ICMI dalam Satu Irama

ICMI dalam Satu Irama

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

ICMI dalam Satu Irama:
Menata Komunikasi Internal

Artikel 17 (12 Juli 2026)


Oleh Bagus Suminar

Aktivis ICMI Jawa Timur, Principal Consultant pada mutupendidikan.com

“Komunikasi yang baik bukan soal paling banyak bicara, tetapi memastikan setiap gagasan menemukan jalan untuk menjadi karya bersama di ICMI.”

Dalam organisasi modern, setiap anggota dapat dipandang sebagai pelanggan internal (internal customer) bagi rekan-rekannya sendiri. Masing-masing membutuhkan informasi, dukungan, dan sumber daya agar dapat menjalankan amanah dengan baik. Karena itu, komunikasi internal tidak cukup dipahami sebagai urusan menyampaikan pesan. Ia merupakan bagian dari budaya saling melayani. Sopan santun, kecepatan merespons, perhatian, dan empati yang biasa diberikan kepada pihak luar (external customer), selayaknya juga tumbuh dalam hubungan antaranggota ICMI.

Perjalanan sebuah organisasi tentu tidak selalu lepas dari kesalahpahaman kecil. Pesan yang sudah disampaikan belum tentu diterima dengan makna yang sama, apalagi ketika melewati beberapa orang dan beberapa saluran. Kadang informasi sudah lengkap, tetapi waktu penyampaiannya kurang tepat. Kadang pesannya sudah jelas, tetapi tidak terdokumentasi sehingga sulit ditelusuri kembali. Manusia memang mudah lupa. Di situlah komunikasi internal menemukan maknanya. Ia membantu setiap gagasan sampai kepada orang yang tepat, pada waktu yang tepat, melalui cara yang tepat pula.

Claude Shannon dan Warren Weaver dalam The Mathematical Theory of Communication (1949) menjelaskan bahwa setiap proses komunikasi berpotensi mengalami noise atau gangguan. Gangguan itu tidak selalu berupa suara atau jaringan internet yang terputus. Pilihan kata (diksi) yang kurang tepat, informasi yang diteruskan secara berantai, hingga dokumen yang tersimpan di tempat berbeda juga dapat mengubah makna pesan. Organisasi yang mampu mengurangi noise biasanya lebih lincah dan mudah bergerak karena informasi mengalir dengan lebih utuh.

Dalam praktiknya, komunikasi internal ICMI bergerak melalui tiga jalur. Ada komunikasi vertikal, atas-bawah, yang menghubungkan Organisasi Pusat (Orpus), Organisasi Wilayah (Orwil), Organisasi Daerah (Orda), hingga Organisasi Satuan (Orsat). Ada komunikasi horizontal yang mempertemukan wilayah atau bidang pada jenjang yang setara. Ada pula komunikasi diagonal yang mempercepat kerja sama lintas jenjang maupun lintas bidang ketika sebuah persoalan membutuhkan keahlian yang berbeda.

Tabel 1. Tiga Jalur Komunikasi Internal ICMI

JalurFungsi dalam ICMI
VertikalMenghubungkan Orpus, Orwil, Orda, dan Orsat untuk menyampaikan arah, laporan, kebutuhan, serta umpan balik.
HorizontalMemperkuat koordinasi antarwilayah, antarbidang, atau antarunit yang berada pada jenjang setara.
DiagonalMembuka komunikasi lintas jenjang dan bidang agar gagasan, data, dan kebutuhan lebih cepat tersambung.

Wilbur Schramm (1954) kemudian mengingatkan bahwa komunikasi belum selesai ketika pesan dikirim. Komunikasi baru benar-benar hidup ketika muncul umpan balik (feedback) yang menunjukkan bahwa pesan telah dipahami. Gagasan ini penting dan sejalan dengan nasihat Stephen Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People (1989): seek first to understand, then to be understood. Mendengar lebih dahulu (listening skills) sering kali membuat percakapan menjadi lebih jernih daripada sekadar berlomba menyampaikan pendapat.

Semangat seperti itu sebenarnya sudah melekat dalam perjalanan ICMI. B. J. Habibie pernah menegaskan bahwa ICMI lahir dengan komitmen untuk ikut memperbaiki kehidupan bangsa melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Dawam Rahardjo juga melihat Forum Komunikasi Pembangunan Indonesia sebagai salah satu mata rantai penting menuju lahirnya ICMI. Sejak awal, dialog dan pertukaran gagasan memang menjadi bagian dari identitas organisasi ini.

Hal yang sama juga tercermin dalam Anggaran Dasar ICMI. Pasal 7 menempatkan peningkatan pembelajaran serta koordinasi sistem jaringan informasi dan komunikasi sebagai bagian dari ikhtiar organisasi. Artinya, komunikasi internal bukan sekadar kebutuhan operasional, tetapi amanah yang memang perlu terus menerus dirawat agar ilmu, pengalaman, dan gagasan dapat bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain.

Pada situasi inilah komunikasi internal bertemu dengan benang merah buku ini, yaitu Knowledge Management (KM). Komunikasi yang baik membuat informasi sampai kepada orang yang membutuhkan. KM memastikan informasi itu tidak berhenti sebagai kabar yang lewat, tetapi berubah menjadi pengetahuan yang dapat dipelajari kembali. Keputusan terdokumentasi, praktik baik tersimpan, pengalaman tidak hilang, dan pembelajaran dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Komunikasi membuat organisasi saling terhubung, sedangkan KM membuat organisasi terus belajar.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah ICMI membutuhkan komunikasi internal yang lebih baik. Jawabannya sudah jelas. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana membangun komunikasi yang sederhana, mudah dijalankan, dan memberi manfaat bagi seluruh bagian organisasi. Dari pengalaman berbagai organisasi pembelajar, perbaikan sering kali dimulai bukan dari perubahan besar, melainkan dari beberapa kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Perbaikan pertama dapat dimulai dengan menyusun peta komunikasi ICMI. Peta ini tidak harus canggih atau penuh istilah teknis. Cukup menjelaskan siapa yang menyampaikan informasi, siapa yang menerima, media apa yang digunakan, kapan pesan perlu direspons, dan di mana hasil komunikasinya disimpan. Dengan peta yang jelas dan mudah diingat, setiap orang memahami jalur informasi sehingga pekerjaan tidak bergantung pada ingatan seseorang.

Informasi resmi, misalnya, dapat menggunakan surat organisasi, memo, surat elektronik, atau portal bersama. Percakapan yang membutuhkan respons cepat dapat berlangsung melalui telepon, grup digital, sedangkan pembahasan yang memerlukan pertimbangan lebih mendalam sebaiknya dilakukan melalui pertemuan daring atau tatap muka. Setelah keputusan diambil, hasilnya dirangkum dalam catatan singkat (notulen) dan disimpan di tempat yang telah disepakati. Kebiasaan kecil ini membuat informasi tidak mudah hilang ketika terjadi pergantian struktur organisasi.

Peta komunikasi juga sebaiknya memuat kesepakatan mengenai waktu respons. Tidak semua pesan harus dijawab dalam hitungan menit, tetapi setiap pesan layak memperoleh kepastian. Bila jawaban lengkap belum tersedia, konfirmasi sederhana seperti, “Terima kasih, pesan sudah kami terima, akan segera kami pelajari,” sering kali sudah membuat komunikasi terasa lebih nyaman. Hal kecil seperti ini membangun rasa saling menghargai.

Untuk memudahkan penerapannya di ICMI, saya menawarkan prinsip sederhana yang disebut 3C: Clear, Connected, dan Continuous. Clear berarti pesan ditulis dengan tujuan yang jelas dan bahasa yang mudah dipahami. Sebelum mengirim informasi, biasakan memeriksa kembali apakah pembaca langsung mengetahui apa yang sedang dibahas, apa yang diharapkan, dan kapan tindak lanjut diperlukan. Pesan yang jelas mengurangi pertanyaan berulang dan menghemat banyak waktu.

Connected berarti komunikasi tidak berhenti pada satu meja atau satu grup. Informasi yang relevan perlu menjangkau pihak yang memang membutuhkan. Orpus, Orwil, Orda, Orsat, Batom, dan Pokja seyogianya mempunyai jalur komunikasi yang saling terhubung sehingga gagasan dari satu wilayah dapat dengan mudah diketahui dan dikembangkan oleh wilayah lain. Komunikasi yang tersambung juga membuat kolaborasi lebih cepat terjadi ketika sebuah persoalan memerlukan keahlian dari berbagai bidang.

Sementara itu, continuous berarti komunikasi mempunyai ritme. Tidak perlu setiap hari mengadakan rapat. Yang lebih penting adalah adanya kebiasaan berbagi informasi secara berkala. Pembaruan singkat dua mingguan, forum lintas wilayah setiap bulan, atau rangkuman pembelajaran setiap triwulan sudah cukup untuk menjaga aliran informasi tetap hidup. Organisasi biasanya tidak kehilangan ide karena kekurangan rapat, tetapi karena terlalu sedikit kebiasaan mendokumentasikan hasil rapat.

Langkah ketiga adalah mengintegrasikan komunikasi dengan Knowledge Management (KM). Di sinilah pembeda utama ICMI sebagai organisasi cendekia. Setiap keputusan, praktik baik, hasil diskusi, maupun pengalaman lapangan sebaiknya tidak berhenti sebagai percakapan. Semua itu perlu didokumentasikan agar menjadi pengetahuan bersama. Komunikasi membuat orang saling terhubung, sedangkan KM memastikan apa yang telah dipelajari tidak hilang begitu saja.

Nonaka dan Takeuchi dalam The Knowledge-Creating Company (1995) menjelaskan bahwa pengetahuan berkembang ketika pengalaman dibagikan, dituliskan, dipadukan, lalu dimanfaatkan kembali. Karena itu, setiap kegiatan ICMI sebaiknya meninggalkan jejak sederhana. Bukan laporan yang tebal, melainkan catatan singkat tentang apa yang berhasil, apa yang belum berjalan sesuai harapan, dan apa yang layak dicoba kembali. Dari kumpulan catatan kecil itulah ingatan organisasi perlahan terbentuk.

Langkah berikutnya adalah menyiapkan kurator pengetahuan. Tim ini tidak harus besar. Dua atau tiga orang sudah cukup untuk menghimpun materi narasumber, dokumentasi kegiatan, praktik baik, hasil diskusi, dan pembelajaran dari berbagai wilayah. Tugasnya bukan membuat laporan panjang, melainkan memastikan pengalaman yang berharga mudah ditemukan ketika dibutuhkan kembali.

Agar lebih mudah dipahami, enam langkah tersebut dapat dirangkum sebagai berikut.

Tabel 2. Peta Praktik Komunikasi Internal ICMI

LangkahPraktik Utama
Menyusun peta komunikasiMenentukan pengirim, penerima, kanal komunikasi, waktu respons, dan tempat penyimpanan informasi.
Menjalankan prinsip 3CMenjaga komunikasi tetap jelas, saling terhubung, dan berlangsung secara berkelanjutan.
Mengintegrasikan dengan KMMendokumentasikan keputusan, pengalaman, dan praktik baik agar menjadi pengetahuan bersama.
Menyiapkan kurator pengetahuanMenghimpun, merapikan, dan membagikan pembelajaran dari berbagai wilayah.
Membangun umpan balik dua arahMembuka ruang tanggapan, merangkum masukan, dan menindaklanjutinya bersama.
Menjaga etika komunikasi digitalMenggunakan bahasa yang santun, media yang tepat, serta magic words: maaf, tolong, mohon, dan terima kasih.

Langkah kelima adalah membangun budaya umpan balik dua arah. Wilbur Schramm mengingatkan bahwa komunikasi baru benar-benar selesai ketika muncul respons dari penerima pesan. Karena itu, setiap kegiatan, rapat, atau program sebaiknya menyisakan ruang untuk mendengar. Tidak perlu selalu dalam bentuk formulir yang panjang. Tiga pertanyaan sederhana sering kali sudah cukup: apa yang sudah berjalan baik, bagian mana yang masih membingungkan, dan apa yang bisa diperbaiki pada kegiatan berikutnya.

Yang tidak kalah penting adalah menindaklanjuti masukan tersebut. Tidak semua usulan harus diterima, tetapi setiap pendapat layak mendapat perhatian. Ketika seseorang melihat bahwa masukannya dibaca, dipertimbangkan, lalu dijelaskan hasilnya, kepercayaan akan tumbuh dengan sendirinya. Budaya belajar selalu dimulai dari kesediaan untuk mendengar.

Langkah terakhir adalah menjaga etika komunikasi digital. Kelly M. Quintanilla dan Shawn T. Wahl dalam Business and Professional Communication mengingatkan bahwa teknologi memang mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi tidak mengubah pentingnya empati, tanggung jawab, dan rasa hormat. Pesan yang dikirim melalui layar tetap dibaca oleh manusia yang memiliki perasaan, harapan, dan cara pandang yang berbeda.

Karena itu, ICMI dapat membangun kesepakatan sederhana mengenai etika komunikasi digital. Pilih media yang sesuai dengan tujuan komunikasi. Gunakan bahasa yang jelas dan tidak bertele-tele. Hindari meneruskan informasi yang belum terverifikasi. Bila pembahasan mulai panjang atau berpotensi menimbulkan salah tafsir, percakapan melalui telepon atau pertemuan singkat sering menjadi pilihan yang lebih baik daripada saling membalas pesan yang semakin panjang.

Ada satu kebiasaan kecil yang sering terlupakan, padahal pengaruhnya sangat besar, yaitu membiasakan magic words. Kata-kata seperti maaf, tolong, mohon, terima kasih, dan silakan mungkin hanya terdiri dari beberapa huruf, tetapi mampu mengubah suasana percakapan. Permintaan terasa lebih menghargai, koreksi menjadi lebih mudah diterima, dan kerja sama berlangsung dengan suasana yang lebih hangat. Dalam organisasi yang berisi para cendekiawan, adab sering kali lebih menentukan daripada panjangnya argumen.

Kadang ada hal yang cukup menggelitik. Di era digital ini, kita dapat mengirim pesan ke belahan dunia lain dalam hitungan detik. Namun pada saat yang sama, pesan dari teman sendiri kadang baru terbaca setelah tenggelam di antara puluhan notifikasi. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena perhatian manusia memang terbatas. Teknologi dapat membantu mengingatkan, tetapi kepedulian untuk menyapa dan menjawab tetap lahir dari hati.

Kalau enam langkah sederhana ini mulai menjadi kebiasaan, komunikasi internal perlahan akan berubah. Informasi lebih mudah ditemukan. Pengalaman tidak cepat hilang. Gagasan dari satu wilayah dapat menginspirasi wilayah lain. Orang tidak perlu mengulang pekerjaan yang sama hanya karena dokumentasinya tidak tersedia. Sedikit demi sedikit, komunikasi berubah menjadi pembelajaran.

ICMI sesungguhnya memiliki banyak contoh keberhasilan yang lahir dari komunikasi dan kolaborasi. Lahirnya Bank Muamalat Indonesia, berkembangnya gerakan Baitul Maal wat Tamwil, program beasiswa ORBIT, hingga berbagai gagasan kebangsaan menunjukkan bahwa ketika ilmu bertemu dengan jejaring, hasilnya dapat melampaui sebuah program kerja. Pengalaman seperti inilah yang layak terus dirawat melalui komunikasi yang sehat dan Knowledge Management yang hidup.

Setiap wilayah tentu mempunyai kekuatan yang berbeda. Ada yang unggul dalam pengembangan sumber daya manusia, ada yang kuat membangun jejaring, ada pula yang kaya pengalaman pemberdayaan masyarakat. Keragaman tersebut merupakan kekayaan organisasi. Komunikasi internal yang baik memberi ruang agar pengalaman itu saling bertemu, saling melengkapi, lalu berkembang menjadi pembelajaran bersama.

Al-Qur’an memberikan tuntunan yang sangat indah melalui firman Allah, “Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia” (QS. Al-Baqarah [2]:83). Ayat ini mengajarkan bahwa komunikasi bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga menghadirkan kebaikan dalam setiap perkataan. Di dalamnya terdapat adab, empati, penghormatan, dan tanggung jawab kepada sesama.

Bila semangat ayat ini terus hidup dalam setiap ruang komunikasi ICMI, percakapan tidak lagi berhenti sebagai pertukaran pesan. Ia berubah menjadi jalan untuk saling menguatkan, saling belajar, dan saling menumbuhkan. Ketika informasi mengalir dengan baik, pengetahuan dibagikan dengan murah hati, dan setiap orang merasa didengar, ICMI akan bergerak dalam satu irama. Dari komunikasi yang beradab, lahirlah kolaborasi yang menguatkan; dari kolaborasi yang menguatkan, ilmu menemukan jalannya untuk memberi manfaat yang lebih luas bagi umat, bangsa, dan Indonesia.


Kalau Boleh Dirangkum

  1. Komunikasi internal bukan hanya soal menyampaikan pesan, tetapi memastikan informasi sampai kepada orang yang tepat dan dipahami dengan makna yang sama.
  2. ICMI membutuhkan jalur komunikasi yang jelas, baik dari pusat ke daerah, antardaerah, maupun lintas bidang, agar gagasan tidak berhenti di satu ruang.
  3. Komunikasi menjadi lebih berarti ketika disertai umpan balik. Pesan yang hanya dikirim, tetapi tidak pernah dipastikan pemahamannya, masih menyisakan jarak.
  4. Knowledge Management membuat hasil rapat, pengalaman, dan praktik baik tidak hilang setelah kegiatan selesai, tetapi tetap bisa dipelajari oleh bagian lain dan generasi berikutnya.
  5. Pada akhirnya, komunikasi yang sehat tumbuh dari kebiasaan sederhana: jelas dalam menyampaikan, mau mendengar, cepat memberi kepastian, dan tetap menjaga adab.

Kalau Mau Dipraktikkan

  1. Tentukan jalur komunikasi untuk setiap jenis informasi: siapa yang mengirim, siapa yang perlu menerima, media apa yang digunakan, dan di mana hasilnya disimpan.
  2. Saat mengirim pesan, tuliskan tujuan, hal yang perlu ditindaklanjuti, serta batas waktunya dengan jelas agar penerima tidak perlu menebak-nebak.
  3. Bila belum bisa memberi jawaban lengkap, berikan konfirmasi singkat bahwa pesan sudah diterima dan sedang dipelajari. Respons sederhana seperti ini membuat orang merasa diperhatikan.
  4. Setelah rapat atau kegiatan, simpan catatan pendek tentang keputusan, pembagian tugas, hal yang berjalan baik, dan pelajaran yang perlu diteruskan.
  5. Biasakan memakai kata maaf, tolong, mohon, silakan, dan terima kasih. Komunikasi organisasi akan terasa lebih hangat ketika ketepatan pesan berjalan bersama penghormatan kepada orang lain.

Daftar Pustaka

Covey, S. R. (1989). The 7 habits of highly effective people: Powerful lessons in personal change. Free Press.

Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. (n.d.). Sejarah ICMI.

Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. (2021). Anggaran dasar dan anggaran rumah tangga ICMI masa bakti 2021–2026.

Miller, K. Q., & Wahl, S. T. (2023). Business and professional communication: KEYS for workplace excellence (5th ed.). SAGE Publications.

Nonaka, I., & Takeuchi, H. (1995). The knowledge-creating company: How Japanese companies create the dynamics of innovation. Oxford University Press.

Schramm, W. (Ed.). (1954). The process and effects of mass communication. University of Illinois Press.

Shannon, C. E., & Weaver, W. (1949). The mathematical theory of communication. University of Illinois Press.

Scroll to Top