بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Jejak Charlie Chaplin:
Membaca Jawa dan Bali Tahun 1932
Oleh: Bagus Suminar
Pemerhati Sejarah Kolonial
Akhir Maret 1932. Charlie Chaplin melintasi Jawa dengan mobil dan kereta, sebelum melanjutkan perjalanan dengan kapal menuju Bali. Ia menemukan hotel-hotel modern, jalan antarkota, bioskop, radio, dan pelayaran yang telah menghubungkan Hindia Belanda dengan berbagai penjuru dunia. Perjalanan sang bintang film itu akhirnya bukan sekadar cerita tentang Chaplin. Jejaknya menjadi jendela kecil untuk melihat wajah Jawa dan Bali hampir satu abad lalu.
Chaplin ketika itu bukan aktor biasa. Film City Lights baru beredar setahun sebelumnya. Wajah berkumis, topi bundar, tongkat, dan cara jalannya sudah dikenal di banyak negara. Tanpa televisi, internet, apalagi media sosial, popularitasnya sudah menyeberangi benua.
Pada 28 Maret 1932 ia meninggalkan Singapura menuju Batavia dengan kapal Van Lansberge. Perjalanan Jawa dan Bali itu telah disiapkan melalui Thomas Cook and Son, biro perjalanan internasional yang saat itu sudah memiliki kantor di Singapura. Hindia Belanda rupanya bukan tempat yang sepenuhnya jauh dan sulit dijangkau. Ia sudah masuk dalam peta perjalanan wisata internasional.
Jawa yang Ternyata Sudah Modern
Membayangkan Jawa tahun 1932 sering membawa kita kepada gambar hitam-putih: jalan tanah, pedati, sawah, dan desa. Gambaran itu tidak salah. Tetapi tidak lengkap.
Chaplin menemukan sisi Jawa yang lain. Kota-kota besar telah dihubungkan oleh kereta api. Mobil bukan lagi barang yang sama sekali asing. Hotel melayani pelancong internasional. Bioskop memutar film dari berbagai negara. Surat kabar memberitakan selebritas. Di sejumlah kota, radio mulai menjadi bagian dari kehidupan baru masyarakat perkotaan.
Yogyakarta memberi salah satu jejak yang cukup jelas. Catatan masa itu menunjukkan Chaplin datang menggunakan kereta api bersama Sydney Chaplin dan seorang pembantunya. Ia menginap di Grand Hotel de Djokja, hotel besar yang saat itu memiliki sekitar 60 kamar. Dari sana, Chaplin sempat pergi ke Borobudur.
Kita bisa berhenti sebentar di sini.
Seorang bintang film dunia turun dari kereta, masuk hotel besar, kemudian bepergian ke Borobudur. Kendaraan tersedia. Hotel tersedia. Jalur wisata juga sudah terbentuk. Semua itu terjadi pada 1932.
Jalan raya antarkota tentu belum dapat dibayangkan seperti jalan nasional sekarang. Kualitasnya berbeda-beda, tetapi jalur utama sudah memungkinkan perjalanan jauh menggunakan mobil.
Itulah yang kemudian dilakukan Chaplin menuju Surabaya. Perjalanan Yogyakarta–Surabaya dengan mobil dilaporkan memakan waktu sekitar enam setengah jam. Untuk ukuran 1932, angka itu cukup menarik: perjalanan antarkota sejauh itu sudah dapat ditempuh dalam satu hari. Dengan mobil, Chaplin juga punya kesempatan melihat kehidupan di sepanjang jalan, bukan hanya pemandangan dari balik jendela kereta.
Tetapi kemajuan itu perlu dibaca dengan hati-hati. Mobil, hotel besar, perjalanan wisata, dan pelayanan kelas atas jelas bukan pengalaman sehari-hari sebagian besar penduduk Hindia Belanda. Di balik fasilitas yang terlihat maju, akses terhadapnya masih sangat berlapis.
Jawa ternyata sudah modern. Hanya saja, modernitasnya belum menjadi milik semua orang.
Surabaya, Pelabuhan Menuju Bali
Surabaya menjadi persinggahan penting sebelum Chaplin menyeberang ke Bali. Di kota ini ia menginap di Hotel Oranje, hotel yang sekarang dikenal sebagai Hotel Majapahit. Kedatangannya pada 1 April 1932 juga terekam dalam dokumentasi masa itu.
Chaplin tidak lama di Surabaya. Kota itu lebih berfungsi sebagai simpul perjalanan. Dari Jawa, ia harus berpindah ke kapal untuk menuju Bali.
Justru persinggahan singkat itu memberi petunjuk lain tentang zaman tersebut.
Surabaya pada 1932 sudah menjadi kota pelabuhan besar. Kereta, jalan raya, hotel, dan pelayaran bertemu di sana. Orang dapat datang dari wilayah lain di Jawa, bermalam, kemudian meneruskan perjalanan laut ke pulau berikutnya.
Chaplin melanjutkan perjalanan dengan kapal antarpulau yang menjadi bagian dari sistem pelayaran Hindia Belanda. Kapal semacam itu membawa penumpang sekaligus barang. Ada pembagian kelas, ruang makan, dan kabin. Bagi penumpang kelas atas, pelayaran dapat berlangsung cukup nyaman menurut ukuran zamannya.
Dalam lintasan yang tidak terlalu panjang, Chaplin sudah menggunakan tiga teknologi transportasi penting awal abad ke-20: kapal uap, kereta api, dan mobil.
Hari ini kita terbiasa berpindah moda. Turun pesawat, naik kereta bandara, memesan mobil lewat telepon genggam, lalu sampai di hotel. Tahun 1932 tentu berbeda jauh. Namun pola dasarnya sudah terlihat: moda transportasi saling bersambung, hotel menjadi titik transit, dan biro perjalanan mengatur perjalanan lintas negara.
Dari perjalanan singkat itu kita mulai melihat sesuatu yang lebih besar. Hindia Belanda sudah menjadi bagian dari arus mobilitas internasional.
Ketika Bali Membuat Chaplin Enggan Pergi
Kalau Jawa memperlihatkan kepada Chaplin sistem transportasi dan kehidupan kota yang makin maju, Bali meninggalkan kesan yang berbeda.
Di pulau ini ia tidak hanya menemukan tempat untuk dikunjungi. Ia tertarik pada kehidupan masyarakat, tari, musik, upacara, dan seni. Bali tampaknya memberinya sesuatu yang tidak ia temukan dalam kesibukan kota-kota sebelumnya.
Chaplin semula berencana meninggalkan Bali lebih cepat. Ia justru memperpanjang tinggalnya hingga pertengahan April. Secara keseluruhan, ia berada di pulau itu sekitar dua minggu. Pengalaman tersebut kemudian muncul kembali dalam catatan dan bahan-bahan yang berkaitan dengan perjalanannya ke Timur.
Salah satu perjumpaan pentingnya adalah dengan Walter Spies, seniman Jerman yang tinggal di Bali dan dekat dengan lingkungan seni setempat. Arsip Charlie Chaplin menyimpan bukti sederhana tetapi menarik. Pada 16 April 1932, tepat pada hari ulang tahunnya, Chaplin menulis cek sebesar 400 dolar kepada Spies, kemungkinan untuk pembelian dua lukisan.
Chaplin juga membawa kamera. Arsipnya masih menyimpan catatan tentang rekaman yang dibuatnya di Bali, termasuk bahan yang kemudian berhubungan dengan gagasan sebuah proyek film tentang pulau tersebut.
Yang menarik, Bali yang memikat Chaplin bukan terutama Bali dalam imajinasi pariwisata kita hari ini: pantai, resor, dan deretan kafe.
Ia tertarik pada manusia dan kebudayaannya.
Sampai di Bali, Chaplin tidak lagi sekadar melintas. Ia datang dari lingkungan film, mesin, kota, dan ketenaran global. Di Jawa ia bergerak melalui berbagai fasilitas modern. Di Bali, justru kehidupan lokal membuatnya bertahan lebih lama.
Di sinilah ceritanya menjadi sedikit rumit.
Jawa dan Bali pada 1932 sudah tersambung dengan arus global, tetapi kehidupan lokal tidak serta-merta hilang. Bioskop sudah menayangkan Chaplin, sementara gamelan tetap menjadi bagian dari keseharian. Mobil bergerak antarkota. Di banyak tempat lain, kehidupan desa tetap berjalan dengan ritmenya sendiri. Hotel besar menerima wisatawan internasional, sementara sebagian besar masyarakat hidup jauh dari kemewahan semacam itu.
Dan semua berlangsung di bawah pemerintahan kolonial.
Karena itu, kemajuan jalan, kereta, hotel, dan pelayaran tidak tepat dibaca sebagai nostalgia tentang betapa indahnya zaman kolonial. Infrastruktur memang berkembang. Kehidupan kota berubah. Tetapi masyarakat yang menikmati fasilitas tersebut berada dalam struktur sosial yang tidak setara.
Hampir satu abad kemudian, banyak hal telah berubah. Kereta semakin cepat, jalan semakin panjang, hotel semakin banyak, dan perjalanan menuju Indonesia jauh lebih mudah dibanding masa Chaplin.
Namun satu pertanyaan lama belum sepenuhnya pergi: ketika kemajuan datang, siapa yang benar-benar dapat menikmatinya? Di situlah soal keadilan menjadi penting. Kemajuan akan kehilangan makna bila hanya memperlebar jarak antara mereka yang mudah mengaksesnya dan mereka yang terus tertinggal.
Mungkin itu sebabnya perjalanan Chaplin masih menarik dibaca. Bukan hanya karena seorang bintang dunia pernah datang ke sini, tetapi karena jejaknya membantu kita melihat seperti apa negeri ini hampir satu abad lalu. Modernitas ternyata selalu membawa pekerjaan rumah yang sama: bagaimana membuat kemajuan tidak berhenti pada infrastruktur dan teknologi, tetapi juga hadir sebagai akses, kesempatan, dan manfaat yang lebih adil bagi sebanyak mungkin orang.




