1980. Ia tidak sedang membicarakan TikTok, deepfake, atau filter bubble. Membacanya sebagai ramalan teknologi malah akan mengecilkan sajak sekaligus melebih-lebihkan pengarangnya.
Yang menarik justru persoalan yang disentuh sajak itu sudah ada jauh sebelum teknologi digital seperti sekarang. Manusia dapat membalik kenyataan melalui bahasa. Sesuatu yang diulang berkali-kali bisa semakin mudah dipercaya. Kejernihan dapat hilang tanpa kita segera menyadarinya.
Teknologi tidak menciptakan semuanya dari nol. Algoritma membuat sebagian proses itu menjadi lebih cepat, lebih personal, dan kadang lebih sulit dikenali.
Ketika Merasa Paling Tahu
Lalu apa yang bisa dilakukan?
Jawabannya mungkin biasa saja. Periksa sumber. Baca melewati judul. Cari konteks. Bandingkan berita pemerintah dengan sumber lain. Kritik terhadap pemerintah juga perlu diperiksa. Tahan sebentar keinginan membagikan sesuatu yang membuat kita marah. Sesekali baca orang yang tidak kita setujui.
Dan yang mungkin paling sulit: beri kemungkinan bahwa pendapat kita sendiri bisa keliru.
Cak Nun pernah menulis:
“Tuhan aku berguru kepada-Mu
Meragukan setiap yang kutemu
Ketika aku tahu, terasa betapa tak tahu.”
(Nadjib, 2020)
Tiga baris itu membawa pembicaraan kembali kepada manusia. Pemerintah dapat keliru. Media dapat keliru. Algoritma dapat bias. Tokoh yang kita kagumi pun bisa salah. Kita sendiri juga tidak bebas dari prasangka.
Mungkin itu sebabnya mencari kebenaran membutuhkan lebih dari sekadar banyak informasi.
Kita juga perlu keberanian untuk memeriksa apa yang sudah telanjur kita anggap benar.
Daftar Pustaka
Bakshy, E., Messing, S., & Adamic, L. A. (2015). Exposure to ideologically diverse news and opinion on Facebook. Science, 348(6239), 1130–1132. Sumber
Cinelli, M., De Francisci Morales, G., Galeazzi, A., Quattrociocchi, W., & Starnini, M. (2021). The echo chamber effect on social media. Proceedings of the National Academy of Sciences, 118(9), e2023301118. Sumber
Entman, R. M. (1993). Framing: Toward clarification of a fractured paradigm. Journal of Communication, 43(4), 51–58. Sumber
Kementerian Komunikasi dan Digital. (2026, July 29). Wamenkomdigi: Algoritma media sosial membentuk persepsi, literasi digital jadi benteng hadapi disinformasi. Sumber
Mirsky, Y., & Lee, W. (2020). The creation and detection of deepfakes: A survey. ACM Computing Surveys, 54(1), Article 7, 1–41. Sumber
Nadjib, E. A. (2020, December 18). Revolusi Mental sekaligus Revolusi Akhlak. CakNun.com. Sumber
Nadjib, E. A. (2023, March 31). Sajak Musik Brubuh. CakNun.com. Sumber
Pariser, E. (2011). The filter bubble: What the Internet is hiding from you. Penguin Press. Sumber




