Drama Politik Tanpa Babak Akhir

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Drama Politik Tanpa Babak Akhir

Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Tim Soft Skills SDMIndonesia.com

“Politik kita mirip sinetron: heboh di awal, hilang tanpa akhir. Kata-kata jadi panggung, aksi minim. Sampai kapan rakyat hanya jadi penonton?”

Seperti lirik lagu Achmad Albar, “Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah…” Politik kita pun sering terasa begitu. Dari layar televisi sampai media sosial, skandal demi skandal bergulir bak serial sinetron. Hari ini kita disuguhi adegan pejabat marah, besok aktor politik menangis di depan kamera, lusa ada lagi yang tampil heroik seolah pahlawan. Ramai di awal, penuh sorakan dan hujatan, tapi tak pernah benar-benar selesai. Begitu perhatian publik pindah, kisahnya dibiarkan menggantung. Drama tanpa babak akhir.

Coba ingat skandal e-KTP. Awalnya seperti tontonan wajib: Setya Novanto mendadak sakit, masuk rumah sakit, sampai ada episode mobil menabrak tiang listrik. Publik terpingkal-pingkal, media menayangkannya seperti reality show. Tapi apa yang tersisa hari ini? Hanya potongan-potongan kenangan viral, bukan ingatan tentang kerugian negara atau reformasi sistem kependudukan yang seharusnya lahir dari kasus itu. Bank Century pun sama. Dulu semua orang membicarakan bailout, debat di DPR berhari-hari, sampai jadi amunisi politik jelang pemilu. Kini, sebut saja nama Century, banyak anak muda bahkan tidak tahu apa yang terjadi. Drama panjang yang tamat tanpa akhir.

Skandal Jiwasraya dan Asabri pun begitu. Triliunan rupiah lenyap, ribuan orang menderita. Sidang demi sidang disiarkan, vonis dijatuhkan, tapi tak pernah terasa ada penutup yang memuaskan. Publik beralih ke isu lain, seakan semua itu hanya adegan yang lewat di layar. Dan kini, kita kembali menyaksikan episode baru.

Kasus Chromebook Rp 9,9 triliun ramai dibicarakan, menimbulkan kontroversi soal besarnya anggaran dan efektivitas program. Kasus Pertamina 2025 pun tak kalah heboh, disebut-sebut terkait dugaan penyalahgunaan BBM subsidi dalam skala besar. Bahkan proyek pagar laut di Tangerang sempat jadi trending, menuai kritik karena dianggap merugikan nelayan dan berpotensi mengganggu ekosistem. Tapi kita tahu, pola yang sama akan terulang: heboh sebentar, lalu tenggelam.

Kalau kita lihat lebih dalam, fenomena ini bukan kebetulan. Guy Debord, filsuf Prancis, pernah menyebut masyarakat modern hidup dalam Society of the Spectacle. Artinya, realitas dikemas jadi tontonan. Politik pun berubah jadi hiburan, bukan ruang penyelesaian masalah. Sidang DPR disiarkan seperti talk show, skandal diperlakukan layaknya drama bersambung. Kita menonton, kita marah, kita tertawa, kita bertepuk tangan, tapi lupa bahwa ini soal nasib bangsa, bukan sekadar konten.

Anthony Downs, ekonom politik asal Amerika, memperkenalkan konsep Issue Attention Cycle. Publik, kata dia, punya siklus perhatian: isu muncul, heboh, panik, lalu sadar masalahnya kompleks, akhirnya bosan dan lupa. Itulah yang terjadi pada kita. Skandal jadi trending topic seminggu, lalu dikalahkan oleh gosip selebriti atau isu politik baru. Tidak ada babak akhir, karena publik sendiri mudah lelah, tak sanggup menunggu (mengawal) hingga drama selesai.

Erving Goffman, sosiolog Kanada, juga pernah menggambarkan kehidupan sosial sebagai panggung teater. Ada aktor, ada peran, ada penonton. Politisi di negeri ini mahir memainkan peran: kadang garang, kadang melankolis, kadang mengancam, kadang penuh empati. Semua dimainkan di depan kamera. Penontonnya, yaitu kita, sering lupa membedakan mana akting, mana realitas. Kita larut dalam panggung, tapi tak pernah ikut menentukan akhir ceritanya.

Hikmahnya jelas: selama politik hanya jadi tontonan, rakyat hanya jadi penonton. Drama membuat kita terhibur sesaat, tapi mengaburkan substansi. Kita sibuk menertawakan adegan pejabat jatuh sakit mendadak, tapi lupa menghitung berapa kerugian negara. Kita heboh soal pidato yang berapi api, tapi lupa menagih tindak lanjutnya. Lama-lama, budaya ketidakselesaian jadi biasa. Kita permisif, mudah memaafkan kewajiban politik yang tidak tuntas, karena terbiasa menonton episode baru tanpa peduli bagaimana episode lama ditutup.

Tapi masa kita harus terus jadi penonton pasif?

Ada jalan keluar, kalau kita mau serius. Pertama, kita perlu arsip publik digital yang mencatat semua skandal besar, lengkap dengan perkembangannya. Seperti Netflix punya katalog drama, bangsa ini juga butuh katalog yang mengingatkan bahwa kasus A belum selesai, kasus B masih mengambang. Kedua, media perlu mengembangkan jurnalisme resolusi. Bukan hanya sibuk bikin headline heboh, tapi konsisten mengawal isu sampai ujung. Ketiga, rakyat harus diberi ruang untuk ikut menulis babak akhir. Bukan sekadar menonton, tapi bisa menekan lewat forum publik, petisi online resmi, atau kanal pengaduan digital yang punya kekuatan hukum.

Keempat, kita bisa mulai membangun budaya evaluasi tahunan. Sama seperti film dapat review, politik juga perlu dievaluasi: apakah drama sudah berakhir, atau masih digantung. Kelima, pendidikan politik harus dikemas populer. Skandal besar bisa disajikan lewat podcast, komik, atau film dokumenter yang mudah diakses, agar rakyat tidak hanya menonton drama elit, tapi juga paham substansi. Dengan begitu, publik tidak lagi jadi penonton pasif, tapi ikut jadi penulis cerita dan sutradara.

Pada akhirnya, drama politik tanpa babak akhir hanyalah panggung kata-kata yang kehilangan makna. Al-Qur’an mengingatkan kita dalam Surah Ash-Shaff ayat 2–3: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” Ayat ini seakan menyapa langsung para aktor politik yang pandai berjanji, piawai berakting, namun miskin bukti di dunia nyata.

Kalau politik hanya diisi kata-kata tanpa perbuatan, maka rakyat akan terus jadi penonton kecewa yang menunggu ending tak pernah datang. Karena itu, bangsa ini butuh keberanian untuk menuntut kejujuran dan konsistensi. Hanya dengan begitu, panggung politik tidak lagi jadi drama kosong, melainkan kisah nyata yang membawa perubahan. Seperti potongan lirik Achmad Albar yang menggelitik, “Mengapa kita bersandiwara…” — pertanyaan ini layak kita ajukan kepada para aktor politik. Dan bangsa yang berani menulis akhir ceritanya dengan tindakan, bukan sekadar kata-kata, itulah bangsa yang benar-benar dewasa.

Stay Relevant!



Scroll to Top