Mengapa Nabi Bercanda? Rahasia EQ dalam Dakwah yang Menyentuh Hati

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Mengapa Nabi Bercanda?
Rahasia Emotional Intelligence (EQ) dalam Dakwah yang Menyentuh Hati

Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Anggota Tim Litbang Persyada Al Haromain

“Nabi ﷺ bercanda, tapi tak pernah melukai. Apa rahasia kecerdasan emosinya dalam menyentuh hati tanpa menyakiti?”

Ada sebuah kisah yang sering disampaikan dalam buku-buku adab dan motivasi. Kisah tentang seorang nenek yang meminta didoakan agar masuk surga. Nabi ﷺ menjawab, “Di surga tidak ada nenek-nenek tua.” Nenek itu langsung bersedih hati. Lalu Nabi ﷺ dengan lembut menjelaskan bahwa penghuni surga akan dijadikan muda kembali. Nenek itu kaget akhirnya tertawa bahagia.

Riwayat ini disebutkan antara lain oleh Imam At-Tirmidzi, namun para ulama berbeda pendapat tentang kekuatan sanadnya. Sebagian ulama menghasankannya karena adanya jalur penguat, sementara yang lain menilainya belum mencapai derajat sahih. Oleh karena itu, kisah di atas lebih aman diposisikan sebagai kisah motivatif, bukan fondasi hukum.

Terlepas dari status riwayat tersebut, karakter Nabi ﷺ yang ramah, lembut dan tidak menyakiti telah kokoh dalam hadis-hadis sahih, termasuk riwayat Al-Bukhari dan Muslim. Beliau dikenal tidak berkata kasar dan tidak merendahkan. Sesekali beliau bercanda, dan ketika bercanda, beliau tidak mengatakan kecuali yang benar.

Di sinilah hikmah yang bisa kita petik. Mari kita telaah.

Humor, jika diletakkan secara tepat, momen yang pas, bukan sekadar selingan. Ia dapat menjadi jembatan emosi yang kuat. Setiap orang suka humor. Candaan yang ringan mampu mencairkan ketegangan, membuat releks, membuka hati, dan membuat pesan komunikasi lebih mudah diterima. Namun  yang penting, kuncinya bukan pada kelucuan saja, melainkan pada niat dan cara yang benar.

Dalam psikologi komunikasi, dikenal teori broaden-and-build dari Barbara Fredrickson. Menurut Fredrickson, emosi positif, walau ringan, efeknya kuat, dapat memperluas cara berpikir dan memperkuat hubungan sosial. Seseorang yang hatinya tenang dan merasa aman akan lebih siap menerima pesan kebenaran. Teori ini menegaskan bahwa pendekatan lembut lembut memang selaras dengan fitrah manusia.

Yang menarik, Nabi ﷺ tidak menjadikan humor sebagai candaan atau hiburan kosong. Ia hadir sebagai bagian dari pendidikan (tarbiyah). Ada sentuhan emosi, ada kejutan ringan, lalu pada fase berikutnya ada kabar gembira yang meneguhkan semangat dan harapan.

Di zaman ketika candaan sering berubah menjadi ejekan dan olok-olok sarkasme, pelajaran ini terasa sangat menyentuh. Humor yang baik bukan yang membuat orang lain menjadi bahan ejekan atau tertawaan, melainkan yang membuat hati lawan bicara menjadi ceria dan terasa lapang di dada.

Sebagai penutup, ada banyak cara untuk dakwah yang efektif, tidak harus tegang atau dengan perdebatan. Kadang ia cukup dengan senyum, humor, kalimat ringan, dan empati yang tulus. Di situlah kecerdasan emosi hadir dan memberi makna.

Stay Relevant!


Daftar Pustaka

Fredrickson, B. L. (2001). The role of positive emotions in positive psychology: The broaden-and-build theory of positive emotions. American Psychologist, 56(3), 218–226. https://doi.org/10.1037/0003-066X.56.3.218

Goleman, D. (1995). Emotional intelligence: Why it can matter more than IQ. Bantam Books.



Scroll to Top