Merawat Budaya Ilmu Pasutri

Merawat Budaya Ilmu Pasutri

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Merawat Budaya Ilmu Pasutri

Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Task Force Persyada Al Haromain, Dosen, Mentor Mutu Pendidikan

“Ketika suami dan isteri saling mendorong kepada ilmu, rumah tak cuma jadi tempat pulang, tapi juga tempat hati dan akal bertumbuh.”

Kita sering bicara tentang rumah tangga dengan bahasa yang sangat praktis: kewajiban nafkah, anak, tagihan, pekerjaan, jadwal, dan urusan yang seperti tidak ada habisnya. Semua itu benar. Semua itu memang harus diurus. Namun di tengah hal-hal yang serba teknis itu, kadang ada satu hal yang mungkin terlewat: apakah rumah kita masih punya ruang untuk terus belajar, berpikir jernih, dan bertumbuh bersama?

Sebab rumah tangga ideal tidak cukup hanya dijaga agar tetap jalan sesuai kadar rutinitas. Ia perlu dijaga, dirawat dan ditingkatkan agar tidak jalan di tempat.

Biasanya, pertumbuhan itu tidak harus datang dari keputusan besar. Bukan dari seminar mahal. Bukan dari rak buku yang penuh. Kadang justru dari hal-hal yang kelihatan kecil: suami-isteri masih menyempatkan untuk duduk bersama, mendengar, bertanya, dan tidak gengsi untuk terus belajar.

Dari kebiasaan ini, budaya ilmu mulai terasa penting.

Kita sering membayangkan ilmu itu datang dari kampus, pesantren, atau forum-forum resmi. Itu benar. Tapi ada satu tempat yang sering justru lebih menentukan: rumah. Di rumahlah kita pulang membawa lelah, membawa emosi, membawa bingung, dan membawa hal-hal yang kadang tidak sempat dibereskan di kantor.

Kalau rumah cuma jadi tempat singgah, kita mungkin bisa istirahat. Bisa makan, tidur. Tapi belum tentu tumbuh. Belum tentu akal kita bertambah jernih, belum tentu cara pandang kita makin lurus, dan belum tentu ilmu mendapat tempat untuk hidup di dalamnya.

Rumah tangga yang sehat, barangkali, adalah rumah tangga yang masih punya ruang untuk menjernihkan pikiran. Ada obrolan yang tidak melulu soal tagihan, belanja, jadwal anak, atau urusan teknis yang besok lusa datang lagi. Ada ruang kecil tempat ilmu masih dianggap penting.

Dan ilmu di sini tidak harus dibayangkan berat dulu. Kadang cukup dari kebiasaan sederhana: mendaftarkan pasangan untuk hadir ke majelis, saling mengirim bacaan yang baik, saling mengingatkan dengan cara yang lembut, atau paling tidak sama-sama tidak terlalu cepat merasa sudah tahu.

Saat ini masalah kita bersama bukan kekurangan informasi. Justru sebaliknya. Yang sering kurang adalah kedalaman. Orang bisa tahu banyak hal, tapi sedikit yang benar-benar mengendap. Orang bisa cepat berkomentar, tapi belum tentu bijak dalam menimbang. Kadang kita merasa sudah paham hanya karena sudah menonton potongan video pendek, mendengar cuplikan ceramah, atau bertanya cepat ke mesin AI.

Di zaman seperti ini, rumah tangga gampang sekali jadi ramai oleh informasi, tapi sepi oleh kejernihan. Kalau dibiarkan, keadaan seperti ini bukan hanya melelahkan hari ini, tetapi juga bisa menjadi bahaya bagi masa depan keluarga.

Karena itu, ketika ada isteri yang mendaftarkan suaminya ke forum ilmu, rasanya itu bukan hal sepele. Kelihatannya memang sederhana. Hanya urusan daftar mendaftar. Tapi kalau digali lebih dalam, di sana ada kepedulian agar pasangan tidak hanya sibuk menjalani hidup, melainkan juga ada upaya untuk tetap bertumbuh.

Barangkali di situlah letak bentuk perhatian yang indah, yang kadang luput dari perhatian kita bersama.

Kita biasanya lebih mudah melihat cinta dalam bentuk yang kasat mata: menafkahi, menyiapkan keperluan, menjaga kesehatan, mengurus anak. Jelas semua itu penting. Tapi ada bentuk cinta lain yang tidak kalah penting, hanya saja tidak banyak dibicarakan: mendorong pasangan agar tetap dekat dengan ilmu.

Abuya Muhammad bin Alawy Al Maliki Al Hasani, ulama kharismatik di Mekkah, pernah berpesan, “Dengan ilmu manusia akan diangkat derajatnya dan dengan khidmah manusia akan bermanfaat kepada orang lain.” Mungkin di situlah salah satu alasan mengapa budaya ilmu penting dirawat dalam rumah tangga.

Kita sepakat, rumah tangga yang kehilangan budaya ilmu berlahan bisa berubah menjadi rumah tangga yang hanya sibuk untuk bertahan. Semua tetap berjalan, tapi berjalan karena rutinitas dan kebiasaan. Masalah disikapi dengan reaksi. Percakapan makin datar dan teknis. Lama kelamaan rumah terasa penuh urusan, tapi tipis makna.

Dalam ilmu keluarga, hal seperti ini bisa dikaji lewat Family Systems Theory dari Dr. Murray Bowen. Gagasan Bowen berkembang sejak akhir 1940-an dan 1950-an, lalu pada 1970, teori ini makin dikenal luas dalam dunia psikiatri keluarga. Inti dari teori ini: keluarga bukan kumpulan orang yang hidup sendiri-sendiri, tetapi satu kesatuan emosional yang saling terhubung. Saling pengaruh mempengaruhi.

Kurang lebih artinya: kalau satu orang di rumah mulai berubah, dampaknya sering tidak berhenti di dia saja. Cara berpikir memengaruhi cara bicara. Cara bicara memengaruhi mood dan suasana. Dan suasana itu ikut memengaruhi keputusan, kedekatan, bahkan arah rumah tangga. Jadi ketika salah satu pihak mulai menghidupkan budaya ilmu, itu biasanya tidak lagi murni urusan pribadi. Ia bisa menular. Ia menjalar menjadi rantai kebaikan yang pelan-pelan membentuk watak rumah, cara keluarga memandang masalah, dan arah tumbuhnya kehidupan bersama.

Jadi, hal yang perlu kita catat, suami dan isteri sesungguhnya bukan dua orang yang kebetulan tinggal di bawah satu atap. Mereka saling memengaruhi, entah disadari atau tidak. Yang satu bisa menarik yang lain naik. Yang satu juga bisa membuat yang lain ikut lelah. Maka ketika salah satu mengajak kepada ilmu, otomatis ia tidak sedang mengurus dirinya sendiri saja. Ia sedang membuka jalan agar rumah itu ikut bertumbuh, ikut lebih jernih, dan ikut lebih kuat menghadapi hidup.

Dalam kondisi ini, kita bisa mengingat gagasan penting dari Prof. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi. Dalam tulisan beliau “Ilmu Harus Hidup: Dari Kurikulum Ke Peradaban” yang dimuat UNIDA Gontor pada akhir 2025, ditekankan bahwa yang penting bukan hanya sistem atau kurikulum yang bagus, tetapi tradisi ilmu yang hidup. Tradisi itu menautkan ilmu dengan adab, metodologi dengan worldview, serta keunggulan akademik dengan tanggung jawab peradaban.

Kalau ditarik ke konteks rumah tangga. Rumah tidak hanya perlu tertib. Rumah perlu punya tradisi ilmu yang hidup. Bukan berarti harus selalu formal dan serius. Tapi ada atmosfir dan suasana yang membuat ilmu itu betah tinggal: hidup dalam cara berbicara, cara berbeda pendapat, dan cara mengoreksi diri.

Oleh sebab itu, rumah tangga produktif tidak hanya perlu mandiri secara ekonomi. Rumah tangga juga perlu kuat secara intelektual, emosional, dan moral. Yang membuat keluarga bertahan dalam jangka panjang bukan cuma penghasilan atau rutinitas yang tertib, tetapi juga ilmu dan kejernihan saat menghadapi hidup.

Pada akhirnya, rumah tangga tidak hanya membutuhkan orang-orang yang setia hidup bersama, tetapi juga yang mau bertumbuh bersama. Mungkin karena itu, doa yang diajarkan Al-Qur’an terasa begitu dalam: “Rabbi zidni ‘ilma” — Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu (QS. Taha: 114). Doa ini seperti mengingatkan kita bahwa ilmu bukan urusan masa sekolah saja, melainkan bekal seumur hidup, termasuk dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Barangkali di situlah letak hikmah dan keindahan pasutri yang saling menguatkan dalam ilmu. Mereka bukan sedang mengejar pencitraan, melainkan sedang menjaga agar rumah mereka tidak gelap. Sebab rumah yang terang bukan hanya yang ramai oleh lampu dan aktivitas, tetapi yang di dalamnya masih ada ilmu, adab, dan kemauan untuk terus belajar.

Stay Relevant!


Kalau Boleh Dirangkum

  1. Rumah tangga tidak cukup hanya berjalan dengan rutinitas dalam urusan teknis, tetapi juga perlu ruang agar ilmu, akal dan hati tetap bertumbuh bersama.
  2. Budaya ilmu dalam keluarga sering lahir dari kebiasaan kecil (small steps improvement): mau duduk bersama, saling mendengar, dan tidak berhenti belajar.
  3. Di tengah banjir informasi, yang justru langka adalah kejernihan. Rumah bisa ramai oleh pengetahuan, tetapi sepi dari pemahaman yang dalam.
  4. Suami dan isteri saling memengaruhi. Ketika satu mulai dekat dengan ilmu, akan menular. Dampaknya bisa merambat dan membentuk suasana seluruh rumah.
  5. Rumah yang hidup bukan hanya yang sibuk dan terurus, tetapi yang di dalamnya ilmu, adab, dan keinginan untuk terus belajar tetap dijaga.

Kalau Mau Dipraktikkan

  1. Sisihkan waktu untuk ngobrol yang tidak melulu soal urusan teknis—cukup berbagi cerita, ide, atau hal baru yang dipelajari hari itu.
  2. Biasakan saling mengingatkan dalam kebaikan dengan cara yang ringan, misalnya berbagi bacaan atau mengajak ikut majelis tanpa kesan memaksa.
  3. Jaga suasana rumah tetap kondusif agar nyaman untuk berdiskusi, termasuk ketika berbeda pendapat. Dari situ biasanya cara berpikir ikut bertumbuh.
  4. Jangan merasa cukup hanya dengan informasi cepat. Sesekali luangkan waktu untuk belajar lebih dalam bersama, walau sedikit dan bertahap.
  5. Mulai dari langkah kecil, kebiasaan kecil: satu habits yang baik yang dijaga bersama. Dari situ perlahan terbentuk suasana rumah yang lebih jernih, lebih hangat, dan lebih bertumbuh.

Daftar Pustaka

Al-Qur’an. (n.d.). Surah Taha [20:114].

The Bowen Center for the Study of the Family. (n.d.). Introduction to the eight concepts. Retrieved April 18, 2026, from https://www.thebowencenter.org/introduction-eight-concepts

UNIDA Gontor. (2025). Ilmu harus hidup: Dari kurikulum ke peradaban. https://unida.gontor.ac.id/blog/unida-gontor-tradisi-ilmu-hidup/



Scroll to Top