Mencari Wajah Kesalehan Sosial

Mencari Wajah Kesalehan Sosial

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Mencari Wajah Kesalehan Sosial

Oleh: Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim, Anggota Tim Litbang Persyada Al Haromain

“Kesalehan mungkin dimulai dari sajadah, tetapi ia diuji di jalan, di antrean, dan di rekening kita.”

Dalam perjalanan menuju Surabaya, saya melihat seorang pengemudi sedan menghentikan mobilnya. Ia turun, memindahkan batu yang berada di tengah jalan, lalu kembali masuk dan melanjutkan perjalanan. Beberapa kendaraan lain tetap melaju. Ia tidak mencari perhatian. Ia hanya memastikan jalan itu aman.

Sejak itu saya terus memikirkannya.

Batu itu mungkin tidak terlalu besar. Kendaraan lain barangkali masih bisa menghindar. Tetapi ia memilih berhenti. Ia merasa perlu berhenti.

Saya membayangkan, mungkin ia juga memiliki kesibukan. Mungkin ada urusan yang menunggu. Tetapi ada sesuatu yang lebih dulu ia dahulukan: orang lain yang bahkan tidak ia kenal.

Kita sering membicarakan kesalehan dalam ukuran yang mudah terlihat. Jadwal ibadah. Kegiatan keagamaan. Membaca Al Qur’an (ḥablum minallāh). Semua itu penting, tentu saja. Tetapi kehidupan bersama (ḥablum minannās) ternyata lebih banyak ditentukan oleh keputusan-keputusan kecil di masyarakat yang jarang kita bahas.

Barangkali wajah kesalehan sosial hadir pada contoh-contoh berikut ini:

  • Menabrak kaca spion mobil parkir yang kosong, lalu berhenti, menulis nomor telepon di secarik kertas, dan menempelkannya di kaca mobil sebelum melanjutkan perjalanan.
  • Seseorang salah transfer ke rekening kita, dan kita memilih mengembalikannya tanpa harus diminta lebih dulu.
  • Mengumumkan dan berusaha mencari pemilik burung cucak rowo yang masuk ke rumah kita, karena sadar pemiliknya pasti sedang kehilangan.
  • Tidak menggunakan kedekatan dengan pejabat atau petugas untuk memotong antrean, meskipun kita bisa melakukannya.
  • Mengurangi suara gas motor saat melewati gang sempit karena sadar orang lain sedang beristirahat.
  • Menutup kembali pagar tetangga yang terbuka saat kita lewat, karena khawatir hewan peliharaannya keluar.
  • Mematikan lampu atau keran air umum yang lupa dimatikan orang lain, tanpa merasa itu bukan tanggung jawab kita.
  • Tidak mempercepat kendaraan saat melihat pejalan kaki ragu menyeberang, lalu benar-benar berhenti dan memberi isyarat aman.
  • Mengembalikan troli belanja ke tempatnya meski area parkir jauh dan tidak ada petugas yang mengawasi.
  • Tidak menekan klakson saat orang di depan lambat bergerak, karena sadar mungkin ia sedang bingung atau gugup.

Tindakan-tindakan seperti itu istimewa, karena tidak semua orang mau melakukannya. Dan barangkali masih banyak contoh istimewa lain yang luput dari perhatian kita.

Dari keputusan kecil seperti itulah rasa percaya pelan-pelan tumbuh. Kita merasa lebih aman berjalan di ruang yang sama, karena tahu masih ada orang yang memilih bertanggung jawab, bahkan ketika tidak ada yang melihat.

Dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, Al-Ghazali mengingatkan bahwa ibadah bukan sekadar rangkaian gerakan lahiriah. Shalat, puasa, dan amal lainnya dimaksudkan sebagai latihan untuk membersihkan jiwa dan membentuk akhlak. Ibadah seharusnya meninggalkan bekas dalam cara seseorang bersikap dan mengambil keputusan.

Ia juga berbicara tentang ghurūr—keadaan ketika seseorang merasa cukup dengan amal yang tampak di permukaan. Seseorang bisa rajin beribadah dan merasa aman dengan rutinitas itu, padahal perubahan dalam dirinya belum sungguh terjadi. Dalam urusan sehari-hari, ia masih mudah mencari celah yang menguntungkan diri sendiri, seolah ibadah tidak pernah menyentuh bagian itu.

Penelitian psikologi modern menyebut kecenderungan yang tidak jauh berbeda melalui Moral Licensing Theory, sebagaimana dikemukakan oleh Benoît Monin bersama Anne C. Merritt dan David A. Effron. Setelah melakukan kebaikan, seseorang bisa merasa telah memenuhi kewajiban moralnya. Perasaan itu membuatnya sedikit lebih longgar pada kesalahan berikutnya. Tanpa sadar, standar yang tadinya tinggi mulai diturunkan perlahan.

Artinya, kebaikan pun bisa berubah menjadi rasa aman yang meninabobokan. Kita merasa sudah cukup, lalu berhenti menjaga diri.

Mungkin yang membuat saya terus mengingat pengemudi sedan itu justru karena tindakannya istimewa. Ia berhenti ketika orang lain tetap melaju. Ia mau repot untuk sesuatu yang bukan urusannya. Ia memindahkan batu kecil yang mungkin tidak akan disingkirkan siapa pun.

Dan kadang, yang istimewa memang sesederhana itu.


Referensi

Merritt, A. C., Effron, D. A., & Monin, B. (2010). Moral self-licensing: When being good frees us to be bad. Social and Personality Psychology Compass, 4(5), 344–357. https://doi.org/10.1111/j.1751-9004.2010.00263.x



Scroll to Top