Kader Tumbuh saat Pemimpin Yakin

Kader Tumbuh Saat Pemimpin Yakin

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Kader Tumbuh Saat Pemimpin Yakin

Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Anggota Tim Litbang Persyada Al Haromain

“Sejarah besar kadang dimulai dari keyakinan sederhana. Seorang guru percaya pada potensi muridnya, dan dunia kemudian mengenal karya besar.”

Seorang tukang kebun tidak pernah memarahi benih karena ia belum menjadi pohon. Ia tahu setiap tanaman memiliki waktunya sendiri. Yang ia lakukan hanyalah memastikan tanahnya cukup subur, airnya cukup, dan cahaya matahari tidak terhalang. Selebihnya, ia percaya pada kehidupan yang tersimpan di dalam benih itu. Jadi perlu kesabaran.

Begitu pula dengan manusia.

Dalam organisasi, dalam gerakan dakwah, bahkan dalam dunia pendidikan, berlaku hal yang sama. Seseorang sering tumbuh bukan semata-mata karena kemampuannya. Ia tumbuh karena ada seseorang (orang lain) yang lebih dulu percaya pada potensinya. Keyakinan itu seperti tanah yang subur. Ia memberi ruang bagi sesuatu yang sebelumnya hanya berupa kemungkinan untuk perlahan menjadi kenyataan.

Sering kali persoalan kaderisasi sebenarnya bukan soal kurangnya orang berbakat. Kadang masalahnya lebih sederhana: masih ada pemimpin yang kurang yakin pada potensi kadernya.

Banyak kader diberi pekerjaan, tetapi tidak diberi kepercayaan. Banyak yang dilibatkan dalam kegiatan, tetapi tidak benar-benar diberi ruang untuk memimpin. Lama-kelamaan mereka belajar satu hal: bahwa mereka hanya pelaksana, hanya bawahan, bukan calon pemimpin. Dan seperti yang sering terjadi dalam kehidupan, manusia akhirnya tumbuh sesuai dengan “cara orang lain” memandang dirinya.

Sejarah ilmu pernah mencatat sebuah kisah yang menarik.

Di sebuah majelis hadis di Wilayah Khurasan, seorang ulama besar bernama Ishaq ibn Rahwayh pernah berkata kepada murid-muridnya, “Seandainya ada seseorang yang mengumpulkan hadis-hadis sahih Nabi dalam satu kitab yang ringkas.”

Kalimat luar biasa dari ulama kharismatik . Tidak ada pengumuman heboh, tidak ada penunjukan resmi. Tetapi di majelis itu duduk seorang pemuda yang masih sangat muda: Muhammad ibn Ismail al-Bukhari. Ia menangkap “signal” ucapan gurunya sebagai sebuah kepercayaan. Seolah-olah gurunya sedang mengatakan bahwa pekerjaan besar seperti itu mungkin dilakukan oleh generasi mereka.

Keyakinan itu menyalakan sesuatu dalam dirinya. Motivasi terbangun. Bertahun-tahun kemudian, lahirlah sebuah karya monumental yang dikenal dunia hingga hari ini: Sahih al-Bukhari.

Kadang sejarah besar atau karya besar dapat dimulai dari sesuatu yang nampak sederhana: seorang guru yang “yakin” kepada muridnya.

Psikologi modern memiliki istilah untuk fenomena seperti ini, yaitu Pygmalion Effect. Intinya sederhana. Harapan seorang pemimpin atau guru dapat memengaruhi perkembangan orang yang dipimpinnya. Ketika seseorang dipercaya, diberi harapan, dan diperlakukan sebagai pribadi yang mampu, sering kali ia benar-benar tumbuh menjadi seperti itu.

Dalam tradisi Islam, gagasan tentang potensi manusia sebenarnya sudah lama dikenal. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa di antara manusia ada yang menjadi “kunci-kunci kebaikan” dan penutup keburukan.

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn Majah dan juga oleh Al-Tabarani, dan dinilai hasan oleh sejumlah ulama, di antaranya Muhammad Nasiruddin al-Albani. Pesannya sejalan dengan konsep Pygmalion Effect: sebagian manusia memang bisa menjadi pembuka kebaikan bagi banyak orang. Tugas seorang pemimpin sering kali adalah melihat potensi itu lebih dahulu, lalu memberi ruang agar ia benar-benar tumbuh.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di dunia pendidikan atau majelis ilmu. Di dunia perusahaan pun kita sering melihat hal yang sama. Ada seorang karyawan muda yang awalnya hanya staf biasa. Ia belum terlalu percaya diri, masih ragu-ragu, pengalamannya pun belum banyak. Namun suatu hari pimpinannya memberinya tanggung jawab yang sedikit lebih besar. Bukan karena ia sudah paling siap, melainkan karena pimpinannya melihat sesuatu dalam dirinya. Pemimpin yang memiliki keyakinan akan potensi bawahan.

Tugas itu dijalankan dengan ragu pada awalnya. Namun seiring berjalannya waktu, dari situ ia belajar. Ia mencoba, memperbaiki kesalahan, lalu mencoba lagi. Beberapa tahun kemudian, orang yang dulu hanya staf biasa, kini justru menjadi salah satu pemimpin penting di perusahaan tersebut.

Perubahan besar  tidak harus dimulai dari pelatihan mahal atau program besar. Sangat mungkin ia dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: seorang pemimpin yang lebih dulu yakin. Dan dia mampu men-deliver keyakinan itu.

Barangkali di sekitar kita hari ini juga ada kader yang masih terlihat biasa saja. Tidak terlalu menonjol. Tidak terlalu percaya diri. Masih muda, masih belajar, masih mencoba, masih mencari bentuk.

Namun siapa tahu, di dalam dirinya sedang tersimpan sesuatu yang besar. Bagai kekuatan besar yang sedang tidur, yang menunggu dibangunkan.

Dan, yang dibutuhkan kader tersebut bukanlah pidato panjang atau teori yang rumit.

Cukup sederhana: seseorang yang yakin kepadanya.


Kalau Boleh Dirangkum

  1. Seperti benih di tangan tukang kebun, manusia sering tumbuh bukan hanya karena kemampuannya, tetapi karena lingkungan yang percaya bahwa ia bisa berkembang.
  2. Banyak kader sebenarnya memiliki potensi, namun potensi itu tidak muncul karena mereka hanya diberi tugas, bukan kepercayaan.
  3. Cara seorang pemimpin memandang kadernya sering menentukan bagaimana kader itu memandang dirinya sendiri.
  4. Sejarah menunjukkan bahwa keyakinan sederhana seorang guru atau pemimpin bisa melahirkan karya besar, seperti yang terjadi pada Imam al-Bukhari.
  5. Karena itu, kaderisasi bukan hanya soal melatih kemampuan, tetapi juga tentang menumbuhkan keyakinan bahwa seseorang memang layak dipercaya untuk tumbuh.

Kalau Mau Dipraktikkan

  1. Mulailah melihat kader bukan hanya dari apa yang sudah ia lakukan, tetapi juga dari apa yang mungkin ia lakukan jika diberi kesempatan.
  2. Sesekali berikan tanggung jawab yang sedikit lebih besar dari biasanya. Biarkan mereka belajar dari proses, bukan hanya menunggu sampai benar-benar “siap”.
  3. Ucapkan kepercayaan secara terbuka. Kadang satu kalimat sederhana seperti “saya yakin kamu bisa” lebih kuat dari banyak arahan teknis.
  4. Dampingi prosesnya dengan sabar. Seperti benih yang tumbuh perlahan, kader juga butuh waktu untuk menemukan kepercayaan dirinya.
  5. Ingat bahwa setiap organisasi mungkin menyimpan “benih besar” yang belum terlihat. Tugas pemimpin adalah menjaga tanahnya tetap subur agar potensi itu benar-benar tumbuh.

Referensi

Eden, D. (1992). Leadership and expectations: Pygmalion effects and other self-fulfilling prophecies in organizations. The Leadership Quarterly, 3(4), 271–305. https://doi.org/10.1016/1048-9843(92)90018-B



Scroll to Top