بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
ICMI dan Budaya Knowledge Management
Menumbuhkan Kebiasaan Berbagi Ilmu di Tubuh ICMI
Artikel 16 (10 Juli 2026)
Oleh Bagus Suminar
Aktivis ICMI Jawa Timur, Principal Consultant pada mutupendidikan.com
“Ilmu yang dibagikan tidak berkurang. Ia justru menemukan jalan untuk terus hidup.”
Dalam Islam, ilmu tidak pernah dimaksudkan untuk berhenti pada satu orang. Ia adalah amanah yang perlu dijaga, diamalkan, lalu dibagikan. Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan agar kebaikan disampaikan walau hanya satu ayat, sementara ilmu yang bermanfaat disebut sebagai amal yang terus mengalir. Barangkali dari sinilah ICMI bisa membaca kembali makna Knowledge Management: merawat ilmu agar tetap hidup dan memberi manfaat.
ICMI sesungguhnya mempunyai kekayaan yang besar dalam hal ini. Di dalamnya berkumpul akademisi, profesional, ulama, birokrat, pengusaha, peneliti, pendidik, dan tokoh masyarakat. Setiap orang membawa pengalaman yang berbeda. Setiap kegiatan menyimpan cerita. Setiap diskusi biasanya meninggalkan satu-dua pelajaran, meski kadang baru terasa setelah acara usai.
Pengetahuan memang tidak selalu bertahan hanya karena pernah diucapkan. Ia mudah menguap, mudah dilupakan ketika tidak sempat dicatat atau tersimpan di tempat yang sulit ditemukan kembali. Mungkin kita pernah mengalami keadaan seperti ini. Sebuah program terasa benar-benar baru, lalu beberapa bulan kemudian kita baru tahu bahwa wilayah lain (Orda / Orsat) pernah mencobanya lebih dulu. Bahkan persoalan yang dihadapi hampir sama.
Ini ironi, bukan karena orang enggan berbagi. Sering kali ceritanya memang belum sempat bertemu dengan orang yang membutuhkan. Ada pengalaman yang tersimpan di kepala. Ada file yang masih berada di laptop pribadi. Ada pula ide bagus yang tenggelam di antara ratusan pesan grup WhatsApp.
Di situlah budaya Knowledge Management mulai terasa maknanya. Bukan urusan aplikasi semata, melainkan kebiasaan yang membuat pengalaman tidak berhenti pada satu orang. Pelajaran dari satu kegiatan bisa dibaca oleh wilayah lain. Keberhasilan dapat dipelajari, sementara hal yang belum berhasil pun tetap berguna sebagai bahan pertimbangan.
Dalam tradisi keilmuan Islam, semangat ini sebenarnya sudah lama hidup. Azyumardi Azra dalam Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru (1999) menggambarkan bagaimana tradisi ilmu bertahan melalui proses transmisi, pembelajaran, dan jaringan antargenerasi. Ilmu dipelajari, ditulis, diperdebatkan, lalu dikembangkan kembali sesuai kebutuhan zaman.
ICMI dapat membaca semangat itu sebagai upaya merawat sanad pengetahuan organisasi. Tentu bukan sanad dalam pengertian ilmu hadis secara ketat. Maknanya lebih kultural: ada jejak, ada kesinambungan, dan ada pengalaman yang diteruskan. Apa yang pernah dicoba oleh satu daerah bisa menjadi bekal bagi daerah lain. Bahkan pengalaman yang belum berjalan mulus tetap layak dicatat. Kadang justru dari sana pelajarannya lebih inspiratif dan lebih jujur.
Nonaka dan Takeuchi dalam The Knowledge-Creating Company (1995) menjelaskan bahwa pengetahuan organisasi tumbuh ketika pengalaman dibagikan, dituliskan, disusun, lalu digunakan kembali. Dalam bahasa gaul, ilmu perlu ngobrol dulu. Setelah itu dicatat, direkam, dirapikan, dan dicoba dalam pekerjaan berikutnya.
Di lingkungan ICMI, gagasan sering lahir dari ruang-ruang yang sederhana. Kadang muncul saat silaturahim, kadang dari diskusi kecil, kunjungan, bahkan obrolan setelah acara. Persoalannya bukan pada lahirnya ide. Yang sering luput adalah apakah ide itu sempat dicatat, dibagikan, lalu dimanfaatkan kembali.
Budaya Knowledge Management dapat dimulai dengan cara sederhana. Bisa dimulai dari sesuatu yang dekat dengan keseharian pengurus. Setiap kegiatan, misalnya, diakhiri dengan refleksi singkat (cerita balik). Isinya cukup menjawab beberapa pertanyaan: apa yang berjalan baik, apa yang belum pas, siapa yang memperoleh manfaat, dan pelajaran apa yang layak dibagikan.
Catatan semacam ini tidak harus panjang. Satu atau dua halaman sudah cukup. Bahkan sebuah catatan singkat yang jujur sering lebih berguna daripada laporan tebal yang akhirnya hanya disimpan di rek arsip.
Kalau diringkas, ada lima kebiasaan yang bisa menjadi pintu masuk. Kecil memang, tetapi kalau dirawat terus, pengaruhnya akan terasa.
Tabel 1. Lima Kebiasaan Knowledge Management
| Kebiasaan | Dampaknya bagi ICMI |
|---|---|
| Mencatat pelajaran | Pengalaman tidak mudah hilang dan bisa dipelajari kembali. |
| Berbagi praktik baik | Orsat, Orda, dan Orwil dapat saling belajar tanpa selalu memulai dari awal. |
| Menyimpan dokumen dengan rapi | Materi, laporan, dan rekomendasi lebih mudah ditemukan saat dibutuhkan. |
| Belajar dari pengalaman senior | Pengetahuan yang lahir dari perjalanan panjang ikut diteruskan. |
| Mengapresiasi orang yang berbagi | Semangat menulis, bercerita, dan belajar pelan-pelan menjadi kebiasaan. |
Refleksi singkat (cerita balik) membuat sebuah kegiatan tidak berhenti sebagai dokumentasi foto. Foto tentu penting. Namun cerita membuat foto bisa berbicara danmempunyai makna. Kita jadi tahu apa yang dipelajari, apa yang membuat kegiatan itu berguna, serta bagian mana yang sebaiknya diperbaiki bila kegiatan serupa dilakukan lagi.
Setelah kebiasaan mencatat mulai tumbuh, ICMI bisa menata tempat penyimpanan bersama. Tidak harus langsung berupa aplikasi khusus. Sebuah folder digital yang disusun dengan rapi pun sudah cukup untuk memulai.
Isinya bisa berupa materi narasumber, laporan kegiatan, praktik baik, rekomendasi, foto pilihan, dan kontak orang yang dapat diajak belajar. Namanya pun tidak perlu terlalu resmi. Bisa saja disebut Rumah Ilmu ICMI, Bank Gagasan ICMI, atau Peta Pengetahuan ICMI. Yang penting mudah dicari dan benar-benar digunakan.
Bayangkan seorang pengurus baru ingin menyusun program literasi. Ia tidak harus membuka halaman kosong. Ia bisa membaca pengalaman daerah lain, melihat siapa narasumbernya, mempelajari kendala yang pernah muncul, lalu menyesuaikannya dengan kebutuhan lokal. Pekerjaan menjadi lebih ringan. Energi tidak habis untuk mengulang pencarian yang sama.
Namun tidak semua pengetahuan dapat dimasukkan ke dalam folder. Ada pengalaman yang hidup dalam intuisi, kebiasaan, dan cara membaca situasi. Dalam dunia KM, ini dikenal sebagai tacit knowledge. Seorang senior mungkin tahu cara merangkul tokoh daerah, menyambung jaringan, membaca suasana rapat, atau menenangkan perbedaan pendapat. Hal-hal semacam itu sering sulit dituangkan secara lengkap dalam laporan.
Karena itu, perjumpaan antargenerasi tetap dibutuhkan. Pengurus senior membawa pengalaman panjang. Yang muda datang dengan energi, teknologi, dan sudut pandang baru. Ketika keduanya bertemu dalam suasana yang cair, proses belajar biasanya berjalan lebih alami.
Tidak harus selalu melalui pelatihan resmi. Satu jam percakapan selepas rapat kadang justru lebih membekas. Senior bercerita, yang muda bertanya, lalu seseorang mencatat beberapa pelajaran penting. Sederhana, tetapi di situlah nilai dan cara kerja organisasi ikut berpindah.
Peter Senge dalam The Fifth Discipline (1990) menyebut organisasi semacam ini sebagai learning organization, organisasi yang terus belajar dari pengalamannya sendiri. Bagi ICMI, gagasan ini sangat relevan. Organisasi cendekia bukan sekadar tempat berkumpulnya banyak orang pintar. Kepintaran itu perlu saling menyapa dan saling memperkaya.
Newsletter digital juga dapat membantu mengalirkan ilmu. Isinya tidak perlu panjang dan terlalu formal. Satu cerita inspiratif dari Orda, satu praktik baik dari Orwil, satu gagasan dari Batom, atau satu pelajaran dari kegiatan yang baru selesai sudah cukup menjadi bahan.
Newsletter seperti ini membuat pengalaman daerah terasa dekat. Pusat dapat menangkap denyut lapangan. Daerah lain memperoleh inspirasi. Wilayah yang berbagi pun merasa karyanya dilihat. Foto kegiatan tetap boleh dimuat, tentu saja. Tapi beri juga ceritanya, supaya pembaca tidak hanya tahu siapa yang berdiri di depan spanduk.
Budaya berbagi juga membutuhkan apresiasi. Orang akan lebih senang menulis ketika tulisannya dibaca. Orang lebih terbuka bercerita ketika pengalamannya dihargai. Apresiasi itu tidak selalu harus berupa penghargaan besar. Ucapan terima kasih, kesempatan tampil dalam forum, atau penyebutan nama penulis sudah bisa memberi rasa berarti.
Edgar Schein dalam Organizational Culture and Leadership (2010) menjelaskan bahwa budaya organisasi terbentuk melalui nilai dan kebiasaan yang terus diulang. Budaya tidak lahir hanya karena ada keputusan atau aplikasi baru. Ia tumbuh ketika orang terbiasa melakukan sesuatu, sampai suatu hari kebiasaan itu terasa wajar.
Begitu pula dengan budaya Knowledge Management. Ia mulai hidup ketika mencatat dianggap sebagai bagian dari adab bekerja. Berbagi cerita tidak lagi terasa sebagai beban tambahan. Belajar dari pengalaman orang lain menjadi sesuatu yang dicari, bukan sekadar menunggu undangan.

B. J. Habibie dalam berbagai pemikirannya tentang ilmu pengetahuan dan pembangunan bangsa selalu menempatkan ilmu dekat dengan kerja nyata. Dalam Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pembangunan Bangsa (2006), terasa kuat semangat bahwa ilmu harus memberi daya bagi pembangunan. Pesan ini dekat dengan jati diri ICMI. Kecendekiawanan menemukan maknanya ketika pengetahuan bergerak menjadi karya.
Budaya Knowledge Management memang tidak lahir instan dalam semalam. Ia mulai dari satu catatan kegiatan. Satu folder yang tertata. Satu percakapan lintas generasi. Satu newsletter sederhana. Satu ucapan terima kasih kepada orang yang bersedia berbagi.
Mungkin beberapa tahun lagi, pengurus baru ICMI tidak perlu bertanya terlalu lama, “Apakah program seperti ini pernah dilakukan?” Ia cukup membuka ingatan organisasi, menulis kata kunci, membaca pengalaman para pendahulunya, lalu melanjutkan pekerjaan itu dengan cara yang lebih baik dan lebih cepat
ICMI sudah mempunyai akar yang kuat. Keislaman memberi arah, keilmuan memberi kedalaman, keindonesiaan menyediakan ruang pengabdian, dan keterbukaan membuka jalan kolaborasi. Budaya berbagi ilmu akan membuat semua nilai itu terus bergerak.
Warisan membuat ICMI mempunyai sejarah. Kebiasaan belajar membuat sejarah itu tetap hidup. Selama ilmu terus dicatat, dibagikan, dan dipakai untuk melayani umat, rumah besar ini akan terus dirasakan manfaatnya—bukan hanya dikenang namanya.
Kalau Boleh Dirangkum
- ICMI sebenarnya sudah memiliki banyak pengetahuan. Yang kadang terlewat adalah bagaimana pengalaman itu dijaga agar tidak berhenti di kepala seseorang atau terselip dalam file pribadi.
- Knowledge Management tidak harus dimulai dari aplikasi. Ia bisa tumbuh dari kebiasaan kecil: mencatat, berbagi, menyimpan, lalu memakai kembali pelajaran yang sudah ada.
- Tidak semua ilmu mudah dituangkan dalam laporan. Sebagian justru berpindah melalui percakapan, pendampingan, dan perjumpaan antara generasi senior dan yang lebih muda.
- Praktik baik dari Orsat, Orda, Orwil, maupun Batom akan semakin berguna bila meninggalkan cerita yang bisa dibaca dan dipelajari bersama.
- Budaya berbagi ilmu tumbuh ketika orang merasa pengalamannya dihargai, tulisannya dibaca, dan kontribusinya benar-benar berguna bagi organisasi.
Kalau Mau Dipraktikkan
- Setiap selesai kegiatan, buat cerita balik singkat. Catat apa yang berjalan baik, bagian yang belum pas, dan hal yang sebaiknya dilakukan berbeda pada kesempatan berikutnya.
- Mulailah menata satu tempat penyimpanan bersama yang mudah dibuka oleh pengurus. Tidak harus canggih. Yang penting rapi, jelas, dan tidak membuat orang kebingungan ketika mencari dokumen.
- Ajak pengurus senior berbagi pengalaman dalam percakapan yang santai. Cerita-cerita kecil dari perjalanan mereka kadang justru tidak pernah muncul dalam laporan resmi.
- Terbitkan newsletter sederhana secara berkala. Isinya bisa berupa satu praktik baik, satu cerita daerah, atau satu pelajaran yang layak diketahui wilayah lain.
- Beri apresiasi kepada orang yang bersedia menulis dan berbagi. Ucapan terima kasih yang tulus sering menjadi alasan sederhana bagi seseorang untuk kembali membagikan pengalamannya.
Daftar Pustaka
Azra, A. (1999). Pendidikan Islam: Tradisi dan modernisasi menuju milenium baru. Logos Wacana Ilmu.
Habibie, B. J. (1997). Ilmu pengetahuan, teknologi dan pembangunan bangsa: Kumpulan pidato-ceramah 1996–1997. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.
Nonaka, I., & Takeuchi, H. (1995). The knowledge-creating company: How Japanese companies create the dynamics of innovation. Oxford University Press.
Schein, E. H. (2010). Organizational culture and leadership (4th ed.). Jossey-Bass.
Senge, P. M. (1990). The fifth discipline: The art and practice of the learning organization. Doubleday/Currency.




