بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Trump dan Escalation of Commitment: Ketika Harga Diri Mengalahkan Realitas
Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Anggota Tim Litbang Persyada Al Haromain, Dosen
“Ketika perang terus dipertahankan meski alasan makin rapuh, yang dijaga sering bukan keamanan, melainkan citra untuk tak tampak salah.”
Ada perang yang dijalankan karena kalkulasi. Ada juga perang yang diteruskan karena gengsi. Perang Iran 2026 makin terlihat masuk kategori kedua.
Di saat kerugian dan korban membesar, pasar global terguncang, dan sekutu sendiri mulai menjaga jarak, Donald Trump justru tetap memelihara nada keras.
Pada kasus ini, masalahnya bukan lagi semata cara memenangkan perang. Masalahnya sudah masuk ke psikologi kekuasaan: ketika seorang pemimpin sudah telanjur basah dan sudah jauh melangkah, berhenti sering dianggap sebagai kekalahan.
Dalam ilmu perilaku, pola itu punya nama yang sangat tepat: escalation of commitment. Barry M. Staw, dalam artikelnya yang klasik, Knee-Deep in the Big Muddy: A Study of Escalating Commitment to a Chosen Course of Action (1976), menjelaskan kecenderungan pengambil keputusan untuk terus menambah komitmen pada keputusan yang sudah menunjukkan tanda-tanda gagal.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena seorang pemimpin kerap merasa terlalu terikat pada keputusan yang sudah ia umumkan dan bela di depan publik. Akibatnya, yang dipertahankan bukan lagi hasil, melainkan harga diri. Bukan lagi realitas, melainkan pembenaran diri.
Trump tampak pas dibaca dari kacamata itu. Yang terlihat hari-hari ini bukan seorang pemimpin yang tenang mengevaluasi risiko, melainkan seorang pemimpin yang tersudut oleh keputusan sendiri.
Sidang Senat Amerika pada 18 Maret 2026 menunjukkan kegelisahan itu. Para senator dari dua partai menyoroti biaya perang, korban sipil, guncangan kawasan, dan ketidakjelasan tujuan akhirnya. Pada saat yang sama, Joe Kent—pejabat senior kontra-terorisme—mundur sambil menyatakan Iran sesungguhnya tidak menimbulkan ancaman segera. Itu bukan kritik dari lawan politik. Itu alarm dari dalam timnya sendiri, dari dalam rumah sendiri
Justru di situlah logika escalation of commitment bekerja. Ketika realitas menyuruh berhenti, ego politik menyuruh jalan terus.
Trump merespons desakan mundur dari Kent dengan menyebutnya lemah dalam isu keamanan. Sementara itu, sekutu-sekutu Eropa memilih menolak ikut perang dan menegaskan bahwa itu bukan perang mereka.
Masalahnya, penolakan itu tidak dibaca sebagai tanda untuk mengevaluasi keadaan. Yang terlihat justru sebaliknya: penolakan itu diperlakukan sebagai tantangan terhadap otoritas.
Ada kebiasaan lama dalam politik: ketika argumen mulai rapuh, volume suara biasanya cenderung naik. Seolah kerasnya nada bisa menutup rapuhnya dasar keputusan. Padahal yang keras belum tentu yang kuat. Yang lantang… belum tentu yang benar.
Di sinilah Iran penting dibaca bukan sekadar sebagai objek serangan, melainkan sebagai cermin yang memantulkan krisis moral Washington sendiri. Pemerintah Iran tetap menyatakan program nuklirnya bersifat sipil, dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi kembali menegaskan bahwa doktrin negaranya tetap menolak senjata nuklir.
Tentu orang boleh memperdebatkan seberapa jauh klaim itu dipercaya. Tetapi yang lebih penting adalah ini: justifikasi perang dari pihak Trump sendiri tidak pernah berdiri seteguh yang ingin mereka tampilkan. Kalau alasan perang saja dipersoalkan dari dalam, lalu perang tetap diteruskan, wajar bila muncul kecurigaan bahwa yang sedang dijaga bukan keamanan, melainkan kehormatan politik.
Agresi Israel juga perlu disebut dengan terang. Trump tidak sedang berdiri di ruang hampa. Ia menopang satu perang yang sejak awal sangat dipengaruhi kepentingan strategis Israel, lalu ikut terseret ke dalam logika perang yang makin kabur ujungnya.
Kenneth Roth menulis dengan tajam di The Guardian, 18 Maret 2026, bahwa Trump seharusnya menolak dorongan Netanyahu untuk mempertahankan perang yang berkepanjangan. Perang seperti ini sering terus dijalankan meski tujuannya sudah tidak jelas. Yang membuatnya terus berlangsung bukan hanya strategi, tetapi juga tumpukan reputasi, kepentingan, dan gengsi politik yang sudah telanjur masuk terlalu dalam.
Ada sikap yang dalam bahasa Jawa terasa sangat akrab: ngotot. Bukan sekadar keras pendapat, tetapi terus memaksakan kehendak meski tanda-tanda bahwa ia keliru sudah makin kelihatan. Semakin diingatkan, semakin keras bertahan. Seolah mundur sedikit saja sudah cukup untuk menjatuhkan harga dirinya.
Dalam politik perang, sikap semacam ini jauh lebih berbahaya karena yang dipertaruhkan bukan sekadar menang debat, melainkan nyawa manusia dan masa depan Timur Tengah.
Karena itu, kelemahan terbesar posisi Trump hari ini justru terlihat dari apa yang tidak lagi ia miliki: legitimasi yang utuh. Dukungan sekutu retak. Kepercayaan internal goyah. Tujuan perang kabur.
Bahkan ketika Washington mengklaim sukses strategis, pejabat intelijennya sendiri mengakui bahwa pemerintah Iran tetap utuh meski melemah. Artinya, perang ini sangat mahal, tetapi ujungnya masih belum benar-benar jelas. Lalu, apa yang sebenarnya sedang dipertahankan?
Jawabannya makin terang: kemenangan mungkin tetap menjadi tujuan, tetapi gengsi politik tampak semakin menentukan arah keputusan.
Dalam tradisi Islam, gejala seperti ini bukan hal baru. Al-Qur’an menggambarkan penolakan terhadap kebenaran yang lahir bukan dari ketidaktahuan, melainkan dari kezaliman dan kesombongan: ‘Dan mereka mengingkarinya, padahal hati mereka meyakini kebenarannya’ (QS. An-Naml: 14).
Dalam pengertian itu, escalation of commitment dapat dibaca sebagai gejala lama. Ia bukan sekadar istilah dalam psikologi modern, melainkan pantulan dari kelemahan manusia yang kerap lebih setia pada gengsinya sendiri daripada pada kenyataan.
Dalam situasi ini, yang paling sulit bukan mencari jalan keluar, melainkan mengalahkan ego. Padahal kenyataan sudah lama memanggilnya untuk berhenti.
Stay Relevant!




