Soft skills, Silent Quitting dan Job Hugging

Silent Quitting dan Job Hugging: Saudara Kembar di Dunia Kerja Modern

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Silent Quitting dan Job Hugging: Saudara Kembar di Dunia Kerja Modern

Oleh Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, pemerhati mutu pendidikan

“Berhenti tanpa keluar, atau bertahan tanpa gairah — dua wajah dunia kerja modern yang diam-diam menggerus makna dan semangat kita bekerja.”

Di banyak kantor, suasananya masih sama: rapat digelar, laporan dikirim, dan semua tampak bergerak, tampak sibuk. Tapi kalau diperhatikan lebih dalam, ada yang hilang — semangat. Banyak karyawan tetap hadir, datang bekerja, tapi batinnya sudah pulang duluan. Mereka tidak resign, tak benar-benar berhenti, hanya berhenti bersemangat. Itulah yang disebut silent quitting.

Di sisi lain, ada juga karyawan yang tetap hadir, tetap kerja, bertahan di tempat yang sama karena takut kehilangan rasa aman. Takut jika keluar, akan lebih buruk. Fenomena itu disebut job hugging. Dua istilah ini seperti saudara kembar: satu berhenti tanpa keluar, satu bertahan tanpa gairah.

Fenomena ini makin terasa di tahun 2025. Setelah pandemi, disrupsi AI, dan krisis ekonomi, banyak orang memilih aman. Mereka tidak ingin kehilangan penghasilan di tengah harga yang terus naik. Fast Company bahkan menulis bahwa “bekerja kini bukan lagi soal karier, tapi soal bertahan.” Dan di Indonesia, riset Populix menunjukkan enam dari sepuluh pekerja muda mengaku tetap bekerja hanya karena butuh rasa aman, bukan karena merasa berkembang.

Psikolog Frederick Herzberg menjelaskan kondisi ini lewat teori dua faktor. Ia membedakan antara faktor higienis — seperti gaji, keamanan, dan lingkungan kerja — dengan faktor motivator, yaitu makna, tanggung jawab, dan pengakuan. Yang pertama membuat orang bertahan; yang kedua membuat mereka hidup. Banyak pekerja kini hidup secara higienis: aman, tapi hambar. Mereka datang setiap hari, memenuhi target, tapi tak lagi merasa berarti.

William Kahn, lewat Employee Engagement Theory, menambahkan dimensi lain. Seseorang akan benar-benar “hadir” dalam pekerjaannya jika tiga hal terpenuhi: rasa aman secara psikologis, pekerjaan yang bermakna, dan kompetensi yang dihargai. Ketika satu unsur saja hilang, keterikatan melemah. Dalam silent quitting, semuanya pelan-pelan hilang: pekerjaan masih ada, tapi maknanya memudar. Sedangkan dalam job hugging, rasa aman memang kuat, tapi makna dan tantangan sudah tak lagi tumbuh.

Kedua fenomena ini sebenarnya lahir dari sumber yang sama: ketakutan. Takut kehilangan pekerjaan, takut gagal di tempat baru, takut tidak cukup mampu di luar zona nyaman. Dan di sinilah teori learned helplessness dari Martin Seligman menjadi relevan. Seligman menyebut, ketika seseorang terlalu sering gagal atau tak merasa punya kendali, ia belajar untuk menyerah. Ia berhenti mencoba, bahkan ketika pintu sebenarnya terbuka. Banyak pekerja mengalami hal yang sama: mereka tidak benar-benar terjebak, hanya merasa tak bisa keluar.

Rasa pasrah itu membuat mereka bertahan di pekerjaan yang tak lagi memberi arti. Seperti burung yang lama dikurung, mereka lupa cara terbang. Akibatnya, pekerjaan dijalani sekadar rutinitas. Hari berganti tanpa gairah, tanpa arah.

Fenomena silent quitting dan job hugging sama-sama membawa konsekuensi besar — bukan hanya bagi individu, tapi juga organisasi. Bagi pekerja, hilangnya keterlibatan emosional membuat produktivitas turun dan kepuasan hidup ikut mengering. Bagi perusahaan, ini menciptakan stagnasi: karyawan memang hadir, tapi kreativitas padam. Di sinilah organisasi sering keliru — mereka pikir masalahnya gaji, padahal yang hilang adalah rasa berarti.

Penguatan Soft Skills sebagai Jalan Tengah

Di tengah situasi yang serba tidak pasti, kemampuan teknis saja tidak cukup. Dunia kerja 2025 menuntut manusia yang tangguh secara mental dan lentur secara sosial. Di sinilah soft skills — seperti komunikasi, empati, adaptabilitas, dan kemampuan berpikir kritis — menjadi penopang utama agar seseorang tetap tumbuh, bahkan dalam pekerjaan yang sama.

Penguatan soft skills membantu pekerja keluar dari jebakan job hugging dan silent quitting. Dengan kemampuan refleksi, komunikasi, dan kolaborasi yang baik, seseorang bisa menemukan cara baru menikmati pekerjaannya, atau menyiapkan diri saat harus pindah. Soft skills juga memperkuat daya tahan psikologis (resilience), membuat seseorang tidak mudah jatuh pada sikap pasrah seperti dijelaskan Seligman.

Bagi organisasi, investasi pada pengembangan soft skills sama pentingnya dengan pelatihan teknis. Lingkungan kerja yang menumbuhkan empati dan kepercayaan akan membuat karyawan merasa aman untuk bereksperimen, memberi ide, dan tumbuh bersama.

Namun bertahan tak selalu salah, dan berpindah pun tidak selalu benar. Yang penting adalah kesadaran: apakah pekerjaan ini masih membuat kita tumbuh? Apakah masih memberi ruang untuk belajar dan berkontribusi? Kalau jawabannya tidak, mungkin sudah waktunya menata langkah — bukan berarti langsung pindah, tapi memperbarui cara berpikir.

Karier sejati bukan hanya tentang naik jabatan atau ganti kartu nama. Kadang, yang lebih penting adalah menemukan kembali makna dari rutinitas yang sama. Mungkin itu artinya belajar hal baru, memperbaiki cara berkomunikasi, atau menantang diri di bidang yang berbeda.

Herzberg benar: keamanan kerja membuat kita bertahan, tapi makna yang membuat kita hidup. Dan seperti kata Seligman, jangan sampai kita belajar untuk pasrah pada keadaan. Karena ketika semangat berhenti, pekerjaan pun kehilangan jiwa.

Pada akhirnya, silent quitting dan job hugging hanyalah dua wajah dari kecemasan yang sama: rasa takut menghadapi ketidakpastian. Dunia kerja akan terus berubah — tapi yang membuat kita tetap relevan bukanlah rasa aman, melainkan keberanian untuk terus tumbuh dan mengasah diri, terutama lewat soft skills yang menjaga kita tetap manusia di tengah perubahan.

Pada akhirnya, setiap pekerjaan bukan sekadar urusan gaji atau posisi, tapi soal makna dan amanah. Islam mengajarkan bahwa kualitas kerja mencerminkan kualitas iman. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai apabila seseorang di antara kalian mengerjakan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (sempurna).” Hadis ini mengingatkan bahwa bekerja dengan sepenuh hati adalah bagian dari ibadah — bentuk cinta kepada Tuhan yang diwujudkan melalui kesungguhan dalam tugas sehari-hari.

Maka, ketika semangat mulai redup atau rasa takut membuat kita enggan bergerak, kembalilah pada niat itu: bekerja bukan sekadar bertahan, tapi berbuat sebaik-baiknya. Karena di balik setiap pekerjaan yang dilakukan dengan itqan, ada keberkahan yang melampaui gaji, pangkat, atau penghargaan — keberkahan berupa ketenangan hati, harga diri, dan cinta dari Allah sendiri.

Stay Relevant! *-


Daftar Pustaka

  • Fast Company. (2025, August 18). What is job hugging? The new career trend and why Gen Z is into it. Fast Company.
  • Herzberg, F. (1959). The motivation to work (2nd ed.). John Wiley & Sons.
  • HR Dive. (2025, September 30). What does “job hugging” mean for the workplace? HR Dive.
  • Kahn, W. A. (1990). Psychological conditions of personal engagement and disengagement at work. Academy of Management Journal, 33(4), 692–724.
  • Maslow, A. H. (1943). A theory of human motivation. Psychological Review, 50(4), 370–396.
  • Seligman, M. E. P. (1975). Helplessness: On depression, development, and death. W. H. Freeman and Company.


Scroll to Top