Mengapa Tiyo Ardianto Terasa Langka

Mengapa Tiyo Ardianto Terasa Langka?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Mengapa Tiyo Ardianto Terasa Langka?

Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Task Force Persyada Al Haromain, Dosen, Mentor Soft Skills

“Di balik kritik Tiyo yang tajam, ada pertanyaan besar: mengapa pendidikan kita jarang melahirkan anak muda seberani itu?”

Masyarakat terkejut ketika Tiyo Ardianto menyampaikan kritiknya secara terbuka terhadap sejumlah isu sensitif yang dalam berbagai potongan dan pemberitaan dikaitkan dengan Gibran dan Putusan MK 90, pengangkatan Teddy Indra Wijaya, hingga tata kelola MBG/SPPG.
Kritiknya keras, bahasanya tajam, dan keberaniannya membuat banyak orang menoleh. Tetapi justru dari keterkejutan itu muncul pertanyaan yang perlu direnungkan: mengapa anak muda seperti Tiyo terasa langka? Apakah ia memang pribadi yang istimewa, atau karena ekosistem yang melahirkan keberanian berpikir semacam itu semakin jarang kita temukan?

Pertanyaan ini menarik, sebab Tiyo tidak cukup dibaca hanya sebagai Ketua BEM KM UGM yang berani mengkritik kekuasaan. Mahasiswa bisa saja lantang. Anak muda bisa marah. Aktivis bisa mengucapkan kalimat keras. Tetapi mengubah kemarahan menjadi argumen tidak selalu mudah. Mengubah keberanian menjadi bahasa juga tidak datang begitu saja.

Di sini perlu diberi batas sejak awal. Artikel ini bukan bermaksud menulis profil Tiyo Ardianto. Saya tidak mengenalnya secara pribadi, apalagi hendak menyimpulkan seluruh perjalanan hidupnya. Yang bisa dilakukan di sini hanyalah membaca jejak publiknya: latar pendidikan, pilihan organisasi, cara berbicara, dan respons publik terhadap kritiknya.

Dengan batas itu, figur Tiyo tetap menarik untuk dibaca. Ia tidak sekadar berbicara untuk membuat gaduh. Dari cara ia tampil, tampak ada bekal yang bekerja: cara memilih kata, keberanian mengambil risiko, dan kemampuan menghubungkan kritiknya dengan persoalan yang lebih luas. Kritiknya keras, lugas, tetapi tidak seluruhnya berdiri di atas ledakan emosi.

Dalam beberapa hal, sosok Tiyo mengingatkan pada sosok Emha Ainun Nadjib muda. Bukan untuk menyamakan keduanya, melainkan untuk menangkap resonansi yang terasa: kecerdasan yang tidak hanya bekerja di kepala, tetapi juga hidup dalam bahasa, kepekaan sosial, dan keberanian menyapa kekuasaan.

Emha sejak muda dikenal dekat dengan sastra, panggung, puisi, kebudayaan, dan kegelisahan sosial. Pada Tiyo, jejak itu muncul dalam bentuk lain. Ia bukan penyair atau budayawan dalam pengertian Emha. Tetapi ia memakai bahasa untuk menggugat keadaan. Kemampuan seperti itu biasanya lahir dari latihan panjang: membaca, berdiskusi, berkesenian, dan berani menyampaikan pikiran.

Dalam kondisi ini, peran kesenian menarik untuk diperhatikan. Saya menduga, seperti pada Emha, seni ikut membentuk kepekaan Tiyo: cara menangkap ironi, membaca suasana, dan menyampaikan kritik dengan nalar dan daya gugah. Filsafat mungkin mengasah nalar. Organisasi melatih keberanian berbicara. Sementara seni memberi kemungkinan lain: bahasa tidak hanya dipakai untuk menyampaikan pendapat, tetapi juga untuk menggugah pendengar.

Di sinilah latar pendidikan Tiyo di Omah Dongeng Marwah, Kudus, menjadi relevan. Sebelum dikenal sebagai mahasiswa Filsafat UGM dan Ketua BEM KM UGM, ia pernah tumbuh dalam ruang belajar alternatif itu. Omah Dongeng Marwah tidak segera mengingatkan kita pada sekolah dalam arti biasa: ruang kelas, seragam, nilai, ranking, dan kepatuhan. Ia lebih tampak sebagai tempat anak diberi kesempatan berekspresi, berkarya, berdiskusi, berkesenian, mengenali minat, dan berani tampil.

Namun, kita juga perlu menjaga batas. Tidak ada alasan untuk menyebut Omah Dongeng Marwah secara resmi mengikuti mazhab pendidikan tertentu, selama tidak ada keterangan langsung dari pengelolanya. Yang lebih tepat, praktik pendidikan di sana dapat dibaca dalam semangat pendidikan yang membebaskan dan berbasis pengalaman. Anak tidak semata diperlakukan sebagai penerima pelajaran, tetapi sebagai manusia yang diajak mengalami, bertanya, menafsirkan, lalu menyuarakan pikirannya.

Gagasan semacam ini mengingatkan kita pada Paulo Freire dan John Dewey, tetapi tidak perlu dibahas sebagai teori yang berat. Secara sederhana, dua tokoh tersebut menyampaikan: pendidikan tidak semestinya hanya membuat anak patuh, melainkan membantu mereka membaca kenyataan, mengenali ketidakadilan, dan berani bertanya. Belajar juga tidak cukup dengan mendengar penjelasan. Anak perlu praktik, perlu mengalami, mencoba, gagal, berdialog, berkarya, lalu menemukan makna yang mendalam.

Dari sudut ini, Omah Dongeng Marwah bisa dibaca sebagai salah satu rahim awal yang memungkinkan Tiyo tumbuh dengan cara yang berbeda. Di sana, keberanian mungkin tidak diajarkan sebagai slogan. Ia tumbuh lewat kebiasaan tampil, menulis, bercerita, berdiskusi, bikin puisi, berkesenian, dan membaca keadaan sekitar. Dari ruang seperti itu, bahasa tidak hanya dipakai untuk menjawab soal, tetapi juga untuk menyentuh, menggugah, bahkan menggugat.

Namun Tiyo tentu tidak lahir dari satu ruang saja. Tidak adil jika seluruh keberanian dan daya kritisnya hanya dikembalikan kepada Omah Dongeng Marwah. Di belakang seorang anak muda yang artikulatif selalu ada banyak lapisan pembentuk: ada keluarga, guru, bacaan, teman, organisasi, kampus, pengalaman, dan zaman yang memanggilnya untuk bersuara.

Keluarga dan orang tua, meski tidak banyak dibahas di ruang publik, hampir selalu menjadi fondasi awal. Anak yang berani berbicara biasanya pernah memiliki ruang yang membuatnya merasa cukup aman untuk berpikir. Tidak selalu keluarga yang sempurna. Tetapi selalu ada lingkungan awal yang memberi bekal: keberanian, rasa percaya diri, atau sekadar keyakinan bahwa pikirannya layak didengar.

Setelah itu, ada Filsafat UGM. Ini juga tidak bisa diabaikan. Filsafat bukan hanya urusan nama-nama pemikir besar. Ia melatih orang untuk bertanya lebih dalam: apa dasar suatu keputusan, apa nilai etik di balik kebijakan, siapa yang diuntungkan, siapa yang dirugikan, dan mengapa sesuatu yang tampak legal belum tentu otomatis adil secara moral. Dari latar inilah kritik Tiyo tampak memiliki kerangka berpikir, bukan sekadar keberanian berbicara.

Lalu ada HMI. Sebagai ruang kaderisasi, HMI memberi pengalaman organisasi, debat, retorika, dan perjumpaan dengan gagasan sosial-politik-keislaman. Di organisasi seperti ini, orang belajar berpidato, berbeda pendapat, mengelola forum, dan mempertahankan argumen. Tentu saja, tidak semua kader menjadi kritis. Tetapi bagi orang yang punya bekal dan kegelisahan, organisasi bisa menjadi tempat yang mematangkan keberanian.

BEM KM UGM kemudian memberi panggung. Di sana, gagasan tidak lagi hanya diuji di ruang diskusi, tetapi di hadapan publik. Kritik yang dulu mungkin hanya menjadi percakapan terbatas berubah menjadi sikap politik mahasiswa. Risiko pun membesar. Kalimat bisa saja dipotong, diserang, dipuji, disalahpahami, atau dipolitisasi.

Maka Tiyo terasa langka bukan karena ia manusia hebat. Ia tetap anak muda yang bisa berbuat salah, bisa berubah, dan belajar. Kelangkaannya justru terletak pada pertemuan banyak unsur yang tidak selalu hadir bersamaan: pendidikan alternatif, keluarga, puisi, filsafat, organisasi, panggung gerakan, dan situasi politik yang menuntut keberanian dan ketajaman berpikir.

Di sisi lain, kehadiran Tiyo juga memantulkan masalah yang lebih luas. Pendidikan kita masih sering lebih sibuk mencetak anak patuh daripada anak merdeka. Anak dilatih menjawab, tetapi tidak selalu dilatih bertanya. Anak didorong mengejar nilai, tetapi tidak selalu diajak membaca kenyataan. Anak diminta sopan, tetapi kadang kesopanan disalahartikan sebagai diam di hadapan ketidakberesan.

Karena itu, Tiyo sebaiknya tidak dipuji berlebihan. Kekaguman yang terlalu besar bisa berubah menjadi beban. Ia tidak perlu dijadikan ikon tanpa cela. Yang lebih penting adalah mengambil hikmah dan menjadikannya cermin.

Jika anak muda yang berani berpikir, fasih berbicara, peka pada ketidakadilan, dan tidak mudah tunduk pada bahasa kekuasaan terasa jarang, mungkin yang perlu kita periksa bukan hanya siapa Tiyo Ardianto. Yang lebih mendesak adalah bertanya: pendidikan macam apa yang selama ini kita bangun, dan mengapa ruang yang melahirkan keberanian berpikir masih terasa begitu langka?


Referensi

BEM-KM UGM kritik Presiden Prabowo soal kasus keracunan MBG dan pemangkasan anggaran pendidikan. (2025, September 26). Universitas Gadjah Mada. https://ugm.ac.id/id/berita/bem-km-ugm-kritik-presiden-prabowo-soal-kasus-keracunan-mbg-dan-pemangkasan-anggaran-pendidikan/

Dewey, J. (1938). Experience and education. Macmillan.

Direktorat Kemahasiswaan Universitas Gadjah Mada. (2023, January 16). Prestasi 2022. https://ditmawa.ugm.ac.id/sang-juara-2022/

Freire, P. (2000). Pedagogy of the oppressed (30th anniversary ed.; M. B. Ramos, Trans.). Continuum. (Original work published 1970)

Harian Semarang. (2026, February 22). Sikap HMI atas dugaan teror dan intimidasi terhadap saudara Tiyo dan keluarganya. https://www.hariansemarang.id/2026/02/22/sikap-hmi-atas-dugaan-teror-dan-intimidasi-terhadap-saudara-tiyo-dan-keluarganya/

Mahasiswa UGM teliti budaya Banyu Penguripan sebagai strategi penyediaan air bersih berkelanjutan. (2023, October 17). Universitas Gadjah Mada. https://ugm.ac.id/id/berita/mahasiswa-ugm-teliti-budaya-banyu-penguripan-sebagai-strategi-penyediaan-air-bersih-berkelanjutan/

Populi.id. (2026, February 26). Ketua BEM UGM diteror usai kritik MBG, Mahfud MD: Negara ini nggak sehat. https://populi.id/2026/02/26/ketua-bem-ugm-diteror-usai-kritik-mbg-mahfud-md-negara-ini-ngga-sehat/

Suara Merdeka Muria. (2026, March 9). Menilik Kurikulum Merdeka ala Omah Dongeng Marwah Kudus: Asah bakat kemandirian anak. https://muria.suaramerdeka.com/muria-raya/0716836913/menilik-kurikulum-merdeka-ala-omah-dongeng-marwah-kudus-asah-bakat-kemandirian-anak

DPR RI. (2026). Hilman Mufidi kecam tindakan teror terhadap Ketua BEM UGM: Usut tuntas aktor intelektual. https://www.dpr.go.id/kegiatan-dpr/berita/Hilman-Mufidi-Kecam-Tindakan-Teror-terhadap-Ketua-BEM-UGM-Usut-Tuntas-Aktor-Intelektual-63339

Intime.id. (2026, May 23). Forum Mahfud MD memanas, Ketua BEM UGM sebut SPPG: Satuan Penjilat Prabowo-Gibran. https://intime.id/forum-mahfud-md-memanas-ketua-bem-ugm-sebut-sppg-satuan-penjilat-prabowo-gibran/

Law-Justice.co. (2026, May 24). Ketua BEM UGM: SPPG adalah “Satuan Penjilat Prabowo-Gibran”. https://www.law-justice.co/artikel/204583/ketua-bem-ugm-sppg-adalah-satuan-penjilat-prabowo-gibran/

Sinur Berita. (2026, May 24). Ketua BEM UGM sebut SPPG “Satuan Penjilat Prabowo-Gibran”. https://sinurberita.com/ketua-bem-ugm-sebut-sppg-satuan-penjilat-prabowo-gibran/

Scroll to Top