Menelisik Gaya Belajar Cak Nun

Menelisik Gaya Belajar Cak Nun (1)

Menelisik Gaya Belajar Cak Nun

Budayawan yang Terlatih Membaca Pola Kehidupan

Artikel 1

Oleh Bagus Suminar
Aktivis ICMI Jawa Timur, Principal Consultant pada mutupendidikan.com

“Cak Nun menempuh jalan belajar yang tidak biasa. Sekolah, sastra, perjalanan, dan kehidupan sosial memberi banyak bahan untuk berpikir.”

Gaya belajar Cak Nun tidak mudah dijelaskan hanya dari riwayat sekolahnya. Ia pernah belajar di Gontor, kemudian menamatkan SMA di Yogyakarta, dan sempat kuliah di UGM. Tetapi perjalanan intelektualnya justru berkembang jauh di luar ruang kelas: dari rumah, sastra, Malioboro, pergaulan dengan seniman, perjalanan ke luar negeri, hingga percakapan panjang dengan masyarakat. Dari pengalaman yang begitu beragam itu muncul pertanyaan yang lebih menarik: bagaimana Cak Nun belajar menghubungkan berbagai kejadian, lalu membaca pola kehidupan di baliknya? (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, n.d.).

Jawabannya mungkin tidak ada di satu tempat.

Kita bisa mulai dari Menturo, Jombang. Di sana Emha Ainun Nadjib kecil sudah berhadapan dengan pelajaran yang sangat nyata. Ketika mengambil krai milik orang, ibunya tidak cukup memarahinya di rumah. Emha dibawa menemui pemiliknya, diminta mengakui kesalahan dan meminta maaf. Pada kesempatan lain, sang ibu mengajaknya melihat kehidupan tetangga yang kesulitan, sampai urusan makanan dan sekolah anak-anak mereka (Agustian, 2019; Nadjib, 2017a).

Anak kecil itu belum belajar teori sosial.

Ia sedang belajar melihat manusia.

Sastra Mengajari Rasa

Sesudah sekolah dasar, Cak Nun masuk Pondok Modern Darussalam Gontor. Pendidikan di sana tidak selesai. Ia kemudian melanjutkan sekolah di Yogyakarta, mulai serius dengan sastra, lalu sempat masuk Fakultas Ekonomi UGM. Kuliahnya juga tidak lama (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, n.d.).

Lalu ada Malioboro.

Pada awal 1970-an, Cak Nun bergabung dengan Persada Studi Klub yang diasuh Umbu Landu Paranggi. Ada puisi, diskusi, kritik, jalan kaki, dan malam-malam panjang bersama lingkungan seniman Yogyakarta. Bertahun-tahun kemudian Cak Nun menyebut dirinya “jebolan Universitas Malioboro”. Dari Umbu, katanya, ia akhirnya memahami bahwa yang sedang dipelajari tidak berhenti pada cara menulis puisi. Ada sesuatu yang ia sebut sebagai “kehidupan puisi” (Nadjib, 2012).

Barangkali di sana sastra punya pengaruh yang lebih jauh.

Puisi membuat orang akrab dengan hal-hal yang tidak selalu bisa dijelaskan secara lurus. Ada ironi, kegelisahan, luka, kegembiraan, juga suasana yang kadang lebih mudah dirasakan daripada diterangkan. Lama-lama seseorang belajar bahwa manusia tidak selalu dapat dibaca hanya dari kata yang terucap.

Kepekaan semacam itu tampaknya ikut tumbuh dalam perjalanan Cak Nun.

Pengalaman bersama Umbu dapat dibaca melalui Experiential Learning David A. Kolb (1984). Bagi Kolb, pengalaman memang penting dalam proses belajar, tetapi seseorang tetap perlu melihat kembali apa yang dialaminya, merenungkannya, lalu membawa hasil belajar itu ke situasi berikutnya (Kolb, 1984).

Malioboro memberi bahan yang nyaris tidak habis.

Dunia Memberi Pembanding

Ruang belajar Cak Nun kemudian makin jauh. Ada lokakarya teater di Filipina pada 1980. Ada International Writing Program di University of Iowa pada 1984, Festival Penyair Internasional di Rotterdam pada tahun yang sama, lalu Festival Horizonte III di Berlin Barat pada 1985 (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, n.d.).

Daftar negara itu sebenarnya bukan bagian terpenting.

Perjalanan membuat seseorang punya pembanding. Sesuatu yang terlihat wajar di kampung sendiri bisa tampak berbeda setelah melihat masyarakat lain. Sebaliknya, ada pula persoalan yang ternyata muncul lagi di tempat jauh, hanya bentuknya yang berubah.

Pergaulan Cak Nun terus melebar. Di lingkungan sastra ia berjumpa dan bersahabat dengan nama-nama seperti Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, dan Taufiq Ismail. Dalam perjalanan kebangsaan, ia juga berinteraksi dengan Nurcholish Madjid dan Gus Dur. Di luar nama-nama besar itu, ruang pergaulannya tetap luas: mahasiswa, santri, tokoh agama, pejabat, masyarakat desa dan kota. Pada 2019, sebuah laporan CakNun.com bahkan menyebut salah satu pertemuan saat itu sebagai Sinau Bareng ke-4084 (Fadil, 2019).

Jumlah forum tentu bukan ukuran kebijaksanaan. Tetapi ribuan percakapan menyediakan banyak sekali bahan untuk mengenali manusia.

Ada cerita yang serupa. Ada watak yang berulang. Ada persoalan lama yang datang kembali dengan nama baru.

Tirakat dan Waktu untuk Mengendapkan

Dalam perjalanan Cak Nun juga ada tirakat.

Ia pernah mengenang masa pesantren pada 1965 sebagai salah satu “puncak tirakat”-nya. Catatan mengenai proses belajarnya bersama Umbu juga menyebut tradisi tirakat sejak kecil serta pengalaman Gontor sebagai bagian dari latihan keras terhadap diri sendiri (Nadjib, 2017b; Pratama, 2019).

Hubungannya dengan cara berpikir tentu tidak perlu dibesar-besarkan. Tirakat bukan jalan pintas untuk mengetahui sesuatu yang belum terjadi.

Yang mungkin lebih penting justru kebiasaan menahan diri.

Tidak semua dorongan harus langsung diikuti. Sebuah kejadian pun kadang perlu dibiarkan beberapa saat sebelum diberi kesimpulan. Ada waktu untuk memeriksa kembali, termasuk memeriksa diri sendiri. Dari sana, pengalaman yang tadinya berdiri sendiri bisa mendapat arti yang berbeda.

Intuisi yang Punya Riwayat

Pembicaraan tentang intuisi sering cepat dibawa ke wilayah misteri. Padahal dalam psikologi pengambilan keputusan, intuisi juga bisa tumbuh dari pengalaman yang panjang.

Gary Klein (1998) menemukan bahwa orang-orang yang sudah lama bergelut dengan situasi tertentu sering mampu mengenali keadaan dengan cepat. Mereka tidak selalu menghitung semua kemungkinan dari awal. Dalam Recognition-Primed Decision, pengalaman sebelumnya memberi semacam perpustakaan pola yang dapat dikenali ketika keadaan serupa muncul lagi (Klein, 1998).

Klein tentu tidak sedang meneliti Cak Nun.

Namun gagasannya membantu kita melihat intuisi dari sudut yang lebih masuk akal. Puluhan tahun berjumpa dengan berbagai manusia, membaca sejarah, hidup dalam sastra, mengikuti perubahan politik, agama, budaya, dan teknologi tentu meninggalkan jejak di dalam ingatan.

Ketika suatu gejala muncul, kadang seseorang merasa sudah pernah melihat bentuk dasarnya.

Tidak persis sama. Tapi cukup familier untuk membuatnya waspada.

Dari “Ramalan” ke Membaca Kecenderungan

Pada Juni 2025, sebuah rekaman lama Cak Nun kembali ramai. Dalam forum di Klaten pada 2012, ia pernah mengatakan bahwa Iran suatu hari akan diserang Israel dan Amerika Serikat (Rohman, 2025).

Tiga belas tahun kemudian, pada Juni 2025, Israel melancarkan serangan besar terhadap Iran dan Amerika Serikat kemudian ikut menyerang fasilitas nuklirnya. Konflik itu ternyata belum berhenti di sana. Pada 28 Februari 2026, Israel kembali menyerang Iran dalam eskalasi baru yang jauh lebih luas.

Suko Widodo, akademisi Universitas Airlangga yang mengenal Cak Nun, mengaitkan ucapan lama itu dengan keluasan pengetahuan geopolitik serta jaringan informasinya, bukan sesuatu yang mistis (Rohman, 2025).

Contoh ini juga jangan dibaca terlalu jauh.

Tidak semua bagian perkiraan tahun 2012 itu kemudian terjadi persis. Mencocok-cocokkan ucapan lama dengan peristiwa yang datang belakangan juga mudah membuat kita melihat sesuatu lebih tepat daripada keadaan sebenarnya.

Yang bisa dicatat, Cak Nun sudah mencoba membaca arah dari tanda-tanda yang saat itu tersedia.

Hal serupa tampak ketika Cak Nun menulis soal teknologi pada Mei 2016. Ia membicarakan Revolusi Industri Keempat, digital technology, hubungan information technology dengan operational technology, otomasi, serta perubahan sosial yang menyertainya. Kalimatnya cukup tegas: “Ini sudah dan sedang berlangsung” (Nadjib, 2016).

Saat itu Revolusi Industri 4.0 memang sudah menjadi pembicaraan dunia. Jadi tak ada alasan menyebutnya ramalan.

Yang terlihat justru kebiasaan Cak Nun membawa soal teknologi kembali kepada manusia. Apa yang berubah pada cara hidup? Bagaimana hubungan sosial ikut bergeser? Apa yang terjadi ketika teknologi memasuki ruang yang sebelumnya sepenuhnya dijalankan manusia?

Kebiasaan menghubungkan hal-hal semacam ini mengingatkan pada konsep Sensemaking Karl E. Weick (1995). Dalam situasi yang rumit, menurut Weick, manusia menangkap petunjuk tertentu dan mencoba memahami kaitannya dengan apa yang sedang terjadi (Weick, 1995).

Bahan Cak Nun untuk melakukan itu datang dari banyak tempat. Ada puisi dan sejarah, perjalanan, perjumpaan dengan masyarakat, sampai obrolan yang sepintas mungkin biasa saja.

Kadang satu kejadian membuatnya teringat pada kejadian lain.

Tidak selalu berkaitan. Tetapi sesekali hubungan itu mulai kelihatan.

Tetap Sinau

Sekarang persoalan belajar mulai berbeda. Informasi sudah sangat mudah diperoleh, bahkan dalam beberapa detik. Anak-anak bisa mengetahui banyak hal lebih cepat daripada generasi sebelumnya. Persoalannya kemudian bergeser: apakah mereka mampu memahami apa yang dibacanya, melihat hubungan, dan menilai mana yang sungguh penting?

Arah ini terasa dekat dengan gagasan Pembelajaran Mendalam (deep learning) yang belakangan didorong Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti. Belajar tidak cukup berhenti pada hafalan atau banyaknya materi yang dikuasai. Murid perlu memahami konsep, melihat hubungan, lalu membawa pengetahuan itu ke kehidupan nyata (Kemendikdasmen, 2025).

Mengapa sesuatu terjadi? Apa yang berubah? Apa yang berulang? Apakah dua kejadian yang tampaknya jauh sebenarnya mempunyai persoalan yang serupa?

Belajar karena itu tidak cukup diukur dari seberapa banyak yang sudah diketahui. Ada pengalaman, percakapan, kegagalan, seni, bahkan waktu untuk diam yang kadang membuat seseorang memahami sesuatu dengan cara berbeda.

Cak Nun sendiri, setelah perjalanan yang panjang itu, justru memakai istilah Sinau Bareng.

Belajar bersama.

Dalam sebuah forum ia menjelaskan bahwa tidak ada orang yang dapat mempelajari semua hal. Ada yang kita ketahui sementara orang lain tidak tahu. Ada pula yang dipahami orang lain sementara kita belum sampai ke sana (Fadil, 2019).

Barangkali itulah sebabnya kata sinau tetap penting, bahkan setelah seseorang sudah mengetahui banyak hal.

Al-Qur’an pun berulang kali membawa pembacanya kepada kisah manusia: Fir’aun, Qarun, kaum munafik, para nabi, dan umat terdahulu. Zaman mereka telah berlalu, tetapi kesombongan, ketamakan, keberanian, pengkhianatan, ketakutan, dan kekuasaan terus muncul dalam bentuk baru. Dari sana orang mengambil ‘ibrah.

Mengenali sesuatu yang pernah berulang tetap tidak membuat manusia tahu semuanya.

Surah Yusuf ayat 76 mengingatkan: “Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan ada yang lebih mengetahui.”

Cak Nun barangkali memberi contoh bahwa kehidupan bisa menjadi ruang belajar yang sangat luas. Tetapi ada satu sikap yang tetap perlu dijaga: jangan terlalu cepat merasa sudah sampai.


Catatan: Tulisan ini merupakan pembacaan penulis berdasarkan sumber terbuka, karya Cak Nun, pemberitaan, dan literatur akademik. Penulis tidak melakukan wawancara langsung dengan Emha Ainun Nadjib.


Daftar Pustaka

Agustian, F. (2019, May 29). Sinau mendidik anak dari Ibu Via. CakNun.com. Sumber

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (n.d.). Emha Ainun Nadjib. Ensiklopedia Sastra Indonesia, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Sumber

Cornwell, A., Hafezi, P., & Holland, S. (2025, June 13). Iran strikes back at Israel with missiles over Jerusalem, Tel Aviv. Reuters. Sumber

Fadil, M. Z. (2019, July 29). Sinau bersyukur dan presisi karena tiada manusia tahu segalanya. CakNun.com. Sumber

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2025, February 17). Mendikdasmen tekankan peran deep learning dalam meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Kemendikdasmen

Klein, G. (1998). Sources of power: How people make decisions. MIT Press.

Kolb, D. A. (1984). Experiential learning: Experience as the source of learning and development. Prentice-Hall.

Nadjib, E. A. (2012, December 17). Presiden Malioboro. CakNun.com. Sumber

Nadjib, E. A. (2016, May 21). Bainal IT wal OT. CakNun.com. Sumber

Nadjib, E. A. (2017a, September 19). Mempermalukan koruptor. CakNun.com. Sumber

Nadjib, E. A. (2017b, December 22). Surga di ikhlasmu, Bu. CakNun.com. Sumber

Pratama, R. K. (2019, March 20). Maiyah sebagai pendidikan alternatif sosial-kemasyarakatan (2). CakNun.com. Sumber

Rohman, A. (2025, June 26). Sederet fakta ramalan Cak Nun soal perang Iran-Israel jadi kenyataan. detikJatim. Sumber

U.S. Department of Defense. (2025, June 22). Secretary of Defense Pete Hegseth and Chairman of the Joint Chiefs of Staff General Dan Caine hold a press conference [Transcript]. Sumber

Weick, K. E. (1995). Sensemaking in organizations. SAGE Publications.


Scroll to Top