Komunikasi Asertif

Komunikasi Asertif: Mengapa Lembaga Dakwah Membutuhkannya

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Komunikasi Asertif:
Mengapa Lembaga Dakwah Membutuhkannya

Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Anggota Tim Litbang Persyada Al Haromain

“Diam bukan selalu bijak, dan keras bukan selalu tegas. Komunikasi asertif mengajarkan cara menyampaikan kebenaran tanpa melukai.”

Suatu sore, seorang ketua takmir masjid mengundang salah satu stafnya untuk berbicara empat mata. Ia tidak menegurnya di depan forum rapat pengurus, tidak pula menyampaikannya melalui pesan di grup. Hanya percakapan sederhana di ruang kecil kantor masjid. Percakapan yang santun.

“Ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan tentang program kajian pekanan,” katanya pelan. Ia menjelaskan bahwa koordinasi beberapa kegiatan belakangan kurang berjalan baik. Nada bicaranya tidak menyalahkan, tidak menyerang. Ia hanya menyampaikan apa yang terjadi, apa yang ia rasakan, dan apa yang ia harapkan ke depan.

Staf itu mendengarkan dengan seksama. Ia tidak merasa dipermalukan, tetapi juga tidak merasa masalahnya diabaikan. Ada ketegasan dalam percakapan itu, tetapi juga ada empati. Dari percakapan singkat itulah keduanya memahami apa yang perlu diperbaiki. Disini terjadi komunikasi yang efektif.

Dalam banyak organisasi dakwah, percakapan sederhana seperti contoh diatas, sering tidak mudah dipraktikkan. Faktor sosial budaya dapat mempengaruhi.

Sebagian orang memilih diam agar tidak menyinggung. Sebagian lain menyampaikan kritik terlalu keras hingga melukai hubungan. Di antara dua sikap itulah model “komunikasi asertif” menjadi penting.

Komunikasi asertif adalah kemampuan menyampaikan pikiran, ide dan perasaan secara jujur, jelas, dan tegas, tetapi tetap menghormati orang lain. Tidak menyakiti perasaan orang lain. Ia bukan sikap pasif yang memilih diam, tetapi juga bukan sikap agresif yang menekan. Ketegasan (asertif) berjalan bersama empati. Seseorang berani mengatakan apa yang perlu dikatakan, namun tetap menjaga perasaan orang yang mendengarnya.

Dalam organisasi dakwah, kemampuan seperti ini bukan sekadar keterampilan berbicara. Ia adalah bagian dari menjaga kesehatan organisasi. Tidak sedikit persoalan muncul bukan karena ada niat buruk, tetapi karena pesan yang tidak pernah disampaikan dengan jelas—atau disampaikan tanpa empati.

Al-Qur’an memberi prinsip yang sangat mendasar dalam hal ini. Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS Al-Ahzab 70)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Qaulan Sadida berarti perkataan yang lurus, jujur, dan tepat. Bukan kata-kata yang menyakitkan, atau merendahkan, juga bukan ucapan yang berputar-putar hingga pesan kehilangan arah.

Tradisi Islam juga memperlihatkan bahwa komunikasi yang jujur adalah bagian dari kepemimpinan yang sehat. Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq diangkat menjadi khalifah, ia menyampaikan pidato yang monumental, kemudian sering dikutip dalam sejarah kepemimpinan Islam. Dalam pidato itu ia berkata, “Jika aku benar, bantulah aku. Jika aku menyimpang, luruskan aku.”

Kalimat ini luar biasa, sarat makna. Seorang pemimpin tidak hanya berbicara kepada pengikutnya, tetapi juga membuka ruang agar dirinya dapat dikritik, dapat dikoreksi. Sebuah organisasi hanya dapat berjalan sehat jika orang-orang di dalamnya memiliki keberanian menyampaikan kebenaran—dan kerendahan hati untuk mendengarkannya masukan dan saran dari orang lain.

Ilmu manajemen modern juga menggarisbawahi hal yang serupa. Konsep psychological safety yang diperkenalkan oleh Amy Edmondson menjelaskan bahwa tim akan bekerja lebih baik ketika anggotanya merasa aman untuk berbicara. Ketika orang tidak takut menyampaikan pendapat atau kritik, organisasi memiliki peluang lebih besar untuk belajar, bertumbuh dan memperbaiki diri.

Lembaga dakwah di Indonesia sering dihuni oleh orang-orang yang tulus dengan niat baik. Mereka juga memiliki semangat atau ghirah yang tinggi. Namun perlu dicatat, mereka datang dari latar belakang yang beragam: usia yang berbeda, pengalaman yang berbeda, dan cara berkomunikasi yang tidak selalu sama. Beragam pula dalam hal minat dan bakat. Tanpa komunikasi yang sehat—dan tanpa empati terhadap satu sama lain—perbedaan kecil dapat berkembang menjadi jarak yang tidak perlu.

Di sinilah komunikasi asertif menjadi penting. Ia membantu seseorang menyampaikan ide dan gagasan tanpa merendahkan orang lain, dan menyampaikan kritik tanpa merusak hubungan. Musyawarah pun menjadi lebih hidup, karena orang tidak lagi takut untuk berbicara.

Organisasi dakwah bukan sekadar kumpulan program kerja atau struktur kepengurusan. Ia adalah pertemuan serta interaksi banyak manusia yang berjalan menuju tujuan yang sama, dengan latar belakang dan cara berpikir yang tidak selalu seragam.

Dalam perjalanan seperti itu, ketegasan yang santun—atau sikap asertif—baru terasa bermakna ketika berjalan bersama empati.

Kebenaran jarang melukai orang. Yang sering melukai justru cara kita menyampaikannya.


Kalau Boleh Dirangkum

  1. Banyak persoalan organisasi sebenarnya bukan karena niat anggota pengurus yang buruk, tetapi karena hal penting tidak pernah disampaikan dengan cara yang tepat.
  2. Komunikasi asertif adalah jalan tengah antara diam yang pasif dan kritik yang agresif: jujur, jelas, tetapi tetap menghormati orang lain.
  3. Al-Qur’an mengajarkan qaulan sadīdan—perkataan yang lurus, tepat, dan tidak menyakiti—sebagai prinsip dasar dalam berbicara.
  4. Sejarah kepemimpinan Islam menunjukkan bahwa organisasi yang sehat memberi ruang untuk saling menasihati, komunikasi yang santun dan saling meluruskan.
  5. Ketika orang merasa aman untuk berbicara, musyawarah menjadi hidup dan organisasi memiliki peluang lebih besar untuk belajar, berkembang serta memperbaiki diri.

Kalau Mau Dipraktikkan

  1. Jika ada hal yang perlu diperbaiki atau diluruskan, sampaikan langsung kepada orangnya dengan cara yang tenang dan pribadi, bukan melalui sindiran atau forum terbuka yang bisa mempermalukan.
  2. Saat memberi masukan dan saran, fokuslah pada masalah dan prosesnya, bukan pada pribadi orangnya. Ini membuat kritik lebih mudah diterima.
  3. Biasakan menggunakan kalimat yang jujur penuh rasa hormat, misalnya: 1. menjelaskan apa yang terjadi. 2. menjelaskan apa yang dirasakan, dan 3. menyampaikan apa yang diharapkan ke depan.
  4. Sebagai pemimpin, tunjukkan bahwa kritik itu aman, tidak dianggap ancaman. Ketika orang merasa nyaman untuk berbicara, kejujuran dan keberanian akan lebih mudah tumbuh.
  5. Ingat bahwa tujuan komunikasi bukan sekadar menyampaikan kebenaran, tetapi juga menjaga hubungan yang baik agar orang tetap bisa berjalan bersama menuju tujuan yang sama.

Referensi

Edmondson, A. C. (2025). The fearless organization: Creating psychological safety in the workplace for learning, innovation, and growth. John Wiley & Sons.



Scroll to Top