بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Saatnya ICMI Menanam Solusi:
Membangun Budaya Belajar dari Orda, Orsat, dan Batom
Artikel 11 (5 Juli 2026)
Oleh Bagus Suminar
Aktivis ICMI Jawa Timur, Pemerhati Mutu Pendidikan
“ICMI punya banyak praktik baik. Saatnya pengalaman dari orda, orsat, dan batom disambungkan menjadi budaya belajar bersama.”
ICMI punya sejarah panjang sebagai rumah para cendekiawan muslim. Rumah ini lahir dari semangat ilmu, iman, dan pengabdian. Sejak awal, ICMI tidak dimaksudkan hanya menjadi tempat berkumpulnya orang-orang pandai, melainkan ruang untuk menyambungkan pikiran, nilai, dan karya bagi umat serta bangsa.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang masalah organisasi, semangatnya perlu tetap dijaga. Ini bukan untuk mencari kekurangan atau keterbatasan ICMI, apalagi menyudutkan siapa pun. Kita membicarakannya karena mencintai ICMI. Karena ingin rumah besar cendekia ini terus tumbuh, makin rapi, makin hidup, dan makin terasa manfaatnya.
Kalau direnungkan, ICMI sebenarnya memiliki banyak pengalaman baik. Di berbagai daerah, ada orda dan orsat yang bergerak dengan caranya masing-masing. Ada batom yang menguatkan ekonomi umat. Ada orwil yang mulai menghidupkan diskusi digital, literasi, pendidikan, dan kerja sosial. Banyak hal baik sudah tumbuh. Hanya saja, pengalaman itu belum selalu tersambung menjadi pembelajaran bersama.
Sering kali yang terjadi justru begini: satu daerah punya praktik bagus, daerah lain belum tentu tahu. Satu orsat menemukan cara kerja yang efektif, tetapi belum sempat dibagikan lebih luas. Satu batom menjalankan program yang menarik, namun belum menjadi contoh bersama. Akibatnya, banyak kebaikan berjalan sendiri-sendiri. Persoalannya bukan karena ketiadaan semangat, melainkan pada aliran pengetahuan yang masih perlu dirapikan.
Telah kita pahami, Anggaran Dasar ICMI sudah memberi arah yang indah. ICMI disebut sebagai organisasi yang bersifat keislaman, keilmuan, keindonesiaan, keterbukaan, kemandirian, dan kekeluargaan. Nilai-nilai itu bukan sekadar tulisan dalam dokumen organisasi. Ia adalah napas kerja. Kalau keterbukaan dan kekeluargaan dijalankan dalam budaya berbagi, maka setiap pengalaman daerah bisa menjadi ilmu bagi daerah lain.
B. J. Habibie pernah mengatakan dalam forum refleksi dua dekade reformasi nasional, “The process of reforms in Indonesia is well conducted, but it is still far from the target.” Kalimat ini cukup penting. Perubahan memang bisa dimulai dengan rencana, namun rencana perlu dijaga agar benar-benar hidup dalam tindakan. Pesan ini sangat relevan dengan ICMI, organisasi yang dulu ia pimpin dengan semangat menyatukan ilmu dan pengabdian.
Dalam kesempatan lain, ketika berbicara di Universitas Gadjah Mada, Habibie juga menegaskan bahwa teknologi penting untuk daya saing bangsa, tetapi nilai sejatinya lahir dari pikiran manusia. Kalimat ini mengingatkan kita bahwa teknologi hanyalah alat. Yang membuatnya bermakna adalah manusia yang berpikir jernih, mau belajar, dan bersedia membagikan pengetahuan untuk kebaikan bersama.
Maka ICMI bisa memulai kembali dari hal yang sederhana. Setiap orda, orsat, dan batom dapat membuat catatan singkat tentang pengalaman mereka. Catatannya cukup ringan saja. Misalnya, masalah apa yang dihadapi, langkah apa yang sudah dicoba, dan pelajaran apa yang bisa dibagikan. Dari catatan kecil seperti itu, pelan-pelan lahir peta pembelajaran ICMI.
Tabel: Kalau Akar Masalahnya Sudah Terlihat, Kira-kira Pohon Apa yang Ingin Kita Tanam?
| Akar yang Ditemukan | Benih Solusi yang Bisa Ditanam | Pohon yang Diharapkan Tumbuh |
|---|---|---|
| Praktik baik di orda belum banyak dikenal daerah lain | Membuat catatan singkat dan forum berbagi pengalaman | Budaya belajar antardaerah semakin hidup |
| Ide-ide baik masih berjalan sendiri-sendiri | Menyusun bank praktik baik ICMI yang mudah diakses | Inovasi lebih cepat menyebar ke seluruh jaringan |
| Komunikasi antarunsur organisasi belum selalu terhubung | Membuka ruang diskusi lintas orda, orsat, batom, orwil, dan pusat | Kolaborasi menjadi lebih kuat dan saling melengkapi |
| Pengalaman kegiatan sering selesai tanpa dokumentasi | Menuliskan pelajaran penting setelah setiap kegiatan | Pengetahuan organisasi terus bertambah dari waktu ke waktu |
| Banyak solusi sudah pernah dicoba, tetapi belum terdokumentasi | Mengumpulkan cerita keberhasilan maupun pembelajaran sederhana | ICMI memiliki memori organisasi yang semakin kaya |
Bayangkan bila setiap daerah menanam satu solusi. Orsat kampus berbagi cara menggerakkan mahasiswa. Orda berbagi pengalaman membangun jaringan dengan pemerintah daerah. Batom berbagi cara mengelola program ekonomi atau sosial secara lebih mandiri. Orwil menghimpun cerita itu, lalu membukanya untuk dibaca bersama. Dari sana, ICMI tidak perlu selalu memulai dari nol. Yang sudah baik bisa diteruskan. Bisa dijadikan contoh. Yang belum pas bisa diperbaiki. Yang baru bisa ditumbuhkan.

Dalam ilmu organisasi, ada gagasan Triple-Loop Learning dari Argyris dan Schön. Intinya, belajar tidak berhenti pada memperbaiki tindakan. Ia juga menyentuh cara berpikir, bahkan niat dan nilai yang menggerakkan tindakan itu. Dalam bahasa yang lebih dekat dengan kita, organisasi belajar ketika programnya dievaluasi, niatnya dijernihkan, dan kebiasaannya diperbaiki.
ICMI membutuhkan budaya belajar seperti itu. Budaya yang berani mengatakan, “ini yang sudah baik,” “ini yang belum berjalan,” dan “ini yang bisa kita pelajari bersama.” Kalimat seperti itu tidak mengurangi wibawa organisasi. Justru menunjukkan kedewasaan. Organisasi yang dewasa tidak malu belajar dari pengalamannya sendiri.
Langkahnya tidak harus menunggu forum besar. Setelah sebuah kegiatan selesai, ICMI di daerah bisa menulis tiga catatan pendek: satu hal yang berhasil, satu hal yang kurang berjalan baik, dan satu hal yang perlu dicoba berikutnya. Catatan itu bisa dibagikan melalui kanal organisasi. Grup percakapan, folder bersama, buletin digital, atau forum daring bulanan. Alatnya boleh sederhana. Yang perlu dijaga adalah semangat dan kebiasaan berbagi.
Di era digital dan kecerdasan buatan, cara berbagi pengetahuan juga perlu semakin lincah. Struktur organisasi tetap penting, karena ICMI memiliki jenjang orsat, orda, orwil, dan pusat. Namun aliran ide tidak selalu harus berjalan terlalu panjang. Ada kalanya ide dari orsat atau orda perlu lebih cepat terdengar, agar praktik baik tidak menunggu terlalu lama untuk menginspirasi yang lain.
Barangkali ICMI perlu memikirkan ruang belajar yang lebih horisontal. Ruang tempat orda, orsat, batom, orwil, dan pusat bisa saling menyapa secara lebih terbuka. Adab organisasi tetap dijaga. Hanya saja, pertukaran pengetahuan perlu dibuat lebih cepat. Dalam suasana seperti itu, pusat tidak hanya memberi arahan, daerah tidak hanya menerima. Semua saling membaca, saling mendengar, dan saling memperkaya.
Root Cause Analysis dari Juran mengajarkan pentingnya melihat akar masalah, bukan hanya gejala yang tampak di permukaan. Dalam konteks ICMI, melihat akar masalah sebaiknya dibaca sebagai bagian dari ikhtiar memperbaiki diri bersama. Kalau komunikasi belum lancar, kita buat kanal yang lebih sederhana. Kalau pengalaman daerah belum terdokumentasi, kita mulai mencatat. Kalau praktik baik belum tersebar, kita jadwalkan ruang berbagi. Banyak perbaikan justru dimulai dari kebiasaan kecil yang ditekuni.
Tradisi Islam juga memberi dasar yang kuat. Rasulullah ﷺ mengajarkan syura, bukan sebagai formalitas pertemuan, melainkan sebagai ruang mendengar dan menimbang. Dalam syura, orang tidak hanya berbicara, tetapi juga belajar memahami. Di sana ada adab, kejernihan, dan keinginan mencari yang terbaik. ICMI sebagai organisasi cendekia muslim sangat dekat dengan semangat ini.
Lebih dalam lagi, Al-Qur’an mengingatkan, “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams [91]: 9–10). Ayat ini bisa menjadi hikmah bagi setiap ikhtiar perbaikan organisasi. Menyucikan jiwa organisasi berarti menjaga niat, merawat kejujuran, dan memastikan kerja dilakukan untuk manfaat, bukan sekadar nama.
ICMI tidak harus menunggu momentum besar untuk berubah. Perubahan bisa dimulai dari hal sederhana, satu catatan yang dibagikan, satu praktik baik yang ditularkan, satu orsat yang didengar, satu orda yang diapresiasi, satu batom yang dijadikan contoh. Pelan-pelan, hal kecil seperti itu akan membentuk budaya. Dan ketika budaya belajar tumbuh, organisasi menjadi lebih hidup.
Maka, saatnya ICMI menanam solusi. Pelan saja, asal tekun. Tidak perlu saling menunjuk. Lebih baik saling menguatkan. Dari orda, orsat, dan batom, kita belajar bahwa pengetahuan tidak selalu lahir dari panggung besar. Kadang ia tumbuh dari kerja sunyi, dari pengalaman daerah, dari langkah kecil yang dilakukan dengan niat baik.
Jika akar niatnya lurus, pohon solusi akan tumbuh dengan kuat. Dari akar itu, ilmu akan menguatkan batangnya, kolaborasi merimbunkan daunnya, dan manfaat menjadi buah yang bisa dirasakan. Insyaallah, dari budaya belajar yang dirawat bersama, ICMI akan terus menjadi rumah cendekia yang meneduhkan umat dan bangsa.
Kalau Boleh Dirangkum
- Mencari akar masalah bukan untuk mencari siapa yang salah. Justru dari situlah ICMI bisa merawat yang sudah baik, memperbaiki yang belum pas, dan menumbuhkan langkah baru.
- Solusi sering lahir ketika masalah dipahami dengan jernih, lalu pelan-pelan diterjemahkan menjadi tindakan.
- Setiap orda, orsat, dan batom menyimpan pengalaman yang berharga. Kalau pengalaman itu saling dibagikan, seluruh ICMI ikut belajar.
- ICMI akan semakin kuat ketika setiap pengalaman diolah menjadi pembelajaran, lalu diteruskan menjadi langkah perbaikan.
- Budaya belajar tumbuh ketika pengalaman tidak berhenti di satu daerah, tetapi berpindah menjadi pengetahuan bersama seluruh keluarga ICMI.
- Menanam solusi selalu dimulai dari hal sederhana: memahami persoalannya, mencoba jalan keluarnya, lalu menjaga agar kebaikan itu terus bertumbuh.
Kalau Mau Dipraktikkan
- Setelah sebuah kegiatan selesai, coba luangkan beberapa menit untuk mencatat satu pelajaran yang paling berharga.
- Tanyakan tiga hal sederhana: mengapa ini terjadi, apa yang bisa diperbaiki, dan siapa yang bisa diajak melangkah bersama.
- Biasakan membuat catatan singkat tentang pengalaman yang baru saja dilalui. Tidak perlu panjang. Yang penting bisa dipelajari kembali.
- Kalau menemukan cara yang berhasil, bagikan kepada orda, orsat, atau batom lain. Pengalaman baik akan terasa lebih bermanfaat ketika menginspirasi daerah lain.
- Tidak perlu menunggu solusi yang sempurna. Mulailah dari langkah kecil yang bisa dikerjakan hari ini, lalu perbaiki pelan-pelan seiring bertambahnya pengalaman.
Referensi
Antara News. (2018, May 23). Indonesia’s reforms still far from realized: Habibie. https://en.antaranews.com/news/115821/indonesias-reforms-still-far-from-realized-habibie (Antara News)
Argyris, C., & Schön, D. A. (1996). Organizational learning II: Theory, method, and practice. Addison-Wesley.
De Feo, J. A. (Ed.). (2016). Juran’s quality handbook: The complete guide to performance excellence (7th ed.). McGraw-Hill Education.
Tosey, P., Visser, M., & Saunders, M. N. K. (2012). The origins and conceptualizations of “triple-loop” learning: A critical review. The Learning Organization, 19(3), 291–307.
Universitas Gadjah Mada. (2011, May 30). B. J. Habibie: Technology provides added value for nation’s competitiveness. https://ugm.ac.id/en/news/6532-b-j-habibie-technology-provides-added-value-for-nation-s-competitiveness/ (Universitas Gadjah Mada)




