Membaca Cak Nun dengan Jarak

Membaca Cak Nun dengan Jarak (10)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Membaca Cak Nun dengan Jarak

Menguji Sebuah Gagasan Lama dengan Indonesia Hari Ini

Artikel 10

Oleh: Bagus Suminar
Principal Consultant pada sdmindonesia.com

Bagaimana kalau Cak Nun kita baca tanpa buru-buru membenarkannya? Esai tentang Presiden menjadi bahan uji kali ini.

Kita sering terlalu berharap kepada pemimpin. Ketika negara sedang kusut, yang dicari adalah orang baik yang dianggap mampu membereskan semuanya. Seolah-olah nasib negara terutama ditentukan oleh siapa yang duduk di kursi paling atas. Cak Nun, dalam esainya Presiden pada 2012, juga menaruh harapan besar pada kualitas manusia yang memimpin. Di situlah saya ingin mulai membaca Cak Nun dengan sedikit jarak.

Dalam esai yang dimuat Harian Kompas pada 13 Oktober 2012 itu, Cak Nun membicarakan kualitas pemimpin nasional yang akan datang. Presiden baginya jangan hanya menjadi orang yang berhasil mendapatkan tiket politik. Indonesia terlalu besar untuk diserahkan kepada orang yang sekadar berhasil memenangkan perebutan kursi.

Saya kira sampai di sini tidak banyak yang perlu diperdebatkan.

Presiden yang Terlalu Kita Harapkan

Standar yang dipasang Cak Nun cukup tinggi. Presiden harus punya integritas moral, kemampuan berpikir, kompetensi, keberanian, keluasan hati, kesabaran, dan kesanggupan memahami rakyat. Ia juga dituntut berani mengambil risiko dan tidak menjadikan kekuasaan sebagai tempat mencari keuntungan pribadi (Nadjib, 2012).

Cak Nun rupanya tidak sedang mencari orang baik saja. Presiden juga harus tahu apa yang sedang dikerjakannya. Ia perlu mampu melihat masalah, mengambil keputusan, dan membawa bangsanya menuju keadaan yang lebih baik (Nadjib, 2012).

Itu tuntutan yang masuk akal. Kita tentu menginginkan Presiden yang jujur sekaligus pintar. Mencintai rakyat saja tidak cukup apabila salah membaca persoalan, salah memilih orang, atau salah mengambil keputusan. Niat baik pun bisa menghasilkan masalah ketika bertemu ketidakmampuan.

Di bagian ini saya melihat Cak Nun cukup jeli. Kekuasaan yang besar memang berbahaya bila berada di tangan orang yang tidak memahami apa yang sedang dikerjakannya. Lebih buruk lagi bila orang itu merasa selalu benar.

Kalau Leadernya Bermasalah

Ada ungkapan lama bahwa ikan mulai busuk dari kepalanya. Saya tidak ingin memeras perumpamaan itu terlalu jauh. Tetapi perilaku orang di puncak kekuasaan memang dapat memberi pengaruh ke banyak bagian di bawahnya.

Presiden memilih para menteri, memberi arah pemerintahan, dan menentukan banyak prioritas kebijakan. Cara ia memperlakukan aturan juga dapat menjadi contoh. Ketika penyimpangan di atas dianggap biasa, orang di bawah bisa menangkap pesan bahwa aturan ternyata masih bisa ditawar.

Pemimpin yang buruk bahkan dapat merusak sistem yang sebelumnya bekerja cukup baik.

Karena itu saya agak keberatan kalau persoalan kepemimpinan diselesaikan dengan kalimat, “Yang penting sistemnya bagus.” Sistem tetap dijalankan manusia. Orang yang mempunyai kekuasaan besar juga mempunyai peluang besar untuk memperbaiki, membiarkan, atau merusaknya.

Presiden yang jujur tetapi tidak kompeten bisa membuat keputusan buruk. Presiden yang kompeten tetapi tidak bermoral mungkin lebih berbahaya lagi karena ia tahu cara menggunakan kekuasaan secara efektif. Sampai di sini, saya belum menemukan alasan yang cukup untuk membantah Cak Nun.

Negara Tidak Bisa Bergantung pada Satu Orang

Masalah berikutnya baru muncul ketika standar tadi dibawa lebih jauh. Apakah negara harus berharap setiap beberapa tahun sekali mendapatkan orang dengan kualitas setinggi itu? Bagaimana kalau orang seperti itu tidak datang?

Max Weber membantu melihat masalah tersebut dari sisi pemerintahan modern. Dalam pembahasannya mengenai otoritas rasional-legal dan birokrasi, Weber menekankan jabatan, aturan, kewenangan yang jelas, kompetensi, dan prosedur. Pemerintahan tidak seharusnya bergantung terus-menerus pada keistimewaan pribadi seseorang (Weber, 1978).

Presiden datang dan pergi. Menteri berganti. Kepala lembaga pun berganti. Sementara birokrasi, pelayanan publik, aturan, dan berbagai urusan warga tetap harus berjalan.

Kalau semua urusan hanya berjalan baik ketika kebetulan orang di atasnya baik, mungkin yang sehat memang orangnya, belum tentu negaranya.

North melihat persoalan itu dari sisi aturan main. Menurut North (1990), institusi membentuk batas dan pola interaksi manusia. Dalam negara, aturan semacam ini penting karena kekuasaan tidak boleh sepenuhnya mengikuti kemauan orang yang sedang memegang jabatan.

Hukum, pengawasan, birokrasi profesional, transparansi, dan pembagian kewenangan diperlukan justru karena Presiden juga manusia. Ia bisa salah membaca keadaan, salah memilih pembantu, atau terlalu percaya kepada orang terdekat. Sistem tidak dibuat karena semua pemimpin dianggap jahat. Kita hanya perlu menerima kenyataan bahwa manusia punya keterbatasan.

Hubungan pemimpin dengan sistem karena itu tidak sesederhana memilih salah satu. Pemimpin bisa menguatkan institusi, tetapi ia juga bisa merusaknya. Sistem yang sehat setidaknya memberi batas ketika orang di atas mengambil keputusan yang keliru.

Cak Nun Ternyata Tidak Mudah Dibantah

Pada awal membaca Presiden, saya sempat tergoda mengambil kesimpulan: mungkin Cak Nun terlalu menaruh harapan pada kualitas pribadi pemimpin. Setelah saya baca lagi, kesimpulan itu terasa kurang fair.

Cak Nun tidak hanya meminta Presiden bermoral. Ia juga bicara tentang kemampuan, pengetahuan, profesionalitas, keberanian mengambil keputusan, dan kesiapan menghadapi persoalan yang belum diketahui. Jadi persoalannya memang lebih rumit daripada sekadar memilih antara orang baik atau sistem yang baik.

Weber dan North tidak perlu dipasang untuk mengalahkan Cak Nun. Mereka justru membantu melanjutkan pertanyaannya. Cak Nun banyak berbicara tentang manusia seperti apa yang pantas memimpin Indonesia, sementara Weber dan North membantu kita melihat bagaimana negara tetap bekerja ketika manusia seideal itu tidak datang.

Setelah diuji, gagasan Cak Nun tentang kualitas pemimpin ternyata masih cukup kuat. Yang perlu ditambahkan adalah sisi institusionalnya. Pemimpin yang baik membutuhkan sistem yang mendukungnya, sementara sistem juga perlu cukup kuat menghadapi pemimpin yang buruk atau sekadar tidak cakap.

Saya justru menemukan sesuatu yang semula tidak saya duga. Membaca dengan jarak tidak selalu berakhir dengan menemukan kesalahan orang yang sedang kita baca. Bisa juga setelah diuji kita tetap setuju, hanya dengan alasan yang lebih matang.

Membaca dengan Sedikit Jarak

Bab ini sejak awal memang saya niatkan agak berbeda. Dalam banyak tulisan Cak Nun, mudah menemukan gagasan yang terasa dekat dengan keadaan Indonesia sekarang. Dari situ muncul godaan untuk berkali-kali mengatakan bahwa Cak Nun ternyata sudah memikirkan persoalan itu sejak lama.

Kalau semua tulisan berakhir dengan kesimpulan bahwa Cak Nun benar, saya kira yang perlu diperiksa bukan lagi Cak Nun. Bisa jadi cara kita membacanya yang perlu ditanya.

Membaca dengan jarak berarti memberi kesempatan kepada pikiran kita sendiri untuk bekerja.

Jarak tidak harus berarti menjauh. Kita masih bisa menyukai seorang pemikir, menghormatinya, dan belajar banyak darinya. Tetapi gagasannya tetap boleh ditanya. Konteksnya boleh diperiksa, dan kesimpulannya boleh dibandingkan dengan keadaan yang datang sesudahnya.

Menariknya, Cak Nun sendiri pernah menulis satu larik dalam Tuhan Aku Berguru Kepada-Mu: “Meragukan setiap yang kutemu” (Nadjib, 2020). Dalam tulisan lain, ia menyebut sikap tersebut sebagai bagian dari proses belajar dan meningkatkan diri. Saya merasa larik itu justru cocok dipakai ketika membaca Cak Nun sendiri.

Setelah membaca kembali Presiden, saya tidak menemukan alasan kuat untuk mengatakan bahwa gagasan Cak Nun tentang kualitas pemimpin keliru. Saya menemukan sesuatu yang lebih masuk akal: gagasan itu tetap penting, tetapi perlu bertemu dengan kesadaran tentang institusi. Pemimpin yang baik membutuhkan sistem yang kuat, dan sistem yang kuat tetap membutuhkan manusia yang mau menjaganya.

Hasil membaca dengan jarak rupanya tidak harus berupa penolakan. Setelah diuji, kita boleh tetap setuju. Pada bagian lain mungkin kita berbeda, atau merasa suatu gagasan belum cukup. Tidak ada masalah dengan itu.

Cak Nun pernah menulis, “Meragukan setiap yang kutemu” (Nadjib, 2020). Barangkali kalimat pendek itu cukup menjadi pengingat agar gagasan Cak Nun pun tidak kita letakkan di tempat yang terlalu tinggi untuk disentuh pertanyaan.

Penghormatan terbaik kepada sebuah pemikiran bukan terus menganggukkan kepala, tetapi tetap berani memakai kepala sendiri.


Daftar Pustaka

Nadjib, E. A. (2012, October 13). Presiden. CakNun.com.

Nadjib, E. A. (2020, December 18). Revolusi mental sekaligus revolusi akhlak. CakNun.com.

North, D. C. (1990). Institutions, institutional change and economic performance. Cambridge University Press.

Weber, M. (1978). Economy and society: An outline of interpretive sociology (G. Roth & C. Wittich, Eds.). University of California Press.

Scroll to Top