Rezeki, Tawakal dan Bahaya Mental Pasif

Rezeki, Tawakal, dan Bahaya Mental Pasif

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Rezeki, Tawakal, dan Bahaya Mental Pasif

Sebuah Renungan Awam tentang “Berjalanlah” dalam QS. Al-Mulk: 15

Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Task Force Persyada Al Haromain, Dosen, Mentor Soft Skills

“Rezeki memang dari Allah. Tapi pintunya sering terbuka setelah kita bergerak, belajar, berjejaring, dan berani berubah.”

Ada nasihat yang pernah saya dengar: untuk ampunan Allah kita harus bersegera, sedangkan untuk rezeki kita cukup “berjalan”. Kalimat ini mungkin lahir dari niat baik: mengingatkan agar manusia tidak gelisah berlebihan dalam urusan dunia. Tetapi jika tidak dijelaskan, ia dapat terdengar seolah-olah rezeki cukup dijemput dengan santai, dengan usaha yang minimal. Benarkah “berjalan” dalam QS. Al-Mulk: 15 layak dipahami sebagai usaha pelan dan seadanya?

Dalam QS. Al-Mulk ayat 15, Allah menyebut bahwa Dialah yang menjadikan bumi mudah bagi manusia. Lalu manusia diperintahkan untuk berjalan di segala penjurunya dan memakan sebagian dari rezeki-Nya. Sebagian terjemahan lama memakai diksi “berjalanlah”, dan itu wajar karena lafaz Arabnya memang dekat dengan makna berjalan. Namun dalam terjemahan Kemenag edisi penyempurnaan 2019, ayat ini diterjemahkan dengan redaksi “jelajahilah segala penjurunya”. Nuansa serupa juga tampak dalam Quran NU dan penjelasan Quraish Shihab.

Diksi “menjelajahi” terasa penting. Ia tidak sama rasanya dengan berjalan pelan tanpa arah. Ada unsur bergerak, mencari, explore, membuka mata, membaca keadaan. Bumi tidak hanya diinjak, tetapi juga diamati, dipelajari, dan dimanfaatkan dengan cara yang baik.

Tentu tulisan ini bukan tafsir. Bukan pula usaha mengoreksi ulama, penerjemah Al-Qur’an, atau siapa pun. Ini hanya renungan awam tentang bagaimana satu kata bisa memengaruhi cara kita memahami rezeki, ikhtiar, dan tawakal.

Kalau “menjelajahi” kita baca lebih luas, ia bukan hanya gerak kaki. Ada gerak akal dan gerak hati. Kaki bergerak ke tempat baru. Akal belajar membaca perubahan, tren pasar, teknologi, kebutuhan orang, dan peluang yang belum terlihat. Hati tetap ingat bahwa semua rezeki berasal dari Allah, bukan semata-mata dari kecerdikan manusia.

Dengan cara pandang seperti ini, ayat rezeki tidak tampak sebagai ajakan untuk melambat, apalagi diam. Ia lebih terasa sebagai panggilan untuk bergerak (move) di bumi Allah dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh, tetapi tetap beradab.

Semangat seperti ini mengingatkan kita pada sebuah syair yang masyhur dinisbatkan kepada Imam asy-Syafi‘i:

سَافِرْ تَجِدْ عِوَضًا عَمَّنْ تُفَارِقُهُ
وَانْصَبْ فَإِنَّ لَذِيذَ الْعَيْشِ فِي النَّصَبِ

Safarlah, engkau akan menemukan pengganti dari apa yang engkau tinggalkan. Bersusahpayahlah, karena nikmatnya hidup ada dalam kepayahan usaha.

Bait itu terasa seperti teguran halus. Jangan-jangan rezeki terasa sempit bukan karena Allah menutup pintunya, tetapi karena kita terlalu lama berdiri di pintu yang sama. Kita bekerja, tetapi tidak menjelajah. Kita sibuk, tetapi pandangan tidak bertambah. Kita lelah, tetapi lelahnya hanya berputar di ruang yang itu-itu saja.

Dalam teori organisasi modern, James G. March (1991), membedakan exploitation dan exploration. Yang pertama berarti mengoptimalkan hal yang sudah dikenal. Yang kedua berarti mencari kemungkinan baru. Hidup butuh keduanya. Kita perlu tekun dengan pekerjaan yang ada. Tapi kalau hanya mengulang cara lama, sementara dunia berubah, pelan-pelan kita bisa tertinggal. Maka menjelajah dekat dengan semangat exploration: berani belajar ilmu baru, mencoba pasar baru, mengenal teknologi baru, dan menemukan cara kerja yang lebih segar.

Mark Granovetter (1973) juga memberi sudut pandang menarik lewat gagasan the strength of weak ties. Peluang sering datang bukan hanya dari orang-orang terdekat, tetapi dari relasi longgar: kenalan baru, teman lintas komunitas, rekan yang jarang bertemu, atau orang yang kita jumpai dalam perjalanan. Dari obrolan kecil bisa muncul informasi. Dari kenalan biasa bisa lahir kerja sama. Dari perjumpaan yang tampak kebetulan bisa terbuka pintu rezeki.

Dalam keadaan hari ini, pembicaraan tentang rezeki tidak lagi bisa dilepaskan dari kerasnya pasar kerja. Tiap tahun ada sekitar 3,5 juta orang baru yang masuk ke pasar kerja. Sementara itu, lapangan kerja tidak selalu tumbuh secepat harapan. Kabar PHK muncul dari berbagai sektor. Lowongan terasa makin sempit, persaingan makin rapat, dan banyak orang harus berebut ruang hidup yang sama. Di saat yang sama, AI mulai mengambil sebagian pekerjaan yang dulu dianggap aman: administrasi, desain, penulisan, layanan pelanggan, bahkan pekerjaan kreatif tertentu. Dunia kerja sedang berubah, dan perubahan itu tidak selalu menunggu kesiapan kita.

Karena itu, kerja keras saja kadang belum cukup kalau ruang geraknya sempit. Pedagang kecil, pekerja harian, wirausahawan, guru, karyawan, petani, nelayan, mahasiswa, santri, pelaku UMKM—semua punya lelah masing-masing. Tapi lelah yang hanya berputar di tempat yang sama bisa membuat kita kalah oleh keadaan. Perlu belajar lagi. Perlu menjelajah lagi. Perlu jaringan. Perlu kolaborasi. Perlu keberanian melihat dunia di luar lingkaran sendiri. Bukan untuk panik mengejar dunia, tetapi agar ikhtiar kita tidak kalah cepat dari perubahan.

Maka bahaya mental pasif bukan terletak pada keyakinan bahwa rezeki datang dari Allah. Itu justru bagian dari iman. Bahayanya muncul ketika keyakinan itu dipakai untuk menutup kemalasan, rasa takut, atau keengganan berubah. Tawakal lalu berubah menjadi selimut untuk diam. Padahal tawakal bukan pengganti ikhtiar. Tawakal adalah pegangan hati setelah kaki melangkah dan akal bekerja.

Tentu Islam tidak mengajarkan manusia menjadi budak dunia. Kerja keras tetap harus dijaga oleh halal, adab, keluarga, kesehatan, dan akhirat. Tetapi mencurigai kerja serius sebagai tanda kurang tawakal juga tidak tepat. Para nabi bekerja. Para ulama melakukan safar. Para pedagang Muslim dahulu menjelajahi negeri-negeri jauh. Mereka bergerak, tetapi hatinya tetap terikat kepada Allah.

Yang pasti, bukan ayatnya yang perlu kita ubah. Yang perlu kita benahi adalah cara kita menangkap pesannya. “Berjalanlah” jangan dipakai sebagai alasan untuk usaha seadanya. Ia bisa kita pahami sebagai ajakan untuk menjelajahi bumi Allah: melihat lebih luas, belajar lebih dalam, melakukan inovasi, bertemu lebih banyak, dan menjemput rezeki dengan ikhtiar yang lebih matang.

Semoga Allah menjauhkan kita dari mental pasif yang memakai tawakal sebagai alasan. Semoga Allah memberi kita hati yang bersandar kepada-Nya, kaki yang ringan bergerak, akal yang jernih membaca peluang, dan rezeki yang halal lagi berkah.


Referensi

Granovetter, M. S. (1973). The strength of weak ties. American Journal of Sociology, 78(6), 1360–1380. https://doi.org/10.1086/225469

March, J. G. (1991). Exploration and exploitation in organizational learning. Organization Science, 2(1), 71–87. https://doi.org/10.1287/orsc.2.1.71

Scroll to Top