ICMI dan Kecerdasan Buatan

ICMI dan Kecerdasan Buatan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

ICMI dan Kecerdasan Buatan:
Menguatkan ICMI sebagai Rumah Ilmu yang Berakhlak

Artikel 13 (7 Juli 2026)


Oleh: Bagus Suminar
Aktivis ICMI Jatim, TaskForce Persyada Al Haromain, Dosen

“Di rumah bernama ICMI, teknologi boleh terus berkembang. Ilmu, akhlak, dan silaturahim tetap menjadi ruh yang menghidupkannya.”

Kalau dulu ICMI lahir di tengah gelombang besar kebangkitan ilmu dan umat, hari ini ICMI bertemu gelombang baru bernama kecerdasan buatan. Bentuk zamannya memang berbeda, tetapi panggilannya tetap sama: bagaimana ilmu terus memberi manfaat bagi manusia, bangsa, dan kemaslahatan bersama. Teknologi boleh berubah cepat, tetapi ICMI tetap punya amanah yang tidak berubah, yakni menjadi rumah tempat ilmu bertumbuh, nilai-nilai dijaga, dan masa depan disiapkan dengan akal yang jernih serta akhlak yang mulia.

Warisan B.J. Habibie memberi pelajaran penting tentang hubungan iman, ilmu, dan teknologi. Pesawat yang dulu menjadi simbol kebanggaan bangsa tentu tetap perlu diteruskan sebagai bagian dari kemandirian teknologi Indonesia. Tetapi zaman juga membawa ladang baru. Data, algoritma, dan kecerdasan buatan kini hadir sebagai ruang kerja baru yang membawa peluang, sekaligus meminta tuntunan nilai agar tidak berjalan sendiri.

ICMI punya kedekatan panjang dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejak awal, organisasi ini bukan sekadar tempat berkumpulnya orang pandai, melainkan ruang pengabdian ilmu. Dalam Anggaran Dasar ICMI, kegiatan organisasi diarahkan untuk meningkatkan kecendekiawanan, kepakaran, penelitian, pengkajian, inovasi, pendidikan, serta komunikasi hasil pemikiran. Jadi ketika AI hadir sebagai bagian dari perubahan zaman, ICMI sebenarnya sedang bertemu dengan medan lama dalam wajah yang baru.

Dulu gagasan banyak berpindah melalui mimbar, forum, kertas kerja, buku, dan pertemuan tatap muka. Hari ini, gagasan juga bergerak lewat platform digital, arsip daring, forum virtual, mesin pencari, dan aplikasi berbasis AI. Alatnya berubah. Tetapi ruhnya tetap sama: ilmu perlu bergerak, bertemu manusia, lalu menjadi manfaat.

Ilham Akbar Habibie dalam Gatra.com pada 19 November 2021 mengingatkan bahwa ICMI perlu melek ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mampu menjadi mitra strategis dan kritis bagi pemerintah. Sejak awal, ICMI memang dibangun dengan keyakinan bahwa ilmu perlu hadir di tengah kehidupan, ikut memberi jalan keluar, dan membawa manfaat bagi bangsa.

Prof. Arif Satria dalam Suara Muhammadiyah pada 5 Juli 2025 memberi penekanan yang lebih spesifik. Ia menyampaikan bahwa AI bukan hanya soal teknologi, melainkan juga soal kebijaksanaan. Wisdom, menurut beliau, perlu menjadi pengawal agar teknologi membawa maslahat, bukan mudarat. Kalimat ini cocok untuk ICMI, karena kecerdasan tanpa kebijaksanaan mudah berubah menjadi kecepatan yang kehilangan adab.

Kecerdasan buatan memang bisa membantu banyak pekerjaan. Ia bisa merangkum dokumen, membaca pola data, membantu riset, menyusun bahan diskusi, dan merapikan pekerjaan administratif. Tetapi ia tidak punya niat. Ia tidak punya rasa tanggung jawab spiritual. Ia juga tidak bisa menggantikan kejujuran, empati, dan kejernihan hati manusia.

Marc Prensky dalam artikel H. Sapiens Digital: From Digital Immigrants and Digital Natives to Digital Wisdom (2009) menulis tentang perlunya manusia bergerak dari sekadar melek digital menuju bijak digital. Gagasan ini dekat dengan kebutuhan ICMI. Memakai teknologi saja belum cukup. Cendekiawan muslim perlu tahu kapan teknologi membantu, kapan perlu ditahan, dan bagaimana ia diarahkan agar tetap memberi manfaat.

Di sini, akhlak menjadi pembeda. Teknologi dapat membantu kerja, tetapi akhlak menjaga arah. AI dapat mempercepat pencarian pengetahuan, tetapi adab menentukan apakah pengetahuan itu dipakai untuk membangun atau justru menambah kebisingan. Maka ICMI perlu membaca AI dengan tenang: tidak takut, tidak silau, dan tidak kehilangan jati diri.

Banyak organisasi kini berusaha terlihat digital. Ada aplikasi baru, platform baru, grup baru, dan istilah baru. Semuanya bisa berguna. Tetapi pengalaman mengajarkan, alat baru belum tentu melahirkan kebiasaan baru. Ada arsip digital yang lengkap, tetapi jarang dibuka. Ada grup komunikasi yang ramai, tetapi belum tentu menjadi ruang belajar.

Karena itu, pembicaraan tentang AI di ICMI perlu disambungkan dengan budaya belajar. Kecerdasan buatan akan jauh lebih bermanfaat bila ICMI sudah terbiasa mencatat, berbagi, membaca ulang pengalaman, dan menyusun pelajaran dari setiap kegiatan. Tanpa kebiasaan itu, AI hanya menjadi alat tambahan. Dengan kebiasaan itu, AI bisa menjadi penguat gerakan ilmu.

Ikujiro Nonaka dan Hirotaka Takeuchi dalam The Knowledge-Creating Company (1995) menjelaskan bahwa organisasi yang hidup adalah organisasi yang mampu menciptakan, membagikan, dan menanamkan pengetahuan. Pengetahuan tidak cukup disimpan sebagai laporan. Ia perlu mengalir dari pengalaman menjadi pembelajaran, dari pembelajaran menjadi kebijakan, lalu dari kebijakan menjadi tindakan baru yang lebih matang.

Gagasan ini sangat cocok dengan ICMI sebagai rumah ilmu. Banyak pengalaman baik di orsat, orda, orwil, batom, dan berbagai komunitas ICMI yang layak dicatat. Ada program pendidikan, kajian kebijakan, pemberdayaan ekonomi, kegiatan sosial, pelatihan kepemimpinan, dan forum silaturahim yang menyimpan banyak pelajaran. Bila semuanya selesai sebagai acara, ilmunya mudah menguap. Bila dicatat dan dibagikan, pengalaman itu bisa menjadi bekal bersama.

Di sinilah Knowledge Management terasa sangat manusiawi. Ia bukan sekadar sistem teknologi. Ia adalah kebiasaan untuk tidak membiarkan ilmu berjalan sendirian. Ia mengajak ICMI menyimpan memori baik, membaca pengalaman, lalu membagikannya kepada wilayah lain yang mungkin sedang membutuhkan inspirasi serupa.

Mulainya tidak perlu dari sesuatu yang besar. ICMI bisa memulai dari dokumentasi kegiatan yang lebih rapi, catatan pembelajaran setelah program selesai, repositori digital sederhana, dan forum berbagi antardaerah. Setiap kegiatan bisa menyisakan tiga hal: apa yang dilakukan, apa yang dipelajari, dan apa yang bisa ditiru atau diperbaiki. Langkah seperti ini kecil, tetapi jika dijaga, pelan-pelan ia menjadi budaya.

AI kemudian bisa membantu merapikan pekerjaan itu. Laporan kegiatan bisa diringkas. Tema-tema penting dari daerah bisa dipetakan. Praktik baik bisa dikelompokkan. Gagasan yang tersebar bisa dibaca ulang dengan lebih cepat. Tetapi keputusan tetap perlu lahir dari musyawarah, pengalaman manusia, dan pertimbangan nilai. Kalau diringkas, peluang AI bagi rumah ilmu ICMI bisa dibaca secara sederhana seperti berikut.

Tabel: Menangkap Peluang AI untuk Rumah Ilmu ICMI

Peluang AIYang Bisa Dilakukan ICMIPraktik Knowledge ManagementManfaat bagi ICMI
Membantu merangkum laporan kegiatanMenyusun catatan singkat dari kegiatan orsat, orda, orwil, batom, dan forum ICMIMembuat ringkasan pembelajaran yang mudah dibaca ulangPengalaman baik tidak berhenti sebagai acara, tetapi menjadi bekal bersama
Membaca pola kebutuhan daerahMenghimpun cerita, data, dan isu yang muncul dari berbagai wilayahMengelompokkan isu dan praktik baik berdasarkan temaArah program lebih mudah dibaca tanpa kehilangan suara daerah
Membantu penyusunan bahan kajianMengolah gagasan awal menjadi bahan diskusi, artikel, modul, atau rekomendasiMenyimpan hasil kajian dalam repositori bersamaIlmu yang lahir dari ICMI lebih mudah ditemukan, dipakai, dan dikembangkan
Menghubungkan pengetahuan lintas generasiMempertemukan pengalaman senior dengan kelincahan generasi muda dalam memakai teknologiMembangun forum berbagi, mentoring, dan dokumentasi pengalamanRegenerasi berjalan lebih hangat karena ilmu ikut diwariskan
Mempercepat pencarian dokumen dan gagasanMenata arsip kegiatan, hasil rapat, materi kajian, dan praktik baik agar mudah dicariMembuat pusat pengetahuan digital yang sederhana dan terus dirawatICMI tidak perlu selalu memulai dari awal ketika menyusun program baru
Membantu menyebarkan praktik baikMengubah pengalaman daerah menjadi cerita singkat, infografis, atau bahan belajar bersamaMembagikan praktik baik antardaerah secara rutinSilaturahim ilmu makin hidup, dan wilayah lain bisa mengambil inspirasi sesuai kebutuhannya

Tabel ini tentu bukan resep yang harus dikerjakan sekaligus. Ia hanya peta kecil agar ICMI bisa melihat bahwa AI tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Kadang, manfaatnya justru terasa dari pekerjaan sederhana: merapikan catatan, menyimpan pengalaman, dan membuat ilmu lebih mudah bertemu dengan orang yang membutuhkannya.

ICMI sebagai rumah ilmu yang berakhlak tetap perlu menjaga rasa kemanusiaannya di tengah digitalisasi. Seni tetap perlu hadir dalam kerja organisasi. Di antara angka dan data, manusia masih membutuhkan ruang untuk merasakan. Kalau algoritma bisa berbicara, mungkin ia bisa berkata: “Saya bisa menghitung data, tetapi saya tidak tahu rasa.” Senyum kecil seperti ini mengingatkan bahwa secanggih apa pun teknologi, rasa tetap milik manusia.

Karena itu, AI sebaiknya diperlakukan sebagai sahabat kerja. Ia membantu mengolah, tetapi tidak memimpin nurani. Ia mempercepat pencarian, tetapi tidak menggantikan hikmah. Ia bisa memberi kemungkinan, tetapi manusia tetap menimbang mana yang pantas, baik, dan membawa maslahat.

Manfaat AI akan terasa lebih luas bila dipakai untuk menyambungkan pengetahuan yang tersebar di tubuh ICMI. Banyak gagasan lahir dari orsat, orda, orwil, batom, dan berbagai forum silaturahim. Kalau pengetahuan itu dihimpun, dibaca bersama, lalu dibagikan kembali, AI tidak hanya membantu orang bekerja lebih cepat, tetapi membantu organisasi belajar lebih utuh.

Pierre Lévy dalam Collective Intelligence: Mankind’s Emerging World in Cyberspace (1997) menulis bahwa kecerdasan kolektif lahir ketika manusia saling berbagi dan menyatukan pengetahuan. Tidak ada satu orang yang mengetahui semuanya. Setiap orang membawa potongan pengalaman, dan potongan itu menjadi bernilai ketika bertemu dengan pengalaman orang lain. Semangat seperti inilah yang sejak lama hidup dalam tradisi silaturahim dan musyawarah di ICMI.

Jika setiap wilayah berbagi praktik baik, ICMI akan menjadi jaringan pengetahuan yang hidup. Pusat akan lebih mudah membaca denyut daerah melalui cerita, data, dan pengalaman yang dibagikan. Daerah juga akan lebih mudah memahami arah besar organisasi melalui pengetahuan yang disusun dengan jernih. Hubungan seperti ini bukan sekadar koordinasi, tetapi proses saling belajar.

Emery dan Trist memiliki gagasan yang cukup menarik: Socio-Technical Systems. Pada 1960-an, mereka mengingatkan bahwa sistem kerja yang baik perlu menyeimbangkan teknologi dan manusia. Teknologi yang canggih tidak cukup bila kebiasaan sosialnya belum siap, masih pakai cara-cara lama. Sebaliknya, semangat manusia yang baik akan lebih kuat bila didukung teknologi dan alat yang tepat. Untuk ICMI, ini berarti platform digital perlu berjalan bersama budaya komunikasi, kepercayaan, silaturahim, dan adab berbagi.

AI juga bisa menjadi pintu strategis untuk mendekatkan generasi. Generasi muda mungkin lebih cepat akrab dengan aplikasi, data, dan sistem digital. Generasi senior membawa kedalaman pengalaman, jejaring, dan kebijaksanaan yang sudah ditempa waktu. Bila keduanya bersinergi, bertemu dalam ruang belajar yang sehat, ICMI akan memperoleh energi baru yang besar.

Maka gagasan seperti ICMI Learning Network layak dipikirkan. Bukan sebagai proyek megah yang rumit, tetapi sebagai ruang bersama untuk menghimpun catatan, gagasan, hasil kajian, modul pelatihan, dan praktik baik dari berbagai wilayah. Ia bisa dimulai sederhana, lalu tumbuh mengikuti kebutuhan. Yang penting, ICMI mulai membangun kebiasaan bahwa setiap pengalaman berharga perlu diwariskan.

Dari situ, ICMI juga bisa mengembangkan forum AI dan akhlak. Forum ini dapat mempertemukan akademisi, ulama, praktisi teknologi, pendidik, pengusaha, dan generasi muda. Pembahasannya tidak perlu selalu berat. Bisa dimulai dari pertanyaan sederhana: bagaimana memakai AI dengan jujur, bagaimana menjaga data, bagaimana membedakan bantuan teknologi dari ketergantungan, dan bagaimana memastikan ilmu digital tetap membawa manfaat.

Dalam tradisi Islam, ilmu tidak pernah berdiri sendirian. Ilmu selalu terkait dengan adab, amanah, dan tanggung jawab. Pengetahuan yang luas tanpa akhlak dapat membuat manusia merasa cukup dengan dirinya sendiri. Sebaliknya, akhlak yang baik membuat ilmu menjadi cahaya yang menerangi orang lain.

Rasanya di sinilah ICMI punya peran yang indah. Ia bisa membantu umat membaca zaman dengan tenang. Ia bisa mengajak masyarakat memakai teknologi dengan akal sehat. Ia bisa menuntun diskusi publik agar AI tidak hanya dibicarakan sebagai alat kerja, tetapi juga sebagai persoalan etika, pendidikan, keluarga, ekonomi, dan masa depan bangsa.

Jalan ini tidak perlu ditempuh dengan terburu-buru. ICMI bisa memulainya dari kebiasaan kecil yang konsisten. Mencatat kegiatan dengan lebih rapi. Membuat ringkasan pembelajaran. Menyimpan dokumen di tempat yang mudah dicari. Mengadakan sesi berbagi pengalaman antardaerah. Mengajak anak muda ikut mengelola pengetahuan digital. Dari kebiasaan seperti itu, rumah ilmu akan makin terasa hidup.

Ada hal yang indah dari organisasi yang mau belajar. Ia tidak malu memperbaiki diri. Ia tidak merasa selesai dengan sejarah besarnya. Ia menghormati warisan, tetapi tetap membuka jendela untuk udara baru. ICMI punya akar yang kuat, dan akar itu justru membuatnya lebih siap menyambut perubahan.

Kecerdasan buatan hanyalah salah satu babak dalam sejarah panjang ilmu manusia. Hari ini ia tampak baru dan menggetarkan. Kelak mungkin ia menjadi bagian biasa dari kehidupan. Namun sikap ICMI terhadap ilmu akan tetap sama: mengambil manfaatnya, menjaga adabnya, dan mengarahkannya untuk kemaslahatan.

Teknologi bisa mempercepat langkah, tetapi niat memberi arah. Data bisa memperluas pandangan, tetapi hikmah memberi kedalaman. AI bisa membantu manusia bekerja, tetapi manusia tetap perlu bertanya: untuk apa semua ini, siapa yang memperoleh manfaat, dan nilai apa yang sedang dijaga.

Sebagai rumah ilmu yang berakhlak, ICMI perlu terus menanamkan keyakinan bahwa pengetahuan adalah amanah. Ia tidak boleh berhenti di kepala individu. Ia perlu mengalir menjadi amal, kebijakan, pendidikan, pemberdayaan, dan pelayanan kepada bangsa. Di sanalah Knowledge Management menemukan ruhnya: bukan hanya mengelola informasi, tetapi merawat amanah ilmu.

Al-Qur’an memberi dasar yang sangat indah bagi kesadaran ini. Allah berfirman, “Dan Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq [96]: 5). Ayat ini mengingatkan bahwa setiap pengetahuan, termasuk kecerdasan buatan, tetap berada dalam cakrawala ilmu Allah. Manusia boleh menemukan alat baru, tetapi sumber ilmu tetap kembali kepada Sang Maha Mengajarkan.

Maka, semakin cerdas teknologi di sekitar kita, semakin perlu manusia merendahkan hati. Semakin cepat data bergerak, semakin perlu akhlak menjaga arah. Dan semakin luas pengetahuan ICMI dihimpun dan dibagikan, semakin besar pula peluangnya menjadi ladang amal yang luas.

ICMI lahir dari niat baik para cendekiawan muslim yang ingin menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian. Di era kecerdasan buatan, niat baik itu perlu terus dirawat. Bukan hanya agar ICMI mampu mengikuti zaman, tetapi agar setiap pengetahuan yang tumbuh di dalamnya tetap menjadi cahaya, menuntun umat, dan memberi manfaat bagi Indonesia.


Kalau Boleh Dirangkum

  1. AI bisa menjadi teman kerja ICMI, selama tetap ditempatkan sebagai alat bantu. Akal sehat, akhlak, dan musyawarah tetap menjadi penuntunnya.
  2. ICMI memiliki sejarah panjang sebagai rumah ilmu. Tugas hari ini adalah membuat ilmu itu lebih rapi, mudah dibagikan, dan lebih cepat terasa manfaatnya.
  3. Teknologi akan berguna kalau didukung budaya belajar. Tanpa kebiasaan mencatat dan berbagi, AI hanya menjadi alat baru yang belum banyak mengubah cara organisasi belajar.
  4. Knowledge Management adalah cara merawat pengalaman, gagasan, dan amanah ilmu agar tidak hilang bersama pergantian masa bakti.
  5. Di era kecerdasan buatan, ICMI perlu tetap berjalan dengan dua kaki: terbuka pada teknologi, tetapi tetap dituntun oleh adab, hikmah, dan kemaslahatan.

Kalau Mau Dipraktikkan

  1. Mulailah dari hal sederhana: setiap kegiatan ICMI menyisakan catatan singkat tentang apa yang dilakukan, apa yang dipelajari, dan apa yang bisa diteruskan.
  2. Gunakan AI untuk membantu merangkum laporan, menyiapkan bahan diskusi, atau membaca pola kebutuhan daerah. Tetapi keputusan tetap sebaiknya lahir dari musyawarah, pengalaman, dan pertimbangan nilai.
  3. Ajak generasi muda ikut mengelola arsip, dokumentasi, dan ruang belajar digital ICMI agar teknologi menjadi jembatan antargenerasi.
  4. Bangun kebiasaan berbagi praktik baik antardaerah. Pengalaman kecil di satu wilayah bisa menjadi inspirasi besar bagi wilayah lain.
  5. Rawat adab dalam memakai AI: jujur pada sumber, hati-hati dengan data, tidak mudah menyebarkan informasi mentah, dan selalu bertanya apakah teknologi ini membawa maslahat.

Referensi

Emery, F. E., & Trist, E. L. (1960). Socio-technical systems. In C. W. Churchman & M. Verhulst (Eds.), Management science: Models and techniques (Vol. 2, pp. 83–97). Pergamon Press.

Habibie, I. A. (2021, November 19). Ilham Habibie ajak kader ICMI dukung bangun Indonesia Emas. Gatra.com. https://www.gatra.com/news-529010-ekonomi-ilham-habibie-ajak-kader-icmi-dukung-bangun-indonesia-emas.html

Lévy, P. (1997). Collective intelligence: Mankind’s emerging world in cyberspace. Plenum/HarperCollins.

Nonaka, I., & Takeuchi, H. (1995). The knowledge-creating company: How Japanese companies create the dynamics of innovation. Oxford University Press.

Prensky, M. (2009). H. Sapiens Digital: From Digital Immigrants and Digital Natives to Digital Wisdom. Innovate: Journal of Online Education, 5(3), Article 1. https://nsuworks.nova.edu/innovate/vol5/iss3/1

Satria, A. (2025, July 5). ICMI dan UM Bandung satukan gagasan cendekia untuk ketahanan bangsa. Suara Muhammadiyah. https://suaramuhammadiyah.id/read/icmi-dan-um-bandung-satukan-gagasan-cendekia-untuk-ketahanan-bangsa

Scroll to Top