بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Syed Muhammad Naquib al-Attas:
Krisis Adab di Dunia Modern
Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Anggota Tim Litbang Persyada Al Haromain, Dosen
“Krisis umat hari ini mungkin bukan kurang ilmu, melainkan hilangnya adab. Itulah pesan penting Syed Muhammad Naquib al-Attas.”
Kita telah kehilangan seorang tokoh besar karismatik: Syed Muhammad Naquib al-Attas. Lahir di Bogor dan menghabiskan sebagian besar kiprah intelektualnya di Malaysia, beliau dikenal sebagai filsuf Muslim terkemuka yang pemikirannya melintasi batas-batas negara dan generasi. Di balik kepergian itu, tersisa satu pertanyaan penting bagi dunia intelektual Islam: apakah kita benar-benar memahami pesan besar yang selama ini ia sampaikan tentang krisis adab?
Kita hidup di zaman yang aneh. Orang makin mudah bicara, makin cepat berpendapat, dan makin berani mengomentari apa saja. Dalam satu hari, ribuan pandangan berseliweran di lini masa layar kecil kita: tentang agama, politik, pendidikan, bahkan tentang hal-hal yang sebenarnya menuntut ilmu dan kehati-hatian. Tidak jarang, sumpah serapah pun ikut hadir di dalamnya.
Ironisnya, justru di tengah riuh keramaian itu,wisdom terasa makin sulit ditemukan. Suara dan pendapat memang semakin banyak, tetapi kejernihan tidak serta merta ikut bertambah.
Justru pada saat seperti ini, pemikiran Al-Attas terasa makin penting untuk dibaca kembali. Ia mengingatkan bahwa masalah besar umat Islam bukan semata-mata soal sosial-politik, ekonomi, atau teknologi. Akar persoalan yang lebih dalam adalah loss of adab—hilangnya adab dalam memahami ilmu, otoritas, dan kehidupan. Ketika adab memudar, orang tidak lagi tahu siapa yang layak didengar, siapa yang patut dijadikan rujukan, bagaimana ilmu seharusnya dicari, dan untuk apa pengetahuan itu pada akhirnya digunakan.
Bagi Al-Attas, adab bukan sekadar sopan santun. Adab jauh lebih dalam dari itu. Ia adalah kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya yang tepat. Ilmu diperlakukan sebagai amanah, bukan alat pamer. Guru dihormati karena kedalaman ilmunya, bukan karena popularitasnya. Pemimpin dinilai dari integritasnya, bukan sekadar dari kemampuannya menguasai camera, panggung dan strategi pencitraan. Jika susunan ini rusak, maka yang terjadi bukan sekadar kekeliruan sesaat, melainkan kekacauan dalam cara berpikir.
Di lingkungan pesantren, kita juga akrab dengan satu prinsip yang sangat mendasar: adab lebih dulu daripada ilmu. Prinsip ini sangat ditekankan oleh ulama besar, Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Pesannya sederhana, tetapi dalam sekali: akhlak, etika, dan adab kepada guru serta kepada ilmu harus menjadi fondasi utama sebelum seseorang merasa pantas menuntut ilmu. Sebab ilmu tanpa adab bukan hanya kehilangan berkah, tetapi juga bisa berubah menjadi sesuatu yang berbahaya.
Lihat saja ruang publik kita hari ini. Tidak sedikit orang berbicara sangat meyakinkan tentang hal-hal yang belum sungguh ia pelajari. Tidak sedikit pula orang yang lebih percaya pada yang viral daripada yang benar-benar alim. Kadang yang tenang kalah oleh yang paling keras. Kadang yang mendalam justru tenggelam oleh yang paling heboh. Di situ kita mulai paham: krisis ini bukan karena manusia kekurangan informasi, tetapi karena kehilangan adab dalam memperlakukan informasi.
Al-Qur’an telah memberi kedudukan mulia kepada ilmu. Allah berfirman, “Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (QS. Al-Mujādilah: 11). Ayat ini menegaskan bahwa ilmu dalam Islam memang memiliki martabat yang tinggi. Tetapi kemuliaan ilmu tidak pernah berdiri sendirian. Ia selalu terkait dengan iman, tanggung jawab, dan akhlak orang yang membawanya.
Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” Hadis ini menegaskan bahwa tujuan Islam bukan hanya membuat manusia mengetahui banyak hal, tetapi membentuk manusia yang tepat dalam bersikap. Sebab ketika ilmu tumbuh tanpa akhlak, ketika kecerdasan berkembang tanpa adab, yang lahir bukan peradaban yang matang, melainkan jahiliyah dalam wajah yang baru. Dan jahiliyah semacam ini pasti kehilangan arah.
Saya kira inilah salah satu kegelisahan terbesar Al-Attas. Ia melihat bahwa umat bisa saja sibuk membangun lembaga, memperbanyak gelar, dan mengejar kemajuan. Tetapi semua itu belum tentu cukup bila adab tidak ikut dibangun. Tanpa adab, ilmu bisa berubah menjadi kesombongan. Jabatan bisa berubah menjadi penyalahgunaan kuasa. Bahkan agama pun bisa berubah menjadi suara keras yang kehilangan cahaya.
Karena itu, memulihkan peradaban barangkali tidak selalu harus dimulai dari agenda-agenda besar. Sering kali ia justru dimulai dari hal-hal yang tampak sederhana: belajar dengan rendah hati, berbicara dengan takaran, menghormati orang yang benar-benar berilmu, dan tidak tergesa-gesa merasa paling tahu. Hal-hal kecil seperti ini sering dianggap sepele, padahal justru di sanalah adab bisa menjadi hidup atau mati.
Kekeringan adab itu tidak hanya tampak di ruang digital yang riuh, tetapi juga dalam relasi yang jauh lebih mendasar. Ia hadir ketika orang merasa cukup tahu hanya karena banyak membaca potongan informasi. Ia hadir ketika otoritas ilmu tidak lagi dihormati, dan mereka yang sungguh-sungguh menempuh jalan ilmu justru mudah disisihkan oleh suara yang lebih keras. Dari sini, krisis adab pelan-pelan turun dari layar ke kehidupan nyata.
Itulah sebabnya kita mulai melihat gejala yang lebih menyedihkan di dunia pendidikan. Hubungan murid dengan guru tidak selalu lagi dibangun di atas hormat. Dalam beberapa kasus, guru justru berhadapan dengan sikap kasar, tekanan, bahkan ancaman dari pihak yang seharusnya ikut menjaga marwah ilmu.
Jika keadaan seperti ini terus dianggap biasa, maka yang terkikis bukan hanya wibawa guru, tetapi juga sendi batin sebuah peradaban.
Dan ketika guru tidak lagi dimuliakan, mungkin yang sesungguhnya sedang kita saksikan adalah adab yang perlahan meninggalkan kehidupan.
Lalu ilmu kehilangan rumahnya.




