Empati, Vaksin di Era Bising Media Sosial

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Empati, Vaksin di Era Bising Media Sosial

Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Tim Soft Skills SDMIndonesia.com

“Di tengah hoaks dan riuh medsos, empati jadi vaksin sosial agar bangsa tak terus terbakar oleh amarah.”

Kerusuhan beberapa hari lalu masih menempel di kepala banyak orang. Jalanan terbakar, massa marah, toko-toko dijarah, korban berjatuhan. Kita bisa menyebutnya krisis politik, bisa juga menyalahkan provokator. Tapi kalau mau jujur, ada penyakit yang lebih mendasar: hilangnya empati.

Media sosial mempercepat semuanya. Amarah yang dulu butuh waktu berminggu-minggu untuk jadi gelombang, kini cukup satu video viral, satu caption emosional, lalu meledak. Jalanan terbakar, hati terbakar, dan empati ikut habis terbakar. Di tengah dunia digital yang riuh, sulit sekali menjaga ruang tenang untuk merasakan perasaan orang lain.

Fenomena hoaks dan echo chamber di media sosial kini terbukti jadi pemicu amarah kolektif yang mudah tersulut. Echo chamber—ruang digital di mana seseorang hanya berinteraksi dengan informasi dan opini yang sejalan—memperkuat narasi palsu dan membuat hoaks lebih cepat menyebar hingga jadi bahan bakar kerusuhan. Algoritma media sosial sering memperkuat konten yang emosional, bukan yang akurat, sehingga rasa kebencian atau kemarahan menyebar lebih cepat daripada empati. Seperti api yang menjilat bensin, hoaks yang dijejalkan di echo chamber menular begitu cepat, dan sulit dipadamkan.

Krisis empati di era digital makin diperparah oleh celah literasi digital yang masih lebar di Indonesia. Dari survei APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) 2024, tercatat lebih dari 221 juta orang Indonesia menggunakan internet—sekitar 79,5% dari populasi.

Namun angka penetrasi tinggi itu tidak dibarengi kemampuan berpikir kritis yang memadai. Indeks literasi digital yang dirilis Kemenkominfo hanya menempatkan Indonesia di level sedang, dengan skor 3,65 dari skala 5. Artinya, masih banyak netizen yang belum cukup dewasa memahami etika digital, keamanan, dan kemampuan mencerna informasi dengan kritis. Dalam konteks ini, media sosial bukan hanya jadi sarana informasi, tapi juga medan amunisi—jika kita tidak bisa memilah secara bijak, empati gampang terkikis. Ini berisiko menjadi bom waktu yang setiap saat bisa meledak.

Psikologi membantu kita memahami kenapa ini terjadi. Martin Hoffman, profesor emeritus di New York University, menyebut empati berkembang melalui tahapan: mulai dari empati global pada anak kecil yang ikut menangis ketika melihat orang lain menangis, hingga empati moral pada orang dewasa yang menuntut tanggung jawab etis. Masalahnya, banyak dari kita masih terjebak di tahap emosional: ikut marah ketika membaca komentar, ikut sedih saat menonton video, tapi berhenti di situ. Tidak ada refleksi, tidak ada tindakan moral yang lebih matang.

Paul Ekman, profesor emeritus University of California, menambahkan pembedaan penting: ada empati emosional dan empati kognitif. Empati emosional membuat kita gampang tersulut—misalnya saat menonton video provokasi. Tapi empati kognitif menuntut kita untuk berhenti sebentar, mencoba memahami sudut pandang orang lain, lalu menimbang dengan kepala dingin. Di media sosial, empati emosional dipompa habis-habisan, sementara empati kognitif dibiarkan kelaparan. Inilah yang menjelaskan kenapa satu hoaks bisa memicu ribuan amarah: karena kita jarang dilatih untuk berpikir sebelum merasa.

Kerusuhan kemarin menjadi cermin pahit. Satu postingan bisa memicu ribuan komentar, satu video bisa menggerakkan massa, dan empati kognitif kita gagal bekerja. Empati yang seharusnya menahan tangan untuk tidak menyakiti, berubah jadi bensin yang menyulut api.

Tentu kita tidak bisa menyalahkan algoritma semata. Tugas manusia adalah melatih diri agar empati tidak sekadar emosional, tetapi juga kognitif. Inilah yang saya sebut digital empathy literacy: bukan hanya kemampuan memverifikasi informasi, tetapi juga keberanian untuk menahan jari sebelum menekan tombol share. Pertanyaan sederhana bisa jadi rem darurat: “Apakah ini benar? Apa dampaknya kalau saya bagikan? Apakah ini menambah luka atau justru menyembuhkan?”

Lebih jauh, empati di era digital butuh narasi alternatif. Kalau hoaks bisa viral karena menggugah emosi, empati juga bisa viral kalau ada yang konsisten menyebarkannya. Bayangkan jika lebih banyak orang mengunggah kisah sederhana: membantu tetangga, menemani teman yang sedang berduka, atau sekadar mengingatkan untuk bersabar. Konten empati juga bisa menular, memberi imun sosial, membuat ruang digital tidak sekadar bising tapi juga menyejukkan.

Namun empati tidak bisa tumbuh hanya dari layar ponsel. Ia butuh pengalaman nyata, praktik nyata. Kita bisa mulai dari hal sederhana: sehari saja berhenti sibuk di dunia digital, lalu hadir di dunia nyata. Naik angkot, belanja di pasar tradisional, berbincang dengan pedagang kecil. Praktik sederhana ini bisa mengembalikan rasa empati, bahwa di balik setiap komentar pedas di medsos ada manusia nyata dengan keluarga dan perjuangannya.

Kerusuhan kemarin memang meninggalkan luka. Gedung hancur, rumah terbakar, rasa aman terkoyak. Tapi bara itu juga alarm keras bahwa bangsa ini sedang krisis empati. Kalau tidak segera dipulihkan, kita bisa terseret ke siklus amarah berikutnya.

Allah sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, jangan mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujurat [49]:10-12).

Makna ayat ini menemukan cerminnya dalam dinamika media sosial masa kini. Jangan merendahkan, jangan asal menyebar gosip apalagi fitnah, jangan menjadikan kebencian sebagai hiburan. Karena setiap kali kita tergoda menekan tombol share tanpa pikir panjang, kita sedang memperlebar jurang empati.

Masih banyak orang yang senang membagikan konten tanpa verifikasi (tabayyun), seolah-olah dirinya yang paling tahu informasi. Padahal, sering kali yang dibagikan justru kabar setengah matang, bahkan berita bohong. Alih-alih menambah pengetahuan, kebiasaan ini justru menambah kebingungan dan memperkeruh suasana.

Empati adalah “vaksin” di era bising media sosial. Tanpa itu, kita mudah sekali tertular dan tersulut virus kebencian. Dengan itu, kita bisa menahan diri, menolong sesama, dan menjaga bangsa ini agar tidak terus terbakar oleh amarah. Mari mulai dari hal kecil: satu klik yang ditahan, satu komentar yang dilembutkan, satu hati yang diajak merasa.

Stay Relvant!



Scroll to Top