بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Tidak Semua Orang Harus Jadi Pegawai
Menengok ulang persepsi dunia kerja di Indonesia
Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Task Force Persyada Al Haromain, Dosen, Mentor Soft Skills
“Profesi pegawai masih dipuja sebagai jalan aman. Padahal dunia kerja hari ini sudah jauh lebih luas dari bayangan lama kita.”
Sampai sekarang, banyak orang masih memandang profesi pegawai sebagai pekerjaan idaman. Di banyak keluarga, jalan ini masih dianggap paling aman, paling stabil, dan paling meyakinkan. Ada kantor, ada gaji bulanan, ada jabatan, ada pensiun, ada nama pekerjaan yang gampang disebut. Dari situ lahir keyakinan: kalau sudah jadi pegawai, hidup akan lebih tenang.
Boleh-boleh saja punya mimpi seperti itu. Menjadi pegawai bukan pilihan yang salah. Masalah muncul ketika profesi pegawai dipandang terlalu tinggi, lalu jalan kerja yang lain dianggap kurang layak untuk dipercaya. Dari situ pandangan kita jadi terbatas. Seolah-olah pekerjaan yang bermartabat harus selalu berbentuk kantor, kartu tanda pegawai, dan gaji tetap tiap bulan.
Padahal dunia kerja sekarang sudah jauh lebih cair.
Dalam kajian karier modern, gagasan boundaryless career dari Michael B. Arthur dan Denise M. Rousseau layak kita renungkan.. Mereka berpendapat, karier hari ini tidak lagi selalu tumbuh lurus di dalam satu organisasi. Orang bisa bergerak lintas proyek, lintas peran, lintas bidang, bahkan lintas institusi. Jalurnya menjadi jauh lebih lentur. Jadi jalan hidup profesional tidak harus selalu dibayangkan sebagai anak tangga yang dinaiki pelan-pelan di satu kantor yang sama.
Gagasan lain datang dari Charles Handy. Ia menyebut portfolio career. Gagasan Hendy membantu kita melihat bahwa jalur karier bisa dibangun dari banyak peran sekaligus. Seseorang bisa saja mengajar, menulis, konsultasi, mengelola usaha kecil, sambil mengerjakan proyek lain. Bentuknya memang tidak selalu sama. Tapi justru di situlah kenyataan dunia kerja hari ini: tidak semua orang hidup dari satu kursi dan satu meja.
Dua gagasan diatas penting, karena membantu kita melihat bahwa bekerja tidak selalu harus dibayangkan dalam satu bentuk yang sama. Bahwa bekerja tidak selalu berarti menjadi pegawai. Ada orang yang hidup dari kreativitasnya. Ada yang tumbuh dari usaha kecil. Ada yang membangun penghasilan dari kerja mandiri, jasa digital, proyek, atau keahlian tertentu yang dulu bahkan belum dianggap sebagai pekerjaan sungguhan.
Media internasional juga membaca arah perubahan ini. Dalam artikel “Solopreneurs are thriving as corporate counterparts struggle” yang terbit di Fast Company (27 Oktober 2025), intinya bahwa para solopreneur justru tumbuh ketika banyak pekerja korporat sedang goyah. Fenomena ini memberi satu pelajaran penting: kerja mandiri bukan lagi pilihan pinggiran. Ia mulai dilihat sebagai pilihan yang serius. Ada orang yang justru lebih sehat, lebih merdeka, dan lebih berkembang di luar jalur pegawai.
Artikel lain berjudul“Freelancing Surge: Workers Are Ditching 9-to-5 Jobs To Earn $1.5 Trillion”, Forbes (27 April 2025), memberi lapisan yang menarik. Intinya: terjadi lonjakan pekerja freelance dan mulai meninggalkan model kerja 9-to-5. Tanda-tandanya jelas: semakin banyak orang mulai melihat bahwa kerja non-pegawai adalah pilihan, bukan sekadar jalan darurat. Bagi sebagian orang, justru di sanalah ruang tumbuh yang lebih masuk akal.
Kalau ditarik ke konteks Indonesia, persoalannya jadi makin jelas. Banyak anak muda sebenarnya siap bekerja dengan serius. Mereka mau belajar. Mau mencoba. Tetapi mereka hidup di tengah cara pandang yang cepat memberi stigma: kalau pegawai, berarti aman; kalau bukan pegawai, berarti belum jelas. Dari situ tekanan sosial mulai muncul. Orang bukan cuma sibuk mencari nafkah, tetapi juga sibuk mengejar pengakuan.
Padahal mencari nafkah tidak harus lewat jalur yang sama. Ada yang cocok membangun usaha kecil. Ada yang lebih hidup dalam kerja kreatif. Ada yang berkembang saat memegang beberapa peran sekaligus. Ada yang tidak nyaman terikat dalam satu instansi, tetapi sangat bertanggung jawab ketika diberi ruang yang lebih lentur.
Di sinilah masalah kita yang sebenarnya. Kita terlalu lama menyempitkan bentuk pekerjaan yang dianggap layak. Kita terlalu cepat menilai hidup orang dari label kerjanya, bukan dari kualitas hidup yang ia jalani.
Tidak semua orang harus jadi pegawai. Tidak semua jalan hidup harus berakhir pada bentuk pekerjaan yang sama. Dunia kerja hari ini jauh lebih luas daripada bayangan lama kita tentang profesi yang dianggap mapan.
Yang lebih penting bukan semata apa nama profesinya, tetapi apakah dari pekerjaan itu seseorang bisa hidup cukup, bertumbuh dengan sehat, dan merasa hidupnya bergerak ke arah yang berarti. Yang dicari orang bukan sekadar pekerjaan yang enak disebut, melainkan jalan hidup yang benar-benar bisa menopang kehidupan dan dijalani tanpa terus-menerus merasa salah.
Referensi:
Arthur, M. B., & Rousseau, D. M. (Eds.). (1996). The boundaryless career: A new employment principle for a new organizational era. Oxford University Press.
Handy, C. (1989). The age of unreason. Business Books.
Lindzon, J. (2025, October 27). Solopreneurs are thriving as corporate counterparts struggle. Fast Company. https://www.fastcompany.com/91428616/solopreneurs-are-thriving-as-corporate-counterparts-struggle (Fast Company)
Robinson, B. (2025, April 27). Freelancing surge: Workers are ditching 9-to-5 jobs to earn $1.5 trillion. Forbes. https://www.forbes.com/sites/bryanrobinson/2025/04/27/freelancing-workers-are-ditching-9-to-5-jobs-to-earn-15-trillion/ (Forbes)




