بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Tata, Titi, Titis, Tutuk, Tuntas
Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Anggota Tim Litbang Persyada Al Haromain
“Al-Qur’an sudah mengajarkan keteraturan dan kesungguhan. 5T hanyalah bahasa sederhana untuk mengingatkan kita tentang disiplin dakwah.”
Orang Jawa mengenal lima kata sederhana: tata, titi, titis, tutuk, tuntas. Kedengarannya ringan. Seperti nasihat lama yang dulu mungkin kita dengar sambil lalu. Tetapi semakin usia bertambah, lima kata ini terasa lain. Ia seperti pengingat yang diam-diam menegur: hidup tidak cukup dijalani dengan semangat saja.
Hari ini dakwah bergerak cepat. Kajian tumbuh, komunitas bermunculan di mana-mana, konten medsos menyebar dalam hitungan detik. Kita aktif. Kita bergerak. Kita ingin memberi manfaat. Energi umat sebenarnya besar.
Namun ada satu pertanyaan yang tidak selalu nyaman untuk dijawab: mengapa sebagian gerakan cepat sekali membesar, lalu stagnan dan perlahan melemah? Mengapa yang awalnya terasa kokoh, lama-lama kehilangan arah?
Sering kali persoalannya bukan pada niat. Niat dan semangat itu ada, bahkan melimpah. Yang justru luput adalah penataan. Penataan diri, penataan langkah, dan penataan organisasi. Sesuatu yang dalam bahasa sekarang sering kita sebut sebagai manajemen.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash-Shaff: 4). Ayat ini tidak hanya berbicara tentang perjuangan, tetapi tentang keteraturan. Bahkan Allah menyebut cinta-Nya pada barisan yang rapi. Artinya, disiplin bukan sekadar urusan teknis organisasi. Ia menyentuh nilai iman.
“Tata” berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya. Menetapkan struktur dan membagi peran dengan jelas. Menyusun langkah atau SOP (standard operating procedure) sebelum bergerak lebih jauh. Tanpa tata, dakwah bisa terlihat ramai, tetapi rapuh dan mudah goyah. Tenaga habis untuk memperbaiki kekacauan yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal.
Lalu ada “titi”. Teliti dan cermat. Tidak tergesa-gesa. Tidak gegabah. Tidak mudah terseret arus opini. Kita hidup di zaman yang menuntut respons cepat. Namun ketergesaan sering membuat kita berbicara sebelum berpikir matang. Titi mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, memeriksa niat, memeriksa strategi dan memastikan langkah.
Dari titi lahir “titis”. Tepat sasaran. Titis berarti jeli menetapkan strategi. Dakwah bukan sekadar menyampaikan yang benar, tetapi memastikan kebenaran itu sampai dengan cara yang sesuai. Rasulullah ﷺ membina para sahabat secara bertahap. Wahyu turun selama dua puluh tiga tahun. Tidak ada lompatan instan. Ada kesabaran, ada strategi dan ada proses yang dijaga.
Kemudian “tutuk”. Target tercapai. Dalam manajemen dikenal istilah “efektif”. Tidak berhenti di tengah jalan. Kita pernah menyaksikan program yang penuh semangat di awal, lalu perlahan melempem, meredup karena tidak ada yang merawatnya. Semua tampak siap ketika dimulai, tetapi tidak ada yang memastikan kelanjutannya. Tutuk berarti tetap bertahan, tetap istikamah ketika semangat sudah tidak setinggi dulu.
Dan akhirnya “tuntas”. Selesai dengan tanggung jawab. Lengkap semuanya. Tidak menyisakan amanah yang terabaikan. Laporan dibuat. Tidak membiarkan konflik menggantung. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya…” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim). Di sinilah disiplin kembali bertemu dengan keikhlasan. Apa yang kita rapikan di luar harus sejalan dengan apa yang kita luruskan di dalam.
Psikolog Anders Ericsson (1993) menjelaskan bahwa keunggulan SDM lahir dari latihan yang terarah dan diperbaiki terus-menerus (deliberate practice). Bukan dari ledakan sesaat, tetapi dari pengulangan yang sadar. Keterampilan yang terus dilatih dan diperbaiki. Jika prinsip ini kita renungkan, dakwah pun demikian. Ia tidak tumbuh dari satu acara gebyar besar, tetapi dari latihan dan kebiasaan kecil (habits) yang dijaga konsisten.
Di sisi ini, mungkin kita perlu sedikit lebih jujur dan berani memuhasabah. Kita mudah tersentuh oleh jumlah peserta. Kita senang ketika acara ramai. Kita bangga ketika nama organisasi disebut. Itu wajar manusiawi. Tetapi jika tidak hati-hati, kita bisa sibuk mengurus tampilan, sementara fondasi dibiarkan retak. Substansinya tidak dapat.
Menurut hemat saya, dakwah di Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak panggung. Ia membutuhkan lebih banyak tata. Suara sudah ramai. Yang belum kokoh adalah keteraturan yang sabar dan konsisten. Kita perlu belajar kembali menata langkah, bukan sekadar menambah acara.
Setelah tata, dibutuhkan titi — ketelitian dalam menjaga niat dan cara. Lalu titis — ketepatan dalam menentukan sasaran dan strategi. Kemudian tutuk — kesetiaan untuk tidak berhenti di tengah jalan. Hingga akhirnya tuntas — menyelesaikan amanah dengan bersih dan bertanggung jawab.
Tanpa disiplin dalam menata langkah, panggung dan aktor bisa saja terus berganti, tetapi fondasi tidak pernah benar-benar menguat.
Dakwah memang harus sigap. Tetapi sigap tanpa tata hanya akan menimbulkan kelelahan. Cepat itu penting, namun lebih penting lagi agar kecepatan itu terarah dan tidak saling berbenturan.
Jika saat ini kita belum mampu melakukan hal besar, itu tidak mengapa. Kita bisa mulai dari satu tugas yang kita kerjakan dengan benar. Dari satu amanah yang kita selesaikan tanpa menunda. Dari satu langkah kecil yang kita tata dengan sungguh-sungguh.
Karena perubahan yang bertahan lama tidak lahir dari kegaduhan.
Ia lahir dari barisan yang tersusun rapi.
Referensi:
Ericsson, K. A., Krampe, R. T., & Tesch-Römer, C. (1993). The role of deliberate practice in the acquisition of expert performance. Psychological Review, 100(3), 363–406. https://doi.org/10.1037/0033-295X.100.3.363




