بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Menjilat ke Atas, Menginjak ke Bawah
Membaca Kritik Cak Nun tentang Hierarki, Kuasa, dan Perilaku Sosial
Artikel 7
Oleh: Bagus Suminar
Principal Consultant pada sdmindonesia.com
Lucu juga. Saat di bawah kita ingin diperlakukan adil. Begitu naik, belum tentu kita ingat bagaimana rasanya menjadi orang bawah.
Pada 21 Oktober 2000, Harian Pikiran Rakyat memuat tulisan Cak Nun berjudul Perampok dan Pengemis. Cak Nun membuka dengan kalimat yang tajam: ketika posisi lemah kita mengemis, ketika posisi kuat kita merampok. Ia lalu berbicara tentang kebiasaan melihat manusia berdasarkan posisi: siapa di atas, siapa di bawah, siapa dihormati, dan siapa boleh diremehkan (Nadjib, 2000/2019).
Cak Nun memakai pasangan kata yang sampai hari ini masih terasa menyengat: “menjilat atau menginjak, merampok atau mengemis” (Nadjib, 2000/2019).
Pembicaraan Cak Nun bukan soal pengemis dan perampok dalam arti sebenarnya. Ia menyoroti bagaimana sikap seseorang bisa berubah ketika berhadapan dengan orang yang lebih berkuasa, atau sebaliknya ketika dirinya sendiri memiliki kekuasaan.
Hidup dalam Susunan Atas–Bawah
Cak Nun mengatakan kita tidak terbiasa memandang manusia secara egaliter, yaitu melihat setiap orang memiliki derajat yang setara sebagai manusia. Orang lebih mudah melihat siapa yang berada di atas dan siapa yang berada di bawah.
Pemandangan seperti ini sering dijumpai. Di kantor, seseorang bisa sangat lembut ketika berbicara dengan pimpinan, tetapi berubah jahat ketika menghadapi stafnya. Orang yang berani berbeda pendapat atau bersikap asertif juga kadang dianggap tidak tahu diri. Yang yes man dan rajin mengangguk justru terasa lebih aman.
Tentu menghormati orang tua, senior, kiai, guru, atau pemimpin bukan masalah. Hormat adalah sesuatu yang baik.
Masalah mulai muncul ketika rasa hormat berubah menjadi takut. Orang sungkan mengatakan yang sebenarnya karena lawan bicaranya lebih senior, lebih kaya, punya jabatan, atau dekat dengan orang penting.
Dalam kebudayaan Jawa dikenal ewuh pakewuh. Sikap ini bisa menjaga hubungan tetap harmonis, tetapi dalam keadaan tertentu juga membuat orang enggan menyampaikan pendapat. Rahmawati dan kolega (2026) menemukan tiga dimensi penting dalam ewuh pakewuh: ekspresi diri, komunikasi sosial tidak langsung, dan konformitas terhadap hierarki.
Temuan itu tentu tidak bisa dipakai untuk menggambarkan semua orang Jawa, apalagi seluruh Indonesia. Tetapi ia membantu menjelaskan mengapa rasa sungkan dapat muncul dalam hubungan yang tidak setara.
Ketika Menjilat Jadi Jalan Naik
Kata penjilat bukan istilah asing ketika orang membicarakan kekuasaan. Biasanya ditujukan kepada orang yang suka memuji, terlalu membela, atau terlalu dekat dengan mereka yang berada di atas.
Mengkritik para penjilat tentu mudah. Pertanyaan yang lebih sulit: mengapa orang akhirnya memilih untuk menjadi penjilat? Bisa jadi itu terjadi pada kita bila ada kesempatan yang sama.
Kalau jabatan ditentukan oleh kompetensi dan meritokrasi, orang punya alasan untuk memperbaiki kompetensinya. Kalau keberanian menyampaikan fakta dihargai, orang juga lebih berani berkata apa adanya.
Tetapi keadaannya bisa berbeda jika promosi, proyek, akses, atau perlindungan lebih mudah diperoleh melalui kedekatan dan loyalitas personal. Lama-lama, orang beradaptasi dan belajar dari sistem yang dihadapinya.
Ward Berenschot (2018), dalam penelitian tentang politik dan birokrasi lokal terutama di Lampung Utara, menunjukkan bahwa hubungan klientelistik dan patronase dapat ikut menentukan dinamika birokrasi daerah. Loyalitas kepada orang yang berkuasa bisa berpengaruh dalam pengisian jabatan struktural maupun akses terhadap sumber daya.
Artinya, kedekatan dengan “orang kuat” kadang memang memberi keuntungan. Karena itu perilaku menjilat dan mencari muka tidak selalu cukup diterangkan sebagai kelemahan karakter pribadi.
Jim Sidanius dan Felicia Pratto melihat persoalan hierarki dari sisi yang lebih luas. Dalam Social Dominance: An Intergroup Theory of Social Hierarchy and Oppression (1999), mereka menjelaskan bahwa susunan kelompok atas dan bawah bisa bertahan lama dalam kehidupan sosial.
Hierarki itu tidak berdiri sendiri. Kekuasaan, kebiasaan, cara berpikir, dan lembaga dapat ikut membuat perbedaan posisi tersebut dianggap normal dan diterima begitu saja.
Sidanius dan Pratto tentu tidak khusus membahas “penjilat” di Indonesia. Tidak setiap hubungan atasan dan bawahan juga dapat dijelaskan dengan teori ini.
Namun ada bagian yang dekat dengan kritik Cak Nun: ketika perbedaan posisi terus diterima sebagai sesuatu yang wajar, cara memperlakukan orang pun mudah mengikuti posisinya.
Yang punya kuasa semakin penting. Yang dekat dengan kuasa ikut menikmati kedekatan itu.
Setelah Duduk di Atas
Ada bagian lain dari Perampok dan Pengemis yang lebih menarik untuk kita kaji. Cak Nun tidak menempatkan orang atas jelek dan orang bawah selalu baik. Ia justru menunjukkan bahwa perilaku seseorang bisa berubah ketika posisi dan kekuasaannya ikut berubah.
Sejak awal Cak Nun sudah menulis: ketika lemah mengemis, ketika kuat merampok. Jadi posisi atas dan bawah bisa bermasalah semua. Orang yang hari ini merasa menjadi korban, belum tentu besok tidak melakukan hal yang sama ketika sudah memegang kuasa.
Seseorang bisa pernah menjadi bawahan yang mengeluh karena diperlakukan kasar. Setelah memperoleh jabatan, belum tentu ia tetap ingat pengalaman itu. Ia bisa saja memperlakukan bawahannya dengan kasar pula.
Dacher Keltner, Deborah Gruenfeld, dan Cameron Anderson (2003) menjelaskan hal ini melalui approach-inhibition theory of power. Orang yang mempunyai kekuasaan yang besar biasanya memiliki ruang bertindak yang besar pula. Sebaliknya, orang dengan kekuasaan kecil menghadapi lebih banyak risiko dan kemungkinan menerima akibat dari tindakannya.
Bahasa gampangnya, orang yang posisinya lemah lebih banyak menghitung risiko.
Mau bicara pikir-pikir dulu. Mau menolak, lihat situasi dulu. Mau berbeda pendapat juga melihat siapa yang sedang dihadapi.
Ketika kekuasaan bertambah, sebagian kehati-hatian itu bisa berkurang. Orang lebih leluasa bertindak dan tidak terlalu bergantung pada penilaian pihak lain.
Keltner dan koleganya tentu tidak mengatakan bahwa orang berkuasa pasti menjadi jahat atau menjadi “perampok”. Cak Nun menggunakan bahasa satire. Teori psikologi membantu menjelaskan bahwa perubahan posisi kekuasaan memang dapat ikut memengaruhi perilaku.
Perilaku seperti ini masih mudah kita jumpai sampai sekarang. Orang yang dulu mengeluh ketika diperlakukan buruk, bisa melakukan hal yang sama setelah mendapat jabatan atau kekuasaan.
Karena itu, mengganti orang belum tentu otomatis mengubah keadaan. Yang dulu berada di bawah bisa saja mengulang perilaku yang sama ketika sudah berada di atas.
Belajar Memperlakukan Orang Setara
Menjilat ke atas dan menginjak ke bawah sulit dilihat hanya sebagai masalah moral pribadi. Nasihat supaya orang tidak mencari muka tentu penting. Tetapi lingkungan tempat seseorang bekerja atau berorganisasi juga ikut membentuk perilaku.
Kalau kepatuhan sering mendapat hadiah dan penghargaan, sementara berbeda pendapat justru membawa masalah, orang lama-lama akan memilih cara yang dianggap paling aman.
Pemimpin juga punya tanggung jawab besar. Ia membutuhkan orang yang berani mengatakan bahwa keputusan bisa keliru. Kalau semua orang di sekelilingnya selalu setuju, suasananya mungkin terasa nyaman. Tetapi belum tentu informasi yang diterimanya benar.
Di bagian akhir Perampok dan Pengemis, Cak Nun menulis bahwa banyak pengemis di jalan sebenarnya adalah perampok, sementara banyak perampok di gedung-gedung terhormat sebenarnya adalah pengemis (Nadjib, 2000/2019).
Pesannya sederhana. Kita jangan mudah menilai seseorang hanya dari pakaian, gelar, jabatan, atau tempat ia bekerja. Yang perlu dilihat adalah perilakunya terhadap orang lain.
Dalam Kenduri Cinta pada September 2011, Cak Nun mengatakan: “Bagi kita, nggak ada yang tinggi selain Allah. Di atas kita hanya Allah, di bawah kita hanya Bumi” (Redaksi, 2011).
Kalimat itu mengingatkan bahwa jabatan tidak membuat seseorang lebih tinggi sebagai manusia. Begitu juga orang yang tidak punya jabatan tidak otomatis lebih rendah.
Kita tetap sesama manusia.
Tidak perlu dijilat. Tidak perlu pula diinjak.
Daftar Pustaka
Berenschot, W. (2018). Incumbent bureaucrats: Why elections undermine civil service reform in Indonesia. Public Administration and Development, 38(4), 135–143. https://doi.org/10.1002/pad.1838
Keltner, D., Gruenfeld, D. H., & Anderson, C. (2003). Power, approach, and inhibition. Psychological Review, 110(2), 265–284. https://doi.org/10.1037/0033-295X.110.2.265
Nadjib, E. A. (2019, January 10). Perampok dan pengemis. CakNun.com. Karya asli dimuat di Harian Pikiran Rakyat, Bandung, 21 Oktober 2000. https://www.caknun.com/2019/perampok-dan-pengemis/
Rahmawati, W. W., Ruhaena, L., Roby, M., & Kholila, A. (2026). Development of an ewuh pakewuh scale instrument based on Javanese cultural values. Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi, 14(1), 212–218. https://doi.org/10.30872/psikoborneo.v14i1.23114
Redaksi. (2011, September 20). Indonesia… Maafkan aku. Kamu di mana? CakNun.com. https://www.caknun.com/2011/indonesia-maafkan-aku-kamu-di-mana/
Sidanius, J., & Pratto, F. (1999). Social dominance: An intergroup theory of social hierarchy and oppression. Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/CBO9781139175043




