بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Ketika 1 + 1 Menjadi 3
(Sinergi Dakwah)
Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Anggota Tim Litbang Persyada Al Haromain
“Bukan soal siapa paling hebat, tapi bagaimana kita saling melengkapi. Di situlah 1 + 1 bisa berubah menjadi 3.”
Dalam matematika, satu ditambah satu selalu dua. Tidak kurang, tidak lebih. Tapi dalam kehidupan, terutama ketika orang-orang bekerja bersama, membangun tim, rumus itu tidak selalu berlaku. Kadang hasilnya justru lebih kecil dari dua (sinergi negatif). Kadang bisa melampaui angka itu tanpa kita duga. Ini yang disebut sebagai sinergi positif.
Kita punya banyak masjid. Banyak pesantren. Banyak lembaga sosial. Banyak orang baik yang mau bergerak. Siap terjun berdakwah. Di satu sisi, itu menggembirakan. Namun, kalau kita amati, sering kali semuanya berjalan di jalurnya masing-masing. Jadwal hampir bersamaan, program mirip, sasaran tidak jauh berbeda. Energinya sangat besar, tetapi arahnya belum tentu menyatu. Belum optimal. Belum terjadi sinergi.
Ada yang sibuk menyiapkan program. Ada yang fokus menggalang donatur. Ada yang serius menyusun laporan. Semua bekerja dengan niat baik. Tapi jarang ada ruang yang benar-benar dipakai untuk duduk bersama. Apakah ada yang bertanya, “Kalau ini kita kerjakan bareng, apa dampaknya bisa lebih terasa?” Kita berdekatan secara tempat, namun belum tentu dekat dalam strategi dan perencanaan.
Al-Qur’an memberi arahan yang cukup jelas: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa…” (QS. Al-Ma’idah: 2). Ta’awun bukan hanya tentang tidak saling menjatuhkan. Ia bukan sekadar hadir dalam forum silaturahim yang sama. Ta’awun berarti saling menguatkan, saling berbagi, saling memberi, saling berkontribusi dalam kerja nyata. Ada tugas dan peran yang dibagi, ada tujuan yang disepakati, ada langkah yang disusun, yang tidak saling bertabrakan.
Sinergi tidak selalu harus besar. Ia bisa dimulai dari langkah-langkah sederhana seperti:
- Antar masjid dalam satu kawasan berbagi peran, sehingga jadwal kegiatan (ceramah, pengajian) tidak bertabrakan dan program tidak saling meniru.
- Lembaga zakat bekerja bersama komunitas lokal, menggabungkan kekuatan dana dengan data dan kedekatan lapangan.
- Sekolah, masjid, dan orang tua menyusun agenda pembinaan bersama, agar pesan akhlak dan nilai tidak berjalan sendiri-sendiri. Pesan moral menjadi kuat karena terintegrasi.
- Ormas dan komunitas membentuk forum koordinasi saat isu sosial muncul, sehingga bantuan lebih terarah dan tidak tumpang tindih.
- Tim dakwah digital bekerja lintas keahlian, menyatukan konten, desain, dan distribusi agar pesan lebih konsisten dan kuat.
- Komunitas pemuda, karang taruna dan takmir masjid menyusun program kreatif bersama, seperti kelas literasi digital, podcast dakwah, atau kajian tematik yang relevan dengan generasi muda.
- Kolaborasi dai dan profesional bidang tertentu, misalnya ustaz bekerja bersama psikolog atau konselor dalam membina keluarga muda, sehingga materi agama lebih aplikatif dan menyentuh persoalan nyata.
Kajian dan penelitian organisasi modern seolah menguatkan itu. Pada tahun 2010, Anita Woolley dan timnya meneliti apa yang mereka sebut sebagai collective intelligence. Hasilnya cukup menarik. Tim yang unggul bukanlah tim yang diisi orang-orang paling cerdas, melainkan tim yang anggotanya mau saling mendengar dan berbagi ruang bicara secara seimbang. Kualitas diskusi dan interaksi ternyata lebih menentukan daripada kecemerlangan individu.
Saya membayangkan ada dua kegiatan sosial yang sama-sama digarap dengan sungguh-sungguh. Relawan-nya banyak. Donaturnya cukup. Hanya saja, waktunya berdekatan dan sasarannya hampir serupa. Keduanya berjalan, keduanya selesai. Namun, tidak pernah ada percakapan untuk menyatukan tenaga. Rasanya ada yang terlewat, seperti dua aliran air yang seharusnya bisa menjadi sungai besar, tetapi memilih mengalir sendiri-sendiri.
Kita perlu jujur mengatakan ini: berjalan sendiri-sendiri bukan lagi pilihan yang bijak. Tantangan dakwah hari ini terlalu kompleks untuk diselesaikan dengan cara sektoral. Jika setiap pihak merasa cukup puas dengan programnya sendiri, dampaknya akan berhenti di lingkaran yang itu-itu saja.
Sinergi tidak lahir dari slogan atau foto bersama. Ia tumbuh dari keterampilan (skills), kepercayaan dan kerendahan hati. Dari keberanian untuk berbagi data. Dari kesediaan berkata, “Bagian ini lebih tepat Anda yang memimpin.” Dalam kondisi ini, ego harus diturunkan sedikit. Dan itu memang tidak selalu nyaman. Tidak semua orang siap.
Namun, ketika ta’awun diamalkan dengan sungguh-sungguh, hasilnya berbeda. Bukan sekadar lebih besar, tetapi lebih tepat sasaran. Efektif dan efisien. Di sanalah satu ditambah satu tidak berhenti pada dua. Ia berubah menjadi kekuatan yang hidup, berdampak nyata, dan yang pelan-pelan mengubah keadaan.
Dari situ lahirlah “teams” yang kokoh. Bukan karena anggotanya seragam, tetapi karena saling mengisi, saling melengkapi. Di dalamnya, setiap orang memberi kontribusi yang membuat yang lain menjadi lebih kuat. Kebersamaan seperti itulah yang dalam bahasa sederhana sering diringkas sebagai “together everyone achieves more” — bersama, setiap orang memungkinkan capaian yang lebih besar.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti hanya bergerak.
Bukan sekadar sama-sama bekerja, tetapi benar-benar bekerja bersama.
Stay Relevant!
Referensi
Woolley, A. W., Chabris, C. F., Pentland, A., Hashmi, N., & Malone, T. W. (2010). Evidence for a collective intelligence factor in the performance of human groups. Science, 330(6004), 686–688. https://doi.org/10.1126/science.1193147




