Ketika Dakwah Dikelola Tanpa Peta

Ketika Dakwah Dikelola Tanpa Peta

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Ketika Dakwah Dikelola Tanpa Peta

Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Anggota Tim Litbang Persyada Al Haromain

“Dakwah butuh semangat. Tapi semangat saja tidak cukup. Tanpa arah yang jelas, gerakan mudah terseret arus zaman tanpa benar-benar sampai tujuan.”

Tidak sedikit gerakan yang penuh semangat, penuh ghirah, tetapi perlahan kehilangan arah.

Bayangkan sebuah kapal besar berlayar di lautan. Mesinnya kuat, awaknya banyak, dan angin berhembus cukup baik. Kapal itu terus bergerak, siang dan malam. Tetapi ada satu hal yang terlupa, mereka tidak punya: peta perjalanan.

Mungkin kapal itu telah melaju jauh. Ombak dilalui, tenaga dikeluarkan, layar terkembang penuh. Namun tanpa peta, perjalanan menjadi tidak jelas, mudah berubah, dan menjadi spekulasi. Kapal bisa saja berputar-putar di tempat yang sama (going around in circles), atau terseret arus menjauh dari tujuan.

Kadang-kadang begitulah organisasi dakwah berjalan, hanya berputar-putar di tempat.

Di banyak tempat di Indonesia, kegiatan dakwah sebenarnya sangat hidup. Kajian rutin berjalan, pelatihan diadakan, program sosial digerakkan. Masjid ramai, pesantren berkembang, komunitas pengajian tumbuh di berbagai kota.

Namun jika diperhatikan lebih dekat, tidak semua gerakan itu memiliki arah jangka panjang yang jelas. Kurang memiliki visi dan misi yang membumi. Program datang silih berganti, sering kali mengikuti momentum atau semangat pengurus yang sedang aktif. Ketika kepengurusan berganti, arah organisasi pun ikut berubah.

Jadi kita bisa menyaksikan: semangat sudah ada, ghirah tidak diragukan lagi, namun dikuatirkan arahnya yang belum begitu jelas.

Akibatnya, energi besar yang dimiliki umat tidak selalu menghasilkan dampak yang berkelanjutan.

Dalam ilmu manajemen modern, organisasi yang sehat biasanya memiliki strategi yang jelas. Strategi bukan sekadar daftar kegiatan, tetapi peta perjalanan yang menjelaskan ke mana organisasi ingin menuju. Tanpa prinsip tersebut, organisasi mudah terjebak dalam kegiatan rutinitas belaka.

Ahli strategi seperti Michael E. Porter menjelaskan bahwa keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh seberapa keras mereka bekerja, tetapi oleh kejelasan arah strateginya. Aktivitas dan program yang banyak tidak selalu berarti kemajuan jika tidak terhubung dengan tujuan jangka panjang.

Dalam pandangan Porter, strategi pada dasarnya adalah membuat pilihan yang jelas tentang apa yang ingin dicapai dan apa yang perlu diprioritaskan. Organisasi harus menentukan arah yang tegas, lalu menyelaraskan program, sumber daya, dan keputusan sehari-hari agar semuanya bersinergi dan bergerak menuju tujuan yang sama.

Tanpa pilihan strategis seperti ini, organisasi menjadi kurang fokus, organisasi mudah terjebak melakukan banyak hal sekaligus, tetapi tidak benar-benar maju.

Dalam literatur manajemen strategik sering muncul sebuah slogan yang menarik:

“Without strategy, an organization is like a ship without a rudder, going around in circles.

Tanpa strategi, organisasi memang tetap bisa bergerak. Kegiatan berjalan, orang-orang bekerja, dan program terus dibuat. Tetapi tanpa arah yang jelas, gerakan itu mudah berputar-putar tanpa benar-benar mendekati tujuan.

Prinsip ini sebenarnya tidak asing dalam sejarah dakwah Islam.

Ketika Rasulullah ﷺ berhijrah dari Makkah ke Madinah, perjalanan itu tidak dilakukan secara spontan. Ada strategi yang dibangun. Banyak langkah yang disiapkan dengan sangat teliti. Bahkan sebelum Nabi keluar dari rumahnya, rencana sudah disusun untuk menghadapi berbagai kemungkinan.

Pada malam itu, Ali bin Abi Talib tidur di tempat tidur Nabi untuk mengelabui kaum Quraisy yang mengepung rumah beliau. Peristiwa yang dikenal sebagai Laylat al-Mabīt ini memberi kesempatan bagi Rasulullah ﷺ keluar dari rumah tanpa diketahui para pengepung.

Perjalanan hijrah sendiri juga disiapkan dengan pembagian tugas dan peran yang jelas. Abu Bakar menemani Nabi dalam perjalanan. Ada yang bertugas membawa informasi dari Makkah, ada yang menyiapkan logistik, bahkan ada pemandu jalan profesional yang dipilih untuk memastikan perjalanan melewati rute yang aman.

Semua ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi ﷺ berjalan dengan “perencanaan yang matang”.

Tentu saja perencanaan tidak meniadakan tawakkal. Justru perencanaan adalah bagian dari ikhtiar sebelum seseorang berserah diri kepada Allah. Dalam banyak peristiwa sirah, kita melihat bagaimana Rasulullah ﷺ menggabungkan keduanya: strategi (perencanaan) yang cermat dan tawakkal yang kuat.

Pelajaran ini sangat relevan bagi organisasi dakwah.

Semangat adalah bahan bakar yang menggerakkan langkah. Ia membuat orang termotivasi mau datang, bekerja, dan berkorban. Tetapi bahan bakar saja tidak pernah cukup membawa sebuah perjalanan sampai tujuan.

Kita bisa garis bawahi bersama: tanpa arah yang jelas, energi hanya berubah menjadi kelelahan. Orang tetap sibuk, program dan kegiatan tetap ramai, tetapi perjalanan perlahan kehilangan makna.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, kapal itu sebenarnya tidak pernah benar-benar pergi ke mana-mana.

Stay Relevant!


Kalau Boleh Dirangkum

  1. Semangat dakwah sering kali melimpah, namun bila tanpa arah yang jelas, gerakan yang besar pun bisa berjalan tanpa benar-benar sampai tujuan.
  2. Banyak organisasi terlihat aktif karena programnya banyak, padahal aktivitas yang ramai belum tentu berarti perjalanan yang terarah dan bersinergi.
  3. Strategi pada dasarnya adalah peta perjalanan: ia menjelaskan tujuan, prioritas, dan pilihan yang harus diambil agar bisa fokus, energi organisasi tidak tercecer ke mana-mana.
  4. Tanpa peta seperti itu, organisasi mudah terjebak dalam rutinitas kegiatan—sibuk bergerak, tetapi sebenarnya hanya berputar di tempat yang sama, going around in circles.
  5. Sejarah dakwah Nabi ﷺ menunjukkan bahwa ikhtiar strategis dan tawakkal bukan dua hal yang bertentangan; keduanya justru berjalan beriringan.

Kalau Mau Dipraktikkan

  1. Luangkan waktu khusus untuk merumuskan kembali tujuan jangka panjang organisasi. Lakukan analisis situasi lingkungan (SWOT). Tanyakan dengan jujur: sebenarnya kita ingin sampai ke mana?
  2. Setelah tujuan jelas, mulai pilah kegiatan yang benar-benar mendukung arah tersebut. Tidak semua program perlu dijalankan sekaligus. Harus efektif dan efisien.
  3. Biasakan setiap kegiatan menjawab satu pertanyaan sederhana: program ini membawa kita lebih dekat ke tujuan, atau hanya membuat kita terlihat sibuk?
  4. Susun peta perjalanan yang sederhana namun jelas—visi, misi, prioritas utama, dan langkah-langkah yang akan ditempuh dalam beberapa tahun ke depan.
  5. Jagalah keseimbangan antara perencanaan dan tawakkal: berusaha menyusun langkah sebaik mungkin, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Referensi

Porter, M. E. (1996). What is strategy? Harvard Business Review, 74(6), 61–78.



Scroll to Top