Empati yang Palsu, Empati yang Sejati

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Empati yang Palsu, Empati yang Sejati

Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Tim Soft Skills SDMIndonesia.com

“Empati sejati lahir dari ketulusan, bukan panggung. Saat empati jadi pencitraan, yang tersisa hanyalah wajah kemunafikan.”

Ada banyak kata yang indah diucapkan tapi sering kehilangan makna ketika dipakai sembarangan. Salah satunya adalah empati. Kata ini terdengar mulia, penuh kehangatan, seolah menjadi solusi dari semua persoalan sosial. Tapi di tengah riuh politik dan bising media sosial, kita mulai kesulitan membedakan: mana empati yang tulus, mana empati yang palsu. Batasnya abu-abu.

Setiap kali ada bencana, selalu ada pemandangan pejabat datang, membungkuk, mengelus kepala anak kecil, atau meneteskan air mata di depan kamera. Setelah itu, masuk berita utama, viral di media sosial, dan disambut komentar: “Ah, pencitraan.” Tuduhan semacam itu muncul bukan karena rakyat kejam, tapi karena rakyat sudah sering dikecewakan. Terlalu banyak contoh empati yang hanya jadi dekorasi panggung, tanpa tindak lanjut nyata.

Memang benar, di negeri ini banyak pejabat yang menjadikan empati sebagai alat politik. Mereka tahu publik suka melihat wajah peduli, jadi mereka tampilkan itu. Mereka tahu kamera menyukai adegan dramatis, jadi mereka siapkan air mata. Bahkan ada yang membawa tim dokumentasi sendiri saat datang ke lokasi bencana, lengkap dengan sudut pengambilan gambar. Empati berubah menjadi properti, bukan lagi nurani.

Fenomena semacam ini membuat masyarakat jadi skeptis. Kita lihat pejabat membagi-bagi sembako, langsung terlintas: “Pasti ada maunya.” Kita dengar pidato penuh belas kasih, langsung terbayang: “Besok pasti ada kebijakan yang menyakitkan.” Inilah yang berbahaya: bahkan empati yang sejati pun akhirnya dicurigai. Rakyat sulit percaya, karena sudah terlalu sering disuguhi sandiwara dan drama politik.

Adam Smith, filsuf moral dari abad ke-18, sudah menulis dalam The Theory of Moral Sentiments bahwa simpati—cikal bakal istilah empati—adalah kemampuan membayangkan diri kita di posisi orang lain. Empati sejati menuntut kita melihat dengan kacamata orang lain, bukan hanya memakai wajah iba untuk dilihat orang lain. Kalau empati hanya jadi alat untuk memoles citra, itu sudah melenceng jauh dari makna asalnya.

Slavoj Žižek, profesor pada European Graduate School, filsuf kontemporer yang suka mengkritik budaya populer, menyebut fenomena semacam ini sebagai “empati kosmetik”. Air mata di layar belum tentu berarti hati yang peduli. Bahkan sering kali palsu, air mata itu hanya jadi komoditas: tontonan untuk menambah elektabilitas, atau trik pemasaran untuk sebuah produk. Empati palsu tidak lahir dari hati, tapi dari kalkulasi transaksional, untung-rugi.

Susan Sontag, dalam bukunya Regarding the Pain of Others, mengingatkan bagaimana banjir gambar penderitaan bisa menimbulkan dua efek sekaligus: membuat kita iba sesaat, tapi juga bisa menumpulkan rasa. Ketika terlalu sering melihat penderitaan dijadikan konten, kita justru menjadi kebal. Empati berubah jadi rasa bosan, bahkan bisa sinis. Di sinilah bahaya empati palsu: bukan hanya tidak menolong, tapi juga merusak kemampuan masyarakat untuk percaya pada empati yang sejati.

Data global memperkuat gejala ini. Edelman Trust Barometer 2023 mencatat penurunan kepercayaan publik pada pemerintah di banyak negara, termasuk Indonesia. Alasan utamanya: rakyat merasa pejabat tidak tulus, hanya pandai berkata-kata.

Survei Katadata Insight Center (2022) menunjukkan indeks literasi digital Indonesia masih di level sedang, dengan skor 3,54 dari skala 5. Generasi muda memang cukup piawai dalam kecakapan digital (46,8%), tetapi justru lemah dalam etika digital (34,4%). Artinya, meski melek teknologi, mereka masih rentan terseret arus konten manipulatif, termasuk empati palsu yang marak di media sosial.

Di level lokal, tuduhan “pencitraan” sudah jadi bahasa sehari-hari. Setiap kali ada pejabat tampil dengan wajah iba, warganet berlomba menulis komentar sinis. Fenomena ini memang mencerminkan krisis kepercayaan. Tapi jangan salah: tuduhan itu ada benarnya. Karena memang ada pejabat yang hanya menjadikan empati sebagai kostum sementara. Empati mereka muncul saat kamera menyala, lalu lenyap ketika kamera mati. Mereka berbicara peduli rakyat, tapi kebijakan yang lahir justru membuat rakyat makin susah. Inilah wajah empati palsu yang nyata: senyum di panggung, tapi hatinya beku saat menyusun kebijakan yang pro-rakyat.

Di tengah krisis ini, kita butuh teladan empati sejati. Gus Dur, misalnya, tidak pernah sibuk menampilkan wajah iba di depan kamera. Ia menunjukkan empati lewat tindakan: membela kelompok minoritas, menyapa kaum yang tersisih, dan melindungi mereka yang tidak punya suara. Empati Gus Dur sederhana, tapi nyata: berdiri di sisi yang lemah, meskipun sering tidak populer.

Ustadz Adi Hidayat, dalam banyak ceramahnya, menekankan pentingnya niat ikhlas dalam amal. Ia mengingatkan bahwa amal yang disertai riya atau sekadar mencari pujian tidak bernilai di sisi Allah. Amal riya adalah ibadah kosong, sama sekali tidak tercatat di langit. Empati palsu termasuk dalam kategori ini: tampak indah, tapi sebenarnya nihil. Orang lain mungkin terkagum, tapi Allah tahu isi hati.

Dari dua tokoh ini kita belajar bahwa empati sejati tidak butuh panggung. Ia lahir dari hati yang tulus ikhlas, ditunjukkan lewat tindakan nyata, bukan sekadar kata-kata. Sementara empati palsu hanya hidup dari sorotan kamera. Ia cepat viral, tapi cepat pula dilupakan.

Pada akhirnya, kita tidak hanya bicara soal politik atau citra. Kita bicara soal moral yang paling dasar. Empati sejati adalah pondasi persaudaraan, sedangkan empati palsu adalah bentuk pencitraan dan topeng kemunafikan.

Al-Qur’an mengingatkan: “Dan di antara manusia ada yang berkata: Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, padahal mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri, sedang mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah [2]:8-9).

Rasulullah SAW juga bersabda: “Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari-Muslim).

Ayat dan hadis ini memberi cermin yang jelas. Empati palsu adalah salah satu wajah kemunafikan: berpura-pura peduli, padahal tidak. Empati sejati tidak butuh dusta, tidak perlu janji palsu, dan tidak akan mengkhianati amanah.

Bangsa ini sudah terlalu sering jadi korban empati palsu. Karena itu, empati sejati harus terus dilatih dan dipelihara. Dimulai menjaga hati dan jaga niat. Bukan dengan kata-kata, bukan dengan panggung, tapi dengan tindakan yang konsisten. Karena pada akhirnya, rakyat bisa membedakan mana air mata yang tulus dan mana air mata yang disiapkan untuk kamera.

Stay Relevant!




Scroll to Top