Berisik itu mudah, berbaris itu sulit

Berisik Itu Mudah, Berbaris Itu Sulit

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Berisik Itu Mudah, Berbaris Itu Sulit

Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Anggota Tim Litbang Persyada Al Haromain

“Masjid banyak, ormas banyak, suara banyak. Tapi sudahkah kita benar-benar berbaris?”

Di Indonesia, umat Islam itu sebenarnya lengkap. Masjid ada di hampir setiap sudut kampung. Kampus, sekolah dan pesantren terus bertambah. Ormas sudah lama berdiri dan bekerja. Tradisi gotong royong pun bukan barang baru bagi kita.

Tapi lengkap tidak selalu berarti searah. Kelengkapan saja tidak cukup untuk membuat kita bisa berbaris.

Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan bahwa umat ini kelak banyak jumlahnya, tetapi seperti buih di atas air. Banyak, tapi ringan. Setiap kali membaca itu, rasanya ada yang mengganjal. Jangan-jangan kita memang besar dalam angka, tapi lemah dalam barisan.

Di grup masjid selalu ada yang dibahas. Di pengajian juga begitu. Di media sosial apalagi. Topik cepat berganti, komentar cepat menyusul. Tapi begitu masuk ke urusan kerja, semua jadi pendiam, yang benar-benar bisa turun tangan sering itu-itu saja.

Al-Qur’an memberi arah yang sangat jelas:

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang kokoh.” (QS. Ash-Shaff: 4)

Yang ditekankan dalam ayat itu adalah barisan. Dalam Tafsir Ibn Kathir, bangunan kokoh digambarkan seperti batu yang saling menopang dan rapat tanpa celah. Jika satu bergerak, yang lain ikut terguncang.

Perang Uhud sering dikenang karena keberanian para sahabat. Tapi di sana juga ada pelajaran tentang disiplin barisan. Rasulullah ﷺ sudah menempatkan pasukan pemanah di bukit dan berpesan agar tidak meninggalkan posisi. Ketika sebagian turun sebelum ada perintah, celah terbuka. Serangan balik datang dari arah yang tidak dijaga.

Mereka tetap orang-orang beriman. Tetap berani. Tapi ketika disiplin longgar, celah itu langsung dimanfaatkan.

Dalam kasus Uhud, instruksi sebenarnya sudah jelas. Posisi dan tanggung jawab sudah ditentukan. Yang terjadi adalah sebagian memilih turun sebelum waktunya.

Kisah itu bukan sekadar catatan sejarah. Ia menunjukkan satu hal yang sangat manusiawi: dalam kerja bersama, selalu ada kemungkinan orang lengah, merasa situasi sudah aman, atau mengira perannya tidak lagi menentukan.

Dalam konteks yang berbeda, ada problem lain yang sering muncul, yaitu gejala social loafing. Tahun 1979, Bibb Latané bersama Kipling Williams dan Stephen Harkins menjelaskan bahwa dalam kerja kelompok, orang bisa saja mengurangi usaha ketika merasa tanggung jawabnya kabur atau kontribusinya tidak terlihat.

Dalam situasi seperti itu, mudah muncul “pembonceng gratis”, atau dalam istilah ekonomi disebut free rider. Ia tetap menikmati hasil kerja bersama, tetapi kontribusinya minimalis. Semakin besar kelompoknya, semakin mudah seseorang bersembunyi di balik keramaian.

Gejala seperti itu bukan sesuatu yang jauh dari keseharian kita. Ia bisa muncul di mana saja, termasuk dalam kepanitiaan dan organisasi yang kita kelola sendiri.

Rapat bisa panjang. Panitia juga banyak. Nama tercantum di SK pengangkatan. Tapi ketika pekerjaan mulai berjalan, yang benar-benar bergerak sering itu-itu saja. Pembagian tugas tidak selalu jelas, evaluasi jarang dibicarakan, dan tenaga habis untuk hal-hal yang sebenarnya bisa dibereskan sejak awal.

Semangat berjuang (ghirah) biasanya ada. Tapi kalau peran tidak dibagi dengan jelas dan tanggung jawab tidak dipegang bersama, semuanya jadi tidak terarah.

Yang dibutuhkan hanya komitmen dan disiplin untuk tetap menjaga posisi.

Berbaris bukan berarti seragam dalam semua hal. Ia berarti satu arah dalam tujuan. Ada yang di depan, ada yang di belakang. Ada yang terlihat, ada yang bekerja senyap-senyap.

Barisan seperti itu tidak lahir instan dalam sehari. Ia tumbuh dari kesabaran dan ketaatan dalam menjaga peran masing-masing.

Berisik itu mudah, berbaris itu sulit.


Referensi:

Latané, B., Williams, K., & Harkins, S. (1979). Many hands make light the work: The causes and consequences of social loafing. Journal of Personality and Social Psychology, 37(6), 822–832. https://doi.org/10.1037/0022-3514.37.6.822



Scroll to Top