بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Musik yang Menyatukan Kosmos dan Kas Negara
Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Dosen UHW Perbanas Surabaya
“Musik, dari harmoni kosmos Pythagoras hingga debat royalti kafe, tetap jadi bahasa yang menyatukan jiwa, sejarah, dan nilai kemanusiaan.”
Al-Farabi duduk memegang alat musik dawai. Beberapa petikan dengan ritme jenaka, penonton tertawa. Beberapa nada berikutnya, lirih, menyentuh hati, ada yang terisak, bahkan menangis. Lalu, ketika irama melandai dan melayang, sebagian terlelap, tidur dalam damai. Tidak ada trik sulap. Hanya musik — tapi di tangannya, luar biasa, musik menjadi bahasa yang menembus sisi emosional, lapisan terdalam hati manusia.
Kisah ini bukan sekadar legenda manis di lembar sejarah. Al-Farabi dikenal menguasai seni musik hingga memahami efek psikologis tiap nada. Ia tahu kapan memetik senar untuk membangkitkan tawa, dan kapan merendahkan nada untuk menenangkan jiwa. Jika ia hidup di era sekarang, mungkin sudah jadi bintang TED Talk dengan judul, “How to Tune Your Soul in 5 Chords.”
Bagi para pemikir besar di masa lalu, musik adalah sains, terapi, dan pilar peradaban. Pythagoras, misalnya, memandang musik sebagai pantulan harmoni semesta. Teori “music of the spheres”-nya menggambarkan planet-planet bergerak dalam irama kosmik yang terukur. Nada-nada, katanya, punya hubungan matematis yang mencerminkan keteraturan alam. Kalau hidup sekarang, mungkin ia membuat playlist Spotify berjudul “Cosmic Chill Beats” — bukan untuk ngopi di kafe, tapi untuk menyelaraskan musik, jiwa dengan harmoni bintang.
Aristoteles, dengan teori etosnya, melihat musik sebagai pembentuk karakter. Nada ceria menumbuhkan semangat, nada muram mengundang refleksi. Ia bahkan menganjurkan negara mengatur musik yang didengar anak muda. Bayangkan kalau di Indonesia pagi hari semua orang mendengar lagu-lagu lembut dan sabar — mungkin suara klakson di jalan raya berkurang, dan kita tiba di kantor dengan hati lapang, penuh semangat dan energik, InsyaAllah.
Di dunia Islam klasik, Al-Farabi menulis Kitab al-Musiqa al-Kabir yang membahas teori musik dan efeknya pada manusia. Al-Kindi membawa musik ke ranah kedokteran, percaya bahwa frekuensi tertentu dapat membantu penyembuhan fisik. Ibnu Sina memanfaatkan musik untuk menenangkan pasien, meyakini tubuh yang bisa bersantai, tenang, rileks lebih mudah untuk sembuh.
Ilmuwan modern melanjutkan warisan ini. Howard Gardner, lewat teori Multiple Intelligences, menempatkan kecerdasan musikal sejajar dengan matematika dan bahasa. George Gerbner, dengan Cultivation Theory, mengingatkan bahwa paparan musik membentuk persepsi dan cara kita memandang dunia. Lagu-lagu yang sering kita dengar perlahan menjadi karakter, sebagai latar perilaku kita.
Di era modern, musik hadir bukan hanya di panggung megah, tapi juga di ruang rawat. Di Berklee College of Music, mahasiswa terapi musik terlibat dalam rehabilitasi pasien stroke. Di Jerman, metode Music-Supported Therapy mengajak pasien memainkan piano sederhana untuk melatih koordinasi tangan dan membangun kembali jalur saraf otak.
Bagi veteran perang di Amerika, menulis lagu dan bermain gitar membantu meredakan PTSD, membuka jalan untuk mengekspresikan luka yang tak terucap. Di Inggris, metode Nordoff-Robbins membangkitkan memori penderita Alzheimer dengan lagu-lagu lama. Di Jerman dan Belanda, musik instrumental diputar sebelum dan sesudah operasi untuk mengurangi rasa nyeri dan cemas. Anak-anak autis di Eropa dan Amerika diajak bermain musik untuk meningkatkan fokus, interaksi sosial, dan rasa percaya diri.
Orang sehat pun tak lepas dari manfaat musik. Musik lo-fi atau klasik membantu fokus kerja, menahan jari agar tak tergoda membuka media sosial setiap lima menit. Lagu bertempo cepat meningkatkan stamina lari, membuat jogging di komplek terasa seperti Olimpiade pribadi, beberapa putaran jadi terasa ringan. Suara alam seperti suara burung, gemericik air di ruang relaksasi perusahaan dapat mengurangi stres, sementara musik instrumental membantu pekerja kreatif menemukan ide-ide segar. Festival dan konser memperkuat kebersamaan, membentuk memori kolektif yang tak ternilai.
Namun, di Indonesia hari ini, perbincangan musik sering berujung pada polemik royalti. Ada kafe yang takut denda dan mematikan musik, restoran memutar lagu AI, PHRI mengingatkan risiko hukum, dan artis yang membebaskan karyanya. Diskusinya panas — kadang lebih panas dari sambal Mie Gacoan.
Royalti penting, karena tanpanya para pencipta musik sulit bertahan dalam melanjutkan karya-karyanya. Namun, jika kita hanya menimbang musik dalam ukuran rupiah, kita mengurungnya dalam angka-angka yang kering. Musik adalah bahasa nurani yang membentuk rasa, nilai, dan arah hidup. Nada-nada dapat menanamkan keberanian, menumbuhkan empati, dan membentuk karakter yang halus. Karena itu, menghargai musik berarti juga memberi ruang bagi seniman untuk terus berkarya, memastikan akses musik yang sehat bagi masyarakat, dan mendidik generasi muda untuk tumbuh cerdas, mendengarkan dengan hati, bukan sekadar telinga.
Para pemikir dari Pythagoras hingga Gardner sudah lama mengingatkan bahwa musik adalah gema kosmos, obat bagi jiwa, dan perekat harmoni sosial. Sejarah membuktikan, melodi mampu menggerakkan bangsa, mendorong semangat perjuangan, menyatukan perbedaan, dan menenangkan hati yang terluka. Tugas kita adalah menjaganya: mendukung sistem royalti yang adil, mengembangkan musik berkualitas, dan menggunakannya sebagai alat membangun karakter bangsa. Dengan begitu, musik akan terus menjadi cahaya yang membentuk peradaban, bukan hanya latar suara di ruang publik.
Royalti memang penting. Tanpa itu, pencipta sulit untuk bertahan. Tapi nilai musik jauh melampaui angka di buku kas. Ia adalah gema dari peredaran bintang di alam semesta, obat untuk jiwa-jiwa yg sedang tumbuh, dan perekat kehidupan sosial.
Dan di atas semua itu, ada pesan dari Rasulullah ﷺ: “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan” (HR. Muslim).
Keindahan yang Allah cintai bukan hanya yang terlihat, tapi juga terdengar. Ia hidup dalam lantunan yang menenangkan hati, dalam irama yang menggerakkan kebaikan, dalam nada harmoni yang menyatukan manusia. Mungkin, saat kita ribut soal tarif, kita perlu berhenti sejenak, mendengar, dan ingat: setiap nada yang membawa kebaikan adalah bagian dari keindahan yang dicintai-Nya. Dan di situlah musik menemukan makna sejatinya — menghubungkan langit, bumi, dan… ya, bahkan kas negara.. Stay Relevant!
Referensi
- Berklee College of Music. (n.d.). Music therapy. Berklee College of Music. https://college.berklee.edu/music-therapy
- Gerbner, G., Gross, L., Morgan, M., & Signorielli, N. (1986). Living with television: The dynamics of the cultivation process. In J. Bryant & D. Zillmann (Eds.), Perspectives on media effects . Lawrence Erlbaum Associates.
- Gardner, H. (2011). Frames of mind: The theory of multiple intelligences (3rd ed.). Basic Books.
- Magee, W. L., Clark, I., Tamplin, J., & Bradt, J. (2017). Music interventions for acquired brain injury. Cochrane Database of Systematic Reviews, (1), CD006787. https://doi.org/10.1002/14651858.CD006787.pub3
- Nordoff, P., & Robbins, C. (2007). Creative music therapy: A guide to fostering clinical musicianship (2nd ed.). Barcelona Publishers.
- Raglio, A., Oasi, O., Gianotti, M., Manzoni, V., Bolis, S., Ubezio, M. C., Villani, D., & Stramba-Badiale, M. (2010). Effects of music therapy on psychological symptoms and heart rate variability in patients with dementia. Aging Clinical and Experimental Research.
- Thoma, M. V., Ryf, S., Mohiyeddini, C., Ehlert, U., & Nater, U. M. (2013). Emotion regulation through listening to music in everyday situations. Cognition and Emotion
- Goethem, A., & Sloboda, J. (2011). The functions of music for affect regulation. Musicae Scientiae, 15(2).




