بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Ketika Rezeki Terasa Lambat
Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Task Force Persyada Al Haromain, Dosen, Mentor Soft Skills
“Rezeki terasa lambat bukan selalu karena malas. Kadang medan ekonomi memang berat. Tetaplah ikhtiar, jangan menyerah, jangan halalkan segala cara.”
Belakangan, pernyataan tentang masyarakat desa yang tidak memakai dolar ikut ramai dibahas. Secara harfiah, memang benar orang desa tidak bertransaksi dengan dolar. Tetapi pelemahan rupiah tetap bisa terasa lewat jalur lain: harga bahan baku, pupuk, obat, barang impor, ongkos produksi, dan biaya hidup bisa ikut terdongkrak.
Karena itu, ketika masyarakat kecil merasa rezekinya makin berat, keluhan itu tidak selalu lahir dari kemalasan. Kadang mereka sedang merasakan dampak ekonomi yang jalurnya tidak tampak langsung.
Dampak seperti ini akhirnya masuk ke ruang-ruang paling dekat: dapur, warung kecil, biaya sekolah, cicilan motor, ongkos kerja, dan belanja harian.
Saat ini, PHK masih terdengar dimana-mana. Lowongan kerja semakin sempit. Tiap tahun ada sekitar 3,5 juta orang baru yang masuk ke pasar kerja. Pekerjaan kontrak dan gig economy (kerja serabutan) membuat penghasilan tidak selalu pasti. Banyak keluarga hanya ingin hidupnya tetap berjalan normal: dapur tetap menyala, cicilan lancar, uang sekolah terbayar, dan besok masih ada pegangan.
Ada orang yang tetap bekerja, tetap berdoa, tetap berikhtiar, tetapi di dalam hatinya muncul pertanyaan yang melelahkan: mengapa hasilnya belum juga datang? Ia sudah bangun pagi. Sudah mengirim lamaran ke mana-mana. Sudah mencoba merintis usaha. Sudah menurunkan harga. Sudah ikut kursus. Sudah belajar cara baru. Sudah bertanya ke sana-sini. Tetapi order tetap sepi. Panggilan wawancara belum datang. Gaji tidak bergerak. Tapi kebutuhan justru terus meningkat.
Maka kurang adil kalau setiap rezeki yang terasa lambat langsung disebut akibat kemalasan. Tetapi berhenti dan menyalahkan keadaan juga berbahaya. Tantangan dan medan yang berat perlu diakui.
Psikolog Martin Seligman pada tahun 1970-an memperkenalkan konsep learned helplessness: keadaan ketika seseorang terlalu sering mengalami kegagalan, lalu mulai percaya bahwa usahanya sia-sia, tidak ada gunanya.
Pada fase seperti ini, yang mulai rapuh bukan hanya penghasilan, tetapi juga semangat dan harapan. Saat seseorang mulai berkata, “Sudah percuma saja,” ia bukan hanya kehilangan optimisme. Ia mulai kehilangan keberanian untuk mencoba pintu lain. Fase ini tentu berbahaya.
Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari, ulama besar dalam tradisi tasawuf Sunni, memberi nasihat yang sangat agung. Dalam Al-Hikam, beliau mengingatkan agar manusia tidak terlalu sibuk menggelisahkan sesuatu yang sudah Allah jamin, sampai lupa pada kewajiban yang Allah minta. Rezeki memang penting, tetapi jangan sampai seluruh hati kita habis hanya untuk mencemaskan rezeki.
Ini bukan ajakan untuk berhenti berikhtiar. Rezeki tetap harus dijemput dengan usaha yang halal dan sungguh-sungguh. Tetapi hati perlu dijaga: jangan sampai hancur, panik, atau merasa seolah semua hasil hanya bergantung pada kekuatan diri sendiri. Kita berusaha, tetapi Allah yang membuka jalan.
Buya Hamka juga mengingatkan bahwa tawakal bukan meninggalkan usaha. Tawakal justru datang setelah manusia memakai akal, tenaga, dan kesungguhannya.
Tenang bukan berarti diam.
Pasrah bukan berarti menyerah.
Sabar bukan berarti menunggu tanpa memperbaiki apa pun.
Di sinilah kita perlu memilah.
Dalam psikologi, Julian Rotter pada tahun 1966 memperkenalkan teori locus of control: cara manusia memandang sumber kendali dalam hidupnya. Tentu, bagi seorang Muslim, kendali tertinggi tetap milik Allah. Tetapi manusia tetap diberi ruang ikhtiar. Ada hal-hal yang berada di luar kemampuan kita, seperti kurs dolar, keputusan PHK, daya beli nasional, atau kebijakan ekonomi pemerintah. Namun, ada pula bagian yang masih bisa kita jaga, kita rawat, kita kendalikan: cara kerja, relasi, pengeluaran, keterampilan, doa, kesehatan, dan keberanian mencoba lagi.
Maka yang dibutuhkan bukan merasa semua hal bisa kita kendalikan, dan bukan pula menyerah seolah kita tidak punya peran sama sekali. Akidah menjaga hati agar tidak sombong terhadap hasil. Ikhtiar menjaga langkah agar tidak pasif menghadapi tantangan kehidupan.
Kadang rezeki terasa lambat karena memang waktunya belum tiba. Tetapi kadang bisa jadi, cara kita yang perlu diperbaiki.
Apakah produk kita masih relevan dengan kebutuhan pasar? Apakah kemampuan dan layanan kita sudah diperbarui? Apakah relasi kita terlalu sempit? Apakah kita boros di pengeluaran? Apakah kita masih mempertahankan cara lama sambil berharap hasil baru?
Pertanyaan seperti itu bukan tanda kurang tawakal. Itu bagian dari muhasabah. Sabar bukan berarti mengulang cara yang sama sambil menolak evaluasi. Sabar adalah bertahan dalam ikhtiar yang benar, sambil tetap bersedia memperbaiki langkah.
Saat rezeki terasa lambat, godaan jalan pintas sering muncul. Menipu sedikit. Mengurangi takaran. Mengambil hak orang. Berutang tanpa perhitungan. Manipulasi laporan. Menjual sesuatu yang meragukan. Menerobos batas halal-haram karena merasa keadaan sedang mendesak. Pada bagian ini, pesan Prof. Quraish Shihab patut diingat: keterlambatan rezeki jangan membuat manusia menghalalkan segala cara.
Rezeki yang datang cepat, tapi merusak keberkahan, sering kali hanya memindahkan masalah ke tempat lain. Apa gunanya penghasilan bertambah, tetapi hati gelisah, amanah rusak, keluarga ikut menanggung akibat, dan hubungan dengan Allah makin jauh?
Satu lagi yang sering membuat rezeki terasa makin lambat: membandingkan fase hidup kita dengan orang lain. Ada teman yang cepat mendapat kerja. Ada tetangga yang usahanya melejit. Ada saudara yang tampak mudah sekali mendapatkan rezeki. Dari luar, hidup orang lain terlihat lancar. Padahal kita tidak selalu tahu ujian apa yang mereka pikul, cicilan apa yang mereka sembunyikan, atau luka apa yang tidak mereka ceritakan.
Setiap orang punya fase hidup. Ada yang rezekinya lapang, ada yang sedang sempit. Ada yang diuji dengan kekurangan. Ada yang diuji dengan kelapangan. Ada yang diuji dengan menunggu. Ada yang diuji dengan diberi cepat, lalu harus menjaga amanahnya. Maka jangan buru-buru merasa tertinggal hanya karena jalan hidup orang lain tampak lebih cepat.
Ketika rezeki terasa lambat, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala meninggalkan kita. Bisa jadi ini jeda untuk menata hati. Bisa jadi ini undangan untuk muhasabah dan membaca ulang langkah. Bisa jadi ini cara Allah menjaga kita dari sesuatu yang belum sanggup kita pikul. Bisa jadi pula ini saatnya memperbaiki sikap, ilmu, relasi, disiplin, dan cara menjemput rezeki.
Yang penting, la tahzan—jangan tenggelam dalam sedih. Jangan menyerah. Jangan menghalalkan segala cara. Jangan berhenti berdoa. Jangan berhenti memperbaiki diri.
Daftar Pustaka
Hamka. (n.d.). Tafsir Al-Azhar [PDF]. Internet Archive.
Ibn ‘Atha’illah al-Sakandari. (n.d.). Al-Hikam [The Book of Wisdom]. Internet Archive.
Indiraphasa, N. S. (2022, November 11). Jelaskan rezeki, Prof Quraish Shihab: Jangan ukur dengan materi. NU Online.
Rotter, J. B. (1966). Generalized expectancies for internal versus external control of reinforcement. Psychological Monographs: General and Applied, 80(1), 1–28. https://doi.org/10.1037/h0092976
Seligman, M. E. P. (1972). Learned helplessness. Annual Review of Medicine, 23, 407–412. https://doi.org/10.1146/annurev.me.23.020172.002203


